Serdadu Jepang di Kampung Sino-sino

20170626_180649Usai shalat Jumat di mesjid raya Takalar, dengan Nurlinda, aktivis LSM setempat, kami menuju utara menyusuri pesisir Galesong. Kami ke Kampong Saro’, Desa Bontokanang, Kecamatan Galesong Selatan, Takalar. Kampung yang sebenarnya tidak asing bagi saya karena saat SD pernah berkunjung beberapa kali dengan nenek Baji.

Saro’ berdekatan Kampung Kawari dan Manari, juga tidak jauh dari eks pasar Takari di Galesong Kota di utara.

Membaca nama-nama kampung itu saya jadi ingat nama-nama identik Jepang.

Sebelum sampai di kampung, kami melewati jembatan sempit yang dipasangi palang untuk membatasi mobil truk melintas. Di sisi kanan muara terdapat puluhan perahu nelayan yang sedang tertambat.

Linda mengajak berkenalan dengan sanak keluarganya. Saya menjabat tangan dengan Daeng Gassing, Rabasiah Daeng Saga, Jaisah Daeng Maming. Mereka terlihat sudah sangat tua namun masih gesit. Warga asli kampung setempat.

Menurut penuturan Daeng Gassing, saat pendudukan Jepang umurnya kira-kira 10 tahun. Berarti umurnya sudah lebih 80 tahun saat ini.

Sayapun memuji karena berumur panjang.

Dia kemudian mengatakan bahwa salah satu resepnya adalah “tidak menyantap makanan yang masih sangat muda. Ibarat buah, hanya makan yang matang saja”.

Seperti rujak yang asam itu? Bagiku, entahlah, tapi barangkali ada makna tersirat dari pesannya ini atau mungkin secara denotasi, bermakna bahwa yang kecut tak bagus untuk kesehatan.

“Toapi nampa nikanrei, teai anu lolo,” katanya dalam bahasa Makassar yang artinya saat tua baru bisa dimakan, bukan yang muda.

Dari pengakuan mereka terkuak bahwa beberapa ex serdadu asal negeri matahari terbit yang menginjakkan kakinya di Galesong bagi Selatan, tinggalnya di Kampung Sino Sino, sekitar 200 meter di sisi timur dari kediamaannya sekarang dan dibatasi sungai kecil.

Mereka membuat kandang dan memelihara itik, walau kerap kali meminta ternak yang dimiliki warga setempat untuk diboyong ke kandang mereka.

Anjo Japanga, appareki tampak kiti nampa naerang mangeng joeng kiti niaka ri kampong nampa nakanre. Biasa poeng appareki juku pallu ce’la“.

Katanya yang artinya, Orang Jepang, membuat kandang itik lalu mengisinya dengan itik yang ada di kampung untuk dimakan telurnya. Kerap pula, memasak ikan pindang atau “pallu ce’la” dalam bahasa Makassar.

Daeng Gassing yang saya temui saat itu, sedang duduk di dipan yang sekaligus adalah ruang tamunya ditemani istrinya Rabasiah Daeng Saga.

Hadir pula seorang wanita seumuran mereka bernama Jaisah Daeng Maming, yang berwajah mirip “Indian”. Umur mereka kira-kira 60-70an.

tentarajepang
Tentara Zaman dulu (dok: Tirto)

Tentang Sino Sino

Saya juga memperoleh cerita dari seorang warga terkait keberadaan Jepang di pesisir Galesong. Salah satunya yang berdiam di sekitar Kampung Saro’.

Ya seperti yang tampak dari suasan kampung saat itu, Kampung Saro masuk wilayah Desa Bontokanang yang dipisahkan oleh sungai kecil dan berbatasan dengan Desa Bontoloe. Kawasan yang sangat strategis dengan ekosistem bakau yang masih terjaga dengan beberapa tambak yang mengering.

Setelah memotret muara sungai di kampung yang dijejali perahu-perahu nelayan, saya kemudian bertamu ke rumah Salmawati, salah seorang kader pembangunan desa di Desa Bontokanang.

Kali ini saya tidak menceritakan salah satu proyek pinjaman yang menjadi celoteh tuan rumah yang nampaknya lebih menarik mendengarkan cerita para pencari kepiting dibanding bangunan posyandu yang tidak terurus itu, yang baru saja saya foto.

Saya memang lebih tertarik membaca perspektif dan cerita warga tentang sejarah kampung mereka sendiri, tentang hubungannya dengan sejarah pedudukan Jepang, misalnya.

Di note ini, saya menceritakan hasil dialog saya dengan ibunya, yaitu Maeumunah Daeng Lele.

Maemunah adalah anak seorang veteran bernama Balacang Dg Rani. Daeng Rani beristrikan orang Karama, Batu-Batu. Lele lahir dan besar di Saro bersama lima saudara. Beberapa keluarganya tinggal di Pattinoang dan Saro.

Balacang Daeng Rani, menurut cerita Daeng Lele lahir pada tahun lahir 1912 dan meninggal dunia pada tahun 1996.

Ayahnya adalah pekerja pada barak tinggal para serdadu Jepang yang hendak menjadikan Kampung Sino Sino sebagai basis logistiknya. Rani muda diajak oleh ayahnya bernama Jalampang, yang memang mempunyai keahlian pertukangan.

Lele sendiri lahir pada tahun 1958 dan pernah bersekolah di SD Kanaeng, belajar di kolong rumah, dan mengingat bahwa salah seorang gurunya adalah Karaeng Salle, orang tua Prof Aminuddin Salle dan almarhum, mantan hakim agung, Prof Kaemuddin Salle.

Lele juga bercerita bahwa di dekat kampung, tinggal seorang ibu yang pernah dipersunting orang Jepang dan sejak ditinggalkan oleh suaminya itu dia kemudian menikah lagi dengan pria setempat. Wanita itu tinggal di Kampung Kalumpang, dekat Manyampa, namanya Daeng Maintang. Tidak ada anak dari suaminya ini.

Tena ana’na battu injo ri Japanga,” kata Lele yang artinya tidak ada anaknya dari suami Jepangnya itu.

Lele ingat, bahwa ayahnya pernah cerita bahwa rumah panggung orang Jepang itu pernah diganggu orang-orang aneh yang mereka juluki “tulongga” atau orang yang tinggi. Orang-orang longga ini konon adalah mahluk halus yang sangat jangkung yang kerap mengganggu keberadaan mereka di Sino Sino.

“Kakek saya pernah disusul orang Jepang yang lari terbirit-birit, napas tersengal dengan sepatu yang berderap keras, karena diganggu longga. Mereka lari ke kakek karena mereka pikir, kakek Lele tahu siapa orang-orang tongga itu,” sebutnya. Rupanya para Jepang itu menaruh harapan pada kakeknya.

“Oh iyye, ayah saya pernah cerita nama orang Jepang yang kerap datang ke rumahnya adalah Tuan Babang dan Tuan Nagawa,” ujar Lele.

Yang khas dari mereka adalah kerap makan buah “bila” atau buah “maja”. Buah yang isi dagingnya dibungkus kulit keras warna hijau seukuran buah melon dan isinya warna putih, seperti adonan terigu encer.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s