7 Alasan Mengapa Trawl Sangat Buruk untuk Dasar Laut

128350_223493
Hasil sampingan trawl, ikan sarden dibuang di Lautan Afrika (foto: Western Sahara Resource Watch)

Saya ikut kapal trawl dalam tahun 1994 (ketika itu belum sepenuhnya dilarang). Meski hanya menggunakan Kapal Latih Madidihang yang menggunakan trawl untuk ‘stock assessment’ di Selat Makassar hingga Bitung, saya telah menyaksikan bagaimana trawl atau pukat dasar yang ditarik pada radius tertentu telah menerabas semua yang ada.

Lalu di tahun 2010, saya mengikuti operasi parere (Bahasa Makassar) atau minitrawl di sepanjang laut pesisir Makassar dari titik mula di Pantai Galesong Utara, Takalar, Sulawesi Selatan. Sebanyak 3 kali mondar-mandir sambil menarik dengan katrol, ikan-ikan dasarpun naik ke kapal setelah mesin penarik jaring menuntaskan tugasnya.

Seperti pukat tarik di Selat Makassar hingga Bitung itu, saya melihat betapa serampangannya mereka saat dihela oleh mesin kapal. Saya membayangkan rapuhnya ekosistem dasar seperti lamun, terumbu karang ketika ada puluhan atau ratusan kapal pukat dasar menghela di laut seperti Selat Makassar atau di manapun.

Bagaimana dengan nasib nelayan kecil? Pemancing? Pembubu? Pencari rajungan? Pemukat permukaan? Bagaimana dengan nelayan tradisional yang hanya punya sampan atau perahu bermesin luar atau ketinting?

Berdasarkan pengalaman operasi di beberapa negara, trawl adalah alat tangkap yang dapat dioperasikan di permukaan dan dasar laut tetapi karena sifatnya yang diseret, sebagian besar linimasa operasinya adalah melintasi dasar laut ‘sea bed’.

Terkait dampak itu, Carl Safina, blogger, peneliti dan pemerhati lingkungan untuk Greenpeace, sebuah organisasi lingkungan internasional mengabarkan betapa perusahaan McDonald’s dan perusahaan perikanan Norwegia dan Rusia telah membuat kesepakatan untuk membatasi beroperasinya trawl.

“Trawl menyapu semua biota, mengambil semua yang ada pantas disebut buldoser lautan,” tulis Safina.

Greenpeace juga mengaku bahwa bagi sebagian orang yang menginginkan hasil cepat, trawl adalah solusinya. Dia adalah salah satu cara paling paling efektif dalam menangkap apapun di kolom laut.

128344_223480

Lalu mengapa banyak Negara atau Pemerintah Indonesia melarang beroperasinya trawl atau sebangsanya seperti cantrang? Inilah beberapa alasannya sebagaimana juga yang diyakini oleh Carl Safina dikutip dari laman Greenpeace.

Pertama, penangkapan berlebih. Jutaan ton biota laut telah tersedot masuk ke mulut trawl atau pukat hela setiap tahunnya. Trawl yang telah digunakan secara intensif telah menghabiskan banyak jenis ikan di banyak belahan dunia.

Jika tak dibatasi maka kelak ikan-ikan akan semakin tipis. Nelayan akan semakin dahaga untuk melakukan migrasi. Migrasi yang belum tentu diterima oleh warga setempat karena perbedaan pola pemanfaatan.

Di Indonesia, akan banyak nelayan melakukan migrasi, semisal dari Jawa ke Sumatera atau ke Sulawesi hingga Papua ketika wilayah perairan semua telah menjadi jenuh atau ‘depleted’. Gejalanya sudah terlihat sejak beberapa tahun belakangan.

Kedua, mengambil bukan ikan sasaran atau istilahnya bycatch. Mereka mengambil apa saja karena mulutnya yang lebar, ikan apa saja, mamalia laut, bahkan burung laut yang sedang bermain di atas batang hanyut.

Pada beberapa kasus hasil trawl atau cantrang ditolak oleh paberik kepiting rajungan karena produknya rusak seperti yang terjadi di Gresik dan Surabaya. Hampir semua tangkapan pukat tarik mati atau terluka fatal, dan jika tidak diinginkan, dia akan dibuang ke laut.  Seperti yang terlihat ketika penulis ikut kapal trawl di tahun 1994 dan 2010 itu.

Semua yang ada di dasar diambil, dari hiu, pari, udang, belanak hingga ular. Saat hauling, saat semua hasil tangkapan disortir, jenis-jenis yang tak diminati dilempar kembali ke laut dengan suasana sekarat.

Organisasi LSM Sahara Resource WatchTrawler melaporkan adanya pembuangan 60 ton ikan sarden di lepas pantai Afrika karena bukanlah target kapal tangkap ikan, kejadiannya pada 7 Juli 2013.

Yang ketiga adalah adanya destabilisasi dasar laut. Jika jaring diseret, itu akan mengakibtkan pengadukan dan mengganggu ekosistem.

Keempat, kerusakan karang. Karang tidak hanya untuk terumbu tropis. Banyak spesies karang memiliki spesialisasi untuk tumbuh dalam air yang dalam dan dingin. Karang-karang itu sering terus tumbuh selama berabad-abad, masuknya trawl akan melibas mereka.

Di Florida dan Selandia Baru, terumbu karang telah hancur mencapai 97-99 persen oleh trawl (Allsopp dkk, 2009).

Padahal di situlah ikan hidup dan bersembunyi; itu habitat mereka. Banyak jenis soft coral yang hancur karena ini.

Kelima, menghancurkan anemon, spons, pena laut, bulu babi, dan binatang kecil dan rapuh lainnya. Banyak dasar laut menyimpan makhluk yang lembut. Celakalah mereka; mereka akan dilibas.

Keenam, menghancurkan kehidupan di dasar laut. Triliunan hewan yang lunas seperti cacing, amphipod, kerang, kepiting, lobster, dan banyak lainnya tinggal di dasar laut di liang mereka yang akan terlindas. Datangnya trawl ibarat sebuah gergaji yang memotong dahan sehingga semua akan mati, di ranting, buah, daun.

Yang ketujuh, retaknya rasa keadilan untuk semua. Dunia tidak bisa hanya untuk kita saja. Kapal-kapal trawl yang datang belakangan telah mengambil banyak di lautan dan harus dihentikan. Kalau tidak generasi mendatang hanya akan ‘gigit jari’.

Ini murni pertimbangan moral, karenanya kita harus menyimpan atau tidak mengganggu perairan dengan kegiatan yang merusak, masih banyak orang butuh untuk bekal masa depannya. Menyisihkan beberapa ruang di laut adalah hal yang cerdas-dan hal yang layak dilakukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.