Rindu ‘Memulau’ di Kapoposang

Pagi ini, di ujung Januari 2017, ingatanmu meluncur ke barat laut jauh Kota Daeng. Ke satu titik dari ratusan titik berupa sintesa denyut kehidupan dan kelindan nasib orang-orang yang jauh dari pusat keramaian dan tukang perintah. Pada titik kehidupan menakjubkan yang tak butuh pulsa data kecuali kesungguhan menyesap nikmat Ilahi.

Pagi ini, ingatanmu mengembara ke gundukan pasir putih indah berpenghuni, berbentuk memanjang, berlekuk dan tentu saja menenangkan. Gundukan yang menenangkan, menyenangkan, yang sesekali diusik dentum bom nelayan pendatang yang sedang khilaf dan ‘mungkin dia lelah’.

Mereka datang dengan parade dan angkara murka pada nasib dan tega mengusir rasa kantuk. “Laku banal dan dilanggengkan!” serumu.

Kau juga tahu, di pulau itu, entah sudah ada berapa dermaga yang raib, hilang, yang berbiaya APBD atau APBN. Di dermaga yang kau jadikan tempat bermain, menunggui nasib, menunggui jolloro’ jika hendak pulang ke kaki daratan Sulawesi. Jika tak duduk melamun di atas, kau memilih berenang mengganggui ikan sebelah atau ikan-ikan lamun yang pipih lebar.

Pulau yang kau kunjungi pertama kali di tahun 1997 itu enggan hengkang di pikiranmu. Karena dia eksotis? Menantang? Putih? Bersih? Jujur saja kau sering menyambanginya penuh hasrat. Pulau yang kau bisa berbaring di sisi timur. Bergolek dan membiarkan tubuhmu hangat dicumbui hangat mentari timur. Yang seketika kau memilih menepi di sisi batang cemara dan mengais sejarah percintaan dengan umbai-umbi, pernik,  dan riak-riak maritim.

Pulau yang kau bisa melarikan diri ke barat dan menemui tapak-tapak sejarah mercusuar tua, bercengkerama dengan penjaga suar ikal, yang rambutnya meranggas karena dimakan usia atau shampoo yang langka, pun seperti kau. Para penjaga suar yang terbiasa larut dalam rindu dan jarak yang sulit ditebas. Tak seperti kau yang terikat kata pulang. Para penjaga yang kuat iman untuk tak protes saat jatah ransum telat datang karena badai.

Pulau yang kau bisa mampir dengan leluasa, diterima dengan peluk hangat di rumah Pak Nur, Dan kau meminta bilik untuk membaringkan kepala di atas bantal. Lalu kau minta sajian sayur  kelor khas pulau dan dihidangkan cakalang  pallukacci terbaik dari Laut Spermonde, Kepulauan Sangkarang atau jantung Selat Makassar.

Pulau yang masih menyimpan rumah-rumah khas kampung-kampung pesisir, pelaut itu. Pada kenangan rumah panggung yang meluluhlantakkan selera modernitasmu. Kau ingin punya rumah seperti itu, di kota, kelak.

***

Pulau itu, jujur saja, kau pernah bilang sebagai pulau yang mengenyangkan jiwa dan raga, sebab ada persahabatan, kesederhanaan dan kenyang pangan bahari yang murah meriah.Di pulau itu, kau bisa melongok ke pantai, ke pelepah kelapa yang mencium tepian laut, menggoda debur yang menghempas. Atau jelang malam, kau bisa melihat anak-anak muda pulau menabur parutan kelapa dan menunggui ketam kenari pemanjat menghampiri. Kau tertawa saat melihat ketam-ketam itu berdatangan dan melarikan diri ke batang kelapa.

Di Kapoposang, nama pulau gundukan pasir itu, kau bisa memanja mata dan menggerakkan ragamu sembari meliuk di rataan terumbu. Snorkeling boleh, diving boleh, asal kamu punya alat, ‘apparatus’.

Di tubir utara ke barat kau bisa melihat slope yang menjuntai, seperti dinding karst yang dijejali Acropora hingga Fungia, cekung dan berarus, dan di balik itu kau bisa terbius keindahan bawah lautnya. Ada pun tempat selam menggiurkan bernama Januar Point, titik yang ditemukan kawanmu itu.

Di sekitar itu, kau pernah diam-diam memergoki temanmu makan kerang, mengunyah tanpa dimasak, dimakan tanpa khawatir diare. Laut yang asin adalah penangkal penyakit, katanya.

“Itu kan dilarang, ndak bisa dimakan,” hardikmu seperti terlihat serius. “Ini japing,” balas temanmu itu.

Di Kapoposang kau bisa leluasa jalan pagi, hingga petang, di antara pohon-pohon cemara pantai yang indah. Yang pernah suatu ketika dilibas api karena musim sedang paceklik hujan. Di utara ada telaga air asin yang menggenang saat pasang tinggi, tempat yang kau sebut pembeda dengan pulau-pulau lain di Spermonde.

Kau tak menampik, di pulau itu, kau acap mengikat kenangan di pucuk-pucuk pohon aneh di utara, meletakkannya di sana biar dipermainkan angin atau sekalian diuapkan oleh panas musim.  Sebab hidup tak pernah mudah di ujung tahun 90an. Banyak krisis dan paceklik. Di pulau itu, saya tahu kamu menyimpan rindu, ingin datang lagi sebab hasrat dan sukamu telah ‘memulau’, tertahan di sana, memanggil-manggil.

Jadi, kapan ke sana lagi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.