Lampu Kuning Budidaya Ikan, Pelajaran dari Skotlandia

Budidaya ikan di Jawa Barat (foto: Kamaruddin Azis)

Sebuah artikel yang ditulis Kevin McKenna di The Guardian empat tahun lalu kembali diperbincangkan. Artikel itu bercerita latar belakang lahirnya kritik pedas seorang pemerhati lingkungan bernama Orri Vigfusson kepada Pemerintah Skotlandia.

“Budidaya ikan telah menghancurkan jenis salmon alam di Skotlandia.” Begitu kata pendiri North Atlantic Salmon Fund (NASF) tersebut. Menurutnya, sebuah institusi bisnis perikanan budidaya bernama Holyrood telah berkontribusi terhadap penurunan stok ikan salmon alam (wild) yang hebat di sungai-sungai Skotlandia beberapa tahun terakhir.

Orri bersama NASF, salah satu badan konservasi paling berpengaruh di dunia menyebut Pemerintah Skotlandia ikut bertanggungjawab karena telah menciderai industri perikanan salmon demi mengejar keuntungan semata.

Vigfusson, yang dipuji di Islandia karena kontribsinya dalam konservasi ikan salmon, menulis:

“Negara Anda mendorong dan mendukung proliferasi dan perluasan budidaya ikan yang tidak berkelanjutan. Anda menghabiskan banyak stok ikan Anda dan mendorong budidaya ikan salmon campuran demi memaksimalkan target. Ikan-ikan yang seharusnya terlindungi ketika memamah di perairan kita.”

“Kami yakin akan perjalanan balik salmon ini bahwa mereka akan bisa bertelur dan kembali pulih di sungai-sungai Skotlandia. Namun yang terjadi, kebalikannya, kelimpahan salmon telah menurun hingga 80-90% dalam beberapa dekade terakhir. Ini terutama disebabkan kegagalan Pemerintah Anda dalam mengelola salmon dengan benar.” Demikian isi surat protes tersebut.

Surat tersebut mendapat dukungan asosiasi Faroe dan Islandia. Surat kritikan tersebut bernada kecaman atas pengelolaan perikanan budidaya salmon di Skotlandia.

Sebelumnya Menteri Alex Salmond menyebut perlunya unit kerja untuk menginvestigasi pengelolaan perikanan Skotlandia. Budidaya salmon yang dimaksudkan tersebut bernilai sekitar 200 juta poundsterling per tahun bagi ekonomi Skotlandia.

Munculnya surat tersebut merupakan peringatan keras di tengah banyaknya kegalauan para pihak atas kian masifnya industri budidaya salmon ini.

Perlu diketahui bahwa perkembangan budidaya salmon di lepas pantai barat Skotlandia telah menyebabkan kekhawatiran akan kontaminasi spesies melalui sea lice ‘kutu laut’.

Tak hanya itu, pemasangan jaring ikan di di Timur Laut Skotlandia dan Pantai Northumberland serta Yorkshire telah membatasi pergerakan salmon dewasa untuk kembali bertelur di sungai-sungai yang memang sudah semakin berkurang.

Pembudidaya dan salmonnya (foto: the Guardian)

Sebuah laporan dari media ‘Country Life’ memperingatkan risiko atau dampak budidaya intensif demi memenuhi permintaan tak terbatas dari Cina.

Menurut mereka, karena pestisida yang digunakan oleh akuakultur demi melawan parasit laut tumbuh semakin kuat, makan salmon alami terpapar infestasi saat bermigrasi.

Rute migrasi salmon telah penuh dengan jaring atau keramba. “Budidaya yang intensif ini semakin tak berkelanjutan, ikan alami akan semakin menderita,” begitu tulisnya.

Menteri Salmond bahkan menyebut bahwa dorongan untuk budidaya salmon di Skotlandia ini demi memenuhi permintaan Cina yang masih kekurangan untuk pasokan sushi. Imbalannya dua ekor panda yang dikirim ke Kebun Binatang Edinburgh.

Salmon merupakan ikan dengan siklus jelas, dari laut ke sungai, dari sungai ke laut.

Siklus hidup salmon disebut selama dua tahun atau lebih di sungai kelahirannya kemudian berubah menjadi berwarna keperakan lalu menuju ke Atlantik selama tiga tahun lagi sebelum kembali ke sungai kelahirannya untuk bertelur.

“Di sisi lain, dengan budidaya intensif, proses itu bisa dilewati dengan hanya selama 18 bulan,” kata David Godfrey, aktivis pemancing salmon dari alam liar yang disebutnya sebagai kegiatan yang memuaskan jiwa ketika memperoleh salmon dari alam liar dengan memancing.

Menurut Godfrey, diperlukan penanganan yang baik melalui tata ruang usaha perikanan. Dia percaya bahwa Pemerintah Skotlandia seharusnya bisa berbuat lebih banyak untuk membantu industri ini.

“Jika orang-orang mulai menggunakan jaring lagi di perairan mereka, ini akan mencegah banyak ikan salmon Skotlandia kembali ke sungai mereka. Sekarang mereka mempertanyakan saat pemerintah Skotlandia mendorong budidaya dengan ikan campuran di Pantai Timurnya sendiri,” katanya.

Pemerintah Skotlandia mengatakan bahwa mereka tidak mencoba lepas dari persoalan. Menurut sumber Pemerintah, mereka telah menjalankan peraturan yang kuat dan diakui secara internasional dimana Aquaculture & Fisheries (Scotland) Act 2013 dapat menguatkannya.

“Kami telah mengambil tindakan untuk memperbaiki pengendalian kutu laut di budidaya ikan, termasuk tindakan untuk mewajibkan semua operator menyepakati perjanjian pengelolaan budidaya yang menetapkan pengaturan kesehatan ikan dan parasit.”

Apa yang terjadi di Skotlandia ini seharusnya menjadi cermatan semua negara, semua pelaku budidaya ikan, di mana saja bahwa hal yang paling perlu dipertahankan adalah keselamatan ikan-ikan dari alam. Bagaimana menjaga, merawat dan menjadikan mereka tetap hidup berkelanjutan bukan semata demi memenuhi permintaan luar negeri yang semakin tidak terbatas.

Di Indonesia, sejak rontoknya budidaya udang windu dan Pemerintah menyisipkan udang Vannamei dari Amerika Latin belasan tahun lalu, seharusnya tak bisa dilihat sebagai hal sederhana. Perlu kedalaman untuk sungguh-sungguh mengkaji kemungkinan risiko, dampak ke spesies domestik termasuk dampak penggunaan pupuk atau pestisida karena hasrat memproduksinya dalam jumlah besar.

Semakin masif caranya penanganannya, tentu akan semakin berdampak luas ke alam dan manusia.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: