Bagi yang Baru Saja Ikut Pilkada

Karena Pilkada, sesama mereka jadi musuhan…

Lalu, untuk siapakah perhelatan Pilkada itu digelar? Untuk apa dan siapa negara dan KPUD menyiapkan anggaran bermiliar-miliar, menyiapkan perangkat dan menghabiskan tenaga dan dana, untuk satu-dua orang? Bukan.

Untuk partai pengusung? Bukan.

Untuk tim sukses? Bukan. Pilkada adalah untuk semua, bagi yang menang dan yang kurang beruntung di bilik dan perhitungan suara.

Bagi yang pernah duduk di bangku sekolah pasti paham itu. Bagi sanak-saudara yang belum paham, beritahulah. Beri penjelasan dan sabar menerima tanggapannya. Jika ada yang salah sikap dan ucap, euforia berlebihan, itu karena mereka tak terbiasa menata pernak-pernik demokrasi, kesetaraan, perbedaan.

Ketahuilah bahwa mereka juga sedang menciptakan tapak-tapak belajar demokrasi, cermin dan ruang kontestasi sekaligus ruang kontemplasi.

Bagi mereka yang tidak mau tunduk pada kekalahan, atau berlebihan memaknai kemenangan sesungguhnya hanya menciptakan persoalan baru. Ini yang banyak di sekitar kita. Sanak saudara, handai taulan, tetangga, paraikatte dan sesiapa yang baru saja keluar dari medan coblos-mencoblos itu harus mawas diri dan percaya bahwa urusan persaudaraan ada segalanya ketimbang tampuk kuasa.

Pahamilah bahwa hakikat politik seperti Pilkada sejatinya adalah manifestasi kebebasan berpendapat, berekspresi sekaligus sebuah pemantik kesabaran untuk menerima perbedaan, juga kesiapan menerima kekalahan.

Demokrasi bernama Pilkada itu adalah juga ruang belajar yang baik untuk menurunkan ego dan suam-suam kuku amarah, demokrasi bernama Pilkada itu adalah wahana belajar memahami perbedaan.

Jadi sekali lagi, pesta demokrasi bernama Pilkada itu bukan untuk satu-dua orang saja. Dia untuk semua. Bagi yang bakal menang tetaplah rendah hati, pegang dan buktikan janji-janji sebab kerikil dan kerakal tajam akan jadi tantangan di masa depan, pasca Pilkada adalah perjuangan yang sesungguhnya.

Dan di kesungguhan itu, kita tak bisa bercerai berai sebagai dia si A, dan saya si B dengan segala predikat tak mengenakkan dan panas hati. Hingga kemudian menjadi bilik-bilik disharmoni yang berujung pada hasil Pilkada yang sia-sia sebab yang tiba kemudian adalah perselisihan tak berujung.

***

Maka jika ada yang berselisih paham, rentan dan pemarah karena kalah/menang di Pilkada, sesungguhnya bukan karena Pilkada itu sendiri, tetapi dia tak bisa keluar dari permasalahan laten pada diri, pada lingkarannya. Inilah persoalan besar yang menggelayut di keseharian kita sejak lama dan harus ditepis.

Jadi, bagi mereka yang masih saja berambisi untuk meluaskan persoalan diri dan lingkarannya lalu menerabas wilayah lain, wilayah tetangga, ke orang lain, ke pihak lain, kita harus tetap ingatkan sebagai saudara, sebagai saribattang, sebagai harapan bagi anak-cucu kita.

—-
Tamarunang, 17/02.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: