Stok Ikan, Tren Pemanfaatan dan Produksi Negara

Ikan untuk kesejahteraan

Pembangunan yang direncanakan harus bertumpu pada data dan informasi faktual. Merujuk pada hasil analisis gap dan arah perubahan yang diinginkan. Di sektor kelautan dan perikanan, terutama pembangunan masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya perikanan hal serupa juga harus menjadi acuan; data dan informasi faktual.

Pertanyaannya, bagaimana memastikan bahwa data dan informasi di lautan, seperti ikan serupa atau paling mendekati perhitungan ‘menghitung daging ternak di kandang terkontrol’.

Maksud saya, menghitung stok ikan tak semudah menghitung stok daging sapi, misalnya. Ikan yang mobile dan melanglang lautan dunia adalah persoalan, meski demikian, selalu ada cara untuk mengendalikannya, setidaknya memantau lalu lintas ikan yang didaratkan di pangkalan pelabuhan perikanan dan mencatat tren-nya. Tentu dengan membandingkan jumlah unit alat tangkap, ruang dan waktunya.

Mengenal MSY

Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengkalkulasi potensi kelautan dan perikanan adalah MSY atau Maximum Sustainable Yield. Pendekatan ini telah diterima secara luas sebagai ‘grandmaster’ pengelolaan perikanan meskipun tetap debatable.

Konvensi Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS, 1982) menorehkan catatan bahwa setiap negara harusnya menetapkan jumlah tangkapan yang diijinkan, berdasarkan informasi ilmiah, yang didesain untuk memelihara atau menempatkan spesies target ke tingkat yang mendukung hasil MSY itu.

Kebijakan ini ditegaskan kembali pada tahun 2002 yang menekankan perlunya mempertahankan atau memulihkan stok ikan ke level yang bisa menghasilkan hasil lestari maksimum (MSY).

Ada banyak kebingungan seputar MSY, terkait penerapannya, khususnya terkait bentuk atau strategi pengelolaan yang tepat. Meski demikian, secara umum disepakati bahwa “Kebijakan Perikanan harus menerapkan pendekatan kehati-hatian terhadap pengelolaan sumber daya ikan agar ikan yang ditangkap sesuai atau di atas tingkat biomassa yang dapat menghasilkan hasil lestari maksimum pada tahun 2015. ”

Di Indonesia, berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 45 tahun 2011 telah disiapkan kajian dan menghasilkan peta status stok ikan dengan menggunakan kode “traffic light”, hijau, kuning, dan merah pada beberapa peraitan nasional yang memberikan informasi kepada pengambil kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan. Dari situ diperoleh informasi bahwa hampir duapertiga status eksploitasinya berada pada warna kuning (fully exploited) dan merah (over exploited).

Pemerintah Indonesia mengadopsi konsep MSY a la Schaefer yang dikembangkan pada tahun 1950-an. Metode analisis effort data atau “upaya dengan hasil tangkap”. Meski demikian ada diskursus juga bahwa metode ini sudah tidak relevan karena sifat perikanan Indonesia yang variatif (dari ragam alat dan jenis ikan).

Beberapa pihak tak ‘optimis’ dengan metode MSY karena dianggap membutuhkan sampel amat luas, lama, dan membutuhkan peneliti yang banyak. Menduga stok dengan MSY dianggap mustahil.

Isunya adalah keakuratan data dan informasi, berapa stok dan berapa yang bisa dimanfaatkan sesuai kategori masing-masing spesies ikan demi kelestarian jenis-jenis tersebut.

Armada perikanan di Bitung (foto: istimewa)
Armada perikanan di Bitung (foto: istimewa)

Tapi apapun itu, niat yang ingin direalisasikan adalah pengelolaan perikanan yang bijaksana, sebab ini berkaitan dengan selera pemanfaatan, pengalokasian sumber daya melalui alat tangkap, manusia dan sarana prasarana pendukung yang jika dilakukan serampangan akan berdampak pada kian memburuknya potensi perikanan sebagai tabungan generasi.

Di luar sana, negara-negara maritim kian agresif dan sedang mencari celah untuk menyusup ke perairan-perairan kita, diperlukan regulasi yang ketat dengan membaca potensi yang ada.

***

Meski memancing perdebatan, diskursus hingga penolakan, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) sesungguhnya telah lama merilis istilah-istilah perikanan yang bagi sebagian kita mungkin belum sepenuhnya masuk akal dan ‘apa iya?’.

Pengalaman Indonesia dalam menilai stok ikan pasca moratorium dan sepakterjang Menteri Susi di lautan sejak tiga tahun terakhir merupakan contoh tentang ‘diskursus’ atas stok ikan itu. Apakah bertambah, atau sebaliknya. Beberapa ahli perikanan malah dengan terang-terangan menolak data yang dirilis Pemerintah.

Akademisi, praktisi LSM lingkungan atau mahasiswa Kelautan dan Perikanan, misalnya, telah lama benam dalam istilah-istilah yang direproduksi Lembaga seperti FAO itu. Misalnya, apa itu status ‘underexploited’? Mari kita simak satu-satu.

Underexploited dimaknai sebagai potensi yang belum dikembangkan atau dapat menjadi lokasi perikanan baru yang diyakini memiliki potensi signifikan. Hal yang bisa jadi mengundang debat di situasi domestik negara ketika ada pro-kontra dalam penerapan kebijakan pemanfaatan sumber daya perikanan.

Yang kedua adalah ‘dieksploitasi secara moderat’, dimaknai sebagai usaha perikanan yang dapat ditoleransi dan diyakini memiliki potensi terbatas untuk dikembangkan secara intensif.

Istilah ketiga adalah ‘termanfaatkan sepenuhnya’  bermakna bahwa potensi tersebut telah dimanfaatkan atau dieksploitasi pada atau mendekati tingkat hasil optimal, dan diharapkan tidak diperluas lagi.

‘Over fishing’ yaitu situasi ketika suatu kawasan perikanan telah dieksploitasi di atas level yang diyakini berkelanjutan dan telah digarap secara jangka panjang. Pada situasi ini tidak ada ruang untuk selanjutnya dieksploitasi sebab ancaman menipisnya stok semakin dekat.

‘Catch Depleted’ dimaknai sebagai situasi perikanan dimana potensinya telah berada jauh di bawah situasi sejarah potensinya.

Pentingnya pengendalian

Ada baiknya membuka catatan FAO yang pernah meneliti 600 jenis ikan potensial, Menurut mereka, dari angka itu, terdapat indikasi bahwa ada 3% jenis ikan yang tidak dieksploitasi, ada 20% yang dieksploitasi secukupnya, 52% sepenuhnya dieksploitasi, 17% telah dieksploitasi secara berlebihan, 7% telah habis dan ada 1% pulih dari ancaman kepunahan.

Terdapat beberapa jenis yang diperiksa oleh FAO sebagai yang terancam karena eksploitasi yang massif seperti yang terjadi di Perairan Atlantik Barat Laut dimana ikan Cod Atlantik, atau ikan Haddock telah mengalami depleted.

Di Perairan Atlantik bagian tenggara ikan-ikan kakap, Bluefin tuna Atlantik, dianggap telah nyaris kolaps. Demikian pula ikan-ikan seperti Blackfin Icefish dan Mackerel Icefish di Antartika yang sudah mengalami penipisan stok.

Sebenarnya FAO telah melaporkan pada tahun 2004 tentang stok ikan dunia yang dikaji mendalam sejak tahun 2002.

Salah satu lokasi yang disebut mengalami deplesi adalah kawasan Lautan Hindia Timur Jauh atau area FAO-57. Status perikanan di sini beraganm dari sepenuhnya dieksploitasi hingga over eksploitasi dan dilakukan oleh nelayan-nelayan India, Thailand, Indonesia hingga Malaysia.

Penjual ikan di Pasar Bosnik, Biak (foto: NMN)
Penjual ikan di Pasar Bosnik, Biak (foto: NMN)

Beberapa jenis yang diintensif diburu adalah jenis Ponyfish Leiognathidae, Stolephorus anchovies (teri), Mackerels Rastrelliger spp (tenggiri), Banana Prawn Penaeus merguiensis (udang), Giant Tiger Prawn Penaeus monodon (udang). Hal demikian juga terjadi di sekitar wilayah bagian Barat Pasifik di mana di dalamnya ada nelayan-nelayan Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina.

Tuna Albacore atau Thunnus alalungae telah mengalami eksploitasi berlebih oleh nelayan Taiwan, Cina, Spanyol, Afrika Selatan sejak lama dan terancam hilang.

Demikian pula ikan Atlantic Bluefin Tuna, Thunnus thynnus yang telah lama diincar nelayan-nelayan Perancis, Italia, Spanyol dan Maroko. Demikian pula Bigeye Tuna, Thunnus obesusi yang diincar dan dieksploitasi berlebihan oleh nelayan Spanyol, Taiwan, Jepang. Ikan Bluefin Tuna Thunnus maccoyii telah menipis karena tekanan nelayan Jepang, Taiwan dan Afrika Selatan.

Menurut FAO dari sekitar 1500 jenis stok ikan, yang masih melimpah hanya ada 500 dari keseluruhan atau dengan kata lain sebagian besar telah mengalami deplesi stok. Sebagian besar jenis ikan telah dieksploitas sejak lama, di sekitar tahun 1900-an awal. Seperti ikan kod di lepas pantai Norwegia.

Meski masih menjadi perdebatan, penentuan stok ikan merupakan hal penting dalam memandang keberadaan atau masa depan ikan-ikan ekonomis di lautan dunia.

***

Ada asumsi bahwa 56,4% stok ikan telah dieksploitasi berlebih atau habis, bukan 29,9% seperti yang diklaim oleh FAO.

Sebuah laporan yang dirilis oleh unit riset SOFIA, beberapa tahun lalu disebutkan bahwa stok yang telah dieksploitasi berlebihan atau habis telah meningkat dari 10% di tahun 1974 menjadi 29,9% di tahun 2009.

Proporsi stok yang dieksploitasi sepenuhnya naik selama periode waktu yang sama, dari 51% ke 57%.

Stok yang tidak dieksploitasi secara keseluruhan, sebaliknya, telah menurun sejak 1974 dari hampir 40% menjadi hanya 12,7% pada 2009. Ini berarti bahwa meski perhatian pada pengurangan aktivitas berlebih telah semakin intensif namun situasinya tidak membaik.

Ada praktik perikanan yang menerabas dan mengambil banyak dalam sekali operasi seperti trawl. Trawl menjadi sangat massif di tahun 70-an hingga 90-an di banyak lautan dunia. Situasi stok terus memburuk.

Yang menarik dicermati juga adalah total tangkapan ikan tahunan telah berfluktuasi selama sekitar 20 tahun antara 50 dan 60 juta ton. Puncaknya pada 1994 yaitu sebesar 63,3 juta ton.

Pada 2011 dilaporkan ada sebesar 53,1 juta ton ikan yang didaratkan atau empat kali lebih banyak dari tahun 1950 yang hanya 12,8 juta ton.

FAO mencatat bahwa eksploitasi ini tidak hanya ikan tetapi juga udang, kerang dan cumi, belakangan muncul gurita, kekerangan bahkan ikan hiu. Jika jumlah tersebut ditambahkan pada ikan, jumlah tangkapannya jauh lebih besar.

Dengan demikian, selama 20 tahun terakhir, total tangkapan laut mencapai 80 juta ton per tahun. Puncaknya dicapai pada tahun 1996 dengan 86,4 juta ton. Pada 2011 itu 78,9 juta ton.

Telunjuk ke Cina

Berdasarkan paparan di atas, berdasarkan situasi perikanan yang semakin memburuk sejak tahun 90-an, dan ketika membaca bahwa volume tangkapan sebagai tolok ukur, maka Cina adalah negara yang paling bisa dijadikan ‘pelaku paling agresif’ beberapa tahun belakangan. Pertimbangan kebutuhan konsumsi warganya yang sangat besar memaksa Negera Tirai Bambu itu untuk semakin ekspansif.

Pemerintah mereka menggariskan kebijakan proggressif untuk memberi subsidi ke industri perikanannya. Mereka mendorong kapal-kapal ikan yang mencapai 200 ribu untuk bermigrasi ke lautan luas, dari ZEE hingga ke high seas.

Armada cina (sumber: ecns.cn)
Armada cina (sumber: ecns.cn)

Di tahun 2002 dilaporkan bahwa Cina adalah eksportir produk ikan dan makanan laut terbesar di dunia. Lalu di 2005, mereka mengekspor produk ikan dan makanan laut senilai US $ 7,7 miliar.

Saat ini, data terbaru yang diperoleh dari International Trade Centre, ekspor ikan dan makanan laut mereka menghasilkan pendapatan sebesar US $ 14,1 miliar per tahun.

Pada 2013, ekspor unggulan Cina termasuk cumi-cumi dan sotong beku senilai US $ 1,6 miliar, udang sebesar US $ 1,2 miliar, dan ikan beku US $ 1 milyar. Jepang, Amerika Serikat, dan Hong Kong merupakan tujuan ekspor utama ikan Cina.

Jumlah pelaku (nelayan) yang ikut program perikanan intensif Pemerintah pada tahun 2010 dilaporkan sebanyak 14 juta orang.

Setelah Cina, Peru sampai tahun 2009 merupakan negara kedua namun telah merosot ke posisi empat.

Hal ini disebabkan oleh rendahnya tangkapan ikan teri yang dapat dianggap berasal dari perubahan iklim yang ekstrem dan berdampak pada stok ikan terinya. Mereka juga mulai menutup beberapa wilayah perairan demi melindungi stok ikan teri di masa depan.

Indonesia saat ini adalah negara kedua dengan cadangan perikanannya dan sedang pada posisi ‘on fire’ untuk mengelola sumber daya perikanan mereka setelah kebijakan revolusioner perikanan di bawah kendali Presiden Jokowi.

Amerika Serikat sebagai yang ketiga. Belakangan juga Rusia mulai dipertimbangkan.

Sejak tahun 2004, tangkapan nelayan Rusia meningkat sekitar 1 juta ton. Menurut pihak berwenang Rusia, pertumbuhan ini merupakan hasil tata kelola yang mulai intensif.

Rusia berencana untuk memperluas industri perikanan di tahun-tahun mendatang, tujuannya adalah untuk mendaratkan 6 juta ton pada tahun 2020. Angka ini lebih banyak dari gabungan semua negara Uni Eropa, yang berjumlah 5,2 juta ton pada tahun 2010.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s