Geliat Perikanan di Pesisir Sorong

Dari Ambon, saya tiba di Sorong dengan perasaan gundah. Betapa tidak, karena terlalu fokus di laptop, mengetik, jendela pesawat saya tutup. Sekira tiga puluh menit sebelum pesawat mendarat di Domine Eduard Osok, saya tarik jendela ke atas dan di kejauhan, terlihat samar gugusan pula memanjang–yang saya duga sebagai Wayag. Gugus pulau yang tak jauh beda dengan pulau andalan Raja Ampat.

Bah!

***

Kota Sorong terlihat bertabur cahaya merah saga, lembut dan syahdu. Jarum jam menunjuk pukul 06 pagi saat saya sedang memanja mata dengan pemandangan menakjubkan. Saya sedang berdiri di sudut ruang terbuka lantai 4 Hotel Belagri sembari menyapu kota. Terlihat peperahu meninggalkan pantai menuju pulau seberang. Pusaran air belakang membentuk irisan garis putih yang membelah laut yang berkilauan.

20170611_055617

Suasana di atas Kota Sorong (foto: KA)

Pada tanggal 11 Juni 2017 itu, hari baru saja dimulai di salah satu kota paling ramai di Kepala Burung Papua itu. Saya tiba di Sorong sehari sebelumnya, setelah menempuh penerbangan dari Kota Ambon, kota yang dua hari terakhir diguyur hujan tanpa henti. Pada hari itu juga saya tak menyia-nyiakan kesempatan dan menyambangi pantai Boswezen, tepatnya Pasar Ikan Boswezen.

Bicara tentang Papua, saya selalu tergoda ikan-ikan di pasar, ukurannya yang besar adalah salah satu alasannya. Benar saja, di pasar sementara itu, terlihat ikan-ikan tuna dipajang penjualnya. Ada yang masih utuh, ada juga yang sudah dipotong, dibelah dan dihampar.

“Nelayan-nelayan jual begini saja. Tidak tahu apa itu loin,” kata Melky Sentuf, warga Sorong sore itu dengan logat khasnya. Dia bilang begitu saat saya menyebut salah satu cara mengolah daging tuna melalui ‘loin’, bisa dipasarkan ke Makassar, Surabaya hingga Jakarta.

Selain ikan-ikan tuna ekor kuning yang besar terlihat pula ikan-ikan kakap merah besar. Menurut Melky, ikan-ikan tuna yang dijual ini merupakan ikan tuna hasil tangkapan nelayan setempat dengan menggunakan armada kecil, bermesin tempel. Ukuran ikan yang dipasarkan relatif besar dan juga diminati oleh warga Sorong.

20170610_165622

Suasana pelabuhan perikanan Kota Sorong (foto: KA)

Secara umum dapat disebutkan bahwa target ikan yang diperjualbelikan adalah ikan-ikan karang, seperti kerapu, kakap dengan ukuran besar atau minimal 1 kilogram. Di Pasar Boswezen, terdapat satu dermaga yang didarati perahu berukuran kecil. Pasar ikan ini sedang dalam penataan sehingga belum berjalan efektif dan rapi ketika dikunjungi.

Dari Boswezen, saya teruskan ke Pelabuhan Perikanan Kota Sorong. Terlihat tidak kurang 30an perahu yang berukuran antara 10 hingga 30 grosston dan sebagian besar merupakan perahu-perahu yang berasal dari Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan (Bau-Bau, Buton, Bone dan Sinjai). Perahu-kapal tersebut berjenis perahu pursesein serta perahu nelayan pencari ikan terbang yang dilengkapi alat tangkap khusus. Pada saat itu, seorang nelayan menyampaikan protes saat disampaikan bahwa sejauh ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sedang mendata kapal-kapal nelayan antar provinsi.

20170610_170111

PPI Klaligi (foto: KA)

Mappiasse, nama nelayan itu mengaku tidak puas dengan cara pendataan ukuran kapal yang dilakukan oleh aparat di Kota Sorong karena harus membongkar bak ikan di dalam kapal. Menurutnya ini merepotkan. Sebagai nelayan, dia merasa aturan yang diterapkan terkait uji atau tera kapal ikan ini diberlakukan tidak seragam.

“Aturan yang semestinya bagaimana? Mengapa berbeda penerapannya, yang saya pahami dan pelaksanaannya?” tanyanya. Menurutnya, pengukuran kapal ini membuat nelayan asal Sulawesi Selatan bertanya-tanya, sebab terkesan salah penerapannya. Dengan proses itu, perahu-perahu yang sudah seharusnya beroperasi kemudian terlambat dan mengalami kerugian, rugi waktu dan tenaga.

20170610_171803

Suasana di pasar ikan Remu Selatan (foto: KA)

Di areal pelabuhan terlihat juga tumpukan alat tangkap atau wadah jebakan bagi ikan terbang untuk bertelur. Terlihat ada tiga tumpukan yang berisi wadah bambu dan daun kelapa sebagai asesorisnya. Jika melihat jumlah perahu maka diperkirakan tidak kurang 200 nelayan menjadi bagian dari usaha perikanan seperti purse seine dan pencari telur ikan terbang ini.

Di bagian lain, terdapat tidak kurang 10 unit perahu yang merupakan perahu penampung ikan di sekitar perairan Sorong. Sebagian besar merupakan perahu asal Sulawesi Selatan. Mereka membeli ikan-ikan hasil tangkapan purse sein dan para pemancing atau nelayan setempat. Dua di antaranya adalah Bapak Junaidi, nelayan penampung asal Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan serta Amar dari Pulau Satangnga, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Dari Junaidi dan Amar diperoleh informasi bahwa yang menjadi penghubung antara nelayan-nelayan pemancing ke pasar ikan adalah mereka. Ikan-ikan di Sorong sementara ikan-ikan yang layak pengiriman jarak jauh seperti Makassar dan Surabaya akan dibawa ke penampung di Kota Sorong, penampung skala besar.

Salah satu perkampungan nelayan yang juga dikunjungi adalah Perkampungan Remu Selatan. Di Kawasan ini terdapat nelayan-nelayan pendatang serta warga lokal yang menggeluti usaha perikanan. Kawasan Remu Selatan merupakan kawasan yang terkenal sebagai kawasan pesisir dan terhubung ke laut melalui muara. Beberapa perahu nelayan, bersandar di sekitar muara hingga ke dalam sungai. Di sini terdapat relasi yang efektif antara nelayan pemancing dan pedagang di sekitar pasar Remu Selatan.

Saat berkunjung ke pasar Remu Selatan, ditemukan adanya praktik penjualan ikan-ikan hias berikut anemon (rumah ikan giru). Praktik ini sudah lama dilakukan. Selain itu, menurut informasi beberapa warga, pada beberapa kesempatan ditemukan pula penjualan daging kima dan telur penyu, meski belakangan sudah mulai berkurang. Yang marak adalah perdagangan ikan hias, aktivitas yang rentan merusak tatanan ekosistem terumbu karang.

***

Demikian cerita dari Sorong, salah satu kota utama di Papua Barat. Terkait pulau-pulau yang saya lihat sebelum sampai Sorong, Abdi Wunanto Hasan, alumni Kelautan Unhas, junior saya yang saya temui di Waisai, Raja Ampat mengatakan bahwa mungkin saja itu Pulau Piaynemo…

“Kalau pesawat dari Ambon, biasanya lebih dekat ke Piaynemo,” katanya.

Batua, 10/07.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.