Kadir, dari Kalao Toa ke Singapura

Suasana di sekitar Pelabuhan Kota Benteng (dok: KA)

Laut tenang pada senja yang temaram. Horizon bumi dibalut awan berserak berbias merah tembaga, tepat di atas kaki langit Pulau Selayar pada tanggal 2 Juni 2010, matahari beranjak benam.

Saya baru saja merekam beberapa momen di sekitar Dermaga Benteng. Kamera Nikon kesayangan masih menggantung di leher. Saat bersiap pulang ke penginapan, saya mendapati seorang lelaki berbaju kaos putih bersandar pada tiang sisi kanan perahu kayu bercat putih pucat.

Wajahnya samar. Saya mendekat dan menyapanya.

“Kapal dari mana, pak?” seraya menunjuk badan kapal.

Lelaki dengan sorot mata tajam berkulit hitam, berkumis tipis yang duduk sedari tadi menjawab singkat, “Dari Kalao Toa,”.

Kalao Toa adalah pulau ujung tenggara-selatan Selayar, berdekatan dengan Pulau Madu dan Pulau Kakabia, antara wilayah Sulawesi Tenggara dan Laut Flores.

Saya memuji kapalnya yang besar dan lagi sandar di sebelah utara dermaga Kota Benteng.

Karena dia duduk, di atas tepi geladak maka saya pun memilih jongkok untuk menatapnya dengan setara.

Namanya Abdul Kadir, umur 30 tahun. Bersama tiga orang ABK dan seorang Nakhoda, mereka tiba kemarin, tanggal 1 Juni 2010 dari Pulau Kalao Toa dengan membawa kopra seberat 5 Ton.

Selain kopra, kapal yang dinakhodai Sanusi ini juga mengangkut sepuluh orang penumpang dari pulau di ujung tenggara Kabupaten Kepulauan Selayar tersebut.

“Kopranya sedikit, hanya 5 ton padahal bobot kapal bisa sampai 35 Ton,” kata Kadir.

Meski begitu, mereka masih beruntung karena ada 10 penumpang yang membayar Rp. 100 ribu sebagai biaya sewa kapal. Lumayan untuk mengurangi biaya solar yang dibutuhkan sebanyak dua drum.

Butuh waktu selama 18 hingga 20 Jam mengarungi laut Flores untuk sampai ke Benteng ini.

Sudah dua tahun ini, Kadir menjadi ABK di kapal Sanusi. Abdul Kadir lahir dari bapak Buton dan ibu Selayar. Dia tinggal di Desa Kalao Toa, bersama istri bernama Mulyana dan seorang anak bernama Edwin berumur 1 tahun.

Kadir, anak ketiga dari empat bersaudara. Pendidikan formalnya hanya sampai kelas 2 SD lalu berhenti, kandas. Satu kakak perempuannya menikah dengan lelaki asal pulau Buton.

Kalao Toa memang dikenal sebagai pulau yang dihuni oleh beberapa warga keturunan Buton dan Selayar seperti dari Kampung Tajuiyya dan Tanete. Bapak Kadir bernama Idris. Kadir lahir pada tahun 1980. Selain bekerja sebagai ABK, Kadir juga mempunyai beberapa area kebun kelapa dan tanaman jagung.

Mengangkut Cakar

Ada cerita menarik yang disampaikan Kadir tentang pengalamannya berlayar.

Kadir sudah pernah berlayar ke Kupang, Kendari hingga Singapura.

“Tahun 1992, saya pernah ikut berlayar ke Singapura bersama NNakhoda bernama Haji Ramli. Dalam tahun itu, saya sempat berlayar dua kali ke sana,” katanya.

Kala itu Kadir sebagai kru kapal yang membawa rotan dari Sulawesi Tenggara menuju Singapura.

“Waktu itu, kami berlayar dari Kota Kendari, kemudian melewati Surabaya, Belitung, Tanjung Pinang, hingga melintasi Batam,” ungkapnya.

Butuh waktu 13 hari kapal yang diawaki Kadir untuk sampai ke Singapura. Setelah membongkar muatan rotan di sana, Kadir cs menghabiskan waktu 15 hari di Singapura untuk mencari muatan.

Tahun-tahun itu memang sedang booming bisnis pakaian rombeng atau cap karung (cakar) atau pakaian bekas asal Singapura.

“Dari Singapura, kami membawa berbal-bal pakaian bekas,” kisah Kadir.

“Saat itu kami sempat diperiksa polisi, tetapi tidak dipersulit,” Kata Kadir.

Rupanya, kapal yang dinakhodai Haji Ramli (kini almarhum) dari Singapura itu juga punya target lain, membawa pakaian bekas itu ke Pammana. Pammana, adalah satu wilayah di Flores yang terkenal sebagai pusat distribusi pakaian bekas tahun 90-an.

Kampung Pammana ditempuh selama 10 jam dari Kalao Toa, kampung Abdul Kadir. Upah yang diperolehnya selama pelayaran itu selama satu bulan setengah itu, dia memperoleh Rp. 600 ribu.

“Saat itu saya belum menikah,” katanya. Dia mengaku selain menjadi ABK dia juga mengurus kebunnya.

Di Pulau Kalao Toa, walau termasuk pulau besar namun tanaman utama sebagai modal ekonomi warga adalah kelapa dan jagung. Walau luas, masih banyak warga yang belum sepenuhnya memanfaatkan lahan-lahan di pulau Kalao Toa.

Kadir adalah potret warga pulau yang tetap menggantungkan hidupnya pada geliat laku ekonomi pulau-pulau jauh seperti menjadi pelaut sekaligus mencoba bertahan di desanya dengan memanfaatkan lahan produktif.

Cerita Kadir, cerita warga kebanyakan. Entah apa yang akan dimuatnya ke Kalao Toa kelak.

“Saat ini kami belum tahu apa yang akan dimuat ke Kalao Toa,”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.