Memori Kapoposang dan Hanimun Kami di September

“Pergilah ke satu tempat dimana kau tidak akan stress, karena bulan madu adalah stress itu sendiri.” Diane Von Furstenberg.

Perancang busana usia 70 tahun ini menyebut bahwa bulan madu adalah ‘tekanan’ itu sendiri. Sosok kelahiran Brussels itu terkenal dengan kuotnya, ‘I travel light. I think the most important thing is to be in a good mood and enjoy life, wherever you are.

Kuot pertama dan kedua saya suka, sebab kami mengalami ‘stress’ dan jejak kenangan yang indahnya terbilang kemudian.

***

Di Jakarta, dua hari terakhir ini, saya ingat Kapoposang, salah satu pulau terindah di Kabupaten Pangkep yang saya tahu. Disebut indah karena mempunyai pasir putih, cemara laut yang eksotik, terutama di sisi timur pulau, dan yang pasti punya warga yang menurutku sangat ramah, terbuka dan hangat.

Pertama kali ke pulau itu dalam tahun 1997. Bersama Willem Moka, dosen biologi laut saya di Ilmu Kelautan Unhas dan Sufri Laude, senior di LP3M Ujung Pandang, salah satu organisasi masyarakat sipil yang concern ke isu pesisir dan laut sejak awal tahun 90an.

Dari LP3M juga, saya acap melakukan perjalanan ke pulau itu sejak menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat kepulauan melalui budidaya rumput laut dan sea ranching.

Di Kapoposang, saya berkenalan dan akrab dengan Pak Nur, Haji Rasyid da Muhite dan tentu saja nelayan-nelayan di sana. Nelayan-nelayan yang saya sebut sebagai ‘tradisional dan sulit move on’ sebagaimana nelayan-nelayan yang saya jumpai di Takalar, Selayar dan Pangkep daratan.

Ketika nelayan lain sibuk bertransformasi menjadi nelayan ‘rakus’ melalui bom atau bius, mereka memilih sebagai nelayan pemancing dan pemukat. Setidaknya saat itu.

DSC_0498
Rumah tetangga kami di Kapoposang (foto: Kamaruddin Azis)

Di Kapoposang, ada dua kampung, kampung barat dan timur. Kalau menggunakan bilik demarkasi sosial, saya menyebut kampung barat lebih progressif, kampung timur lebih ‘apa adanya’. Dan sebagai bagian dari program LP3M kala itu, kami dekat ke Kampung Timur, di kampung Pak Nur.

***

Singkat cerita, kami menggunakan rumah Pak Nur sebagai rumah pondokan. Semacam homebase selama proyek itu jalan.

Nah, selama pelaksanaan proyek yang dibiayai oleh Canada Fund itu, antara tahun 1997-1998, saya juga memperoleh jodoh, seorang perempuan berdarah Pulau Kabaena dan Makassar. Pacaran (cieee) di tahun 1997 dan menikah di tahun 1998 yang bagi sebagian orang sebagai tahun-tahun krisis. Hatsah!

Di salah satu titik di rentang tahun itulah kami menikah, tepatnya di bulan Mei 1998, ketika mahasiswa seantero Makassar dan Indonesia sedang kemaruk benci pada rezim Soeharto.

Meski krisis, kami beruntung sebab di tahun yang sama ada kesempatan untuk melanjutkan proyek yang saya sebutkan di atas. Proyek pemberdayaan sosial dan proyek berbonus ‘pernikahan’ gratis bulan madu.

Maka jadilah Kapoposang sebagai target kunjungan sepasang bahagia kala itu. Menaiki perahu jolloro dari Pangkep, kami berlayar menuju Selat Makassar, melayari bahtera sebagai sering dibahasakan di puisi dan cerita-cerita asmara.

Jangan bayangkan meja makan, gelas anggur, atau udang lobster yang tersaji di tepian kolam renang dihibur lagu-lagu membius. Jangan bayangkan puncak gunung atau lembah sejuk yang sedang diidamkan oleh sepasang bahagia.

DSC_0612
Pemandangan di sisi utara Kapoposang (foto: Kamaruddin Azis)

Kami berangkat ‘heroik’ di dinihari melalui salah satu ruas sungai di Pangkep dan bergerak perlahan melewati rimbun pohon mangrove. Bunyi mesin perahu membelah dinihari menuju Kapoposang.

Seingatku, September kala itu, September 1998. Pernikahan kami belum satu semester. Lagi hangat-hangatnya. Kami sepakat untuk ke Kapoposang bersama kawan, namanya Aksa dan Sudi dengan menaiki perahu jolloro’.

Dan, layaknya perahu kayu—bobotnya sekira 3 grosston, tak banyak tempat untuk duduk atau berbaring, karenanya, saya wakafkan paha ke istri sebagai bantal.

Musim sedang tak bagus, angin barat mulai datang kala itu tetapi siapa mampu menolak bahagia ketika seorang gadis manis berbaring di pahamu?

Seingatku ada lebih 10 orang di atas perahu itu, sebagian besar warga Kapoposang. Kami tidur di atas geladak bagian belakang. Tempat strategis untuk bisu dalam raungan mesin kapal.

Kami tiba pada pagi hari. Di belakang rumah Haji Rasyid. Aksa, lalu memperkenalkan kami sebagai pengantin baru. Karenanya, Pak Nur mengajak menginap di rumahnya di seberang rumah Haji Rasyid.

Layaknya rumah-rumah orang Bugis, rumah kayu itu terdiri atas 3 petak, petak depan sebagai ruang tamu meski kadang disiapkan dipan atau ranjang juga. Lalu ruang tengah, biasanya untuk pemilik rumah, lalu ruang belakang, ini biasanya sepaket dengan dapur.

Rumah Pak Nur lumayan lempang, sebab ada pula paladang atau teras depan.

***

Kapoposang adalah pulau yang menyenangkan. Tak bising dan lempang. Di kampung, tempat dimana kami tinggal adalah perkampungan yang asri. Rumah-rumah warga terlihat berjarak, ada pohon-pohon rindang di antaranya. Pohon sukun, cemara, kelapa, nangka dan banyak lagi.

DSC_0841
Sunrise Kapoposang (foto: Kamaruddin Azis)

Kami menikmati hari dengan berjalan di antara pohon-pohon rindang, melintasi semak-semak sebelum sampai ke tepian pantai yang bersih.

Bayangkanlah fragmen ketika saya menggandeng istri melintasi jalan setapak, berputar-putar lalu tiba di pantai dengan pasir putih yang tak pernah dijamah. Sayang sekali, kala itu belum ada (tidak bawa) handphone, kamera digital atau handycam apalagi kamera DSLR yang banyak digunakan kaum penikmat fotografi.

Kami menyigi pantai, dari timur ke barat di sisi selatan, lalu berputar di Kampung sisi barat, memutar dan menikmati pemandangan laguna yang dibentengi cemara di utara.

Di sore hari kami berenang di reef flat dan menikmati keindahan karang sisi utara. Kapoposang saat itu adalah pulau dengan terumbu karang yang eksotik.

Pulang ke rumah Pak Nur, dengan sekali tunjuk kelapa muda jatuh dan kami menikmati segarnya air kelapa di samping rumah saat sunset sedang unyu-unyunya. Saat makan siang atau malam, menikmati sayur santan buah kelor atau menikmati ikan teri kuah asam atau pallu kacci.

Saya kira, trip ke Kapoposang itu adalah salah satu cara agar istri paham pekerjaan kami. Tentang suka duka bekerja di laut, di pulau jauh.

Kunjungan ke Kapoposang itu sungguh mengesankan, diterima warga dengan sukacita, diajak bertamu dan menikmati teh hangat dan kue-kue Bugis.

Jika ada yang kurang sempurna, rasanya itu karena istri pak Nur sempat berseloroh, “Harusnya kami mengungsi ke rumah sebelah, bapak tidur saja di kamar kami,” katanya sambil menunjuk bilik tengah rumahnya.

Dia rupanya merasa iba melihat kami tidur di ruang tamu dan kawan seperjalanan di paladang rumah atau mengungsi ke rumah Haji Rasyid.

Mungkin dia pikir, “di ruang tamu, kalian bisa apa?”

Ah ibu, telat, kami sudah akan pulang ke Makassar siang ini.

“Eh tidak, tidak apa bu, kami menikmati bulan madu rasa melantai ini di Kapoposang.”

Tebet, 22/09.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.