Derai Air Mata di Pemutaran Perdana ‘Silariang, Cinta yang (Tak) Direstui’

20180114_120942Film Silariang mengaduk-aduk emosi, marah, sedih. Saya menangis. Keren filmnya, we really enjoy it. Ikut bangga, wajib nonton!” — Nana Saleh, periset Unhas.

 

***

Perempuan itu didudukkan di atas motor, di antara setang dan sadel. Seorang pria berkopiah duduk di belakangnya. Mesin motor meraung, warga berkerumun. Si pria baru saja pulang melaut berminggu-minggu dan mendapati istrinya pergi dengan lelaki lain. Orang Makassar di pesisir selatan Sulawesi menyebut perempuan itu ‘anynyala’ atau silariang

Karena siri’, si lelaki, dengan amarah pergi ke Imam dan menarik istrinya ke atas motor. Dia menuntaskan hasrat siri’ di atas motor. Saya yang jelang akil baliq, ada di antara orang-orang yang berkerumum di poros Galesong, Takalar, Sulawesi Selatan di awal tahun 80an.

***

Tiga puluh tahun kemudian, di tanggal 14 Januari 2018, saya ada di kerumunan penonton yang baru saja menuntaskan sebuah film bergenre drama tentang Silariang di Studio 2, XXI Mall Panakukang.

Saya mengusap pipi sendiri sembari memandang ke istri di remang lampu studio.

“Saya juga sedih, menangis,” katanya.

Kami baru saja menonton gala pemutaran perdana film Silariang: Cinta yang (Tak) Direstui) dengan perasaan teraduk di XXI Mall Panakukang, Makassar.

Film bertema kawin lari lantaran tak direstui itu orang tua perempuan itu mengingatkan saya pada fragmen tragis di poros Galesong itu.

“Saya juga menangis,” timpal Nana Saleh, yang berdiri di samping saya bersama suaminya Sudirman Nasir. Kami duduk sebaris di bagian L. Saya duga Sudirman juga berkaca-kaca matanya untuk tidak disebut terdakwa yang menangis.

Bersama kami ada seratusan penonton bergerak di belakang saya dengan decak kagum, tertawa dan memberi tepuk tangan.

Siang itu beberapa studio diboyong oleh film Silariang untuk gelar perdana, film yang menurut orang-orang berbiaya lebih semiliar itu. Saya kira ada ribuan orang sedang bersuka-cita di pergelaran perdana film itu.

Perihal film

Film diproduseri Ichwan Persada, pria yang ada di balik film Batas dan La Tahzan. Sebagai sutradara adalah Wisnu Adi, film yang pernah dibesutnya adalah Kekasih dan Miracle Jatuh dari Surga.

Film ini memapar naskah milik penulis Oka Aurora dan diproduksi bersama Inipasti Communika dan Indonesia Sinema Persada. Sebagai pemain utama, ada Bisma Karisma, anggota kelompok penyanyi Smash berwajah imut ini pernah main di film Juara serta Nada dan Asa.

Bisma sebagai Yusuf, pria kemaruk pada Zulaikha. Cinta yang tak direstui Puang Rabiah, ibu Laikha, begitu sapaannya. Andania Suri yang kulit putih, dengan rambut halus ‘tipis’ di atas bibirnya ini pernah main di film Air Mata Surga dan Beauty and the Beast sebagai Laikha.

Sosok superpenting lainnya adalah Dewi Irawan yang berperan sebagai Puang Rabiah.

Tak hanya dingin berlakon dalam menolak cinta, dia juga tega menyebut anaknya telah mati. Rabiah yang dilakoninya tak melakukan apa-apa saat Ridwan, memburu pasangan kemaruk cinta tersebut dengan badik di tangan.

Sosodara! Bagi saya yang membuat berbeda, unik dan menggelitik emosi di film ini adalah aktor watak seperti Sese Lawing yang bertindak sebagai paman Zulaikha, kemudian Muharu Wahyu Nurba yang bersedia menjadi Dirham, ayah Yusuf.

Sese adalah pemusik yang saya kenal kreatif dan piawi memasukkan konten nilai Bugis-Makassar ke dalam gubahan dan lagaknya.

Sedang Muhary, oh, lelaki ini yang nampaknya telah membuat saya, istri, Nana dan juga Sudirman larut dalam sukacita berbuah tangis haru. Kami bersahabat. Media sosial mendokumentasikan bagaimana kami berinteraksi, berbagi dan mencandai satu sama lain.

Dengan Muhary, saya dan Sudirman mencandai masa lalu dengan tema film dan lagak Rhoma Irama, tentang celana panjang A. Rafiq, hingga Farouk Afero, pelakon top di film-film yang kami tonton di dasawarsa tahun 80-an.

Beberapa waktu lalu Muhary, pelakon pria Dirham di film Silaring itu, meminta saya menerjemahkan lagu Bugis Ininnawa Sabbarae ke dalam bahasa Makassar melalui Facebook.

Lagu itu pula yang mengalun saat Zulaikha berbaring di pangkuan Rabiah, perempuan yang sejatinya sangat dia hormati dan sayangi tetapi cinta telah membuatnya memilih keputusan menantang adat dan maut.

Jujur saja, mendengar lirik Ininnawa Sabbarae, alunan musik nan mendayu, pesan tersirat, dan momen ketika Zulaikha rebah di depan ibunya telah menimba kesedihan dan air mata. Adegan itu mengaduk perasaan sebelum tumpah jadi derai air mata.

Saya sempat minta izin ke toilet ketika durasi fim masih seperempat jalan. Lebay!

Oh ya, ada pula bintang baru Makassar bernama Cipta Perdana, sahabat saya Andi Hadriany di Selayar menyebut pria ini adalah anak Selayar yang tinggal di Bonehalang! Selamat kongsi!

Di film itu, Cipta sebagai kakak Zulaikha bernama Zulfi. Zulfi nampaknya sudah tercerahkan sebagai anak zaman now dan tidak kebablasan memaknai siri’.

Perannya berhasil mengimbangi tensi Ridwan yang meledak dan membuat gamang ibunya yang sejatinya mencintai anaknya.

Mengaduk emosi

Nana benar. Saya juga berani mengatakan bahwa film ini menjadi mengaduk emosi penonton Makassar dan bakal mengail atensi maksimum dari penonton di tanah air terutama entitas Bugis Makassar karena permainan watak pemainnya.

Kehadiran Bisma dan Andania harus diakui bakal mengerek minat menonton film terutama bagi usia 13 hingga 20 tahun. Dewi, Muhary, Sese telah berhasil membuat penonton dewasa untuk tetap duduk dan mengamati lamat-lamat pesan substantif film itu.

Dewi Irawan nan tenang, berhasil mengecap paripurna karakter seorang ibu Bugis-Makassar, dia pantas disebut sebagai penyampai pesan film.

Muhary dan Sese sukses mempertontonkan kematangan mereka sebagai sastrawan, sebagai budayawan.  Muhary yang saya kenal adalah peyunting kata, penerbit buku, pembaca puisi. Sese sebagai musikus bercorak Bugis-Makassar yang sudah terbukti kiprahnya.

Dirham yang diperankan Muhary terlihat tegas, traumatik, cenderung sinis pada tatanan adat. Ada konflik di dialog yang diciptanya terutama dengan anaknya. Pada situasi ini, Muhary sukses membuktiknya aktingnya.

Secara umum, film ini tak hanya menawarkan keindahan visualisasi, musik dan tipikal orang Bugis-Makassar dalam berinteraksi. Film ini tak garing sebab ada sosok pengail gelak tawa. Mereka adalah sepasang suami istri yang diperankan oleh Nurlela M. Ipa sebagai Dhira dan Fhail Firmansyah, pria asal Palopo yang berperan sebagai Akbar.

Keduanya adalah sebagai sepasang suami istri yang nihil anak dan terlibat relasi spontan dengan Yusuf dan Laikha. Bermain dengan bebek, sapi, naik perahu dengan latar bukit karst adalah sisi humanis dan ekologisnya film ini. Peran mereka sebagai teman bagi sepasang yang Silariang itu amat bisa menyeimbangkan emosi penonton karena pesan cerita yang dramatis.

Setting film yang menggunakan keindahan bukt karst Rammang-Rammang di Maros serta Pangkep sebagai latar kisah pelarian keduanya, membuat film ini terlihat menawan dan menyegarkan kenangan juga harapan. Belum lagi lekuk sungai di antara bukit karst, juga deru mesin perahu yang mengantar pelarian dan persembunyian Yusuf dan Zulaikha.

Mencecap substansi

Begitulah, sebagaimana judulnya, film ini menceritakan cinta yang tak direstui yang berujung pada praktik Silariang atau Anynyala itu. Api konflik bermula ketika pesan lamaran ditampik oleh Ridwan yang ditunjuk mewakili keluarga Zulaikha.

Tema Silariang sudah sering dibincangkan, dikisahkan, diteaterkan hingga ditayangkan di layar kaca. Dari judul awalnya saya menebak alur cerita yang akan sarat konflik, berbalas hujatan, dendam, juga darah. Praktik Silariang di kalangan pemeluk budaya Bugis-Makassar adalah laku yang berkonsekuensi pada siri’. Dia dapat berujung pada penghakiman sosial hingga eksekusi ujung badik.

Film ini menjawab tebakan saya dengan pilihan yang di luar dugaan, tidak ada darah pada Yusuf, tidak ada tarung antara kedua belah pihak, yang ada malah pendarahan Zulaikha saat berada di dapur. Juga konflik tambahan pada risiko keluarga itu. Antara menjual kamera penumpu ekonomi Yusuf atau anaknya tak punya susu. Juga konflik internal keluarga mereka yang berujung lisan Yusuf untuk mungkin saja meninggalkan Laikha.

“Itu pesan film, mereka yang menikah cepat, bisa saja labil dalam mengambil keputusan, emosial juga,” kata Sudirman, penulis dan jebolan Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat Unhas dari Melbourne di samping saya.

Firdaus Muhammad, akademisi dan esais sosial keagamaan Sulawesi Selatan mengatakan film ini berbeda karena nilai-nilai yang dikandungnya.

“Ada unsur edukasi melalui materi-materi tradisi yang diangkat di dalamnya,” katanya saat kami selesai menonton.

Lagu Musikimia, Meski Kau Tak Ingin mengalun apik dan bikin mewek sehingga saya berani bertaruh ada puluhan orang yang menitikkan air mata di film itu bersama kami.

“Film ini memang ditujukan untuk usia 13 tahun ke atas, jadi lebih responsif usia, biar mereka bisa belajar dari pengalaman tradisi kita,” kata Muhary, editor buku-buku sastra dan pembangunan masyarakat ini.

Di film berdurasi 1 jam 38 menit ini, istilah-istilah adat, seperti ‘Mabbarata’ menyeruak

dan mungkin banyak yang belum tahu. Demikian pula prosesi mengantar nisan sebagai bukti bahwa Zulaikha sudah dianggap mati oleh keluarganya karena Silariang itu.

Selain Ramang-Rammang yang disorot kamera berulang-ulang, tampil pula Pantai Losari Makassar sebagai bonus film. Hal yang saya sampaikan langsung ke Muhary, usai film diputar, “Adakah andil Pemkot Makassar di film ini?” begitu tanyaku.

Lima pemantik

Mengetahui bahwa film drama bertema ’kawin lari khas Bugis Makassar’ maka pasti akan muncul kesan tentang ‘hitam putih’ pilihan, diterima atau ditolak, hidup atau mati. Ini yang menjadi bekal untuk diboyong ketika memandangi layar lebar. Karena penggambaran itu pula, saya membayangkan perlunya pelakon kuat, berkarakter dan bisa menyerap seluruh energi khas Bugis-Makassar dalam membahaskan, aksen dan gerak geriknya.

Di film bergenre drama ini saya mencatat ada beberapa kejutan.

Pertama, dialog film yang menggunakan logat Makassar mendidihkan emosi dengan spontan. Jual beli kata denga aksen Bugis-Makassar membuat saya merasa dekat dengan pemilik cerita, juga emosi yang dikandungnya.

“Tabe’ mak, bolehka’ bicara? Yusuf sudah lamarka’.”

“Janganmako terus berhubungan.”

“Tapi tidak mauka sama yang lain.”

“Janganmako tanya kenapa.”

“Restu ibu itu kuncinya surga!”.

Alamak, dialog seperti itu membuatku bergetar. Jantungku bekerja keras. Sungguh!

Kisah asmara Zulaikha, ketegasan Puang Rabiah dan amarah Ridwan yang meluap saat mencari Yusuf dan Zulaikha membuat perasaan teraduk-aduk. Amarah berlatar siri’ itu hampir saja melumat Zulaikha kalau tidak ada Zulfi dan Akbar yang rela menyimpan rahasia.

Melihat kesungguhan Akbar dan Zulfi yang melindungi Zulaikha, tetiba mata saya berkaca-kaca. Kali ini bulir air mata jaruh menetes. Hijab istri saya yang lumayan panjang jadi korban, saya menariknya dan menghapus derai air mata.

Kesedihan semakin berlipat ketika tahu Dirham, ayah Yusuf punya kenangan pahit sebagai lelaki yang ditolak oleh keluarga Bugis Bone lantara beda kelas. Dia menasehati anaknya, Yusuf untuk tak meneruskan hasrat mencintanya itu karena dia tak bisa ‘mengganti darahnya jadi darah biru’.

Dalam tradisi Bugis-Makassar, mereka yang kawin lari, Silariang atau Anynyala, mereka harus menanggung malu dan menjadi sasaran sanak keluarga yang merasa tercoreng harga dirinya.

Hal kedua, hasrat untuk melihat akting penulis, editor, sastrawan, fotografer, Muhary Wahyu Nurba, yang bertindak sebagai Dirham, ayah si Yusuf sungguh sangat besar. Perihal film Silariang yang sudah wara-wiri di dunia maya membuat saya antusias maksimum untuk melihat aktingnya.

Saya duga, Muhary alias Dirham akan mendayu-dayu dengan kalimat puitik sebagaimana biasanya atau sebagaimana saya cermati dari puisi-puisiya, namun, dia terlihat ‘tega’ pada pilihan kawin lari anaknya.

“Ih masa’ tidak nakasiki anaknya amplop, uang,” kata penonton saat melihat adegan Dirham dan istrinya berkunjung ke rumah pelarian anaknya. Yang ada malah dialog.

Ada pujian Dirham pada keberanian anaknya.

Hal ketiga, sangat menyenangkan melihat adegan orang-orang berbahasa Ibu, beraksen Bugis Makassar di layar lebar yang selama ini jadi langganan film-film asing dan ‘asing’ dari sisi tradisi atau kebiasaan kita.

Siapa tak bergetar saat menonton bahasa Ibu di layar kaca di kampung halaman?

Keempat, air mata berderai karena saya (Anda?) mudah tergugah oleh konflik yang memposisikan orang pada yang kalah, takluk dan tak bisa membuktikan motif pilihannya karena menjadi subordinasi kelas.

Ini tentang perjuangan menunjukkan cinta. Ayolah!

Hal kelima, mari relakan air mata bahagia mengalir saat melihat orang yang kau kenal selama ini getol memperjuangkan nilai lokal, keunggulan dan kekhasan etik Bugis-Makassar, kesantunan dan praktik sastrawi dalam laku dan lisan di keseharian melalui praktik kesenian, kebudayaan, film yang ditengarahi bisa mendorong perubahan, perlahan dan pasti.

***

Karena emosi yang terkuras dan memancarkan ruapan air mata itu, saya grogi saat mencari pintu keluar untuk ke toilet. Saya tidak tahu kalau untuk keluar harus berputar balik ke pintu. Untung orang-orang tidak melihat (karena gelap) saat saya menekan dinding studio yang saya kira pintu keluar.

Kisah memalukan kedua, saya hampir salah masuk setelah dari toilet, seharusnya ke studio 2 tapi saya menyelinap di pintu Studio 1. Saya kemudian grogi ketika dua perempuan yang duduk di depan saya berbalik melihat saya saat duduk kembali di kursi L 14.

Sosodara, sudah cukup ya puja-pujinya. Segeralah menonton untuk lebih tahu lekuk cerita.

Film ini adalah edukasi yang baik untuk sesiapapun tentang risiko mencinta, tentang dampak ketika urusan cinta dipersulit hanya karena alasan materi, demikian pula risiko ketika kawin muda, bukan hanya adat atau tatasan sosial yang harus jadi pertimbangan tetapi juga kesiapan mental saat berani mengambil insiatif.

Lebih dari itu, saya membaca pentingnya kita semua berlaku bijak pada realitas tradisi atau budaya siri’ pada tindak Silariang atau Anynyala.

Di kota-kota mungkin sudah tidak ada respon berlebih, tetapi di desa-desa jauh, pedalaman, pesisir atau pulau-pulau, pilihan menegaskan cinta bernama Silariang masih ada, demikian pula pilihan menegakkan adat pun masih ada. Masih berlangsung, bahkan jauh setelah peristiwa ketika pria di atas motor di Galesong itu mengeksekusi perempuan yang disebutnya anynyala atau silariang itu.

***

“Keren filmnya, we really enjoy it. Ikut bangga, wajib nonton! Flm itu itu mengaduk-aduk emosi, marah dan sedih sampai saya menangis,” kata Nana Saleh yang bertahun-tahun tinggal di Melbourne Australia ini.

Jika ada yang kurang di film ini, itu adalah penekanan pada adegan-adegan yang bisa melemahkan kisah cinta pasangan Silariang itu, demikian pula deskripsi latar belakang Yusuf dan Zulaikha, bukan keluarganya tetapi bagaimana mereka bisa menemukan kecocokan. Di film ini hanya disorot selama semenit pertama.

Yang masih buat penasaran adalah minimnya penjelasan tentang asal Kampung Yusuf, atau asal usul trah keluarga Zulaikha.

Kenangan traumatik Dirham yang mengaku mencintai perempuan dari Bone belum menjawab harapan saya untuk memetakan potensi dan challenges berjodoh lintas etnis di geografi Makassar, Bugis, Makassar, atau mungkin Mandar, Toraja atau Tionghoa sekalipun.

Apapun itu, film yang telah merangkai keindahan alam Sulawesi, pernik tradisi dan ciri komunitas Bugis-Makassar ini telah menghantar saya ke memori pertemuan dengan lelaki berkopiah di atas motor yang dengan dingin mengeksekusi perempuan yang disebutnya silariang atau anynyala.

Saya bertemu dengan lelaki itu di tahun 2005 di Kota Palopo, sosok yang sudah bergelar haji itu juga menyatakan kerinduannya untuk kembali ke Galesong. Rindu pada jejak-jejak kenangannya, pada keteguhan merawat semangat mencinta.

Tamarunang, 15 Januari 2018

 

Advertisements