SKPT Natuna: Begini Skenario KKP [Catatan Bagian 3]

Kepala Badan Riset dan Sumberdaya Manusia KKP, M. Zulficar Mochtar, yang juga ikut mendengarkan cerita Kimcu, sebagai diceritakan sebelumnya, mengatakan bahwa apa yang dialami oleh Kimcu alias Agus Effendi ini merupakan mata rantai usaha perikanan yang banyak dilakoni oleh pengusaha ikan di Indonesia.

Hal itu pula yang menjadi harapan Pemerintah agar mereka menjadi pemain dalam usaha perikanan seperti yang diskenariokan melalui SKPT Natuna itu, setidaknya menjadi bagian dari pemanfaatan investasi seperti pabrik es hingga cold storage.

“Apa yang diinginkan ibu Menteri adalah membangun SKPT dengan didahului pengusiran atau penangkapan kapal-kapal asing. Mulai memiikirkan kebutuhan-kebutuhan operasional nelayan, seperti penyediaan kapal tangkap yang lebih besar, alat tangkap dan pelayanan oleh sentra kelautan perikanan seperti yang ada saat ini,” katanya sesaat setelah mengamati kapal bantuan KKP bertonase 30 GT di dermaga Selat Lampa, (Minggu, 06/08).

Zulficar melanjutkan. “Harapannya, setelah itu bersama pihak lain seperti Kementerian dan Lembaga disiapkan kebutuhan dasar seperti listrik, air, jalan hingga pemondokan untuk nelayan yang datang dari luar pulau. Jadi kerjasamanya bisa dengan Kementerian PUPR terkait perumahan atau Kominfo jika terkait kebutuhan komunikasi, atau oleh Kementerian Perhubungan terkait transportasi laut,” katanya.

“Skenarionya, kawasan SKPT itu dilengkapi sarana prasarana termasuk perumahan. Nelayan-nelayan dari Jawa misalnya eks cantrang bisa saja melaut di sini, dan bisa tinggal di pemondokan. Kalau mau balik ke Jawa, kapal disimpan dan pulang naik pesawat saja,” katanya.

Apa yang dikemukakan oleh Zulficar ini senapas dengan kehendak MKP terkait konektivitas usaha perikanan hulu hilir, perairan pedalaman hingga pulau-pulau kecil atau sentra perikanan di beranda negeri sebagai filosofi ‘sirip-ekor’ ala Susi itu.

Di hulu, nelayan-nelayan bekerja dengan aman di laut, tanpa garong ikan asing. Nelayan menghasilkan dan memasarkan ikannya ke PPI di area SKPT. Di sini, seluruh kebutuhan operasional terpenuhi seperti air bersih, kebutuhan operasional seperti alat tangkap, logistik, hingga urusan perizinan dan pelabuhan.

Di hilir, Perindo atau perusahaan perikanan yang melayani ekspor bisa mendistribusikan ke titik-titik ekonomis dan praktis semisal dari Natuna ke Malaysia atau Singapura, dari Manado ke Filipina atau Jepang, dari Sebatik ke Tawao Malaysia, dari Biak atau Morotai ke Pasifik, atau dari Saumlaki ke Darwin atau Cairns Australia.

Logistik bisa disuplai dari pedalaman, sayur mayur atau beras dikirim dari daratan, dari ekor dan sirip bawah Nusantara. Kemudian bergerak bersama sebagai sebuah proses bisnis di bawan kendali sirip atas atau organisasi pengelolan PPI atau SKPT.

20170807_113545
Susi saat melihat salah satu fasilitas di PPI Selat Lampa (foto: Kamaruddin Azis)

Di Natuna, skenario itu diharapkan bisa berjalan dengan efektif dan efisien sehingga tidak harus dikirim atau menumpuk di Jakarta atau kota-kota yang selama ini menjadi hub usaha perikanan yang tidak efisien atau high cost. Filosofi ‘ekor-sirip’ ikan dapat pula dimaknai sebagai refleksi atas pengalaman Bangsa dalam melihat ketidakefekifan dan inefisiensi industri perikanan selama ini.

Jika melihat lokasi-lokasi SKPT yang diplot seperti Simeulue, Mentawai, Natuna, Saumlaki, Merauke, Biak, Tahuna, Talaud, Sebatik maupun lapis kedua seperti Morotai, Sabang, dan lain-lain maka sebagian besar merupakan kawasan ‘the outermost islands of Indonesia’ atau beranda dengan NKRI. Kawasan yang disebut sangat potensial untuk dikembangkan dalam alur pikir Poros Maritim.

Atau dengan kata lain, berkembangnya SKPT dapat menjadi sabuk pengaman ekonomi nasional sekaligus mendekatkan Negara di pusat-pusat pertumbuhan potensial yang dipunggungi oleh Negara selama bertahun-tahun. Begitulah.

***

Ketika ditemui oleh penulis di Kota Ranai, Menteri Susi Pudjiastuti mengatakan bahwa untuk memoles SKPT terutama untuk lokasi seperti Natuna ke depan, kualitas dan efisiensi merupakan hal fundamental dalam menyiapkan kebutuhan-kebutuhan sarana prasarana perikanan seperti SKPT tersebut. Perlu kesungguhan dari dalam agar para pihak memperoleh manfaat nyata.

“Kita masih membutuhkan kapal keliling yang bisa membantu pengangkutan dan pengiriman ikan dari dan ke lokasi SKPT. Yang bagus kualitasnya. Kita bikin yang bagus. Jadi ke Batam dekat, ke mana-mana dekat sebab tol laut hanya ada sekali tiap dua minggu,” katanya (6/8).

20170806_160106
Suasana di dalam ruang proses ikan (foto: Kamaruddin Azis)

Selain hal tersebut, Susi juga mengingatkan tentang perlunya kerjasama dengan pengusaha-pengusaha perikanan setempat. Mengajak mereka untuk memanfaatkan kawasan SKPT tersebut. Ini sangat relevan dengan keberadaan pengusaha seperti Hendrik, Hai Tjan dan Kimcu maupun pengusaha-pengusaha dari sekitar Ranai.

Sebagai sebuah wahana berusaha, SKPT sejatinya dapat memberikan manfaat bagi generasi muda terlatih asal Natuna. Seperti Haidir yang saat ini menjadi teknisi cold storage. Dia adalah alumni ITS Surabaya dan mempunyai pengalaman menangani pabrik es. Pun alumni-alumni kelautan dan perikanan seperti dari Universitas Riau atau Universitas Maritim Raja Ali Haji di Pangkal Pinang.

Begitulah adanya. Dari gambaran tersebut di atas, kita dapat mengatakan bahwa prospek pengembangan kelautan dan perikanan Natuna terletak pada konsistensi dan kolaborasi di antara para pihak, nelayan, pengusaha, unit kerja Pemerintah, Perindo, investor hingga eksportir.

Di dalamnya ada Kimcu, kunci kemajuan SKPT Natuna.

Natuna, 8/8/2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s