Pemimpin Takalar Harus ‘Pandai Berminyak Air’

DSC_0549
Kapal nelayan Galesong sebelum bertolak ke Papua (foto: Kamaruddin Azis)

Menurut JS Badudu, peribahasa ‘Pandai Berminyak Air’ bagus disematkan untuk sesiapa yang pandai memanfaatkan potensi yang ada meski tipis dan sedikit menjadi indah, berfaedah dan membanggakan.

‘Neceski’ kata orang di Galesong. Meski hanya bermodal air, dia bisa assua’sua’ kece dan kinclong. Punna parallu pi’ru!

***

Saya pernah gabung di sebuah grup bertema Takalar namun keluar karena di grup itu yang banyak dibagikan hanya konflik, perselisihan hingga saling hujat. Tak ada yang kelar jika hanya konflik tanpa ujung.

Saya termasuk yang tak setuju jika ada akun palsu di sebuh grup, dengan nama aneh, asing dan ‘ero nikana pemberani’ padahal karoppo’ji.

Harusnya tidak ada masalah asal dia berbagi kabar yang terverifikasi atau faktual, bukan mengada-ada apalagi ‘pajai je’ne bawa’ belaka.

Jadi begini. Tentang cara kita memanfaatkan social media seperti Facebook melalui grup ini, ada baiknya kita kembalikan ke lubuk hati paling dalam.

“Siapa saya dan apa yang bisa saya kontribusikan untuk Takalar?”.

Arah pertanyaan ini adalah apa yang dapat kita berikan agar Takalar menjadi lebih baik, lebih maju dan bermarbatat sebagai kampung halaman para bijak dan sombere’ atau tidak sombong tapi beretika.

Saya percaya, sebagian besar dari kita di grup ini pasti akan mengatakan hal demikian, ingin melihat Takalar maju, berubah lebih baik dan terdepan.

Pertanyaan, perubahan apa yang kita mau lihat? Perubahan apa yang kita sebut lebih baik dan terdepan?

Perubahan yang direncanakan

Kalau kita buka buku-buku perencanaan pembangunan, maka dua kata ini ‘pembangunan dan perencanaan’ maka setidaknya ada defenisi atau tafsir yang perlu kita dalami.

Apa sesungguhnya makna kata membangun atau pembangunan? Apakah hanya untuk urusan ‘siapa yang bangun pagi hari’ atau ‘membangun rumah mentereng di tepi pantai’?

Apakah bisa disebut pembangunan jika membiarkan kampung orang lain dikeruk pasirnya lalu mendirikan bangunan setingggi Bawakaraeng di kampung sebelahnya?

Lalu, apakah yang disebut perencanaan? Hai para pengguna Facebook atau aktivis social media, apakah perencanaan yang sosodara maksud?

Apakah dia sebuah tindakan untuk melancarkan aksi tipu daya, membikin berita palsu dan mengajak khalayak memviralkannya? Apakah dia akun palsu yang disiapkan untuk merusak reputasi rezim?

Apakah dia akun palsu yang mengancam orang lain lalu meminta kompensasi uang atau proyek?

Tidak, tidak, tidak saribbattangku semua. Kalau membaca buku perencanaan pembangunan, defenisi pembangunan adalah suatu itikad untuk melakukan perubahan yang direncanakan.

Jadi perubahannya direncanakan. Misalnya, kalau selama ini Takalar pembangunan sumber daya manusianya hanya menghasilkan 10 ribu santri atau hanya 50 Imam Kampung, mungkin nanti dengan Bupati baru akan dicetak 20 ribu santri, atau 200 imam.

Bisa juga merencanakan membangun 20 Kampung Nelayan di pesisir Galesong sebab selama ini ‘manna se’re kampung nelayan’ tidak pernah tong dibereskan kebutuhan-kebutuhan kesehariannya.

Misalnya merencanakan untuk menyiapkan pesisir dan laut yang bersih dari sampah, menata rumah biar bisa lebih asri dan nyaman, atau mengelola Pangkalan Pendaratan Ikan Beba biar lebih kinclong dan sehat. Atau menghidupkan TPI Boddia untuk menjadi pusat kuliner hasil laut supaya tidak lagi sekadar dipakai untuk pacaran bagi kaum muda. Begitulah.

Nah, kalau pembangunan berkaitan dengan perubahan, maka perencanaan apa pade’ defenisinya?

Perencanaan kalau diartikan sederhana adalah aplikasi pengetahuan, penerapan pengetahuan tentang apa saja yang dituangkan ke dalam gagasan perubahan itu.

Jadi poinnya pada pengetahuan kita tentang Takalar, bentang alam di 9 kecamatan, potensi luar dalam 82 desa atau kapasitas pada 252,275 jiwa.

Nibodoi caritayya, membangun Takalar berarti mengaplikasikan pengetahuan kita tentang dimensi Takalar, baik alam, orangnya, nilai-nilai sosial budaya, hingga kapasitas ‘ikambe’ dan kelembagaannya. Kapasitas papekang hingga kapasitas koperasi (punna paeng nia).

Pengetahun kita, bukan urusan Pilkada semata

Jika demikian adanya, kalau hendak mambangun Takalar maka kita harus berpengetahuan. Harus pandai membaca situasi Takalar, menelaah apa masalah atau isunya (teai gossip atau rumor), harus punya pisau bedah untuk memeriksa di bagian mana Takalar yang perlu dioperasi agar tidak korslet kehidupannya, begitu kira-kira hakikatnya.

Karena saya percaya bahwa kita semua yang mencintai Takalar harus move on dari perselisihan, dari konflik, dari sengketa, ada baiknya kita optimis dan lebih baik bicara cinta ketimbang huru-hara atau terus menerus ‘attui bara pepe’.

Kita harus menunjukkan kecintaan ke Takalar dengan ikut membagikan pengetahuan paling rinci tentang Takalar, dari Aeng Towa hingga Puntondo, dari Cakura hingga Tanakeke.

Agar pengambil kebijakan tidak salah jalan atau salapicca.

Pengetahuan yang saya maksud adalah, apakah kita sudah membantu masyarakat Takalar untuk membereskan mekanisme perencanaan pembangunan di Musrenbangdes?

Sudah membantu pak Desa untuk membereskan RPJMDes, RKPdes hingga bahu membahu menyiakan Bumdes?

Atau, apakah kita sudah membantu dan bekerjasama dengan perencanaan SKPD atau Bappeda untuk menyusun rencana bersama-sama?

Kita punya hak dan kewajiban untuk itu, ketimbang sibuk membongkar aib yang lama dan membuat yang susah semakin susah, yang mengganggu yang ingin berbuat kebaikan dengan hal-hal yang tidak mendasar dan substantif.

Maksud saya, wahai teman-teman yang mencintai Takalar terutama di grup ini, ayo kita bantu masyarakat agar hak mereka tersalurkan di proses-proses perencanaan, bantu LSM atau Pemerintah untuk semakin serius membereskan mekanisme perencanaan mereka agar kelak kita punya agenda pembangunan yang lebih baik, sehat dan transparan.

Saat ini para pemimpin, Presiden, Gubernur, para Bupati, bahkan Syamsari Kitta pun, tak hanya harus pandai menyusun kata-kata untuk mencapai maksudnya melalui Pilkada, atau, harus punya banyak massa yang militan lalu menguasai arena perebutan kuasa, dia juga harus mampu memanfaatkan potensi yang ada, seminimal mungkin untuk kemajuan daerahnya dengan mengajak segenap elemen masyarakat, siapapun.

Sebab, pemimpin adalah mereka yang harus mampu mengubah kekuatan tersedia menjadi peluang, harus memanfaatkan kekurangan sebagai tantangan bersama.

Lalu?

Para pemimpin termasuk Bupati Takalar harus pandai berminyak air. Begitu kata peribahasa JS Badudu. Pandai memanfaatkan sumber daya tersedia untuk terlihat rapi dan gammara’ lahir batin.

Yang saya ingin bilang, kritik boleh asal apa yang disampaikan faktual. Faktual artinya bisa diverifikasi, diperiksa, dicek.

Kalau kita ingin membantu Takalar melaksanakan ‘perubahan yang direncanakannya’ maka kita harus menjadi bagian dalam pembagian pengetahuan, terlibat dalam mekanisme perencanaan pembangunan dengan memboyong pengetahuan, gagasan dan solusi.

Bukan sebaliknya, memelihara berita hoax, mudah copy paste kepalsuan atau hanya bisa memviralkan tanpa mengecek sumber dan isi berita. Giliran dikonfirmasi tentang keabsahan berita sebab orang lain terganggu dan itu fitnah, dia hanya menjawab saya hanya bagikan saja. Porenu!

Kembali ke judul, saya ingin Pemimpin di Takalar juga begitu, pandai mengelola potensi dan kondisi yang ada meski itu minimalis, kecil, tak sekaya kampung lain, melalui perencanaan pembangunan yang bersumber dari pengetahuan dan kedalaman bedah pisau analisis.

Jika ini diterima, kita di grup ini terutama para awak media yang selama ini banyak ‘membantu’ Takalar bisa lebih dalam mendedah potensi yang berserak di Takalar melalui agenda pembangunan.

Akhirnya, jangan hanya menunggu Pemimpin berminyak air seperti peribahasa JS. Badudu, kita pun perlu assua’-sua’ manna mamo je’ne bawa secukupnya.

Puih!

Kalibata, Jakarta, 31 Desember 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.