Keluarga Daeng Tora’

I Dulla lampa bellai, mange ri Maluku, abboya agara’. Dulla, pergi jauh, pergi ke Maluku mencari agar-agar. Kalimat mendayu keluar dari mulut sepupu ibu saya di Kampung Lanna, Galesong, Kabupaten Takalar saat menanyakan perihal keluarga Daeng Tora’, kakek saya, (27/06). Umur Dulla sekira 60an.

Kemarin sore, demi silaturahmi Lebaran 1438 H, saya menyusuri lorong waktu kelahiran, rentang permainan masa kanak-kanan hingga menjadi akil baliq.  Lanna, adalah kampung dimana kakek saya yang nelayan tulen Patorani (pencari telur ikan terbang) di tahun 60-80an bersinar.

Saya sebut bersinar sebab saat itu Daeng Tora’ punya 12 armada biseang patorani. Dengan perahu berbadan lebar itu, pelautnya dikenal tangguh menyusuri pesisir dan laut Selat Makassar. Tentang akil baliq itu, saya singgung sebab saya sungguh merasakan bagaimana kasih sayang kakek atas cucunya ini yang baru saja dikhitan, kala itu.

20170627_171808Rau’ dan istrinya. (fotodenun)

“Anggappa tonjako antu biseang,” terkenang ucapan nenek Te’ne, tentang saya yang baru dikhitan. Setidaknya, itu yang saya kenang. Untuk saya yang baru dikhitan, hadiahnya sebuah perahu patorani, meski kemudian berpindah tangan karena bapak dan saya tak punya kecakapan di situ.

Saat mencari jejak lampau di Kampung Lanna’ itu, saya beruntung sebab beberapa saudara Daeng Tora’, (beliau meninggal di tahun 90an) masih bisa ditemui. Ada dua, Daeng Sattu dan Daeng Rau’.

Sattu mengaku sudah kesulitan melihat wajah orang-orang sehingga saya harus menyebut nama dan asal usul. Ada beberapa nama yang disebut oleh Sattu sebagai saudara Daeng Tora, di antaranya Daeng Seni (ada di Jawa), Daeng Isa dan ada satu lagi di Kalongkong, saudara tua Daeng Tora, ayah dari om Haris yang sering saya jumpai selama di Selayar pada tahun 2000an awal.

Berkunjung ke Lanna, memandu saya pada jalan-jalan kampung dan petak-petak kosong sebelum sampai ke pantai yang lapang. Dari kehidupan nelayan sawi hingga pedagang besar telur ikan terbang sekelas Haji Samsuddin, pengusaha terpandang di tahun 70-80an. Jejak-jejek Daeng Tora’ adalah rumah yang kini berdiri di pojok jalan sebelum ke pantai. Juga sanak saudaranya yang masih bertahan di pendulum waktu.

20170627_170548
Sattu (foto istimewa)

Ke Lanna berarti menyusuri masa-masa permainan saya di kolong-kolong rumah, bermain pasir, bemain kelereng hingga mengenang tradisi ke Pulau Sanrobengi bagi pelaut-pelaut patorani yang bersiap ke laut lepas. Seminggu sebelum ke laut lepas itu, mereka biasanya harus ke Sanrobengi. Ada agenda spesifik kebatinan dari nakhoda, pinggawa atau sawi sebelum pergi 20 hingga 30 hari mencari ikan dan telur ikan terbang. Ada banyak prosesi sebelum nelayan patorani melaut. Tradisi yang masih dipraktikkan hingga kini.

***

Di ujung awal tahun 80an saya masih merasakan bagaimana duduk di samping Daeng Tora’ sembari memegang kemudi (guling). Bermain-main di tepian pantai, berenang, berlarian dan sesekali bikin rumah pasir bersama Nasir Daeng Gajang, anak bungsu Daeng Tora’, om saya. Inilah rindu yang kucari-cari itu.

Di kunjungan kemarin, di atas rumah panggungnya, Rau’ bercerita tentang tradisi melaut yang masih dijalaninya, meski begitu beberapa sanak keluarganya melarangnya melaut. Sore itu, dia ditemani oleh istri dan dua anaknya. Rau’ mengaku sangat dekat dengan Daeng Tora, kakaknya. Rau’ mengaku mendapat inspirasi melaut dari kakaknya itu. Tradisi yang kuat dan masih terus dijaganya.

“Tora’numi antu appakabuntinga,” katanya. Bapak Tora’lah yang menikahkan saya, begitu artinya. Bapak Tora’ memang punya kapasitas berbeda dibanding saudara-saudaranya. Dia pinggawa patorani di antara saudara-saudaranya. Sebelum bertemu Rau’, saya bertemu Daeng Lalang dan Daeng Kenna. Lalang adalah suami dari Daeng Lino, saudara ibu saya, Kenna, sepupu sekali saya, kami sepantaran. Suami Kenna adalah pelaut, pedagang antar pulau dan paham seluk beluk perdagangan telur ikan terbang. Dia acap ke pulau-pulau Kabupaten Pangkep seperti Sapuka, Balo-Baloang. Adik kenna, Pahang, juga acap ke timur, ke Maluku Tenggara. Keren bukan?

20170627_173335
Bersama Daeng Ronrong (foto istimewa)

Dari rumah Rau’, saya ke sisi barat menemui Isa, adik Daeng Tora’. Jujur saja saya tak ingat wajah dari nama yang disebutkan ini. Saya mengaku ke Rau’ kalau selama ini saya ‘abai’ pada keluarga Daeng Tora’ karena terlalu lama di Kampung Jempang dan bepergian ke sana-ke mari, dan melupakan sejarah kedekatan keluarga kami.

Saya beruntung sebab Isa juga ada. Dia tinggal di rumah panggung, memandu saya pada kenangan-kenangan, pada pertemanan kami dengan anak-anak di Lanna yang entah sekarang ada di mana.Isa tinggal dengan menantu dan seorang cucu. Anak perempuannya telah berpulang. Anak menantunya ini pun adalah pelaut, yang mondar-mondir dari pulau ke pulau berdagang hasil laut.

“Nia’ tong napinawang,” kata Isa. Ada yang dia ikuti (di kapal), katanya tentang menantunya itu. Di Lanna, relasi patron client ala pesisir masih sangat kuat. Bermodal perahu, seorang pinggawa bisa dengan bebas memilih sawi untuk ikut melaut. Meski demikian, ada indikasi sawi ini semakin berkurang sebab tidak banyak lagi anak muda yang tertarik melaut. Pada tradisi patorani, mereka harus ke pulau-pulau di Makassar atau ke Barombong untuk menjadi sawi.

20170627_173006
Bersama Isa (foto istimewa)

Kembali ke Isa. Di depan rumah Isa, ada rumah Dulla, juga adiknya Daeng Tora’, pria tua yang juga masih melaut, dia bahkan ke timur, sering ke Maluku dan Papua. Saya tidak begitu ingat lagi raut wajahnya, tetapi sangat namanya sangat familiar.

Dari Isa, saya ke Daeng Ronrong, adik ibu saya. Ronrong, pria yang tak terlalu intim dengan ‘Pattoraniang’, belakangan saya tahunya berjualan ikan. Dia tinggal di belakang rumah Daeng Tora’ dan Daeng Te’ne, masih sebangun.

Di rumah inilah, rumah yang setahuku sudah mewujud rumah batu, sebuah ciri kelas sosial pinggawa (pimpinan di laut) yang beda dibanding para pelaut lain, atau sawi. Saya banyak menghabiskan masa kanak-kanak. Bermalam di rumah dan bermain di laut, di rentang tahun 70an dan 80an.

“Nene’nu antu pissampuloi ngappa melahirkang,” kata Ronrong yang berjanggut panjang putih ini. Maksudnya, nenek saya, Halimah Daeng Te’ne itu melahirkan sebanyak 14 kali. Salah satunya ibu saya, Johra Daeng Sompa sebagai anak sulung. Jika demikian adanya, setahu saya ada 10 yang familiar di memori, berarti ada 4 yang meninggal.

Seperti kita, suasana Kampung Lanna, memang telah berubah, letak rumah, bentuknya, warnanya, orang-orangnyapun. Saya sungguh ingin meneliti perubahan-perubahan sosiologis dan antropologis ini. Menyigi masa lalu Rau’, kenangan dan sepakterjang Sattu di lautan luas sebagai pelaut.

20170627_175414
Laut Galesong (fotodenun)

Di Lanna, banyak yang telah berubah, tapi kenangan tetap harus dibingkai di pikiran dan akal sehat, bukan?

Tamarunang, 28/06

Advertisements