Membatasi Ruang Gerak Nelayan Cina

Armada Cina (foto: ecns.cn)

Perairan dingin namun subur itu berada di pesisir timur Jepang. Kaya ikan sarden, tenggiri, teri dan kekerangan. Adalah spot penangkapan ikan paling melimpah di Asia. Dengan itu, Jepang memenuhi kebutuhan industri perikanannya dengan nilai sekira US $ 9 miliar setiap tahun.

Namun, kini, nikmat Jepang tersebut mulai terusik ketika ada bukti nelayan berarmada tidak kurang 200 unit dari Cina, mulai merangsek dan mendirikan camp di tepi Zona Ekonomi Eksklusif Jepang (ZEE).

Kapal-kapal tersebut disinyalir menggunakan alat tangkap yang menguras isi laut karena menggunakan jaring skala besar. Demikian laporan seorang pejabat Jepang kepada TIME, (2016).

“Kawasan itu sangat luas sehingga mereka banyak menangkap spesies laut bahkan yang kecil (juvenile),” kata pejabat tersebut yang tidak bersedia disebutkan namanya.

“Ini berdampak besar pada perikanan Jepang.” sebutnya lagi.

Beberapa kapal Cina disebut memasuki laut teritorial Jepang sehingga menimbulkan ketegangan baru di sekitar wilayah itu. Hal yang kemudian mendorong Menteri Luar Negeri Jepang untuk memanggil duta besar Cina untuk memperoleh penjelasan terkait itu.

Jepang hanyalah salah satu negara yang merasakan berapa ekspansifnya nelayan Cina karena beban industri perikanan yang kian membengkak di Cina. Mereka menjadi eksploitas karena subsidi Pemerintah.

Intinya, industri perikanan Cina yang beraroma ilegal, tak terlapor, tak diatur (IUUF) telah tiba di ‘titik mengkhawatirkan’ pada beberapa wilayah rentan di dunia. Hal ini diperburuk pula oleh kondisi daya dukung laut pedalaman Cina yang sudah tak produktif lagi.

Beberapa waktu lalu, Kementerian Pertanian Cina melaporkan telah meraup 13 juta ton ikan di perairan teritorial Cina setiap tahun dimana 4 juta hingga 5 juta ton lebih diperoleh dari cara-cara berkelanjutan.

Disubsidi pemerintah

Ada perhatian lebih di tingkat Pemerintah setempat untuk mendorong sifat ekspansif nelayan mereka, untuk semakin jauh ke laut jauh. Mereka diberikan subsidi maksimum agar bisa lebih jauh beroperasi.

Data beberapa organisasi lingkungan dunia menunjukkan betapa armada laut lepas atau jauh Cina telah menggunakan praktik IUUF demi menjarah jutaan dolar dari laut. Mereka disebut menyamarkan lokasi sebenarnya, menggunakan alat tangkap merusak dan melabrak batas-batas territorial negara lain yang berdaulat.

Yang ironi bahwa ikan-ikan hasil tangkapan tersebut ditujukan untuk memenuhi pasar Amerika dimana diperkirakan ada 20% sampai 32% datang dari hasil pasar gelap (2011). Cina adalah eksportir makanan laut No. 1 ke dapur-dapur rumah dan restoran orang Amerika.

IUUF adalah musuh bersama sebab mengancam mata pencaharian jutaan orang di seluruh dunia dan mengancam keamanan global. Oleh sebab itu dibutuhkan upaya untuk penegakan undang-undang yang lebih baik, melalui penyediaan alat pelacakan kapal.

Salah satu lokasi yang paling rentan pada praktik IUUF adalah Afrika Barat. Kawasan yang memiliki lokasi penangkapan ikan paling subur dan produktif. Disebut rentan sebab Pemerintah setempat memiliki kemampuan penegakan hukum yang terbatas ditambah perilaku korupsi pejabatnya.

“Saat ini, sepertiga dari semua hasil laut tangkapan di Afrika Barat diperoleh secara ilegal oleh nelayan Cina,” kata Steve Trent, direktur eksekutif LSM Justice yang berbasis di London.

“Ini terjadi pada skala yang mengkhawatirkan dan lebih besar dari yang pernah kita lihat sebelumnya,” tambahnya.

Dengan VMS bisa mendeteksi transshipment (foto: Bloomberg)
Dengan VMS bisa mendeteksi transshipment (foto: Bloomberg)

Kapal penangkap ikan Cina, menggunakan alat tangkap yang oleh PBB disebut dilarang. Dan menyebabkan berkurangnya populasi ikan dengan ekstrem.

Jaring hanyut yang ditemukan oleh pemerhati lingkungan berkisar antara 10 sampai lebih dari 100 mil laut, sedalam 40 feet. Mereka mengambil hiu, penyu dan pesut sebagai bycatch.

“Dengan dua atau tiga kapal ikan mereka menyisir dan mengeksploitasi pesisir laut Sierra Leone, misalnya, dalam waktu yang sangat singkat jika mereka menggunakan alat tangkap yang menambil banyak ikan dan merusak laut,” kata Trent.

Lima tahun lalu, kebanyakan kapal yang datang ke perairan Afrika Barat adalah dari Taiwan dan Korea Selatan dan sekarang hamper semuanya adalah nelayan Cina.

Menyembunyikan identitas

Selain korupsi dan penegakan hukum yang lemah dari negara di sekitar perairan ini, hal ini juga disebabkan oleh kapal-kapal Cina yang menyembunyikan identitas mereka.

Seringkali mereka mengganti nama lambung dan menggunakan bendera negara dimana dia berada atau melarikan diri saat didatangi oleh penjaga pantai.

Mereka juga sengaja menonaktifkan perangkat Sistem Identifikasi Otomatis (AIS). AIS adalah alat yang menunjukkan posisi kapal dengan merujuk ke satelit.

Terkait tren seperti ini, selama beberapa tahun terakhir, SkyTruth, sebuah LSM di Amerika Serikat bersama dengan Google dan kelompok lingkungan Oceana telah mengembangkan sistem pemantauan AIS global, yaitu Global Fishing Watch, yang memungkinkan untuk melacak kapal secara real-time dalam upaya memerangi praktif IUUF.

Nelayan Cina (foto kredit: STR/AFP/Getty Images)
Nelayan Cina (foto kredit: STR/AFP/Getty Images)

Dalam salah satu ujicobanya, peneliti SkyTruth, Bjorn Bergman, dengan membaca AIS, pernah melihat kejanggalan pada satu kapal yang diidentifikasi sebagai kapal Cina di perairan internasional di Selandia Baru.

“Kami memeriksa jejaknya dan melihatnya sesungguhnya ada di pantai Amerika Selatan,” katanya pada TIME.

“Cukup jelas bahwa mereka ada di Selat Magellan, lokasi sebenarnya dari kapal tersebut.”

Meski demikian, seorang juru bicara Departemen Perikanan Cina menambahkan bahwa sistem AIS pada kapal nelayan mereka telah diperiksa dengan ketat, baik saat menginstal dan juga dicek oleh pihak berwenang.

“Alat tangkap nelayan tunduk pada hukum Cina, setiap pelanggaran akan dihukum,” kata sumber tersebut.

Terkait masalah di atas, para pemerhati lingkungan meminta pemerintah Cina untuk mengatur aktivitas kapal mereka dengan lebih baik, mengatur kesesuaian kapasitas dan mengakhiri subsidi negara untuk kapal perikanan tersebut.

Mereka juga meminta Cina untuk mewajibkan penggunaan AIS bagi kapal-kapal mereka. Dengan penerapan AIS ini dapat membantu sistem operasi Global Fishing Watch dari SkyTruth untuk melacak semua kapal di seluruh dunia. Tujuannya agar dapat mengurangi praktik penangkapan ikan yang merusak maupun transshipment di seluruh dunia.

(sumber: TIME/ Zhang Chi/Beijing)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s