Kampung Rote Rasa Bajo Mola

Jika membaca peta Nusantara, maka Pulau Rote adalah pulau besar di Nusa Tenggara Timur yang menjadi titik antara, Indonesia dan Australia. Pulau ini berperan penting bagi nelayan-nelayan asal Sulawesi yang telah berkelana sejak abad ke 18 dan ke-19 di pesisir utara Australia.

Letaknya yang strategis ini menjadikan Rote sebagai tempat persinggahan sekaligus tumpuan harapan untuk bermukim dan melanjutkan kehidupan bercorak pesisir. Penulis berkunjung ke salah satu titik di Pulau Rote,tepatnya di kawasan Londalusi dan menemukan denyut kehidupan komunitas Bajo asal Sulawesi.

***

Di pesisir timur Pulau Rote, di penghujung tahun 80an, puluhan nelayan pencari teripang dan sirip hiu berdatangan, mengaso dan mengatur rencana untuk bergerak ke Laut Timor (Timor Sea). Salah seorang dari nelayan tersebut adalah Nawir. Dia bersama puluhan nelayan asal Kampung Mola di Pulau Wangi-wangi, mendarat di satu sudut pulau bagian timur yang kini bernama Papela dan Kampung Tanjung. Di benak mereka adalah datang untuk berburu sirip hiu dan teripang.

Penulis mendengar cerita itu dari Haji Nawir, pada awal November yang panas di tahun 2016. Nawir melanjutkan ceritanya. Nelayan-nelayan tersebut hanya tinggal untuk sementara waktu, ke laut, ke darat, memproses hasil tangkapan, dikeringkan atau dijual ke orang Rote. Setelah itu kembali lagi ke Pulau Wangi-wangi, ke Kampung Mola yang merupakan kawasan permukiman orang Bajo.

Kedatangan nelayan Bajo ini lambat laun semakin bertambah dan oleh Pemerintah setempat diberi perkampungan seperti Kampung Tanjung itu. Nelayan bermukim dan mulai intensif mengeksploitasi hasil laut seperti lola, teripang, hingga ikan-ikan karang. Mereka juga membangun jaringan dengan pedagang hasil laut dan menjadi bagian dari program pembangunan daerah Rote Ndao. Mereka menjadi bagian dari masyarakat Rote.

Mereka kemudian menetap di Pantai Papela atau sekarang disebut Tanjung Pasir.

“Jadi ada dua dusun, Dusun Papela dan Dusun Tanjung Pasir,” kata Nawir.

Saat ini tidak kurang 100 kepala keluarga bermukim di Tanjung. “Ada barangkali 350 jiwa tinggal di sini,” kata Haji Nawir saat ditemui pada siang tanggal 3 November 2016.

dsc_0242
Haji Nawir (foto: Kamaruddin Azis)

Menurut Haji Nawir, Tanjung Pasir berada dalam wilayah pemerintahan Dusun Papela, Kelurahan Londalusi, Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao. Kampung ini dihuni oleh warga dengan latar budaya dan agama Islam dan membaur dengan baik bersama warga Rote yang dominan Kristen. Permukiman di Tanjung serupa dengan perkampungan orang-orang Bajo di pesisir Sulawesi pada umumnya.

“Tidak lama lagi akan kembali ke Mola, setelah itu kembali lagi ke sini sebab kita sudah punya rumah di sini,” kata Haji Nawir.

Tentang Haji Nawir

“Saya orang Galesong, kakek saya datang dari Galesong,” kata Nawir. Galesong adalah kawasan di selatan Kota Makassar yang terkenal sebagai daerah pesisir dan mempunyai pelaut tangguh.

“Kakek saya datang dari Galesong lalu ke Bajoe, menyeberang ke Kabaena lalu ke Wangi-wangi. Uuu…lama sekalimi” ungkap Nawir. Nawir mengaku, meski asal Galesong dan keturunan Makassar namun dia tidak mahir berbahasa Makassar tetapi Bajo.

Nawir termasuk yang dituakan di komunitas Tanjung Pasir. Dia termasuk generasi Bajo pertama yang bermukim di Rote Timur.Selama bertahun-tahun Nawir melaut, mencari ikan dan juga berdagang. Potensi kelautan dan perikanan sekitar Rote Ndao membuat Nawir dan warga Majo Mola asal Wangi-wangi memilih untuk bertahan dan berkembang.

Cerita Nawir ini mengingatkan kita tentang pengembaraan nelayan-nelayan dari Sulawesi terutama dari kawasan Bajo Mola di Wakatobi sebagai tradisi turun temurun nelayan Indonesia yang datang ke selatan berbatasan Australia. Kita mungkin masih ingat tentang ketegasan Pemerintah Australia membakar kapal-kapal nelayan Indonesia yang tertangkap karena masuk ke teritori Australia secara tidak sadar.

Tahun 90an, terdapat banyak perahu asal Wangi-wangi, Pulau Barrang Lompo, Barrang Caddi di Kota Makassar dan dari pesisir Galesong yang dibakar di sekitar Ashomore Reef. Kala itu mereka datang sebagai pencari teripang dan hasil perikanan. Nampaknya mereka tak sadar kalau rezim pengelolaan saat ini telah berbeda dengan tradisi yang mereka ikuti, ketika nelayan-nelayan tradisional masih bebas masuk ke Australia.

Kita semua juga tahu bahwa kedatangan nelayan Nusantara ke Australia telah terjadi sejak abad ke 18 atau 19 sebagaimana catatan sejarah arkeologi dan sosiologi relasi antara Suku Aborigin dan nelayan asal Makassar. Nelayan Makassar datang berburu teripang, hasil laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi sekaligus sebagai obat pasar Cina.

dsc_0225
Perahu asal Mola (foto: Kamaruddin Azis)

Rasa Mola 

Kampung Tanjung adalah jejak perjalanan nelayan Sulawesi. Kampung yang tumbuh dan berkembang seiring perjalanan waktu. Kampung ini terletak di pojok timur Pulau Rote, tidak jauh dari Pelabuhan Papela. Rumah-rumah di Kampung Tanjung mengingatkan kita tentang model rumah Bugis Makassar, ada rumah panggung dan setengah panggung, ada pula yang hanya berdinding bilah bambu.

Saat penulis berkunjung, sempat bercengkerama dengan beberapa perempuan yang menggunakan bahasa Bajo. Mereka mengaku datang dari Kota Wanci, ada pula yang mengaku datang dari KMakassar.

Di pesisir kampung kita dapat melihat belasan perahu kecil, atau bodi batang dan perahu berbobot hingga 5 grosston yang digunakan untuk melaut dan mengangkut hasil tangkapan. Selain itu suasana khas pesisir dicirikan oleh anak-anak yang sedang bermain di laut, sebagian lainnya, meski masih kanak-kanak namun telah ikut berlayar.

Beberapa warga Bajo juga berasimilasi dengan warga Rote, kawin mawin dengan warga Buton yang juga datang ke situ. Mereka membentuk komunitas dengan memanfaatkan keramahan alam laut dengan ikan-ikannya. Mereka membentuk tatanan sosial dan menjadikan tetua sebagai tempat bertanya dan menimba ilmu kepelautan, salah satunya Haji Nawir.

Siang itu, beberapa perempuan bercengkerama di teras rumah, yang lelaki mereparasi mesin dan badan perahu. Di laut, beberapa anak-anak dan seorang dua orang pria dewasa sedang menarik jangkar, kapal sebentar lagi akan berlayar kembali ke Wakatobi.

Mereka akan kembali ke Rote, ke Kampung Tanjung setelah musim memberi tanda, melalui bintang dan angin kesiur dari selatan. Kembali ke Pulau Rote dan membawa aroma denyut komunitas Bajo Mola di tenggara Sulawesi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s