Isyarat Susi dari Natuna

Ada yang berbeda pada sambutan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kali ini. Dia terlihat penuh tenaga kala bicara di depan para pihak, termasuk nelayan di Selat Lampa, di kompleks pangkalan pendaratan ikan pada Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Natuna.

Meski jalan tertatih karena jemari kaki tergores batu cadas, dengan lantang dia memompa semangat para hadirin. ‘Mulai sekarang, Natuna tidak lagi memunggungi laut! Laut beranda Natuna. Tidak lagi membom dan memotas ikan,” begitu katanya.

Isyarat move on

Sejauh ini, setidaknya sesuai pengalaman penulis pada beberapa momen bersamanya, tema sambutannya lebih banyak memberi penekanan pada argumentasi mengapa Pemerintahan Jokowi melalui KKP pantang mundur memberantas IUUF atau perikanan illegal, tak dilaporkan dan tak berizin. Pun mengurai jumlah kapal-kapal ikan yang ditenggelamkan hingga latar hasrat untuk menggalakkan aplikasi Global Fishing Watch belakangan ini.

Di Natuna, Susi tak berkicau perihal trawl, cantrang, dogol, potol, jogol, arat, lampara, atau berita pahit garam nasional.

Di naung Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Selat Lampa nan lempang, Susi menegaskan betapa pentingnya para pihak untuk bersama mengelola sumber daya perikanan di lautan Natuna. Dia meminta konsistensi dan kesungguhan. Nuansa sambutannya sungguh berbeda, setidaknya jika memeriksa kata dan pernyataan-pernyataannya yang persuasif, tentang perlunya alas kesadaran warga (Natuna) untuk sungguh-sungguh mencintai laut.

Pada beberapa sambutan seperti ketika berada di Pelabuhan Tenau Kupang pada tahun lalu, pada seminar Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia setahun sebelumnya (2015), pada acara Halal Bihalal ILUNI di minggu ketiga Juli 2017, atau pada penerimaan gelar Madonna Pinunggul dari Lembaga Adat Sunda akhir bulan lalu, Susi tak pernah lepas dari tema utama—pencurian ikan nelayan asing, IUUF dan valuasi kerugian ekonomi nasional karena garong ikan serta langkah-langkahnya meyakinkan negara tetangga.

***

Kunjungan Susi ke Natuna yang didampingi Dirjen Perikanan Tangkap Sjarief Widjaja, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia KKP Zulficar Mochtar serta Bupati Natuna dan Wakil Bupati Natuna terasa istimewa sebab kondisi pembangunan kawasan SKPT yang menjadi salah satu perhatiannya, sebagaimana harapan Jokowi telah menunjukkan kemajuan nyata.

SKPT Natuna mulai beroperasi, setidaknya pada ruang cold storage, dimana saya juga ikut ke dalam. Terdapat pekerja dan ikan-ikan yang sedang diproses sebelum masuk pendingin.

Lebih dari itu, di sekitar kompleks SKPT geliat ekonomi perikanan mulai terasa. Kapal-kapal ikan antara 5 GT hingga 100an GT mulai terlihat. Investasi pengusaha ikan dari Tanjung Balai Karimun juga mulai jalan. Rumah makan dan kedai kopi pun ada. Listrik dan BBM pun tersedia apalagi terdapat pangkalan Pertamina yang telah melayani kebutuhan warga Natuna dari Lampa. Belum lagi fakta bahwa warga sekitar Selat Lampa seperti dari dan ke Pulau Tiga juga menggunakan pelabuhan sekitar lokasi SKPT. Kapal penumpang seperti KM Bukit Raya juga intens transit di Selat Lampa.

‘Beberapa waktu lalu Selat Lampa ini hanya pantai sepi. Tak ada kegiatan apapun,” kata Haidir, warga Ranai yang ikut melihat kedatangan Susi.

“Kami ke sini, butuh air tawar, juga es,” kata nakhoda Edi asal Tanjung Balai Karimun yang mengaku melabuhkan kapalnya di Selat Lampu beberapa hari terakhir ini.

***

Bagi Susi, kunjungan kali ini adalah yang ketiga. Bukti kesungguhannya mengawal dan merealisasikan harapan Presiden Jokowi untuk membangun pulau-pulau kecil terluar Indonesia melalui Sentra Kelautan dan Perikanan terpadu, sebagaimana spirit Nawa Cita yang ingin membangun Indonesia dari Pinggiran.

Investasi maksimum Pemerintah di Natuna terlihat dari serangkaian pembangunan mulai dari jalan raya yang mulus, pelabuhan perikanan, sarana prasarana pengolahan, pabrik es, cold storage, kedai nelayan hingga perkantoran.

Pada kunjungan kerjanya, Susi menyerahkan bantuan kapal dan alat tangkap. Tak hanya itu, asuransi nelayan pun diberikan. Tanggungan asuransi senilai Rp. 160 juta, diberikan kepada almarhum Bujang Hitam melalui Ibu Daminah, dari Bunguran Timur.

Premi asuransi untuk 72 nelayan masing-masing 175ribu/ nilai premi juga diberikan. Demikian pula bantuan kapal ikan 30 GT kepada dua kelompok nelayan masing-masing senilai 2 miliar lebih serta alat tangkap ikan masing-masing senilai Rp. 440.938.248, Rp. 910.695.835 serta sebanyak 21 paket senilai Rp. 620.277.957. Bantuan senilai 7 miliar yang dikelola KKP tersebut merupakan satu bagian dari skema kerjasama program lintas Kementerian/Lembaga demi mendukung Natuna sebagai sentra kelautan dan perikanan.

***

Saat warga antusias, saat nelayan duduk takzim, saat sebagian peserta lainnya berdiri karena kursi telah terisi penuh, Susi memulai dengan pujian.

“Pada saat datang ke sini, saya mau tidur di sini saja, di Selat Lampa. Saya lihat gunung, laut, saya lihat keindahan laut Natuna,” katanya. Dia mengaku sejak tiba tanggal 4 Agustus di Natuna, telah berkunjung atau melihat pesisir Pulau Bunga, Senoa, Teluk Buton, bahkan melihat kapal-kapal di lautan melalui heli hingga perkampungan.

“Keindahan Natuna luar biasa, airnya jernih. Tapi karangnya sudah banyak mati, bleaching. Pulau penuh plastik dan sampah. Ini keprihatinan yang luar biasa,” katannya.

“Cintailah laut Natuna, jangan membius dan membom terumbu karang, sebab laut adalah masa depan bangsa. Jangan buang sampah ke laut. Rumah-rumah tak boleh lagi memunggungi laut,” katanya.

“Apakah nelayan tak lagi membom atau memotas ikan?” serunya seperti sedang menggoda para nelayan yang datang dari pesisir Natuna siang itu.

“Kalau memotas (bius ikan), membom ikan, bantuannya saya tarik kembali,” katanya disambut gelak. Menurut Susi, Presiden Jokowi serius menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim. menjadikan laut sebagai masa depan bangsa.

“Kalau masih ingin mendapat penghasilan di laut kita, fasilitasi (SKPT) dibuat setelah menyelesaikan pencurian ikan. Kalau tidak diberantas ikan tidak ada, nanti PPI percuma,” katanya.  Di tempat yang sama, dia memberikan apresiasi atas keberhasilan koordinasi antara AL sebagai motor terdepan, kepolisian, kejaksaan, Satgas 115 yang telah menjadikan Indonesia sebagai negara paling ditakuti di dunia.

“Itu suatu prestasi bagi penjaga-penjaga laut Indonesia. Natuna, yang dulu sepertinya daerah entah siapa, ada anggapan seperti itu, karena terlalu jauh, kecil di tengah peta Indonesia,” ucapnya,  Bagi Susi, Natuna sekarang adalah juga pertahanan militer Nasional. Semua pihak telah berpikir sama.

“Natuna, adalah salah satu titik penting kedaulatan Indonesia di laut. Kemenangan kita adalah penentu spirit kebangsaan, spirit persatuan, pertahanan untuk menjaga kedaulatan indonesia. Itu titik utama,” tegasnya.

“Hanya dengan konsistensi, keseriusan Pemerintah dalam menjaga laiutnya itu. Kalau tidak konsisten, hukum bisa dibeli, aparat bisa disuap, selesai. Izin diperjualberlikan, ya selesai,. Semua orang punya duit bisa beli ini negara, tidak boleh,” katanya.

“Saya senang atas konsistensi kerja, semangat persatuan oleh TNI, AL, Polisi, Jaksa sehingga bisa menyelesaikan pekerjaan saya dengan baik,” tambahnya. Disampaikan Susi bahwa Presiden Jokowi melihat pentingnya Natuna untuk kita semua. Laut Natuna didapat sesuai dengan apa yang kita inginkan bersama, yaitu penamaan Laut Natuna Utara, sebagai wilayah EEZ.

“Kita tetap menggunakan nama itu, sebab itu adalah kebanggaan dan kemenangan pak Bupati dan rakyat Natuna. Kita membuktikannya dalam waktu yang singkat,” sebutnya disertai riuh tepuk tangan.

“Pak Bupati, bu wakil, saya ingin melihat sesuatu berubah. Sudah terlalu lama bangsa kita memunggungi laut. Dapur rumah kita jadi beranda depan. Tidak boleh buang sampah ke laut,” katanya seraya menyebut contoh Kota Tarakan yang berhasil meraih Piala Adipura karena kebijakan kepala daerahnya yang melarang warga membelakangi kanal-laut, tak membuang plastik sembarangan.

“Indonesia penghasil sampah plastik terbesar kedua setelah China. Setiap tahun laut dipenuhi sampah hampir 260 juta ton, Indonesia menyumbangkan lebih 9 juta ton sampah plastik,” katanya.

“Botol plastik jangan buang ke laut nanti kalau nelayan pasang jaring nanti yang didapat plastik,” katanya diiringi senyum.

“Saya mau ada ada gerakan anti sampah plastik dimana Natuna sebagai pionir. Gerakan Natuna Berhenti Memunggungi Laut. Natuna adalah berandanya laut,” tambahnya lagi seraya mengingatkan pihak Pertamina untuk peduli pada isu sampah ini. Menurut Susi, caranya adalah dengan membantu pengadaan mesin pencacah limbah plastik. Dengan anggaran 50 juta persatu unit, sampah plastik Natuna bisa diproses. Harapannya ketika laut bebas sampah plastik maka pengembangan pariwisata juga bisa jalan.

“Pantai dan laut bersih maka turis akan datang. Dari dulu yacht-yacht itu mau masuk, kita juga perlu bandara internasional. Nanti saya bicara Kemenhub tapi plastik tidak boleh ada di laut. Kemarin saya ke Senoa, plastik di mana-mana,” ucap Susi.

Di ujung sambutannya, Susi mengingatkan Bupati dan jajarannya, juga kepada warga nelayan yang datang bahwa kunjungannya kali ini untuk peresmian SKPT oleh Presiden karenanya ke depan harus berbenah dan mengubah perilaku. Semacam ajakan untuk hijrah.

“Saya berharap tidak ada lagi yang nangkap ikan dengan bom, dinamit, potas. Laut Natuna cantik luar biasa. Ikan sudah banyak, tidak perlu membom. Ingat, ada hadist yang mengatakan orang kufur sama nikmat Tuhan nanti akan celaka,” kata pencinta olahraga kano ini

Natuna, 7/8/201

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s