PP Garam, Beraroma ‘Busuk’ dan Pahit

18485676_10155335550847767_7387358610000765641_n
Tambak garam di Maros (foto: Kamaruddin Azis)

Ekonom Faisal Basri menyebut ada pembusukan dalam tubuh pemerintahan Presiden Joko Widodo. “Terjadi pembusukan di dalam pemerintah sendiri, mengarah pada ungoverned government,” kicaunya di akun @FaisalBasri. Continue reading

Advertisements

Serdadu Jepang di Kampung Sino-sino

20170626_180649Usai shalat Jumat di mesjid raya Takalar, dengan Nurlinda, aktivis LSM setempat, kami menuju utara menyusuri pesisir Galesong. Kami ke Kampong Saro’, Desa Bontokanang, Kecamatan Galesong Selatan, Takalar. Kampung yang sebenarnya tidak asing bagi saya karena saat SD pernah berkunjung beberapa kali dengan nenek Baji.

Saro’ berdekatan Kampung Kawari dan Manari, juga tidak jauh dari eks pasar Takari di Galesong Kota di utara.

Membaca nama-nama kampung itu saya jadi ingat nama-nama identik Jepang.

Sebelum sampai di kampung, kami melewati jembatan sempit yang dipasangi palang untuk membatasi mobil truk melintas. Di sisi kanan muara terdapat puluhan perahu nelayan yang sedang tertambat.

Linda mengajak berkenalan dengan sanak keluarganya. Saya menjabat tangan dengan Daeng Gassing, Rabasiah Daeng Saga, Jaisah Daeng Maming. Mereka terlihat sudah sangat tua namun masih gesit. Warga asli kampung setempat.

Menurut penuturan Daeng Gassing, saat pendudukan Jepang umurnya kira-kira 10 tahun. Berarti umurnya sudah lebih 80 tahun saat ini.

Sayapun memuji karena berumur panjang.

Dia kemudian mengatakan bahwa salah satu resepnya adalah “tidak menyantap makanan yang masih sangat muda. Ibarat buah, hanya makan yang matang saja”.

Seperti rujak yang asam itu? Bagiku, entahlah, tapi barangkali ada makna tersirat dari pesannya ini atau mungkin secara denotasi, bermakna bahwa yang kecut tak bagus untuk kesehatan.

“Toapi nampa nikanrei, teai anu lolo,” katanya dalam bahasa Makassar yang artinya saat tua baru bisa dimakan, bukan yang muda.

Dari pengakuan mereka terkuak bahwa beberapa ex serdadu asal negeri matahari terbit yang menginjakkan kakinya di Galesong bagi Selatan, tinggalnya di Kampung Sino Sino, sekitar 200 meter di sisi timur dari kediamaannya sekarang dan dibatasi sungai kecil.

Mereka membuat kandang dan memelihara itik, walau kerap kali meminta ternak yang dimiliki warga setempat untuk diboyong ke kandang mereka.

Anjo Japanga, appareki tampak kiti nampa naerang mangeng joeng kiti niaka ri kampong nampa nakanre. Biasa poeng appareki juku pallu ce’la“.

Katanya yang artinya, Orang Jepang, membuat kandang itik lalu mengisinya dengan itik yang ada di kampung untuk dimakan telurnya. Kerap pula, memasak ikan pindang atau “pallu ce’la” dalam bahasa Makassar.

Daeng Gassing yang saya temui saat itu, sedang duduk di dipan yang sekaligus adalah ruang tamunya ditemani istrinya Rabasiah Daeng Saga.

Hadir pula seorang wanita seumuran mereka bernama Jaisah Daeng Maming, yang berwajah mirip “Indian”. Umur mereka kira-kira 60-70an.

tentarajepang
Tentara Zaman dulu (dok: Tirto)

Tentang Sino Sino

Saya juga memperoleh cerita dari seorang warga terkait keberadaan Jepang di pesisir Galesong. Salah satunya yang berdiam di sekitar Kampung Saro’.

Ya seperti yang tampak dari suasan kampung saat itu, Kampung Saro masuk wilayah Desa Bontokanang yang dipisahkan oleh sungai kecil dan berbatasan dengan Desa Bontoloe. Kawasan yang sangat strategis dengan ekosistem bakau yang masih terjaga dengan beberapa tambak yang mengering.

Setelah memotret muara sungai di kampung yang dijejali perahu-perahu nelayan, saya kemudian bertamu ke rumah Salmawati, salah seorang kader pembangunan desa di Desa Bontokanang.

Kali ini saya tidak menceritakan salah satu proyek pinjaman yang menjadi celoteh tuan rumah yang nampaknya lebih menarik mendengarkan cerita para pencari kepiting dibanding bangunan posyandu yang tidak terurus itu, yang baru saja saya foto.

Saya memang lebih tertarik membaca perspektif dan cerita warga tentang sejarah kampung mereka sendiri, tentang hubungannya dengan sejarah pedudukan Jepang, misalnya.

Di note ini, saya menceritakan hasil dialog saya dengan ibunya, yaitu Maeumunah Daeng Lele.

Maemunah adalah anak seorang veteran bernama Balacang Dg Rani. Daeng Rani beristrikan orang Karama, Batu-Batu. Lele lahir dan besar di Saro bersama lima saudara. Beberapa keluarganya tinggal di Pattinoang dan Saro.

Balacang Daeng Rani, menurut cerita Daeng Lele lahir pada tahun lahir 1912 dan meninggal dunia pada tahun 1996.

Ayahnya adalah pekerja pada barak tinggal para serdadu Jepang yang hendak menjadikan Kampung Sino Sino sebagai basis logistiknya. Rani muda diajak oleh ayahnya bernama Jalampang, yang memang mempunyai keahlian pertukangan.

Lele sendiri lahir pada tahun 1958 dan pernah bersekolah di SD Kanaeng, belajar di kolong rumah, dan mengingat bahwa salah seorang gurunya adalah Karaeng Salle, orang tua Prof Aminuddin Salle dan almarhum, mantan hakim agung, Prof Kaemuddin Salle.

Lele juga bercerita bahwa di dekat kampung, tinggal seorang ibu yang pernah dipersunting orang Jepang dan sejak ditinggalkan oleh suaminya itu dia kemudian menikah lagi dengan pria setempat. Wanita itu tinggal di Kampung Kalumpang, dekat Manyampa, namanya Daeng Maintang. Tidak ada anak dari suaminya ini.

Tena ana’na battu injo ri Japanga,” kata Lele yang artinya tidak ada anaknya dari suami Jepangnya itu.

Lele ingat, bahwa ayahnya pernah cerita bahwa rumah panggung orang Jepang itu pernah diganggu orang-orang aneh yang mereka juluki “tulongga” atau orang yang tinggi. Orang-orang longga ini konon adalah mahluk halus yang sangat jangkung yang kerap mengganggu keberadaan mereka di Sino Sino.

“Kakek saya pernah disusul orang Jepang yang lari terbirit-birit, napas tersengal dengan sepatu yang berderap keras, karena diganggu longga. Mereka lari ke kakek karena mereka pikir, kakek Lele tahu siapa orang-orang tongga itu,” sebutnya. Rupanya para Jepang itu menaruh harapan pada kakeknya.

“Oh iyye, ayah saya pernah cerita nama orang Jepang yang kerap datang ke rumahnya adalah Tuan Babang dan Tuan Nagawa,” ujar Lele.

Yang khas dari mereka adalah kerap makan buah “bila” atau buah “maja”. Buah yang isi dagingnya dibungkus kulit keras warna hijau seukuran buah melon dan isinya warna putih, seperti adonan terigu encer.

Kadir, dari Kalao Toa ke Singapura

Suasana di sekitar Pelabuhan Kota Benteng (dok: KA)

Laut tenang pada senja yang temaram. Horizon bumi dibalut awan berserak berbias merah tembaga, tepat di atas kaki langit Pulau Selayar pada tanggal 2 Juni 2010, matahari beranjak benam.

Saya baru saja merekam beberapa momen di sekitar Dermaga Benteng. Kamera Nikon kesayangan masih menggantung di leher. Saat bersiap pulang ke penginapan, saya mendapati seorang lelaki berbaju kaos putih bersandar pada tiang sisi kanan perahu kayu bercat putih pucat.

Wajahnya samar. Saya mendekat dan menyapanya.

“Kapal dari mana, pak?” seraya menunjuk badan kapal.

Lelaki dengan sorot mata tajam berkulit hitam, berkumis tipis yang duduk sedari tadi menjawab singkat, “Dari Kalao Toa,”.

Kalao Toa adalah pulau ujung tenggara-selatan Selayar, berdekatan dengan Pulau Madu dan Pulau Kakabia, antara wilayah Sulawesi Tenggara dan Laut Flores.

Saya memuji kapalnya yang besar dan lagi sandar di sebelah utara dermaga Kota Benteng.

Karena dia duduk, di atas tepi geladak maka saya pun memilih jongkok untuk menatapnya dengan setara.

Namanya Abdul Kadir, umur 30 tahun. Bersama tiga orang ABK dan seorang Nakhoda, mereka tiba kemarin, tanggal 1 Juni 2010 dari Pulau Kalao Toa dengan membawa kopra seberat 5 Ton.

Selain kopra, kapal yang dinakhodai Sanusi ini juga mengangkut sepuluh orang penumpang dari pulau di ujung tenggara Kabupaten Kepulauan Selayar tersebut.

“Kopranya sedikit, hanya 5 ton padahal bobot kapal bisa sampai 35 Ton,” kata Kadir.

Meski begitu, mereka masih beruntung karena ada 10 penumpang yang membayar Rp. 100 ribu sebagai biaya sewa kapal. Lumayan untuk mengurangi biaya solar yang dibutuhkan sebanyak dua drum.

Butuh waktu selama 18 hingga 20 Jam mengarungi laut Flores untuk sampai ke Benteng ini.

Sudah dua tahun ini, Kadir menjadi ABK di kapal Sanusi. Abdul Kadir lahir dari bapak Buton dan ibu Selayar. Dia tinggal di Desa Kalao Toa, bersama istri bernama Mulyana dan seorang anak bernama Edwin berumur 1 tahun.

Kadir, anak ketiga dari empat bersaudara. Pendidikan formalnya hanya sampai kelas 2 SD lalu berhenti, kandas. Satu kakak perempuannya menikah dengan lelaki asal pulau Buton.

Kalao Toa memang dikenal sebagai pulau yang dihuni oleh beberapa warga keturunan Buton dan Selayar seperti dari Kampung Tajuiyya dan Tanete. Bapak Kadir bernama Idris. Kadir lahir pada tahun 1980. Selain bekerja sebagai ABK, Kadir juga mempunyai beberapa area kebun kelapa dan tanaman jagung.

Mengangkut Cakar

Ada cerita menarik yang disampaikan Kadir tentang pengalamannya berlayar.

Kadir sudah pernah berlayar ke Kupang, Kendari hingga Singapura.

“Tahun 1992, saya pernah ikut berlayar ke Singapura bersama NNakhoda bernama Haji Ramli. Dalam tahun itu, saya sempat berlayar dua kali ke sana,” katanya.

Kala itu Kadir sebagai kru kapal yang membawa rotan dari Sulawesi Tenggara menuju Singapura.

“Waktu itu, kami berlayar dari Kota Kendari, kemudian melewati Surabaya, Belitung, Tanjung Pinang, hingga melintasi Batam,” ungkapnya.

Butuh waktu 13 hari kapal yang diawaki Kadir untuk sampai ke Singapura. Setelah membongkar muatan rotan di sana, Kadir cs menghabiskan waktu 15 hari di Singapura untuk mencari muatan.

Tahun-tahun itu memang sedang booming bisnis pakaian rombeng atau cap karung (cakar) atau pakaian bekas asal Singapura.

“Dari Singapura, kami membawa berbal-bal pakaian bekas,” kisah Kadir.

“Saat itu kami sempat diperiksa polisi, tetapi tidak dipersulit,” Kata Kadir.

Rupanya, kapal yang dinakhodai Haji Ramli (kini almarhum) dari Singapura itu juga punya target lain, membawa pakaian bekas itu ke Pammana. Pammana, adalah satu wilayah di Flores yang terkenal sebagai pusat distribusi pakaian bekas tahun 90-an.

Kampung Pammana ditempuh selama 10 jam dari Kalao Toa, kampung Abdul Kadir. Upah yang diperolehnya selama pelayaran itu selama satu bulan setengah itu, dia memperoleh Rp. 600 ribu.

“Saat itu saya belum menikah,” katanya. Dia mengaku selain menjadi ABK dia juga mengurus kebunnya.

Di Pulau Kalao Toa, walau termasuk pulau besar namun tanaman utama sebagai modal ekonomi warga adalah kelapa dan jagung. Walau luas, masih banyak warga yang belum sepenuhnya memanfaatkan lahan-lahan di pulau Kalao Toa.

Kadir adalah potret warga pulau yang tetap menggantungkan hidupnya pada geliat laku ekonomi pulau-pulau jauh seperti menjadi pelaut sekaligus mencoba bertahan di desanya dengan memanfaatkan lahan produktif.

Cerita Kadir, cerita warga kebanyakan. Entah apa yang akan dimuatnya ke Kalao Toa kelak.

“Saat ini kami belum tahu apa yang akan dimuat ke Kalao Toa,”.

Pilgub Sulsel: Program Unggulan dan Titik Kritisnya

Empat pasang calon gubernur dan wakil gubernur Sulsel kini masuk gelanggang. Mereka siap berpacu demi meyakinkan rakyat Sulsel untuk berpihak dan memilih gagasan mereka juga nomor urutnya.

Sejatinya, Pemilihan Kepala Daerah merupakan wahana untuk menghasilkan proses pembangunan yang baik, pembangunan yang teratur, menghasilkan perubahan yang direncanakan, adil dan beradab. Baik dalam mengalokasikan kadar pengetahuan para pihak (siapapun dia) maupun efektivitas menuju agenda perubahan disepakati. Tentu dengan menggerakkan sumber daya yang ada.

Meski belum merinci setiap programnya melalui social media, namun setidaknya terdapat beberapa kata kunci yang bisa menjadi perhatian bersama yaitu mereka berfokus pada pembangunan infrastruktur, agraria dan maritim, pariwisata hingga pengembangan sumber daya manusia.

Mari simak. Pasangan nomor urut 1, Nurdin Halid-Azis Qahhar Mudzakkar (NH-Azis) menyebutkan program utamanya adalah “Tri Karya”, yakni pembangunan berbasis infrastruktur, ekonomi kerakyatan, dan membangun lapangan pekerjaan.

Pertimbanganya adalah bahwa mayoritas masyarakat di Sulsel beralas pada usaha pertanian dan perikanan.

Sementara pasangan Agus Arifin Nu’mang-Tanribali Lamo (Agus-TBL) menyiapkan program unggulan bergelar ‘Labuba Malabo’, akronim Latimojong, Bulusaraung, dan Bawakaraeng sementara Malabo, Selat Makassar, Laut Flores dan Teluk Bone. Labuba Malabo adalah konsep pembangunan berbasis kawasan dengan mendorong misalnya Parepare, Palopo, Watampone dan Bulukumba jadi kota niaga baru.

Pasangat nomor urut 3, Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-Andalan) menyebut ada 5 program yang dijadikan andalannya. Pertama, bantuan permodalan, teknologi dan skill untuk mendukung hilirisasi pertanian dan perikanan. Kedua, membangun rumah sakit regional strategis. Ketiga tata birokrasi yang anti-korupsi dan masyarakat madani.

Keempat penyiapan destinasi wisata andalan, serta kelima, pembangunan infrastruktur untuk menjamin keterhubungan daerah perpencil.

Pasangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Musakkar (IYL-Cakka) mengusung program pendidikan berkualitas, merata, tanpa pungutan dan subsidi Rp1,5 triliun per tahun. Kedua, rumah produktif untuk ciptakan lapangan kerja, dan ketiga, pembangunan merata untuk rakyat.

Mana yang paling realistik, sesuai spirit dan perkembangan zaman serta nyambung dengan mekanisme pembangunan nasional?

Titik kritis

Ada beberapa indikator yang bisa dilihat sebagai pembanding atas kinerja pemimpin Sulsel sebelumnya tapi setidaknya ketiga aras ini harus menjadi fokus bersama, yaitu derajat atau kualitas pendidikan dan kesehatan serta daya beli. Poin-poin ini acap digunakan melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Yang kedua adalah koefisien Gini, suatu ukuran untuk mengukur kesenjangan pendapatan dan kekayaan. Di seluruh dunia, koefisien bervariasi. Semakin mendekati angka nol semakin sejahteralah dia, semisal koefisien 0.25 untuk Denmark dan 0.70 untuk negara Namibia. Indonesia pada kisaran 0,4.

BPS dalam tahun 2016 menyebutkan bahwa ketimpangan tinggi terjadi jika persentase pengeluaran 40 persen masyarakat di bawah 12 persen. Sedangkan untuk kisaran 12-17 persen masuk kategori sedang, dan di atas 17 persen menujukkan ketimpangan yang rendah.

Provinsi Sulawesi Selatan tercatat memiliki rasio ketimpangan pengeluaran penduduk paling tinggi, yakni sebesar 0,426 diikuti oleh Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 0,420 dan Provinsi Gorontalo sebesar 0,419.

Bappenas menyatakan bahwa meningkatnya ketimpangan di Indonesia belakangan ini bukan semata disebabkan “orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin”, faktanya kemiskinan terus mengalami tren yang menurun.

Oleh sebab itu, terkait Pilgub Sulsel, yang perlu dijawab oleh tim sukses dan tentu saja calon Gubernur dan Wakil Gubernur tersebut adalah bagaimana menuntaskan tingginya ketimpangan antar wilayah berikut tren perubahannya dalam sebuah masyarakat.

Bagaimana mereka menggunakan isu itu sebagai agenda utama.

Misalnya, bagaimana kabupaten seperti Selayar, Takalar, Pangkep yang sejatinya punya sumber daya alam lebih dari cukup namun tetap terendah skor IPM-nya. Apakah kondisi kesehatan, pendidikan atau geliat ekonomi yang menjadi persoalan mendasar?

Ada beberapa program unggulan Pemerintah Sulsel di 2013-2018, misalnya Gratis SPP bagi mahasiswa baru; Gratis lima juta paket bibit pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan 100 juta bibit tanaman hutan; Gratis modal pengembangan usaha mikro kecil; Gratis paket modal pengembangan 100 wirausaha pedesaan pada setiap desa;

Apakah keempat calon Gubernur sudah membaca ‘before and after’ program membangun 24 industri baru di seluruh kab/kota? Tentang upaya membuka 500 ribu lapangan kerja baru, tentang gratis paket peningkatan kualitas rumah rakyat miskin; melanjutkan pendidikan gratis sampai tingkat SMA; melanjutkan kesehatan gratis.

Atau sudah tahu seberapa efektif program biaya Pendidikan gratis seperti sekolah penerbangan, Pramugari, SMK Pertanian, Perkebunan, Perikanan, dan melanjutkan beasiswa S2 dan S3, gratis peningkatan kualitas tenaga pengajar melalui boarding school untuk guru SD s/d SMA, Guru Mengaji, Muballigh, Khatib, dan Alim Ulama?

Hal di atas perlu diutarakan agar tidak terjadi pengulangan atau sekadar tambal sulam program yang tak menyelesaikan persoalan substantif dan genting seperti isu kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

Yang kita tahu dan sering dengar adalah polemik dan karut marut urusan pembangunan karena isu di luar itu seperti reklamasi dan pembangunan sarana prasarana di pesisir dan laut. Pertanyaan pentingnya, apakah urusan-urusan di program unggulan dan disebutkan sebelumnya sudah kelar?

Jika kelar, harusnya kita bisa sayonara dengan tenang ke pemimpin sebelumnya, bukan Atau jika memang kelar mengapa hal-hal demikian itu tidak menjadi patokan kesuksesan yang disebarluaskan sejauh ini?

Saya kira masih banyak yang harus dibereskan ke depan termasuk mengisi ketimpangan berkaitan dengan kapasitas mereka dalam dapat mengisi gap yang ada. Pemimpin harus kompeten sebelum meng-kompetenkan orang lain bukan? Para timses harus mulai memberikan ‘les privat’ menjadi pemimpin yang piawai bicara perencanaan, berkomunikasi, mau mendengarkan dan giat berbagi pespektif terkait isu-isu kontemporer.

Para times harus bisa menjawab, sudah kompetenkah calon mereka mereka dalam membacara realitas, tentang kondisi spesifik daerah yang akan dipimpinnya sehingga ketika terpilih kelak dan mengakhiri masa kepemimpinannya tak menyisakan sengkarut?

Apakah keempat calon itu, bisa menunjukkan kohesi pemihakan dengan tidak grogi saat berada di wilayah kumuh atau rentan secara sosial ekonomi, dari Seko, Kapoposang, hingga Pulau Madu?

Butuh leadership yang kuat

Yang saya ingin bilang, bisakah keempat pasangan calon ini bisa lebih blusukan dari blusukan-nya Jokowi yang fenomenal itu? Lebih mengakar dan tak ‘gatal’ saat berlama-lama dengan nelayan. Petambak, atau petani?

Sepertinya, kita di Sulsel belum pernah melihat pemimpin yang begitu ya, yang bisa santai minum kopi di tepi sawah, atau menikmati sunset di tepi pantai bersama nelayan?

Sulsel butuh pemimpin yang getol dan intim dengan masyarakat biasa, berpikir tak hanya ‘out of the box, tetapi keluar dari rutinitas politik kekuasaan yang itu-itu saja dan menjadi pengusung perubahan, yang membuka pintu rumah perencanaan dan datang bersilaturahmi dengan semua pemangku kepentingan untuk kemudian melahirkan ide-ide solutif.

Titik kritis pembangunan daerah adalah pada kemampuan seorang pemimpin dalam menyusun kebijakan yang berlandaskan pembacaan mereka para situasi eksternal dan internal wilayah dan keorganisasiannya.

Di sinilah pentingnya leadership dalam mengkonsolidasi dan mengkomunikasikan sumber daya tersedia. Gubernur Sulsel ke depan harus punya ‘leadership terbarukan’ dan bukan sekadar tanda tangan dokumen perencanaan tetapi serius mengecek lembar demi lembar perencanaan, hari demi hari pelaksanaan program dan terus menerus memberikan supervisi pada implementasi visi misi-nya.

Semakin berpengalaman seorang pemimpin semakin efektif dalam mengambil keputusan. Semakin komunikatif seorang pemimpin maka akan semakin bisa meyakinkan pihak lain dalam memberikan penjelasan tentang visi misinya sebagai pemimpin. Calon gubernur harus bisa memetakan kapasitas SDM tersedia dan menawarkan solusi jangka panjang.

Bukan pada masyarakat belaka tetapi kapasitas para perencana di SKPD atau Badan yang selama ini mungkin sangat, sangat, sangat tidak produktif padahal negara terlah berinvestasi maksimum untuk mereka. Bukan hanya perencana tetapi juga pejabat-pejabat eselon.

Calon gubernur Sulsel harus bisa membaca realitas dari tahun ke tahun dan membaca gejala perubahan implikatifnya.

Dia harus lincah menyigi kapasitas tersedia dan tidak buru-buru bicara infrastruktur. Suprastruktur adalah fondasi bagi infratstruktur. Pembangunan adalah prioritasi tujuan sesuai dengan sumber daya tersedia. Jangan membangun mimpi jika tak yakin dengan sumber daya tersedia.

Hal substantif di aras pembangunan daerah adalah bagaimana pemimpin mampu membaca ketimpangan dalam hal peluang kesempatan untuk ikut serta dalam pembangunan. Mampu menggagas pendekatan dan jalan pembangunan berdasarkan daya dukung kawasan atau interkoneksi kawasan.

Semisal, bagaimana membangun daerah-daerah di selatan di sekitar Laut Flores seperti Selayar, Bulukumba atau Bantaeng atau Luwu Raya dan sepanjang pesisir barat Sulawesi Selatan sebagai poros yang berlipatganda performa ekonominya.

Namun itu juga tidak cukup. Mendorong munculnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan jauh lebih mendesak ketimbang janji-janji interkoneksi kawasan melalui pembangunan sarana prasarana.

Pun, bagaimana memampukan rakyat untuk berinisiatif ketika jika lahan mereka dirampas. Jika areal usaha mereka dikonversi dengan sewenang-wenang. Di manapun, darat, pesisir, laut atau pulau-pulau kecil.

Calon gubernur itu harus cakap dalam menyusun kebijakan. Jangan mau didikte para perencana, para Guru Besar, atau aktivitas LSM yang mungkin saja cacat secara paradigmatik dan metodologik.

Pemimpin baru kelak adalah yang cekatan merencanakan demi mengurangi ketimpangan antar daerah serta lapis sosial yang ada. Yang mampu membagikan gagasan perubahan dan konsisten dalam menjalankan pembangunan berkeadilan.

Tak hanya kemaruk pada hasil tetapi juga adil dalam menciptakan peluang untuk semua.

Berkacalah pada pengalaman Sulawesi Selatan yang masih menyisakan persoalan laten tentang isu agraria dan perebutan ruang laut antara Pemerintah, swasta, dan masyarakat pengguna di pesisir seperti nelayan dan pembudidaya jelas bahwa ruang-ruang pengambilan keputusan yang adil belum berjalan dengan baik. Tentang belum berjalannya mekanisme perencanaan dan pelibatan masyarakat di setiap level perencanaan.

Rawajati, 15/03.

Candid Menteri Susi, antara Kopi dan Kamera

Guys, ngopi dulu yuk di ketinggian! (foto: K. Azis)

Melihat Menteri Susi berolahraga paddling sudah biasa kan? Di beberapa media cetak dan online penampilannya menjadi terlihat berbeda dan ‘perkasa’ karena kelihaiannya mengayuh paddle sambil berdiri. Dia mampu menjaga keseimbangan serta berani menghadapi gelombang.

Pada satu kesempatan, dia terlihat mengayuh paddle di tepi tebing batu besar dan bisa saja dihempas gelombang utara Pulau Natuna yang dahsyat. Atau pada kesempatan lain dia ber-paddle di tepian Kota Kendari di sela pulau Bokori dengan arus balik yang dikenal kuat.

Setelah beberapa kali ikut misinya ke beberapa titik seperti Natuna, Kendari, Banda Neira, Tegal hingga Bandung, kali ini saya dibuat kagum pada ketenangannya saat berada di atas chopper antara Tegal dan Bandung.

Sepulang dari melihat proses verifikasi kapal cantrang dan berkonsultasi dengan nelayan-nelayan di Tegalsari, Tegal, Menteri Susi tandang ke Bandung. Saya ada di belakangnya, mendapat kesempatan untuk melihat Pantura dari udara. Yes!

Ini kesempatan kedua naik chopper setelah sebelumnya pernah naik dari Meulaboh ke Banda Aceh tahun 2006.

Saya agak kelimpungan dan berkeringat dingin karena perjalanan terhadang mendung tebal di tepi Gunung Tampomas, sementara dia terlihat santai saja. Dia terlihat tenang, bahkan meminta pilot untuk bermanuver melihat jalan tol yang sedang dibangun.

Di sisi lain, saya sibuk mencari pegangan bak mencari mencari pegangan di mobil. Hal yang tak saya temui di chopper.

Membaca kota dengan kamera (foto: K. Azis)

Tak hanya jelang masuk Bandung, di Tegal, saat pesawat berbaling-baling itu merangkak naik, perempuan itu meraih kamera yang acap dia bawa. Kamera yang dijagokannya sebagai pemberi gambar bagus, jernih dengan akurasi maksimum.

Itu adalah kamera putih yang menurutnya telah memberinya beribu-ribu gambar pesisir dan laut Nusantara selama menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.

“Bu, mungkin suatu waktu bisa dipamerkan,” kata wartawan pada suatu ketika.

“Iya, mungkin saja,” katanya sambil mengangkat bahunya.

Di pagi jelang siang itu dia terlihat membidik pantai Cirebon, mengabadikan suasana kapal-kapal kecil menebas ombak dan kembali ke daratan Pantura, Jawa Tengah sebelum memasuki tapal batas Jawa Barat yang terkurung mendung.

Selain kamera, sebuah tas jinjing kulit berisi dua termos, satu bertuliskan teh, satunya kopi menjadi penemannya. Dua pilihan yang bagus disuguhkan untuk sesiapa teman perjalanannya. Selain minuman, Menteri Susi juga tak pernah luput dari buah. Kadang jeruk, kadang semangka, nenas hingga melon. Dia penikmat buah.

“Kopi bagus untuk fisik, asal jangan banyak gula, kalau perlu tak pakai gula,” katanya pada suatu ketika di Natuna.

Menikmati kopi sembari membaca realitas Indonesia (foto: K. Azis)

Terkait kamera, dia acap juga mengingatkan untuk tetap menjadi proporsi gambar. Pada beberapa kesempatan dia memberi masukan untuk foto yang terlihat blur atau ‘bergerak’.

Dalam perjalanan yang mendebarkan itu, lantaran saya tak minum kopi, saya meraih roti dan tak lupa mencicipi semangka bekal dari Tegal. Tak lupa saya candid, untuk dear readers bisa menikmati bagaimana Menteri Susi menikmati perjalanannya, bukan?

Gowa, 25/02

Ibu Susi dan Sampah Plastik di Pesisir Laut Natuna

Jangan biarkan sampah plastik merampas kehidupan laut (foto: Sukarma)

“Katanya orang Takalar, kenapa nggak berani berenang?” godanya. Saya menyengir dan mencebur diri ke laut Natuna dengan pelampung melekat di badan. Cie!

Siang itu, Si Ibu baru saja selesai mengayuh paddle, olahraga kesukaannya. Dia mengaso sembari menikmati segelas kopi. Laut mengalun. Dia bergoyang sembari mencandai kami.

Sebentar lagi Laut Natuna akan bergelora. Angin Utara yang diwaspadai nelayan-nelayan Anambas dan Natuna sebentar lagi tiba.

Sebelumnya, Si Ibu terlihat mengayun paddle-nya dengan cekatan, kami melihatnya mengayun dengan latar pemandangan batu-batu indah khas Natuna. Jika laut relatif tenang biasanya dia berdiri, tapi kali ini duduk, sesekali berbaring.

Bersama tiga orang lainnya, mereka mengarah ke utara, kami menanti di sudut tanjung.

Tak lama, dia menuntun saya dan lima orang lainnya ke tepian. Tak ada kata-kata, dia menepi ke pantai, di antara batu-batu besar. Kami mengikut. Sebagian lainnya masih di sekoci.

“Sampah plastiknya banyak banget,” katanya sembari menyisi tepi pantai.

Itu semacam kode untuk kami agar mulai bahu membahu mengumpulkan sampah yang berserak di tepi pantai. Dia juga memunguti sampah yang berserakan. Saking banyaknya, dasar laut terlihat menghitam penuh kantung kresek, sampah plastik, dan benda-benda asing lainnya.

“Ini bisa sampai setengah ton sampahnya,” imbuhnya.

Botol minuman berbahan kaca dan plastik, kantung kresek, wadah plastik, hingga baju partai berserak di tepi pantai. Di tepian laut, di kedalaman 30 meter, berlembar-lembar kantung plastik tertanam di dasar. Sebagian terlihat melambai mencipta suram.

Angin Laut Utara dan sampah-sampah kiriman dari wilayah lain disebut sebagai penyebabnya.

Kami menghabiskan waktu hingga dua jam di pantai itu sebelum kembali ke Kota Ranai dengan kesimpulan yang sama. “Laut kita telah tercemar sampah plastik yang hebat. Orang-orang harus diingatkan dampaknya.”

Kita harus mengingatkan orang-orang bahwa sampah yang dibuang ke laut telah membuat ekosistem semakin nelangsa. Jangan biarkan sampah plastik merampas dan merusak keseimbangan ekosistem laut Nusantara.

Jangan biarkan penyu makan plastik. Jangan biarkan organisme laut terganggu kehidupannya karena sampah plastik lebih banyak ketimbang lamun atau karang.

Guys, Hari Peduli Sampah Nasional yak, lindungi laut dari serbuan sampah plastik!

Kampus Sana, Kampus Sini

Suasana Universitas Cambridge (foto: unimira.ru)

Didirikan pada 1209, University of Cambridge memiliki sejarah yang panjang. Beberapa alumninya sungguhlah top, tersebutlah Sir Isaac Newton, fisikawan Inggris yang menemukan gravitasi, aktor Ian McKellen, matematikawan Stephen Hawking, aktris Emma Thompson dan redaktur surat kabar Arianna Huffington.

Universitas Cambridge memperoleh penilaian terbaik dalam empat kategori; pada penelitian, inovasi, pengajaran dan spesialisasi keilmuan. Universitas ini merupakan yang terbaik keempat di dunia atau terbaik pertama di Eropa serta masuk ke dalam posisi kelima terbaik berdasarkan potensi penerimaan alumni S2.

Penilaiannya adalah keseluruhan skor yang mencapai 95.6%, reputasi akademik 100%, sitasi per fakultas 78.3%, reputasi alumni yang terserap lapangan pekerjaan 100%, mahasiswa fakultasi 100%, fakultas internasional 97.4% dan mahasiswa internasional 97.7%.

Sementara itu, kampus ilmu Kebumian dan Ilmu Kelautan, ETH Zurich atau Swiss Federal Institute of Technology di Swiss, adalah kampus yang disebut terbaik di dunia pada urusan ilmu kebumian dan kelautan, disusul Harvard University (AS).

Peringkat berikutnya adalah University of California, Berkeley (UCB), University of Oxfaord (Inggris), Massachusetts Institute of Technology (MIT), University of Cambridge (Inggris), California Insttitute of Technology (Caltech) lalu Standford University.

Terbaik di Asia adalah Universitas Nanyang Technological University, Singapore (NTU), disusul National University of Singapore (NUS), Tsinghua Univesity di China, the University of Hong Kong, the University of Tokyo.

Ada apa di kampus sana?

Menarik untuk melihat alasan mengapa ETH Zurich disebut sebagai yang terbaik di urusan ilmu kebumian dan kelautan menurut QS World University Rankings.

Beberapa yang menjadi indikator adalah, kebebasan akademiknya, tanggung jawab, semangat kewirausahaan, dan keterbukaan terhadap dunia – nilai-nilai.

Kampus ini telah menjadi barometer keilmuan sejak tahun 1855 dan menjadi pusat pengetahuan dan inovasi. Berada di jantung Eropa, kampus ini telah menempatkan dirinya sebagai pelopor solusi yang efektif dalam menghadapi tantangan global yang dihadapi umat manusia.

Saat ini, kampus tersebut mempunyai 500 profesor, ada 20.000 siswa yang berasal dari 120 negara. Merupakan kawah candradimuka para peneliti atau ilmuwan yang bereputasi dunia.

Wajar ketika kampus ini berhasil menempatkan alumninya sebanyak 21 peraih Nobel, di antaranya Albert Einstein. Kampus ini menggunakan Bahasa Jerman untuk bidang S1 dan Bahasa Inggris untuk S2. Biaya kuliah persemester sekitar US $ 600).

Kampus lainnya yang bisa menjadi barometer untuk Eropa adalah Universitas Oxford di Inggris. Berada di peringkat 5 dengan raihan maksimun karena kualitas penelitian yang digelutinya, dedikasi dalam pengajaran serta inovasi dalam menawarkan kebaruan dan manfaat bagi dunia.

Kampus lainnya adalah Universitas Harvard. Adalah institusi pendidikan tinggi tertua di Amerika dan universitas terbaik ketiga di dunia menurut QS World University Rankings terbaru dan menempati urutan pertama di antara dua ilmu prestisius; Biologi atau Kedokteran, Ilmu Sosial atau Manajemen. Universitas ini juga termasuk di antara tiga universitas teratas di dunia menurut bidang studi QS berikut ini: Seni dan Humaniora, Ilmu Pengetahuan Alam.

Sosok seperti Mark Zuckerberg, Bill gates, hingga Barak Obama merupakan jaminan kampus ini merupakan yang terbaik.

Di kampus-kampus tersebut, dahaga pada Ilmu Kebumian dan Kelautan dapat dijawab dengan mengikuti kuliah-kuliah terkait evolusi kehidupan, planet, penyebab gempa bumi dan letusan gunung berapi, fenomena samudra dan atmosfer, hingga beragam proses alamiah di atas muka bumi, darat dan lautan.

Khusus untuk ilmu kelautan, bidang-bidang cabang yang bisa dipelajari seperti fenomena laut, dan bagaimana mengelola sumber daya kelautan agar dapat dimanfaatkan secara bertanggungjawan serta ramah lingkungan.

Ilmu Kebumian dan Kelautan menekankan pada telaah isu lingkungan. Pada aspek bagaimana sumber daya di bumi atau lautan dapat digunakan dengan arif di tengah tekanan. Bagaimana cara terbaik untuk mempertahankannya, memahami perubahan atmosfir dan pengaruhnya terhadap kehidupan di bumi, atau bagaimana aktivitas manusia dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya bencana alam.

Kampus ini didukung oleh dosen bereputasi internasional yang diterima karena kompetensi dan kompetisi yang ketat, mahasiswa yang masukpun adalah yang memiliki nilai bagus dalam bidang matematika, kimia atau fisika bukan mahasiswa karbitan atau ‘diterima karena hanya mereka yang mendaftar’.

Di dalam, para mahasiswa harus menunjukkan ketertarikan pada sumber daya alam, pada ilmu pengetahuan bumi dan kelautan dan menunjukkan kesungguhan untuk menghidupkan ‘proses ideasi’ yang cerdas, bermoral dan tak takut bicara kebenaran.

Itu adalah cerita kampus-kampus di luar negeri sana.

Tentang kampus sini

Untuk yang di sini, apakah sudah seperti itu prestasinya? Atau paling tidak mempunyai kelengkapan proses belajar mengajar yang memberdayakan mahasiswa? Tidak mengerangkeng dengan regulasi berlapis, apalagi mendakwa dengan segala macam label pemberontak atau kriminal? Semoga tidak.

Jika boleh usul, kampus sini, harusnya lebih getol dalam mendorong mahasiswa untuk menghabiskan waktu dalam membaca subjek pengetahuan secara independen, mengkombinasikan edu-trip, melakukan ekspedisi atau bahkan mendorong untuk bisa bekerja sebagai pemagang atau sukarelawan di lembaga-lembaga kredibel.

Kampus sini harus lebih banyak mengkondisikan mahasiswa untuk fokus pada urusan laboratorium dan lapangan.  Bersiaplah untuk membuat tangan kotor dan benam dalam urusan penelitian lapangan, di gunung, di pedalaman, di pulau dan di palung-palung ilmu. Bagaimana menelaah gejala dan menemukan solusi.

Mahasiwa sini harus juga mampu membuktikan bahwa mereka semakin membaik dalam urusan menulis esai, melaksanakan proyek penelitian dengan jujur, melakukan presentasi lisan maupun ujian praktik yang membanggakan, bukan menjiplak seperti yang banyak dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa di Negeri Antah Berantah.

Kampus sini harus sungguh-sungguh membentuk kompetensi mahasiswanya, bukan kompetensi dosen belaka yang tidak jelas mau di kemanakan kompetensi itu. Mereka harus mendorong mahasiswanya untuk dapat melaksanakan tugas dengan bertanggung jawab, atau mencari tahu apa yang bisa dicapai. Lalu ‘bagaimana’, bagaimana pekerjaan yang akan dikerjakan setelah selesai kuliah.

Bagaimana kampus sini, menjadikan mahasiswanya atau luarannya ‘berbeda’ dalam area kompetensi yang bisa saja disandingkan dengan lulusan lain.

Kampus-kampus sana dikenal selalu menunjukkan tingkat kemahiran yang berbeda dan inovatif, kampus sini harusnya begitu juga.

Kampus-kampus yang disebutkan di atas, baik di sana dan di sini, seharusnya bermuara pada kualitas kompetensi alumni.

Pada bagaimana mengartikulasikan pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan perilaku yang penting untuk kesuksesan ketika menjadi alumni. Dan yang pasti mampu mengkreasikan dan memanfaatkan peluang. Kalau tidak, mereka hanya akan jadi pengangguran intelektual.

Kampus-kampus sana dan sini, akan menjadi keren jika sungguh-sungguh pada empat tingkat kemahiran; pada pengetahuan dasar, kemampuan bekerja, keluasan pengetahuan, dan kemampuan memimpin dimana pun dia berada, dia punya leadership yang bisa mengakselerasi pencapaian visi kehidupan, di manapun dia berada.

Bagaimana penjabarannya, orang-orang di kampus sini mungkin sudah tahu.

Dia hanya perlu untuk keluar dari rutinitas yang sesungguhnya sangat membosankan itu.

Rawajati, 16/02