Haji Bur dan Ita: Reuni Rajuni

 

Rentang tahun 90an adalah linimasa perkenalan saya pada dunia LSM atau NGO. Semua bermula di Pulau Rajuni Kecil, salah satu pulau dari 21 pulau yang ada di dalam kawasan konservasi Taman Nasional Taka Bonerate, Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan.

Di kawasan tengah Laut Flores itu, saya dan beberapa kawan pernah membawa tidak kurang 10 ribuan bibit kerang raksasa atau kima (giant clam) atas dukungan organisasi World Wide Fund untuk dibesarkan di perairan pulau tersebut. Bibit atau juvenil tersebut berasal dari Pulau Barrang Lompo di Makassar.

Kami berlayar ke sana di bulan April 1995 yang kering, panas dan berombak. Musim Je’ne Kebo, kata orang-orang dari daratan Pulau Selayar. Setelah berjibaku dengan gelombang dan arus kencang, kami kemudian sampai di Rajuni Kecil. Butuh waktu 33 jam untuk sampai ke sini.

Di Rajuni Kecil rupanya telah ada Lembaga Pengkajian Pedesaan Pantai dan Masyarakat (LP3M) yang sedang melaksanakan pendampingan masyarakat. Kemudian saya berkenalan dengan Burhan Mananring, yang bekerja sebagai fasilitator program di pulau berpenduduk sekira 1,500 jiwa waktu itu.

Saat memilih bergabung dengan LP3M di awal tahun 1996, saya menjadikan Burhan sebagai mentor lapangan. Saya belajar tentang proses pendampingan masyarakat di Pulau Jinato, pulau di selatan Rajuni Kecil yang menjadi lokasi penempatan saya untuk program pengembangan mata pencaharian alternatif yang didukung oleh World Wide Fund Indonesia Programme.

Burhan Mananring, pria asal Ladongi Sulawesi Tenggara ini pulalah yang memandu saya berkunjung ke Pulau Tarupa, Pulau Latondu, hingga Pulau Pasitallu Tengah saat berlangsung proyek konservasi terumbu karang terbesar di Indonesia di ujung tahun 90an bernama COREMAP, akronim dari Coral Reef Rehabilitation and Management Program.

Burhan menjadi koordinator untuk beberapa fasilitator pulau dan berkantor di Kota Benteng Selayar dan saya bertugas di Pulau Rajuni. Yang menarik, Burhan berjodoh dengan warga Pulau Rajuni Kecil bernama Ita, seorang guru di SDN Rajuni. Ita, wanita yang banyak membantu ketika LP3M dan timnya melaksanakan beragam program di Taka Bonerate. Dari program penyadaran HIV-Aids untuk nelayan, voters education hingga program kesehatan kerjasama dengan CEP-JICA dengan LP3M. Burhan dan Ita dikarunia seorang putri bernama Lola, lengkapnya Ulfa Mawaddah.

Pengalaman di Rajuni Kecil termasuk di beberapa pulau di kawasan Taka Bonerate merupakan pengalaman tak terlupakan, apalagi berkaitan dengan sepasang tersebut. bermalam di rumahnya, melatih warga untuk konservasi dan pengelolaan kelompok usaha, kampanye penyadaran politik hingga menyiapkan warga untuk melek wisata bahari.

Selain itu, bersama mereka kami melewati proses tak mudah untuk pembangunan instalasi listrik yang dibantu oleh Konsulat Jepang di Makassar hingga menjadi bagian dari program COREMAP yang fenomenal. Saya sebut sebagai fenomenal, sebab di situlah kami mengalami tekanan dari beberapa pihak karena memperjuangkan pelestarian terumbu karang.

Di Rajuni Kecil, meski saya tinggal di rumah Pak Coang di timur pulau namun kalau mau mandi, saya acap ke rumah mereka. Bukan hanya itu, jika sedang sangat ingin makan enak, saya kerap mengendap ke dapur mereka di tengah pulau. Ikan goreng kakap kecil dan pallumara racikan Ita adalah godaan besar kala itu.

17342641_10155185133627767_6173946919267187728_n
Haji Bur dan Ita (foto: Kamaruddin Azis)

Begitulah…

Sore ini, (01/04) di Tamalanrea, Kota Makassar, saya bertemu Haji Burhan Mananring dan istrinya Indo Tang (Ita) lagi, semacam reuni, reuni Rajuni. Adalah Hasimah Mahmud, saudara Ita yang kini bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi yang mengajak saya untuk bertandang. Ima, begitu saya panggil adalah jebolan FKM Unhas dan juga kelahiran Rajuni Kecil, saat saya di Taka Bonerate dia sedang ada di semester akhir.

Saat kami bertemu, Bur dan Ita baru pulang dari menjenguk anaknya Lola yang kini sedang kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang. Senang mendengar ceritanya kalau anaknya sedang ‘hepi-hepinya’ kuliah di Malang. Saya lalu membayangkan bagaimana jalan cerita seorang anak tunggal yang lahir dan tumbuh di pulau jauh di Taka Bonerate kemudian bisa sampai ke Jawa Timur nan jauh.

Sore ini, saya dan istri ada di rumah mereka di Tamalanrea (dulu saya menyebutnya sangat jauh, sekarang justeru sangat strategis). Kami mengobrol tentang keluarga, anak-anak kami, suasana Rajuni Kecil dan perkembangan terbaru di sana. Yang saya supprised, karena Ita mengabarkan kondisi unit usaha jasa layanan keuangan untuk warga Rajuni Kecil yang kami rintis di masa COREMAP itu.

“Masih aktif itu unit kegiatan COREMAP, dari modal awal village grant sebesar Rp. 36 juga, sekarang modalnya sudah hampir mencapai 100 juta, kalau tidak salah 93 juta,” kata Ita.

Seingat saya unit usaha itu dirintis tahun 1999 atau 18 tahun lalu saat saya jadi fasilitator COREMAP untuk Pulau Rajuni Kecil. Ita mengaku butuh strategi khusus untuk mengelola unit keuangan seperti ini yang kerap hanya bertahan seumur jagung, apalagi jika berkaitan dengan proyek atau program. Mendengar ini saya berdecak kagum (saya akan menceritakan di bagian lain).

Sungguh saya sudah lupa ihwal ini, saya tidak pernah bayangkan bahwa unit usaha yang dirintis selama COREMAP I ternyata sampai saat ini masih berdenyut. Ita dengan mahir mengatakan bahwa Rapat Akhir Tahun (RAT) tetap mereka laksanakan, pengurusnya pun masih yang dulu, ada Ita, Dawannah dan Hasdiana.

“Bulan Mei ini, kami akan RAT lagi, datanglah ke Rajuni,” ajak Ita. Oh, Taka Bonerate!

 

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.