Perempuan yang (tak) memunggungi badai

InkedDFW_4488_LIAngin menderas dari sisi barat Gunung Banda Besar. Perempuan berkacamata itu memilih memunggungi arah tiupan angin yang memboyong hujan. Dia terus bercengkerama dengan si Duta Besar berbadan gempal dari benua jauh.

Rambutnya terlihat menutupi seluruh telinga. Kacamatanya tersembul dari ujung-ujung rambutnya. Sesekali dia menjatuhkan pandangan ke sisi Neira. Pulau dimana Hatta menyulam angannya tentang seperti apa Indonesia kelak.

Indonesia yang dibangun dari rempah, dari gemah ripah loh jinawi, yang berdiri di atas kaki sendiri, berdaulat. Indonesia yang berdikari, yang rakyatnya piawai menyelami lautan Mutiara harga diri.

Perempuan itu kini berdiri tegak menjemput dan meraih kedaulatan itu. Perempuan yang meniti samudera harapan, armada yang silih berganti memilih pemuncak karena pesanan partai dan bos-bos.

Perempuan yang rambutnya menutupi seluruh telinganya itu kini disebut telah menjegal praktik-praktik culas di lautan. Dia yang merontokkan modus operasi IUU Fishing di Indonesia. Oleh mereka yang tidak melaporkan ukuran kapal sebenarnya untuk menghindari pajak.

Mereka, yaitu kapal asing yang bersembunyi di balik nama lokal untuk mengambil jatah BBM bersubsidi.  Mereka, kapal asing yang memalsukan izin penangkapan agar bisa menangkap ikan di wilayah yang sebetulnya hanya boleh ditangkap nelayan lokal dan skala tradisional

Tentang kiprah perempuan itu, sebuah penelitian telah dilakukan untuk mencoba memberikan kuantifikasi dampak ekonomi dan konservasi. Sebuah upaya pemerintahnya untuk melawan IUU Fishing yang mengusir operasi kapal ikan asing ilegal di ZEE Indonesia melalui penenggelaman kapal, kebijakan moratorium dan pelarangan transshipment.

Apa isinya?

Dari riset itu terkuak bahwa terdapat 3 dataset empiris yang digunakan yaitu data satelit yang meneropong lelampu kapal di malam hari, data AIS dari sebuah organisasi yang berbasis di Negara dutabesar yang tadi, Global Fishing Watch, dan yang ketiga adalah data VMS dari Pemerintah dimana si perempuan terus menerus menegakkan dagu di hadapan para cukong dan mafia dari 7 penjuru lautan.

Perempuan itu mulai menyadari bahwa berdasarkan penelitian itu, ada bukti dan  komparasi bahwa telah terjadi 30% penurunan jumlah kapal yang menangkap ikan di negaranya setelah kebijakan IUUF.

Dia juga tahu bahwa upaya penangkapan ikan oleh kapal domestik telah mengganti upaya penangkapan ikan yang selama ini diambil oleh kapal asing.

Hasil kedua yang dicatat perempuan itu adalah telah terjadi penurunan 90% jam operasi kapal asing di Indonesia, dimana paling banyak dari Cina, Thailand, Taiwan, dan Korea Selatan.

Dia juga sadar bahwa tidak terlalu banyak penurunan dari kapal ikan Malaysia dan Jepang, tapi upaya penangkapan ikan dari mereka relatif lebih kecil (0-100 jam per bulan) dibandingkan Cina yang durasinya 2000-5000 jam per bulan.

“Oh man!”

***

Perempuan yang berdiri memunggungi angin itu juga berpikir tentang segala kemungkinan akan masa depan bangsanya di lautan. Tentang skenario-skenario.

Semisal, apa jadinya jika skenario open access berikut tidak ada kebijakan melawan IUU fishing.

Dia temukan bahwa Indonesia akan mengalami penurunan 59% tangkapan dan penurunan 64% keuntungan di tahun 2035.

Bagaimana jika ada skenario open access dibumbui kebijakan melawan IUU fishing?

Oh! Indonesia akan mengalami penurunan 37% tangkapan dan penurunan 52% keuntungan di tahun 2035.

Naini! Bagaimana kalau skenario akses yang dikendalikan atau ‘managed access’ dilengkapi kebijakan melawan IUU fishing?

Jika ini berlangsung terus menerus, Indonesia akan mengalami kenaikan 14% tangkapan dan kenaikan 12% keuntungan di tahun 2035.

Perempuan itu jelas tahu. Yakin.

***

Jadi perempuan itu sadar bahwa apa yang ditempuhnya sungguhlah tepat dan penting untuk Negara. Bahwa upaya yang dilakukan Pemerintah Indonesia saat ini adalah memilih tetap konsisten melawan IUU fishing.

“Tentunya sambil melakukan penataan agar penangkapan ikan oleh kapal-kapal domestik sendiri juga tetap berkelanjutan, menyejahterakan,” gumamnya sembari mengangguk-anggukkan kepala sembari memegang teropong.

Kepada orang-orang, perempuan berkacamata dan memunggungi angin dan hujan di Banda Neira itu lalu tiba-tiba ada di Natuna menenggelamkan 9 kapal Vietnam beberapa hari sesudahnya, sadar betul bahwa secara historis, IUU Fishing banyak terjadi di wilayah ZEE negaranya dan dilakukan oleh kapal-kapal ikan asing.

Dia tahu bahwa di tahun 2013, Indonesia adalah negara ke-15 di dunia yang ZEE-nya paling banyak diambil ikannya oleh kapal asing.

Lalu di di Tahun 2016 jumlah kapal asing yang menangkap di ZEE Indonesia berkurang drastis sehingga Indonesia menjadi posisi ke-85.

Artinya, ZEE Indonesia sudah dikuasai kapal ikan Indonesia sendiri.

“Kau kini tahu bukan?” godanya dengan mata memijar.

“Itu juga alasan mengapa tiga penjabaran kebijakan di atas armada yang dinakhodaiku memilih kedaulatan sebagai haluannya, lalu keberlanjutan dan kesejahteraan.” Saya membayangkan dia akan menjawab demikian saat saya bertanya balik.

***

Waktu berlalu, tahun berganti, tanda bahwa angin semakin menderas. Beberapa berharap badai tapi perempuan itu terus berdiri tegak di buritan.

Dia sadar bahwa sebagai anak bangsa, sepatutnya kita bangga karena Negara telah hadir di lautan dan menenggelamkan 363 kapal ikan maling. Menenggelamkan pencuri yang tak perlu dibela.

Bukankah ini bagus buat kesehatan bangsa dan negara?

Saya membayangkan si perempuan mengucapkan hal yang sama untuk orang-orang juga kepada yang mengatakan bahwa si perempuan sudah diberitahu untuk tidak ada penenggelaman kapal lagi tahun ini.

“Ini perintah!” kata orang itu.

Perempuan itu terus saja melaju dengan tegak sementara angin di balik punggungnya mulai memutar dengan riuh.

Demi masa depan bangsa yang jaya berdaulat, semoga dia tak goyah meski ransum garam bekal di dapur belakang aramadanya mulai berasa pahit.

Seperti cerita angin dan hujan di bahu Neira pagi itu, perempuan itu lebih memilih basah sampai di dermaga. Sebelum bersulang dengan para tetua Lonthoir yang mulia disaksikan warga Banda Neira yang bersukacita termasuk si Tuan Donovan itu.

 

Kalibata, 24/03.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s