Kedaulatan di Laut dan Dampaknya untuk Nelayan Tarempa

Ikan tak pernah sebanyak sekarang, tak pernah sebanyak ini. Begitu kata Tarmizi, tokoh nelayan Anambas, saat ditemui di Pasar Ikan Tarempa, (27/09).

Tarmizi adalah saksi ketika puluhan kapal garong ikan asal Thailand dan Vietnam ditangkapi jajaran TNI AL Anambas di masa Menteri Freddy Numberi. Kapal-kapal itu digiring ke Kampung Antang, ke Pelabuhan Perikanan Pantai di Tarempa Timur.

Meski begitu, Tarmizi sadar bahwa meski telah ditangkapi, masih ada banyak kapal nelayan asing lalu lalang di perairan Anambas. Karenanya ikan teramat langka di Tarempa. Tarmizi paham bahwa kekuatan patroli pengawasan kita kala itu sungguh terbatas, sehingga perlu kebijakan luar biasa untuk menghajar garong-garong ikan itu.

Setelah masuk ke periode Jokowi, Tarmizi kian yakin sebab apa yang dikhawatirkannya terjawab, tentang perlunya kesungguhan untuk menjaga dan mengawal kedaulatan bangsa di laut perbatasan terutama di Anambas.

Bukan hanya sebelas, atau duapuluhan kapal tetapi sejauh ini sudah ada 300an kapal asing yang ditangkapi. Ditangkapi dan ditenggelamkan, ditangkapi dan dibakar, ditangkapi dan diledakkan.

DFW_1045
Ikan karang di Pasar Ikan Tarempa

***

Bagi Tarmizi, Indonesia harus berdaulat di lautan. Sudah lama dia sakit hati pada keluar masuknya nelayan asing di kolong air Anambas. Sudah sering kali dia menyuarakan kegelisahannya itu.

“Itu bermula di tahun 80an, saya lihat sendiri bagaimana kapal-kapal ikan asing lalu lalu lalang, lalu saya ajak nelayan sini,” kata sosok yang aktif di organisasi serikat nelayan Anambas bersemangat.

Sejak tahun 80an akhir, Tarmizi melihat banyak nelayan asing masuk Tarempa, saat itu pula dia merasa telah ada ketidakadilan di laut. Maka dia mulai menggelorakan pentingnya kerjasama nelayan Anambas untuk melawan pencurian ikan ini.

DFW_1578
Ikan untuk kesejahteraan

Dia pernah tampil di salah satu televisi nasional membahas isu pencurian ikan ini dan dipanel dengan pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan, ketika Susi Pudjiastuti didapuk jadi Menteri Jokowi pada tahun 2014.

“Jadi pembicara karena pengalaman itu, karena saya dikenal oleh Menteri Numberi,” katanya saat ditemui di Pasar Ikan Tarempa.

Dari Tarmizi, saya bisa paham bagaimana suasana kebatinan nelayan Tarempa, nelayan Anambas sebelum dan setelah penegakan hukum laut sebegini ketat di periode Jokowi.

DFW_1579

Meski begitu, meski telah merdeka dari nelayan asing, Tarmizi tetap melihat perlunya penataan atas banyaknya nelayan lintas pulau, lintas kabupaten, lintas provinis yang masuk ke wilayah Anambas, beberapa nelayan dari dari Sumatera Utara, menggunakan purse seine, menurutnya telah semakin jauh ke jantung nelayan Anambas.

“Ini yang membuat saya bersemangat lagi untuk ikut bersama nelayan sini,” katanya. Tarmizi sadar bahwa dia dan nelayan tidak bisa melarang nelayan sebangsa untuk datang ke Anambas tetapi yang lebih penting adalah perlunya penyesuaian lokasi penangkapan, sesuai izin yang diberikan.

“Janganlah masuk ke zona yang selama ini jadi wilayah tangkapan tradisional atau nelayan-nelayan kecillah,” katanya.

DFW_1599

Bagi Tarmizi, rasanya tidak adil juga jika kita membiarkan nelayan setempat dengan armada kecil sementara nelayan dari tempat lain wara-wiri dengan armada penangkapan yang sungguh besar, di atas 30 GT.

“Mana sangguplah kami?” katanya.

***

Kedaulatan di laut sendiri, di laut Tanah Air adalah niscarya. Seperti Tarmizi, saya juga sependapat bahwa pengelolaan sumber daya laut harus ditangani atau dikelola oleh anak bangsa. Rasanya tidak adil jika Negara membiarkan nelayan asing semena-mena di laut sendiri. Di laut, keadilan dalam mengelola sumber daya adalah hal fundamental.

“Di ketiadaan keadilan, apalah makna kedaulatan selain pencurian? Begitu kata Saint Augustine, filsuf dari Benua Biru berabad silam.

“Keamanan dan kedaulatan kita harus berjalan beriringan,” imbuh Micahel Gove, politisi Partai Konservatif Inggris yang juga pejabat di Kementerian Desa, Pangan dan Lingkungan. Mengutip Michael sebab dia banyak berkutat di urusan keadilan pangan dan kelestarian lingkungan.

DFW_1596
Ikan untuk kedaulatan

Itulah mengapa rasanya selama tiga tahun perjalanan rezim Jokowi – JK yang terlihat sungguh-sungguh menjaga kedaulatan di laut adalah sebuah pencapaian sekaligus pilihan yang perlu dikawal terus menerus. Sebab darinya kita akan bisa menunjukkan betapa pentingnya kedaulatan di kompleksitas dunia, di pertarungan globalisasi, pada perebutan sumber-sumber pangan dan ruang.

Benar apa yang dibilang oleh mantan Presiden Uni Eropa Jose Manuel Barroso bahwa di era globalisasi ini, di modernitas dunia yang kian laju, kedaulatan nan utuh, bulat, penuh dicirikan oleh kekuatan yang berlipat, tidak kurang.

Bagi Indonesia, pesan itu jelas bermakna bahwa kita harus berdaulat di segala lini, pengetahuan, keterampilan, teknologi hingga sarana prasarana kelautan, untuk pengawasan dan pemanfaatan. Untuk menjaga dan untuk pengendalian dan penegakan hukum.

DFW_1594
Tarmizi dan ikan-ikan di Tarempa (foto: Kamaruddin Azis)

Dengan laut seluas 2/3 wilayah negara Indonesia adalah Negara Maritim yang ditetapkan dalam UNCLOS 1982 dan berwewenang penuh di lautnya. Dekalarasi Djuanda 1957 menegaskan wilayah laut seluas 5,8 juta km2, meliputi wilayah teritorial 3,2 juta km persegi dan wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia seluas 2,7 juta km2. Ada 14.572 pulau (PRL-KKP, 2017) di Indonesia dengan garis pantai sepanjang 95.181 km. NKRI punya potensi perikanan hingga US$ 47 miliar per tahun (KKP, 2014).

Memandang potensi sedemikian besar tersebut, rasanya tidak keliru jika Presiden Jokowi menggetarkan rasa peduli dan kecintaan kita pada laut, dengan menyebut Laut Masa Depan Bangsa di tahun 2014.

DFW_1586

Dengan menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim dunia dan menjalankan 9 misi pembangunan melalui Nawa Cita, rasanya apa yang dibayangkan dan diinginkan oleh Tarmizi sebagai warga Anambas, sebagai sebagai bagian dari NKRI mulai terkuak, mulai berubah seperti yang terlihat di Pasar Ikan Tarempa.

Foto-foto di postingan ini semoga bisa menjadi pembukti perubahan itu, betapa dengan kedaulatan penuh, kita mulai menikmati kekayaan laut negeri sendiri. Semoga menjadi penyejuk hati dan mata bahwa sebagai Bangsa Maritim, kita memang sungguh kaya dan pantas bermartabat.

DFW_1592

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.