Bertemu Hardy di Belitung Timur

Belitung tersohor sejak novel dan film Laskar Pelangi menyihir perhatian publik. Setelah itu, sepak terjang konstruktif Ahok sebagai Bupati Belitung Timur turut menggoda selera pencari hal-hal baru oase birokrasi dan kepemimpinan di Indonesia.

Laskar Pelangi meninggalkan museum kata Andrea Hirata, Ahok melenggang ke Jakarta dengan segala kisah inspiratifnya. Selain itu, Belitung juga menawarkan pantai indah, menakjubkan dan unik seperti Pantai Serdang hingga Pantai Tanjung Tinggi.

Sebelum menulis hal keren itu, saya ingin bercerita tentang pernik perjalanan ke Belitung Timur, teman baru perjalanan serta kesan darinya.

Pulau Belitung, 9 November 2015.

Pesawat Garuda nomor dengan penerbangan GA282 yang membawa saya dari Jakarta melintasi pulau Belitung. Sejak melayang di atas bibir pantai pandangan tersita paras bopeng permukaan pulau.

Cahaya matahari pagi terpantul dari lubang-lubang. Pulau Bangka dan Belitung adalah pusat tambang timah. Selain tambang, paras pulau juga dicekoki pohon-pohon sawit.Hamparannya meluber hingga tepian bandara H. AS Hanandjoeddin.

Bandara yang akan saya jejaki sebelum bertolak ke Manggar, Belitung Timur.

Setelah keluar dari perut Garuda saya menyempatkan selfie di depan ruang kedatangan, sama dengan tetamu yang datang, mereka juga menyempatkan diri untuk mengabadikan bandara di ibukota Kabupaten Belitung ini.
Beberapa dari mereka terlihat berwajah khas timur.

Beberapa orang berpakaian seragam memberi tanda dan menawarkan tumpangan, tak seperti di tempat lain, mereka terlihat sopan dan tak merangsek.

“Ke Beltim bang?” katanya.

Tak ada unsur paksaan. Saya mengelak dengan mengambil jalan lain, ke mesin atm di bahu kanan ruang bandara.

Sekeluar dari ruang atm, seorang pria rambut belah dua mendekat.

“Mau ke mana bang? Ke Belitung Timur?” sapanya datar.

“Iya,” kataku.

Saya menanyakan jarak dan tarif yang saya dengar dari seorang teman di Jakarta.

“Tigaratus ribu?” kataku.

“Daeng dari Makassar ya?
Aku Bugis, Bugis Bone,” katanya menebak.

Lelaki bernama Hardy ini mengaku berdarah Bugis meski lahir dan besar di Pulau Belitung, di Tanjung Pandan.

“Bapak Bone, ibu Sinjai.” lanjutnya saat kami sepakat bersama ke Manggar, Belitung Timur. Menurut Hardy, jarak Tanjung Pandan ke Manggar sekitar 90 kilometer.

“Jaraknya jauh bang, tapi karena abang dari Sulawesi, tak apa harga segitu.” katanya lagi. Aksen khas Bugis tak terdengar darinya.

Lelaki berkulit gelap ini mengaku sudah pernah ke Makassar namun belum sempat ke Bone, kampung ayah kakeknya.

Sebelum menjadi supir bandara, Hardy adalah nelayan.  Pernah setahun bawa perahu namun merasa tak sukses.

“Hasil tangkapan kecil.” ujar pria yang mengaku mempunyai bapak bernama Syamsuddin, asal Salumekko, Bone.

“Sebagai nelayan, saya merasa orang Bugis yang sukses di laut atau berdagang pasti punya sesuatu, tidak semua orang bisa.” katanya. Sesuatu yang dimaksud adalah ilmu kepelautan dan ‘baca-baca’.

Dari perbincangan ini mengarahkan saya pada kesan awal bahwa misi saya 4 hari di Belitung Timur akan menyenangkan sebab akan bertemu nelayan-nelayan Bugis Makssar di perairan pulau penghasil timah ini.

Perbincangan saya dengannya terasa hidup sebab kami membahas tradisi berlayar ‘passompe’ orang Bugis dan kemampuannya beradaptasi di negeri orang.

“Nelayan-nelayan di sekitar pantai Tanjung Pandan hingga Manggar berdarah Bugis-Makassar, sudah bertahun-tahun.” katanya.

Menurut Hardy, orang dari Sulawesi mempunyai kemampuan adaptasi yang baik dan mudah diterima oleh orang Melayu asli Belitung.

“Tallu cappa’ yang menjadi pijakan orang Bugis Makassar, ujung lidah, ujung pena dan ujung kelamin.” kataku perihal kemampuan beradaptasi orang Bugis Makassar.

Bertutur santun, mengabdi dengan pengetahuan serta melanggengkan generasi dengan perkawinan jika sesuai hati.

Hardy terseyum, manggut. Menurut Hardy, orang tuanya, Syamsuddin adalah pedagang, telah berpindah dari beberapa tempat di Bangka Belitung untuk berdagang. Karenanya, ayahnya punya istri lain selain yang sekarang, ibu Hardy. Sanak saudara Hardy ada di Belitung, termasuk kedua kakaknya.

Hardy bercerita bahwa banyak punya teman nelayan Bugis yang berpindah menjadi penggali timah.

Ekonomi membaik sejak booming timah menyeruak di Belitung. Orang-orang punya rumah bagus dan beragam kendaraan.

“Dulu, sekilo timah, seukuran kaleng susu itu berharga 120 ribu hingga 150 ribu.
Timah ditimbang, diekspor, setelah jadi dikembalikan ke kita lagi.” katanya seakan mengeritik aktivitas menambang timah nun lampau.

“Banyaklah lingkungan hutan kita hancur, hanya tersisa lubang,” katanya.

Menurut Hardy, karena itu pula orang tuanya dan beberapa keluarga Bugis menjadi petambang atau pengusaha timah meski tak bertahan lama.
Bagi Hardy, orang Bugis yang bisa eksis di perusahaan tambang, berdagang hingga menjadi nelayan adalah kemampuan yang luar biasa dari pendatang dari Sulawesi itu.

Dalam perjalanan kami ke Manggar, suasana terasa lengang, hanya ada satu dua mobil nampak padahal jalan terlihat rata dan lebar.

“Ini setelah Boediono datang. Pernah sih SBY janji mau datang tapi tak jadi, entah karena apa.” kata pria yang memiliki dua orang anak ini. Menurut Hardy, Belitung Timur yang sekarang mulai menampakkan perubahan, geliat ekonomi berkembang dari sektor pariwisata, mungkin karena ada cerita Laskar Pelangi.

“Pak Ahok juga berperan. Dia mempromosikan Belitung Timur dengan baik,” kata Hardy lagi.

Butuh waktu sejam lebih untuk sampai di Manggar, ibukota Kabupaten Belitung Timur.

Sebelum ke kantor Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Hardy mengantar saya mencari penginapan di Manggar, dari tiga penginapan yang kami kunjungi tak satupun tersedia kamar kosong.

Semuanya penuh karena rombongan Porwil provinsi yang dipusatkan di Belitung Timur. “Tak enak saya tinggal kalau Daeng belum dapat kamar,” katanya saat saya bilang akan cari hotel sendiri.

Hardy mengoperasikan mobil pemberian seorang pengusaha.

Menurutnya, tidak mudah membawa mobil seperti ini jika tidak ada kepercayaan dari yang punya. Meski begitu dia juga berpikir untuk punya mobil sendiri.

Dia mengaku hanya dia yang berdarah Bugis dari sekian supir bandara.“Harus sabar, sekarang paling sedikit 70 juta untuk bisa keluarkan mobil dari dealer.” ungkapnya.

Tak ada kesan bahwa dia berdarah Bugis, logat bicaranya gaya Melayu, meski demikian dia masih bisa menyebut beberapa kata dalam bahasa Bugis dengan fasih.

Menemukan orang asal Sulawesi di Belitung Timur rasanya sangat menyenangkan, tanpa terasa saya sampai ke tujuan dengan cepat lancar.

Jalan-jalan yang rata dan aspal yang masih baru menjadi pemandangan saat kami melintas membelah Pulau Belitung.

Beberapa monyet berlarian di sepanjang jalan.“Bukan hanya monyet, di sini juga terkenal tarsiusnya,” kata Hardy.

Saya tidak begitu yakin dengan binatang yang dimaksudnya.

“Kalau butuh, telpon saja, siapa tahu bisa jemput saat kembali ke bandara.” katanya setelah kami berfoto berdua di samping kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Belitung Timur.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.