SKPT Natuna: Kimcu adalah Kunci! [Catatan dari Natuna bagian 2]

Kimcu adalah kunci berkembangnya SKPT Natuna? Iya. Begini ceritanya.

Kumcu adalah pedagang ikan terpandang di Kota Ranai, Natuna. Di atas jok mobil tua serata lantai dia menerima kami. Saya duduk di sampingnya dan merekam pokok-pokok ingatan dan pikirannya. Berkaos hitam tanpa lengan, celana pendek, bersandal jepit, dia tak terlihat kalau beromzet ratusan juta di bisnis perikanan.

“Hari ini hanya bisa bawa ikan 300 kilogram ke Tanjung Pinang, tak banyak karena lagi musim angin,” katanya.  Nilai ikannya ditaksir 20an juta. Dia naikkan ke kapal Pelni dan akan sampai di lokasi setelah berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Di Tanjung Pinang, Kimcu berkongsi dengan pengusaha bernama Ivan Yusuf. Relasinya telah jalan selama 5 bulan terakhir,

“Naiknya di KM Bukit Raya atau Sabuk Nusantara di pelabuhan Selat Lampa,” katanya. Selat Lampa yang dimaksud adalah juga lokasi Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu yang sedang dipersiapkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Selain Kimcu ada belasan pengusaha ikan besar di Ranai tapi kini hanya tiga yang masih bertahan, atau setidaknya tetap menggeliat. Kimcu, Hei Tjan dan Hendrik di Sepompang. Kimcu memegang 10 armada atau sekurangnya 50 anggota nelayan yang selama ini menjadi pencarinya sementara Hendrik lebih besar dan tersebar di banyak titik, di banyak pulau.

“Saya ini menderita sejak kecil. Saya tahu bagaimana sedihnya menjadi nelayan. Berat pak. Di laut, mana peduli itu pemberi modal, yang penting hasilnya sampai,” ujarnya dengah suara bergetas. Maksudnya, dia sangat paham beban nelayan di Natuna, karenanya, ketika harga ikan naik, pengusaha lain dapat leluasa menaikkan selisih pendapatan hingga 100% dan meminimalkan pendapatan nelayan pencari, dia hanya menyasar 30-40% keuntungan saja.

20170806_153924
Perahu 30 GT bantuan KKP di Natuna (foto: Kamaruddin Azis)

Yang menarik, Kimcu rupanya mempekerjakan nelayan asal Buton, Sulawesi. Sebuah upaya yang menurutnya dapat mentransfer kapasitas dari nelayan luar ke nelayan lokal. Dia tahu bahwa nelayan-nelayan dari Sulawesi adalah pencari ikan yang ulung.

“Bantuan-bantuan Pemerintah sangat cocok untuk nelayan kecil. Hanya saja sering tak beres saat di tangan oknum,” sebut pria yang pernah beberapa kali mendapat bantuan Pemerintah namun menurutnya tak pernah sepenuhnya atau dalam artian ada kebutuhannya yang seharusnya diperhatikan namun tidak terlaksana kerane keterbatasan anggaran.

“Usaha saya bergerak naik pada 2008. Sesuai pengalaman, yang perlu dijamin dalam usaha perikanan adalah ketersediaan es dan alat transpor. Selama ini transpor laut kita (dari Ranai) hanya dua kali sebulan. Saya selalu berpikir, gimana caranya bisa tembus ke Tanjung Pinang dalam waktu cepatt?” bebernya straight to the point.

“Saya pernah diundang Perindo, saya bilang ke mereka, kalau bapak mengandalkan ikan Natuna saja itu tidak cukup sebab SDM kita lemah, alat tangkap tak cukup, pompong pun hanya 5 GT ke bawah,” katanya. Kepada Perindo, dia menyarankan untuk pengembangan ke depan maka yang bisa dilakukan dengan membawa orang luar, harus ada armada sendiri, tempat sendiri, cold storage, kapal ukuran sesuai.

Dari pengalaman bisnisnya, dia menyebutkan bahwa sejauh ini bobot ikan yang dikirim ke Pontianak, Tanjung Pinang hingga Batam bervariasi dari 300 kilogram hingga yang paling besar senilai 5 ton.  Umumnya merupakan ikan segar yang ditangani dengan saksama, rapi dan tahan lama.

“Rata-rata bisa sampai 3 ton perbulan. 4 bulan ini kurang, ada tiga bulan prei (kosong) karena musim angin. Kapasitas kapal anggota hanya 5 GT ke bawah jadi tidak bisa ke mana-mana,” katanya. Jika menaksir nilai penjualan Kimcu, katakanlah ikan yang dibawa adalah ikan segar kerapu merak (sunu) yang dihargai 100ribu/kilo maka, dia bisa mendapatkan nilai penjualan sebesar 300 juta perbulan.

Darinya diperoleh informasi bahwa dulu sebelum ada kebijakan Menteri Susi, kapal-kapal Hongkong hilir mudik di Natuna.

“Dulu, kapal Hongkong datang setiap 20 hari sekali, lewat pak Nato. Sehingga saat itu, ada yang main ikan sunu merah ada pula ikan hitam. Yang mahal adalah Tongsin (ikan sunu merah), ikan kerapu hitam laku tapi besar di ongkos,” ungkapnya. Beberapa ikan segar dipasarkan di Pontianak, itupun biasanya ikan-ikan kelas dua.

20170806_085040
Suasana tempat kerja Kimcu (foto: Kamaruddin Azis)

***

Ada yang unik, ternyata nama Kimcu yang disandangnya diperoleh setelah dia bermitra dengan pengusaha bernama Kim Tjong selama 5 tahun di urusan perikanan. di rumahnya terdapat banyak cold-box yang berlabel Kimcu. Selain itu, tidak kurang hingga 20 cold box disusun berlapis. Ada pula freezer dan lemari es sebanyak 5 unit.

Beberapa waktu lalu, hal yang dikeluhkan Kimcu adalah ketika musim barat datang. Bukan hanya nelayannya tidak ke laut atau terbatas jangkauan pencariannya namun banyaknya nelayan asing yang lalu lalang di Perairan Natuna.

“Mereka datang ketika musim Utara, pada bulan Oktober, November hingga Desember. Itulah yang disukai nelayan Vietnam,” kata pria yang mengaku kerap pula dirundung rugi dalam berbisnis. Jika dia rugi hingga 60 juta, pak Hendrik bahkan rugi hingga 300 juta.

Saat ditanyakan apakah Kimcu mau ke Selat Lampa atau lokasi SKPT yang dibangun oleh KKP, dia menjawab dengan diplomatis.

“Setiap pengusaha pasti punya kulkas untuk menjamin ketersediaan es, es kecil-kecil. Untuk kebutuhan es, ada pengusaha yang punya 30 biji kulkas,” kata pria bersaudara 8 orang ini, sekali lagi dia menegaskan betapa vitalnya es bagi usaha perikanan di Natuna.

“Kalau es di Selat Lampa murah kita ambi di sana. Kita ‘kan mau bantu nelayan,” kata pengusaha yang anggota nelayannya merupakan nelayan rawai dasar. Untuk sampai ke Selat Lampa dari Ranai, memang bukan hal mudah meskipun jalan telah diperbaiki dan sangat mulus terutama mendekati loka, terutama jika hendak terhubung dengan SKPT di sana sebab sewa mobil ke sana lumayan mahal, hingga 400ribu sekali jalan.

Dia menyebutkan pula nama-nama pengusaha ikan di Kabupaten Natuna seperti pengusaha tenar bernama Nato. Di Pulau Tiga ada Pak Telon, ada juga pabrik es Tjanto. Di Selat Lampa ada pak Wandi (yang berpusat di sekitar lokasi SKPT). Ada Ishak di Sedanau, ada Mus (abang Kimcu) di Midai.

“Di Pulau Serasan ada banyak, seperti Iin, Hen, Kadir, David, ada 6, pokoknya ramai. Di Kerdau ada juga Sen Sen, ada juga Wan Han,” papar ayah dari lima orang anak dari dua istri ini.

Selama ini usaha perikanan yang ditangani Kimcu tak menemui kendala berarti sebab menurutnya sudah bisa ditangani dengan baik. ikan-ikan dari Natuna bisa langsung diekspor via Tanjung Pinang, tempat dimana dia punya jaringan hingga Batam. Dia berkoalisi usaha dengan Ivan Yusuf yang berbasis di sana.

“Kalau harga ikan bagus, bisa dinaikkan ke pesawat. Kalau tidak naik ke kapal,” katanya.

Apa yang telah dikontribusikan oleh Susi Pudjiastuti selama hampir tiga tahun sebagai Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan dipuji oleh Kimcu alias Agus Effendi ini. Dia menjawab sekenanya saat ditanyakan apa harapannya pada ibu Menteri.

“Kalau bisa, Ibu Susi jadi Menteri seumur hidup saja. Kalau ada gantinya, ya seperti dia lagi,” jawabnya sebelum saya menyampaikan terima kasih atas kesediaannya berbagi cerita.

***

Dari Ranai, saya lanjutkan ke Selat Lampa. Di kawasan baru yang mulai menggeliat ini saya berjumpa Edi, 55 th. Dia sedang tak mengenakan baju saat saya datang bersama peneliti BRSDM-KKP Dr. Irwan Muliawan pada siang yang sungguh terik.

Edi adalah nakhoda kapal yang saat ini menjadikan Selat Lampa sebagai hentian. Kapal yang dioperasikannya berusia 4 tahun dan menggunakan alat tangkap rawai sebagaimana yang dilakoni oleh anak buah Kimcu di Ranai.

Dia datang dari Tanjung Balai Karimun yang berpengalaman dan saat ini menjadikan Selat Lampa sebagai pangkalan kapalnya. Dia terhubung dengan pengusaha ikan bernama Wandi, juga asal Balai Karimun. Wandi inilah yang disebutkan oleh Kimcu di atas dan sedang membangun pabrik es di sisi utara SKPT Selat Lampa dengan kapasitas hingga 3 ton.

Di tempat itu, dua kapal sedang sandar. Satu kapal serupa model kapal asing khas Thailand atau Vietnam, terdapat rak-rak plastik bertulis aksara Thailand, pun beberapa coldbox tersusun rapi. Di sisi dalam, terdapat bangunan petak dua yang telah dibeton dan berdinding tebal. Menurut rencana akan jadi pabrik es. Sumber airnya dari bukit di sisi timur.

Saat ditemui, Edi bercerita kalau jauh sebelumnya, dia kerap beroperasi hingga ke Merauke, Papua, Ambon, demikian pula di perairan Kalimantan termasuk ke perbatasan.

“Pada 1995, saya dan 17 orang asal Tanjung Balai Karimun dibajak dan disandera oleh orang-orang Vietnam. Tidak jelas, tentara atau apa. Kami ada dua kapal. Mereka mabuk-mabukan dengan senjata di tangan,” ungkap Edi.

“Lokasinya lebih dekat ke Vietnam. Tapi saat itu banyak pula nelayan Vietnam yang masuk ke perairan kita. Dekat sekali,” kata Edi. Setelah berhari-hari dengan diberi makan yang tak pantas, mereka kemudian dilepas.

***

Kimcu dan Edi adalah sehimpun pengalaman sekaligus pengetahuan dalam usaha perikanan di Natuna. Mereka adalah kunci pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan di Natuna. Ada banyak Kimcu-Kimcu atau Edi-Edi lain di Kabupaten Natuna yang telah telah punya pengalaman, pengetahuan, keterampilan berbisnis dan bisa membaca arah usaha.

Disebut sebagai kunci sebab Kimcu merefleksikan kapasitas dan jati diri seorang pengusaha ikan. Belajar dari pengalaman, punya pengetahuan, keterampilan pengemasan, paham pemenuhan sarana prasarana dan cekatan membuka jaringan pasar. Disebut kunci sebab dia bisa menjadi informan yang bagus untuk pengelola PPI Selat Lampa atau Kementerian Kelautan dan Perikanan sekaligus. Itu jika ada komunikasi dan kerjasama berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Mereka juga punya atau telah terhubung dengan aspek keuangan, jaringan dan yang pasti semangat untuk langgeng di bisnis perikanan.

[Bersambung]

Natuna, 9/8/2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s