Arsip Denun: Pallae dan Denyut di Sempadan Cenrana

Amdo Sakka (dok: Denun)

Berkunjung ke Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan selalu menyenangkan. Sejak beberapa tahun terakhir saya telah belasan kali berkunjung ke tanah kelahiran Jusuf Kalla ini. Tanah kelahiran pahlawan pembebasan yang dikagumi rakyat Bone, La Tenritatta Arung Palakka dan juga Jenderal panutan M. Joesoef.

Daerah di pesisir timur kaki pulau Sulawesi ini merupakan perpaduan desa-desa pesisir nan eksotik serta kampung perbukitan landai menghijau. Di Bone pulalah, komunikasi dan kontak pelayaran ke Sulawesi Tenggara dan wilayah Indonesia bagian timur berdenyut tiap hari melalui pelabuhan Bajoe yang terkenal itu.

Ada ratusan anak sungai yang muaranya mengarah ke Teluk Bone melewati bahu dan lekuk bukit. Sungai di mana kampung-kampung bertahan dan berdenyut menghadang perubahan waktu.

Bone menyenangkan karena daya pikat pemandangan di sepanjang jalan menuju pusat kotanya. Dari Makassar melewati Maros, Bantimurung, Camba, lalu berkelok menanjak memandangi pesona lembah dan puncak-puncak bukit berbatu.

Melintasi Camba berarti menyaksikan bukit kapur yang menyimpan magis dasar laut purba. Lekuk batu karang yang menua dan jejak koloni terumbu laut.

Butuh empat jam untuk sampai di Watampone. Sebagaimana biasanya, di Camba kami mengaso, mengisi lambung, menikmati jagung rebus seraya melepaskan pandangan ke kaki bukit nan menghijau.

Perjalanan kami siang itu berujung di Hotel Mario Pulana pada sore hari.

Djunaid Umar seorang kerabat di Watampone telah bookingkan kamar di hotel berarsitektur khas Bugis ini. Hotel yang lebih mirip rumah tinggal biasa namun memberikan suasana akrab dan aman.

Saya bersama kolega di tempat kami bekerja, H. Ashar Karateng, Yohannes Ghewa dari Kupang, Ruslan Situju dari Kendari serta bos kami, Sakuma Hiroyuki yang berkebangsaan Jepang.

Dimensi Pallae

Di hari ketiga, kami berkunjung ke satu desa dalam Kecamatan Cenrana. Melakukan observasi dan hendak membangun pertemanan dengan warga setempat. Namanya Desa Pallae, ditempuh 30 menit dari Watampone dengan kendaraan roda empat.

Di desa Pallae, mayoritas warga adalah petani, nelayan, peternak. Ini dibuktikan oleh adanya sawah empang.

“Di Pallae, ada empang yang sekaligus dapat dijadikan tempat menanam padi. Jika kemarau, air akan asin dan jadi tempat hidup udang dan ikan,” terngiang ucapan pak Sirajuddin, warga Pallae yang memberi kami informasi sehari sebelumnya.

Juga Heriyanto, salah seorang pemuda setempat yang memberi informasi awal bahwa dulu Pallae terkenal sebagai desa dengan jumlah peternak itik yang sangat banyak namun berangsur berkurang.

Alasannya banyak pedagang yang beli itik untuk dikonsumsi. Ada pula ibu-ibu yang menganyam tikar, namanya “tappere ampellang” yang mengambil rumput liar dari empang-empang tradisional.

Yang paling unik, kata Heryanto, di sana ada perahu berenang di kolong rumah. Maksudnya, di beberapa kolong rumah dapat ditemui sampan. Di desa ini banyak sampan karena kampung dikitari anak sungai. Warga menyimpan perahu di kolong rumah yang kerap terendam air.

Mengenai dimensi sosial budaya, menurut Heryanto, di desa Pallae ini masih kental hubungan perkawinan antar sepupu atau kerabat dekat. Sejak dulu perkawinan dengan kerabat dekat dalam kampung sampai sekarang masih dipertahankan.

“99% orang Pallae menikah dengan sanak famili. Jarang sekali dengan perkawinan silang (keluarga lain),” kata Sirajuddin. Maksudnya, perkawinan dengan suku lain atau dari luar kampung.

Heryanto menambahkan bahwa Desa Pallae dikenal sebagai desa yang agamais, yaitu mempunya sarjana-sarjana alumni As’adiyah, Sengkang.

Informasi dari Aparat Desa

Hari sedang terik saat kami sampai di kantor desa. Adalah Andi Muhammad Yusuf, Kades Pallae yang menerima kami bersama Sekdesnya bernama Haji Kamaruddin. Disambut di kantor desa, kami memperoleh informasi awal tentang desa ini, tentang pekerjaan utama warga dan informasi dasar tentang kependudukan. Beberapa tamu duduk di teras kantor karena ruang pertemuan sempit.

Desa ini terdiri dari tiga dusun, Pallae, Maruwung Watu dan Waeluwu. Jumlah penduduk berdasarkan data terbaru sebesar 1.285 Jiwa.

Berbatasan dengan Desa Lagaolong dan Kelurahan Ujung Tanah di selatan dan timur berbatasan dengan Panyiwi dan Latonro, barat dengan desa Watu. Desa ini berdiri pada tahun 1987 sebagai pemekaran dari desa Watu.

Menurut Sekdes, di desa ini banyak terdapat buruh tani karena yang memiliki lahan pertanian atau perkebunan adalah dari orang luar.

“Dulu ada puluhan hektar tapi pemiliknya hanya satu orang. Tapi ini ada hubungannya dengan Raja Bone ke-16, La Pakokoi, La Patau, Petta Wellulue (artinya sirih), Marulu Watu (artinya ujungnya Watu), yang memang secara berdaulat menguasai tanah di sana. Lambat laun kemudian mulai dibagi-bagi,” kata Haji Kamaruddin.

“Informasi lain bahwa desa ini pernah kena imbas banjir danau Tempe, Wajo. Meluapnya danau berimbas ke sini,” ujar Supriadi salah seorang kaur desa.

Fakta di Desa

Menelusuri jalan utama desa yang masih berupa tumpukan kerakal atau pengerasan, kami menyaksikan hamparan sawah yang tergenang air. Ada anak sungai yang dialiri air dari arah utara.

Di bulan Oktober air telah mengisi ruas sungai kecil itu. Menurut peta Googlemaps, terdapat banyak sekali anak-anak sungai yang keluar dari badan sungai Cenrana salah satunya salo Pallae.

Andi Amrul Muh. Yasir dan Andi Mukbil, dua anak kecil yang saya temui sedang bermain di ujung sungai kecil di Dusun Pallae.

Mereka masih kelas 1 SD. Di dekat mereka seorang lelaki muda sedang mengecat sampan. Di sana ada tiga sampan sedang tertambat. Siang sedang riuh di Pallae. Itik-itik muda berenang, mengibaskan ekor dan sayapnya. Saling menggoda di tepi sampan warga yang ditambatkan di batang kelapa.

Salo Pallae, nama sungai itu hiruk pikuk oleh suara itik. Air sedang naik di ujung anak sungai Cenranae, Kabupaten Bone. Di anak sungai ini, warga mengaitkan perahu sampan. Menyandarkan perahu dan membersihkan bodinya. Di radius 100 meter aktivitas warga beragam. Terlihat itik, kayu kelapa, daun. Pohon sukun, kelapa, pisang, mangga, kandang itik. Ada empang.

Potensi ekonomi dan geliat sosial budaya terpapar di Pallae. Tidak ada kekhawatiran tentang masa depan, tentang status sosial, tentang kemiskinan, sebab mereka punya banyak sumberdaya alam.

Desa subur ini bertahan karena ada aliran sungai, empang dan papan untuk permukiman mereka.

Pada beberapa petak empang, tumbuh alang-alang yang telah dipotong oleh warga. Mereka mengambil dan mengeringkannya sebagai bahan pembuatan tikar anyaman.

Ada yang menarik. Hampir semua rumah warga berwarna kuning. Ada kuningisasi di sana. Salah satunya rumah Andi Mata, rumah ini berdinding warna kuning, kombinasi hijau muda.

Di bagian lain, ada bangunan desa dan diberi nama “Baruga Sayang”. Tidak ada aktivitas di situ. Yang semarak justeru grafiti tanpa makna. Menurut ibu-ibu yang kami temui itu adalah program Pemerintah Provinsi.

Beberapa warga sedang mengaso di kolong rumah, ada pula yang sedang duduk santai di halaman rumah batunya. Satu-dua kendaraan roda dua lalu lalang seraya membawa anak sekolah.

Walau begitu, banyak rumah yang terlihat kosong. Pintu tertutup. Menurut warga mereka pergi ke kebun. Jika pun ada pergi jauh itu karena merantau di Sulawesi Tenggara.

“Air mulai naik sejak pagi tadi,” kata Ambo Sakka yang saya ajak bicara saat melintas di pematang empangnya. Dia sedang mengambil rerumputan di empang yang bersebelahan dengan anak sungai. Beberapa warga lainnya sedang mengambil air untuk sumber air minum bagi sapi-sapi mereka.

Warga memanfaatkan lahan sawah sekaligus empang ini antara bulan April hingga Oktober untuk persawahan dan antara bulan Oktober dan April mereka membudidayakan kepiting.

Sungai, nampaknya menjadi urat nadi kebutuhan warga. Dengan aliran sungai mereka memanfaatkan air untuk mengisi empang dan mengairi persawahan mereka.

Dengan air sungai ternak mereka bertahan hidup dan mereka memperoleh telur dari itik. Dengan air sungai mereka memberi minum ternak mereka. Sungai adalah bukti kesuburan tanah mereka.

Dari Pallae, kita membaca urat nadi kehidupan desa ada di muara sungai, pada anak-anak sungai, tempat di mana warga bertahan sekaligus menyambung hidup.

Di sana pula anak-anak mereka belajar membaca pesan alam. Dengan aliran sungai dari induk di Cenrana, sampan-sampan mereka menjelajah, memancing ikan, menjaga empang di sekitar muara dan melabuhkan asa.

Sungai bagi warga Pallae adalah masa depan mereka. Satu-satunya kekhawatiran mereka adalah jika Danau Tempe di kabupaten tetangga, Wajo meluap dan mengirimkan banjir bandang ke permukiman mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.