Lautan Bendera di Muara Saro’ Galesong

“Dilarang masuk, minggu lalu ada pemancing yang meninggal. Tenggelamki,” kata penjaga pelabuhan Boddia, Galesong, (18/02). Pelabuhan yang merupakan wilayah otorita Kementerian Perhubungan itu tertutup bagi umum, hanya ada satu kapal yang sedang sandar.

Setelah mendengar sang penjaga, saya arahkan motor ke permandian Bintang Galesong, jaraknya tidak sampai sekilo. Permandian ini salah satu favorit di Galesong. Letaknya yang strategis dan berseberangan dengan Pulau Sanrobengi, indah saat sunset, merupakan ciri khasnya. Banyak warga Takalar atau Makassar yang melipir ke sini saat sedang rindu suasana pantai.

Rencana untuk masuk ke permandian itu juga urung. Dengan alasan hanya untuk foto-foto, membayar 60ribu rasanya berlebihan untuk kami.  Kami kira harga masuknya ‘hanya’ 15ribu.

dsc_0541

Saya yang pernah berkunjung ke Saro’, kampung di selatan lokasi rekreasi tersebut kemudian memutuskan untuk membawa istri ke sana. Dia sedang gandrung difoto saat ini. Setelah ke Kampili, Samata, kali ini menjajal Galesong, kampung halaman.

Jalan untuk sampai ke Saro’ telah dibeton. Tidak sama ketika saya ke sana lima tahun lalu. Yang membuat saya berdecak kagum karena baru kali ini melihat ‘lautan perahu berbendera merah putih’ di pesisir Galesong. Pagi jelang siang itu, saya terpana menyaksikan formasi perahu yang memadat di muara Sungai Saro’.

dsc_0540

Lautan bendera ini adalah juga ciri khas nelayan-nelayan Galesong. Ke mana mereka berlayar selalu diselipkan bendera di buritan perahu. Mereka belajar dari pengalaman sebelumnya, tanpa bendera, mudah saja untuk menyebut mereka pembangkang di lautan. Banyaknya praktik pemboman dan pembiusan ikan adalah momok bagi mereka, mereka sering jadi kambing hitam pelaku destructive fishing, padahal tak semuanya begitu.

***

Pagi jelang siang itu, di sekitar muara terlihat pula sabuk pengaman hijau Saro’ yaitu mangrove yang merimbun dan menghijau. Dia mencuat di antara pematang empang-empang. Saya kira ini pemandangan terbaik yang pernah saya lihat di Saro’ setelah beberapa waktu lalu membawa Guru Wana Nobuaki ke sana, juga membawa orang-orang Afghanistan yang sedang belajar metode fasilitasi dimana kantor saya bekerja COMMIT sebagai organizer-nya.

dsc_0495

dsc_0533

Saro’ atau Boddia adalah tipikal kampung yang mewakili potret pesisir khas Galesong, di sana ada ratusan nelayan sekaligus pelaut yang memilih sebagai pedagang antar pulau, pembeli hasil laut. Ada juga yang fokus pada penangkapan kepiting rajungan, hasil laut yang melambungkan income warga setempat sejak 10 tahun terakhir.

“Di sini khusus perahu-perahu dari Saro, Boddia,” kata seseorang dari salah satu perahu yang sandar di tepi jembatan. Ada hampir seratusan perahu yang sedang berlabuh di muara sungai itu. Musim  barat yang hebat membuat mereka menanggalkan rencana dan memilih berlindung. Bendera-bendera merah putih, badan kapal dominan berwarna putih menjadi pemandangan indah saat itu.

Saat berbicara dengan orang tersebut melintas perahu sampan bermesin di bawah jembatan. Melihat penampilan, nampaknya dia adalah nelayan pencari rajungan.

Saat ini banyak mata tertarik berinvestasi di Galesong, letaknya yang strategis di selatan Kota Makassar, apalagi sejak dibukanya jembatan Barombong membuat kawasan ini mempunyai nilai sosial ekonomi yang penting.

Peluang membangun kawasan ini terbuka luas namun tidak sedikit pula dapat mengancam masa depan ekologi dan ekonomi warga setempat, terutama nelayan. Pembukaan lokasi wisata, salah satu yang berpotensi merusak ekosistem pesisir Galesong jika tak dibarengi program konservasi atau tata ruang yang baik dan tepat.

***

“Kalau nelayan-nelayan lainnya, di sekitar Galesong Utara, mereka berlabuh di muara Je’neberang, sebagian lainnya di sungai-sungai kecil,” tambahnya. Yang saya tahu penetrasi nelayan Galesong, pada 8 mata penjuru angin. Beberapa perahu yang saya lihat siang itu adalah pengelana hingga Kepulauan Sabalana, Sapuka, hingga Papua.

Apapun itu, inilah denyut kehidupan di pesisir Galesong Raya. Ada puluhan ribu nelayan merupakan pilar ekonomi kawasan ini. Selain sebagai nelayan rajungan atau pemancing ikan karang, nelayan Galesong juga dikenal pengelana ke laut-laut luas demi mencari telur ikan terbang.

Salah satu pusat pelelangan ikan tenar saat ini di Galesong Raya adalah TPI Beba, ratusan pedagang dan pembeli ikan datang ke sini. Inilah salah satu pusat pengembangan ekonomi berbasis pesisir itu. Jaraknya yang tak terlalu jauh dari Makassar merupakan salah satu keunggulannya dibanding TPI lainnya di selatan Makassar.

Nelayan-nelayan Galesong dapat di dijumpai di pesisir Kalimantan, Maluku, hingga Papua. Untuk kegiatan perikanan skala kecil dan hanya beroperasi di sekitar Makassar mereka menjadikan TPI Beba sebagai pusat pembongkaran hasil tangkapnya.

Khusus untuk nelayan telur ikan terbang, menurut informasi dari warga Desa Kalukuang, di Kecamatan Galesong, saat ini banyak nelayan  bersiap untuk masuk ke perairan Fak Fak, mencari telur ikan terbang. Sebelum berangkat mereka harus membereskan bekal mereka, kebutuhan operasional, jaminan uang jalan, doa-doa terbaik hingga bendera-bendera tanda pengenal. Biar aman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.