Generasi Sulawesi di Kepulauan Anambas

Ada informasi bahwa jika di Kalimantan, terdapat 750 ribu generasi Bugis-Makassar, maka di Sumatera jumlahnya mencapai 350ribu jiwa. Generasi yang dimaksudkan ini adalah mereka yang bertemali rumpun Bugis Makassar berdasarkan jejak sejarah kerajaan Gowa, Wajo atau Bone hingga masa kemerdekaan, pemberontakan Andi Azis dan Kahhar Muzakkar, serta di situasi kontemporer.

Di Sumatera, narasi terbukukan epic Opu Daeng Manambung asal Kerajaan Wajo (beberapa pihak menyebutnya angkat sauh dari pelabuhan Gowa-Tallo) di tahun 1600-an, bersama tiga orang saudaranya yang lihai bertarung mengembara ke Sumatera, khususnya ke wilayah Kerajaan Suak Indrapuri.

Karena cakap berperang, tenaganya pun digunakan untuk menaklukkan beberapa kerajaan kecil di pesisir Sumatera dan Kalimantan bagian barat atas perintah Raja Suak Indrapuri kala itu. Dan karena prestasinya tersebut keempatnya diberi tanah atau wilayah, salah satunya Opu Daeng Manambung yang memperolehnya di Mempawah, Kalimantan Barat. Saudara lainnya tersebar di Suak Indrapuri atau di pesisir Riau.

***

Begitulah, jadi lazimnya jika sedang bepergian ke pesisir-pesisir Nusantara, saya selalu memakai asumsi, ‘selalu ada orang Bugis Makassar, atau Sulawesi’ di mana pantai atau pulau dipijak. Seperti ketika bekerja di Aceh, bahkan Nias, jejak Bugis-Makassar juga ada di sana. Demikian pula di Simeulue hingg Belitung dan Nunukan.

Nah, saat bertandang ke Pulau-Pulau Anambas di minggu keempat September, saya juga menginderai hal tersebut di Kabupaten Kepulauan Anambas, kabupaten yang merupakan haluan si Lancang Kuning.

Aroma Sulawesi tercium ketika saya bersiap meninggalkan Bandara Matak menuju Kota Tarempa di Pulau Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas. Adalah nama Laode Munaini yang terpajang di dada kanan seorang pria berperawakan tinggi besar yang berdiri di pintu gerbang. Saya menyalaminya dan memperkenalkan diri sebagai ‘orang Makassar’.

DFW_1100

Wahyuddin kala menerima ikan nelayan Tarempa (foto: Kamaruddin Azis)

Dia tersenyum saat saya mengatakan kita sama, sama-sama dari Sulawesi.

“Wah, kalau saya keturunan Muna,” katanya sembari menyungging senyum. Namanya sebagai Laode Munaini, sudah menyuratkan asal usulnya.

Munaini lahir dan besar di Matak dan saat ini bekerja sebagai anggota satuan pengamanan di salah satu perusahaan minyak di Anambas. Munaini mengaku ayahnya adalah pelaut yang datang ke Anambas sejak tahun 60an dari daratan Sulawesi Tenggara, di Pulau Muna.

“Ada 16 orang saat itu, ada beberapa yang pulang, kembali ke Raha, ayah saya bersama 7 orang lainnya tak pulang sampai sekarang,” katanya sebelum saya pamit menuju dermaga tujuan Tarempa.

***

Pagi itu, di Kota Tarempa, di pasar ikan, seorang pemuda membawa dua ember berisi ikan tongkol. Suasana pasar sedang riuh, 27/09. Baju dan celananya basah. Namanya Hendrik, (22) dia membawa ikan seberat 167 kilogram kepada penampung bernama Udin, lengkapnya Wahyuddin.

Di pasar itu, sebagaimana biasa, nelayan, pedagang, pengumpul, pembeli, seperti silinder mesin ekonomi yang sedang berputar dan bercengkerama, bersenda-gurau. Mereka terhubung, ada yang membawa ikan, menimbang, membayar dan menerima uang. Ikan-ikan yang tak dimasukkan ke cold box, dihampar di lantai dasar pasar. Di pasar itu, tidak ada meja berikut ikan di atasnya, seperti lazimnya pasar ikan. Meja-meja malah menjadi tempat duduk, tempat nongkrong bagi sebagaian pengunjung termasuk saya.

“Hari ini bawa 167 kilo ikan simbok,” kata Bapak Aai, mewakili anaknya Hendrik.

Aai menerima uang dari Udin. Senyumnya terlihat mengembang, sesekali dia menyedot rokoknya dengan kuat. Di sekitar pasar itu, selain Udin ada pula Kim Fung, Muslim dan Jufri sebagai pembeli ikan atau penampung hasil tangkapan nelayan Anambas sebelum dibawa ke Tanjung Pinang, Batam atau wilayah lainnya.

Saya lalu menyalami Udin dan menanyakan perihal bisnis ikannya. Udin hanya mengenakan baju singlet. Lelaki berbadan gempal ini terlihat segan ketika saya minta berfoto.

“Hari ini dapat berapa kilo pak?” tanyaku.

“Kalau dihitung yang dari sini, sama yang di Kampung Tanjung, kira 3 ton,” katanya terkait ikan yang akan dikirimnya ke Pemangkat, Kalimantan Barat. Untuk ke sana, dia pakai kapal angkut milik pengusaha Anyang dari Pemangkat.

Dia mengaku tak punya anggota nelayan tetap. Dia bebas membeli dan nelayan bebas saja menjual ikan ke dia. Salah satunya Aai dan Hendrik. Aai malah disebutnya orang tua angkatnya.

Jika yang lain mengatakan ikan sedang melimpah, namun Udin beropini berbeda. “Gak sebanyak dulu sebanyak banyak diambil nelayan dari Belawan dan Batam,” katanya.

“Permintaan kita, nelayan-nelayan dari luar itu tak masuk ke wilayah operasi nelayan Anambas. Mereka sampai ke dalam, sampai ke pinggir-pinggir,” kat Udin alias Wahyuddin.

Tetiba insting saya muncul.

“Bapak orang Sulawesi ya?” kataku meski saya dengar aksennya sangat Melayu.

“Iya pak, ayah saya orang Selayar,” katanya sembari tersenyum.

“Benar kan?,” kataku.

Saya sampaikan ke Udin, kalau perawakan dan namanya mengantar saya pada dugaan asal-usulnya. Dan benar saja, Udin adalah putra dari pasangan ayah Selayar dan ibu Kuantan.

“Bapak saya dulu bandel pak, dia gerombolan di tahun 60an,” kata anak kedua dari empat bersaudara ini.

“Keluarga saya banyak di (kota) Makassar,” kata pria yang terakhir ke kampung kelahiran ayahnya di Kota Benteng, Pulau Selayar, Sulawesi Selatan pada enam tahun lalu.

“Ketika ada keluarga meninggal di Selayar, saya ke sana, tinggal di sana selama tiga bulan sebelum kembali ke Tarempa,” katanya. Selama di Selayar dia tinggal di Kota Benteng, di rumah pamannya. Beberapa nama yang dia ingat adalah Daeng Manimbangi dan Tante Bau’.

“Bisa bahasa Selayar?” kataku.

“Kalau orang omong saya bisa nyambung. Waktu ke Selayar bisa paham setelah sebulan tinggal di sana,” kata ayah dua orang anak ini yang sudah besar. Anak pertamanya bernama Defrisa yang sudah bekerja serta seorang perempuan bernama Yulis. Anak bungsunya ini sedang dirawat di rumah sakit Tanjung Pinang karena kecelakaan motor.

“Istri saya baru saja pulang dari Tanjung Pinang,” kata pria usia 52 tahun ini.

“Kalau di Tarempa banyak orang Sulawesi, banyak orang kita, banyak Daeng di sini,” kata pengusaha ikan yang mengaku meski belum pernah bertemu bos ikan di Pemangkat namun mereka sudah saling mengerti.

“Belum tahu muka, padahal sudah 4 bulan kita suplai ikan terus,” katanya dengan aksen Melayu yang kental.

Udin muda adalah pengelana pantai dan pulau-pulau. Sebelum kembali ke Tarempa dia adalah nelayan pencari teripang, nelayan pencari hasil laut hingga Maluku dan Papua.

“Saya itu, selama bujangnya, selama 20 tahun di luar baru balik ke Tarempa. Pernah kerja di perusahaan Jayanti di Papua, Sorong hingga Manokwari,” kata anak dari pasangan Daeng Dullah dan Marijah ini.

Kabar yang saya dengar perihal keluarga Sulawesi atau Sulawesi Selatan di Anambas adalah adanya organisasi Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) di Tarempa. Sayang sekali saya belum sempat mewawancarai ketuanya meski telah menyalaminya saat berkunjung ke Kantor Bupati Anambas, pada tanggal 27 September itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s