Wasit, Mauka’ Bicara Kotor!

Wasit, mauka’ bicara kotor. Mengumpat. Boleh?

Dua pemain Persija tak satupun mengangkat tangan (insting lumrah kalau memang ada hands ball), ketika Willjam Pluim menahan bola umpan heading Hamka Hamzah. Sekali liukan, gol diceploskan di kirim gawang Persija.

Saya tanpa sadar mengangkat tangan puas meski berada di tengah pendukung Persija di VIP sisi barat Stadion Patriot Chandrabraga, Bekasi.

Pantas sebab PSM memang tampil menawan. Apalagi sejak masuknya si Pavel Purishkin yang stylish dan memesona sebagai bomber. Dia PSM banget!

Terkait gol dianulir itu, saya tak ada firasat, tak ada tanda-tanda, tak ada alasan untuk menganulir gol itu. Gol Pluim bersih. Sebagaimana yang saya lihat dari tribun VIP di sisi barat stadion Patriot Bekasi.

Seperti sebuah isyarat, seperti feeling, saya pun merekam gol indah tersebut, Gol yang sejatinya bisa mengubah kedudukan jadi 3-2 untuk PSM sebelum dianulir oleh wasit asal Iran Bonyadifard Mooud (33) ini.

Pertandingan antara Persija Jakarta dan PSM Makassar memang berujung imbang tetapi pantas berbuah dongkol dan sumpah serapah, oleh Pluim, Pelatih Albert dan kita semua yang mencintai PSM.

Dua gol di babak pertama oleh Marc Klok dan Pluim rasanya menjadi pertimbangan mengapa PSM amat pantas memenangkan laga tersebut.

Saya ingat obrolan sepasang di samping saya saat duduk di tribun. “Memang PSM sangat bagus, pemain-pemain asingnya bagus,” kata si cowok.

Dua blunder

Penalti yang didapat Persija rasanya tidak pantas sebab sentuhan Hamka ke Reinaldo Elias da Costa teramat tipis. Hamka protes, wasit tak peduli. Reinaldo yang terlihat mengerang kesakitan malah sukses bikin gol penalti. Gol yang diikuti oleh sepakan Bruno Lopes yang menghasilkan gol kedua. Itu penalti tak pantas. Tapi okelah.

Nah blunder kedua wasit ini yang tidak bisa dimaafkan oleh fans PSM dan siapapun yang mencintai fair play.

Pada menit ke 82, bola yang diumpan oleh Hamka Hamzah setelah duel udara dengan bek Persija jatuh persis di depan Pluim. Melenting sekali. Sekali sentuhan paha, bola disepak ke pojok kiri. Gol!  Skor 2-3 untuk PSM.

Tak ada tanda-tanda bahwa itu berbau hands ball sebelum wasit asal Iran itu meniup pluit serupa pukulan di tengkuk pemain PSM.  Lagi pula si wasit ada di belakang Willjam Pluim.

Pluim seperti shock, seluruh pemain PSM tak terima. Meneer Albert protes bukan kepalang. Tapi begitulah, wasit seperti Raja tanpa bantahan. Jika demikian adanya, kita pantas bertanya, sungguhkah wasit yang memimpin pertandingan ini netral dan profesional?

Azhari Sirajuddin, sosok yang saya kenal baik sejak di Tamalanrea dan pernah jadi pengurus PSM mengatakan seharusnya PSM menang.

Ka wasitka belaaa…” katanya saat saya bersalaman di pintu keluar stadion. Dia disusul Tibo yang saya sapa dengan pertanyaan, kenapa tak main?

“Karena akumulasi kartu,” katanya sambil lalu.

Mereka kecewa, kita semua kecewa. Wasit berlisensi FIFA yang ini sungguh mengecewakan.

PSSI, jika praktik seperti ini terus berlanjut, saya yakin sepakbola nasional akan menuai prahara berkepanjangan.

Hasil akhir yang bikin sesak, Setang!

Tebet, 15/08

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.