Massimo, si Supir Taksi Online

Setahun terakhir, taksi online tak pernah sepi dari kilatan blitz pewarta. Hadirnya antara dirindu dan dibenci, antara diminati atau diintai dengan rasa kecut. Pemerintah serba salah, meluluskan izin atau menerima usulan para pemilik taksi konvensional yang terusik. Banyak kalangan menilai taksi online aman dan nyaman, yang lain menyebutnya rawan, illegal dan harus dihentikan.

Pada beberapa kesempatan di Jakarta, saya tergoda juga untuk mengorek informasi dari supirnya,  latar belakang dan dinamikanya.

Hari Sabtu, 3 ‎September ‎‎2016. Jam menunjuk pukul 09 pagi. Saya buru-buru membuka pintu taksi online untuk tujuan bersua kawan di salah satu hotel di Jakarta Timur. “Maaf yah mas, saya sarapan dulu,” kataku ke supir sembari membuka gado-gado dari warung Tebet Utara 2. “

Silakan, silakan mas,” balasnya dalam ucap gegas jua. Lelaki tersebut sebut saja, Massimo. Dia supir online asal Jawa Tengah. Aksennya menegaskan itu. “Usia saya 38 mas,” tanggapnya saat saya menyebut usia sendiri dan domisili saya di Jakarta. Lelaki kelahiran tahun 1978 ini mengaku sepagi ini dia telah melayani orderan 4 penumpang, kesemuanya di wilayah Jakarta Selatan.  Massimo mengaku bahwa mengemudi taksi online adalah pekerjaan yang kesekian kalinya setelah bertahun-tahun bermukim di Jakarta.

“Saya ini dulunya gelandangan mas, menggelandang dari terminal ke terminal” kata ayah dari dua orang anak ini.

“Menggelandang, gimana ceritanya?” cecarku.

“Saya datang ke Jakarta di usia 16 tahun. Masih lugu gitu,” kata pria tamatan SD ini. Massimo bercerita. “Waktu itu datang barengan teman, berombongan gitu. Saya ketinggalan di terminal. Waktu datang, saya di kursi bagian depan, yang lain di belakang. Sampai Kemayoran saya tersesat. Bingung saya,” katanya.

Di Jakarta, Massimo merasa seperti buih di lautan. Ke mana angin berhembus, ke situ move on-nya. Dia tak punya apa-apa, tak punya rencana kecuali menerima segala yang diberikan terminal, pasar dan sapaan sinis dari orang-orang. Narasi hidupnya yang dramatis, dari pasar ke pasar, tidur di terminal, tidur di mana saja, tak terbilang lagi peristiwa menyedihkan yang dialaminya, mengurus perut dan segala macam kebutuhan. Orang-orang di kampungnya tahunya kalau dia ke Jakarta mencari pekerjaan bersama konco-konconya. Mereka datang dari Pantura Jawa.

“Tidur di mana saja, makan di mana saja, pokoknya di mana saja, semua tempat yang dianggap memungkinkan, ” katanya. Mobil meninggalkan Jalan Casablanca yang mulai menggeliat, tiba-tiba lagu Obbie Messakh mengalun mendayu dari dashboard mobilnya. Mendengar lagu itu, waktu seperti kembali melambat.

Simo, begitu panggilannya, melanjutkan. ‘Yang parah tuh di enam bulan pertama di Jakarta. Setelah luntang lantung dari terminal ke terminal, saya memutuskan ke Tanjung Priuk, jadi kuli angkut untuk mobil kontainer. Modal tenaga doang. Setahun saya di situ,” ungkap pria yang menemukan jodohnya pada seorang karyawan paberik di sekitar Tanjung Priuk. Setelah menggelandang dan mengandalkan lengan kokohnya, Simo memutuskan menjajal tantangan baru. Mereka menikah kala usia Massimo menanjak 22 tahun, usia remaja tulen.

“Saya kira, sekitar enam tahun kemudian, setelah merasakan beratnya hidup di Jakarta saya tekad menikah,” imbuh pria yang mengaku telah 21 tahun tinggal di Jakarta.

“Udah pindah rumah kosan hingga 11 kali,” katanya sembari tertawa.

“Bisa jadi supir taksi online, dan punya mobil gimana ceritanya?” tanyaku.

Tentang mobil yang dibawanya, dia mengaku bukan mobilnya. Dia beruntung sebab mempunyai kenalan anak seorang mantan kepala daerah dari Nusa Tenggara Timur. Dia dipercaya sebagai supir berbekal keahlian mengemudikan kendaraan kala jadi supir mobil distributor obat-obatan. Massimo meninggalkan profesinya sebagai distributor fasmasi dan hijrah ke taksi online.

Dia bahagia memulai hari dengan keluar mengemudi di pukul 6 pagi. Waktu hijau untuk jalan bagi para pekerja dan sesiapa yang butuh tumpangan. Semakin banyak orderan semakin bagus untuk Massimo, semakin mengalir pula fulus ke rekeningnya. Hidupnya di antara pendapatan harian dan bonus. Itu kalau dia rajin. Meski tak merinci pendapatan hariannya setidaknya seminggu terakhir namun dia merasa puas sebab pekerjaan ini lebih ringan dan tak terbebani target seperti umumnya taksi konvensional.

Sebagai supir taksi online, Massimo mengaku bisa mengontrak rumah untuk keluarganya setiap bulan. Tarifnya 650/bulan. “Kamarnya tak luas meski saat ini anak-anak sudah dewasa semua. “Kamarnya satu aja, lalu dibuat bilik pakai tripleks. Dapur sama kamar, lumayan gede sih,” kata ayah dari anak usia kelas  1 STM dan kelas 2 SMP.

“Tadi yang nelpon yang punya mobil, bapak sedang berobat jalan,” katanya tentang pemilik mobil yang dibawanya.

“Taksi online yah, enaknya karena bisa digunakan oleh semua kelas, kelas atas hingga kelas bawah. Yang baiknya juga penumpang nggak bisa dibohongin sebab sudah tahu memang ongkosnya sebelum naik,” kata Massimo.

“Bedalah yang hitung argo dan pakai sistem online ini. Kalau argo kan, kalau macet yah membengkak biayanya,” tambahnya. Sebagai supir, Massimo mengaku sering beroperasi di sekitar Jakarta Selatan.

“Meski gitu, banyak juga yang cancel. Itu artinya, ini urusan rezeki, saya ikhtiar saja, berdoa. Hidup ini seperti undian, kalau naik undian yah syukur, kalau nggak naik, mau diapa lagi?” katanya.

“Mengelak dari takdir itu sama dengan mengingkari Tuhan. Sama dengan kita memuja setan. Kalau sedang susah, kita nggak perlu sesali kenapa kita gini. Kita ini harus jalanani saja, yang penting ikhtiar,” begitu katanya.

Lagu Obbie Messakh terus mengalun dari sisi kemudi Massimo, dari hape saya membaca hotel yang saya tuju semakin dekat. Jalanan yang kami lalui tergolong sempit, meliuk di antara dua jalan raya yang besar. Saya tak ingat namanya.

…ada cerita,

aduh rindu,

jumpa kamu, kekasih…

Lihat senyum pipimu.

“Ya sudah, jalani saja, mau jadi orang susah, kuli panggul, saya jalani saja, upaya nyekolahin anak yang bener,” katanya lagi.

Lagu berganti.

…Kau tinggalkan noda hitam,

buah cinta kasih yang suci.

Ingin kumati namun kuingat dosa…

“Lagunya ini pakai gitar, enak ini,” sambut Massimo atas lagu Helen Sparingga itu.

“Nyanyian seperti ini kadang mewakili pengalaman atau kenyataan kita. Ingat kan yah lagu Betharia Sonata? Atau Gelas-Gelas Kaca Nia Daniati…” katanya.  Kali ini Massimo terdengar seperti analis lagu-lagu 80an.

“Tuh, lagu-lagu bang Rhoma Irama juga gitu, Perjuangan dan Doa, Begadang, bisa jadi merupakan pengalaman hidup,” katanya Massimo. “Kalau Mirasantika?” Massimo belum sempat menjawab mobil sudah sampai di hotel yang saya tuju.

“Gitu aja ya mas, mari kita jalani hidup apa adanya,” katanya sebelum mobilnya berbelok ke jalan raya.

Gowa, 11/04.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s