Saya, Galesong dan Segala yang Berubah

Tulisan acak ini didedikasikan untuk nenekku almarhumah Aisyah Daeng Baji, bapakku almarhum Azis Daeng Salle dan sanak keluarga di Galesong Raya. Tulisan ini juga didasari dari motivasi yang dihembuskan Darmadi, sahabat serumah di Jakarta. Madi bertitah, “Jika hendak mencari kemurnian datanglah ke hulu, ingin kekayaan segeralah ke muara”.

Iya, kita di Galesong Raya punya kekayaan, setidaknya kenangan dan kebanggaan. Mari menemuinya.

***

Malam ini, setelah sate ayam tandas di piring, setelah bilah-bilah bambu tusuk sate dibuang ke tempat sampah, tiba-tiba saya rindu pada ayam-ayam di kampungnya. Yang meskipun berkeliaran di hutan dan ladang-ladang sembunyian tetap gurih usai digoreng. Rindu pada rumpun pohon bambu di sekitar tanah lapang tempat bermain semasa kanak-kanan. Ribuan kenangan berkelindan. Namun tak lama.

Sebulan lalu saya sempat berputar di jalan arah selatan di kaki jembatan yang telah berusia 35 tahun. Menemukan rumah-rumah telah semakin memadat, hanya ada beberapa rumpun bambu. Lapangan yang dibelah oleh pematang, tempat saya kerap bermain bola telah diisi 5 rumah bantu.

Pohon lobi-lobi tempat saya menunggu buah ranum tiada lagi. Mangga macan yang meskipun buahnya membuat bibirnya pernah mekar berlebihan pun tiada lagi. Pohon lontar yang dulunya masih ada 3 batang tempat warga mengambil tuak manis hanya menyisakan bongkol yang melapuk.

Bebatang pohon jambu lokal (bukan Bangkok) tempat dia mencari semut merah yang konon cairannya sangat ampuh untuk membantu proses sunat sekarang hanya tinggal bayang-bayang. Di sisi barat, di tanah lapang yang dulunya mewujud kolam ketika musim hujan kini tiada lagi. Tanah seluas 1 hektar itu kita telah ditimbun. Rumah sang pemilik tanahpun kini telah tiada. Entah di mana dia kini. Agak ke barat, lapangan kedua yang selalu dijadikan tempat main voli itu kini tak nampak lagi. 4 rumah mewah telah berdiri di atasnya.

Saya terngiang bunyi kodok saban malam kalau musim barat, musim hujan. Seluruh kampung nyaris mendengarnya ketika hujan reda. Di tengah kolam yang di lain waktu mewujud lapangan voli itu berdiri rumah kakeknya. Seorang pria tinggi dan beristrikan perempuan muda setelah istri pertamanya meninggal dunia. Di rumah itu dia menyimpan kenangan, tentang jaring milik sang kakek, juga bubu yang kerap dipinjam oleh sanak keluarga mencari ikan di sungai.

***

Malam ini, saya sungguh rindu pada kampung halaman, pada Galesong. Pada gelombang musim barat, pada laut yang rakus melumat daratan, juga sebaliknya, pada sungai yang semakin meluaskan daratan karena endapannya di timur.

Ingatanku pada tiang rumahnya yang dilumat gelombang dan hijrahnya keluarga besarnya ke timur. Saya menyadari bahwa gejala perubahan telah dirasakan di kampungnya. Sungai-sungai menyempit, muara mendangkal, laut semakin tak ramah dan menggerus tepi pantai.

Saya tak mau menyalahkan musim, tak jua pada angin. Yang saya pikirkan hanyalah di mana lagi anak-anak bermain saat pantai telah ditanggul, saat pasir pantai yang dulunya halaman bermain nan luas sekarang hanya batu yang dikirim oleh Pemerintah. Tentang pantai dan pasirnya yang luas, di situlah saya kerap menunggu papekang yang datang membawa ikan merah juga hasil bubu.

Wilayah itu namanya Galesong. Dia dikenal dalam timeline sejarah bangsa. Letaknya di selatan kota utama, memanjang dari utara ke selatan. Galesong yang dimaksudkan di tulisan ini adalah jalinan  kampung-kampung di radius 5 kilometer dari pusat pemerintahan di Galesong, atau rumah raja dimana Dia ikut di dalamnya sebagai saksi sebagai bagian darinya.

Sejarah tertentuknya Galesong dimulai oleh kesepakatan anggota tim kerajaan Gowa (Sombaya) untuk membentuk pertahanan di wilayah ini sebagai Tabbala Pabundu, dibentuklah benteng di perairan Galesong. Kawasan yang bagus karena dapat terlindung dari hempasan gelombang musim barat karena adanya Pulau Sanrobengi. Menurut cerita, Kerajaan Galesong pertama kali diperintah oleh Karaeng Mattinroa Ri Bobojangang pada abad ke-16. Beliau adalah kerabat dari I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape alias Sultan Hasanuddin.

Galesong menjadi tenar sejak Karaeng Galesong, I Mannindori Karaeng Tojeng menolak takluk ke Belanda dan meneruskan perlawanan hingga laut dan pesisir Jawa. Di Ngantang, Malang terdapat makam Karaeng Galesong tersebut.

Sejarah tersebut di atas menjadi pijakan sekaligus catatan indah atas kiprah orang-orang dari pesisir selatan Makassar tersebut.

***

Dari sejarah terbentuknya Galesong terbentuk tersebut, warga dan keluarga Karaeng bertahan dengan bercocok tanam dan melaut. Terdapat hamparan perkebunan, persawahan di timur Balla Lompoa atau kompleks permukiman raja-raja atau Karaeng. Balla Lompoa menghadap ke arah timur dan sesiapa, warga biasa yang melintas di jalan raya di depannya haruslah menggigit jari dan menundukkan kepala. Saya pernah melakukan ini sejak tahun 70an bahkan hingga masuk sekolah menengah pertama.

Garis demarkasi antara peninggalan sejarah, nama besar dan kharisma keluarga kerajaan tercermin dari interaksi kami saat merasakan kursi sekolah di tahun 70an. Garis demarkasi itu bergerak ke ruang-ruang komersil, modernitas dan transfer perilaku di bangku-bangku sekolah.

Di pandangan saya, lambat laun praktik menghormati secara gerakan semakin tergerus di masa ini meski nenek saya Aisyah Daeng Baji yang saat itu berusia 60an tahun tetap menyimpan dan menunjukkan semangat menghormati tradisi itu.

Saat kecil kami masih datang ke Ko’banga atau makam Tuanta Salamaka atau Syech Yusuf di Katangka Gowa, demikian pula berkunjung ke beberapa makam di Ujunga. Keluarga dari kakek saya Battu Daeng Ngalli datang dari Ujunga, atau Desa Boddia sekarang.

Praktik ini lambat laun hilang juga sejak saya memberikan penjelasan ke mereka tentang isi sebuah hadis, ‘Kunta Nahaitukun Ansyiaratiil Kubr ala Fujruha fainnaha ala tujkiratul mauti.” Intinya menjelaskan bahwa dulu Rasulullah melarang ziarah kubur, tetapi sekarang dbolehkan sepanjang itu akan mengarahkan dan menyadarkan kita untuk mengingat datangnya kematian.

Tradisi berangsur menghilang karena pelajaran dan ilmu agama dan kajian-kajian rasional di dalamnya.

Saat itu, di tahun 70-an, Muhammadiyah berperan sangat signifikan dalam menggerus tradisi yang seperti di atas. Secara umum tak hilang sebab pada beberapa praktik berusaha seperti dalam mencari ikan di laut, tradisi yang nyaris sama masih tetap dilaksanakan seperti membuang sesaji di sekitar pulau Sanrobengi. Membakar dupa dan lembat daun ‘lanra’ bagi nelayan-nelayan.

Orang-orang yang saya kenal di tahun 70an adalah petani, nelayan yang juga mempunyai tradisi dan kepercayaan. Mengaku Islam tetapi masih belum sepenuhnya meninggalkan yang diwariskan sejarah dan kejadian mereka. Baik sebagai individu maupun bagian dari sistem sosial saat itu. Orang-orang di Galesong mengenal boe’, batu keramat dan tempat istimewa di atap rumah. Saat itu.

Sekarang mungkin tiada lagi sejak batu-batu di sekitar sungai dan laut telah tiada, demikian pula pammakkang atau ruang di bawah atap rumah panggung untuk menyimpan beras tiada lagi. Sebab mereka mungkin saja tak lagi punya padi panenan atau lahan sawah sebab telah berubah jadi ruko dan perumahan.

Entah kapan mulanya hingga kerap disebut Galesong Kota. Sejak kanak-kanak sebutan itu telah ada, Galesong Kota.Setahuku itu diterima sejak ada televisi umum di depan kantor camat Galesong, di kampung Takari. Ada sebuah sungai kecil menebas daratan antara pasar Takari dan lokasi televisi umum itu. Kalau ditanya mau ke mana, orang-orang menyahut mau nonton di Takari.

Suasana 80-an

Pertengahan tahun 70-an, saat saya belum dikhitan, bapak kerap mengajakku nonton televisi ini. Didudukkannya anak pertamanya ini di kursi kecil dari rotan yang pas untuk dijejalkan ke batang sepeda, kadera monye’ monye’, begitu sebutan orang saat itu. itu berlangsung beberapa bulan sampai sang anak bisa duduk di belakang.Bisa duduk di belakang namun kaki terikat. Biar aman.

Orang-orang datang berkerumum saban siang, instalasi listrik umum belum ada, saya tidak ingat sumber energi televisi saat itu, anak kecil seperti saya mana peduli yang informasi asal usul listrik saat itu bukan?

Di ujung tahun 70an, di transisi dari usia SD ke SMP, saban malam kami menonton di rumah Pak Dullah, seorang guru di SD dekat lapangan utama Galesong. Sesekali di rumah Nenek Lewa, kepala dusun, tokoh berpengaruh di Jempang.

Seingatku, selain menonton di televisi umum, Pak Dullah, kami juga kerap bergadang di rumah Pak Kasno, seorang penyuluh pertanian yang meskipun beragama berbeda dengan sebagian besar warga Galesong namun sangat disukai warga.

Masa-masa itu saya juga menonton di rumah Haji Liwang dan rumah Haji Kulle. Tahun-tahun antara tahun 1976 hingga tahun 83 adalah masa SD, adalah tahun-tahun merekam informasi, cerita, keadaan dari luar. Kisah heroik Muhammad Ali meraih dan mempertahankan juara tinju kelas berat saat itu adalah garis dan corak tebal di rentang tahun 70an.

Antara tahun 70-an dan 80-an, adalah juga era film layar tancap di Galesong. Dari sini kami mengenal Bruce Lee, A Rafiq, Rhoma Irama,

Tahun 80an, televisi telah ada di rumah bapak, di rumah kami. Tetap hitam putih. Di sela minat menonton yang sangat tinggi, rumah kami menjadi riuh ketika TV dinyalakan, sanak-saudara datang dan menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar kaca temuan. Tontonan telah semakin mengasikkan dan berwarna sejak benda ciptaan Peter Goldmark itu menghiasi ruang tengah rumah kami.

Godaan tidak berhenti di situ, di rentang tahun yang sama, video VHS merajalela. Saya masih ingat kala itu kami, anak-anak perjaka dari Kampung Jempang kerap pergi nonton video. Di kantor Desa Pa’la’lakkang, lalu ke rumah Daeng Mare’ di Bayoa dan Pak Husain di Lanna’. Semuanya menawarkan film-film berbasis video player, dari Kungfu hingga percintaan religius Rhoma Irama.

Di tahun itu, bapak membeli video player VHS. Saat SMP hingga jelang masuk SMA di Makassar, profesi saya rangkap dua, sebagai siswa sekaligus operator video.  Saat memutar video di pesta perkawinan di Bontolangkasa, Gowa, saya melihat langsung seorang tua membengkokkan senjata tajam badik dengan telapak tangannya, persis melumat kertas. Inikah sisa kesaktian para pengikut Karaeng, para pejuang yang masih tetap bertahan?

Bisnis video kemudian redup di ujung 80an. Dunia telah berubah. Lesatan perkembangan teknologi komunikasi dan hiburan kian nyata. Semakin banyak rumah yang mempunyai televisi warna. Harganya semakin terjangkau. Pekerjaan utama warga Galesong, atau di radius 5 kilometer dari lapangan Galesong adalah petani dan nelayan. Petani bercocok tanam di timur, sementara nelayan melanglang ke selat Makassar di barat Galesong.

Orang-orang mengisi hari dengan sukacita. Jika boleh didaulat, maka sesungguhnya saya adalah keturunan nelayan.

Kakek dari garis ayah adalah nelayan pancing dan pernah pula menjadi pencari ikan terbang atau Patorani, namanya Battu Daeng Ngalli. Battu kelahiran Ujunga/Boddia yang menata rumah tangganya pertama kali di Bayowa sebelum pindah ke Kampung Jempang di timur. Kakek dari garis ibu namanya Daeng Tora’, adalah pengusaha sekaligus nelayan.

Saya sebut pengusaha sebab setahuku punya perahu patorani sebanyak 12 unit. Nelayan, sebab dia juga melaut. Tentang perahu ini, mungkin agak konyol jika saya katakan habis karena dibagi-bagi ke cucunya. Saya salah satu yang mendapat bagian itu. Yang unik karena istri Daeng Tora’ bersepupu dengan istri Daeng Ngalli.

Dari pihak ibu atau nenek, juga tak kalah ber-sumberdayanya karena punya banyak tanah atau sawah. Nenek dari garis ayah punya lahan pertanian di Pattinoang, atau sekitar 5 kilometer ke tenggara Kampung Jempang, sementara dari pihak ibu punya tanah di antara Kampung Mario dan Tama’la’lang.

Sawah nenek dari garis ibu adalah yang memberi pengetahuan tentang bagaimana bercocok tanam, bagaimana menyiangi dan bagaimana memanen. Ini saya alami di pengujung tahun 1970an. Bapak saya Azis Daeng Salle kerap membawaku untuk menemaninya menyiapkan lahan, menanam hingga panen. Selain kami, maksud saya ayah dan keluarga besar kami punya sumberdaya yang dapat diandalkan saat itu.

Selain berharap dari lahan pertanian untuk menyimpan beras dan menanaknya jadi nasi, warga di Galesong adalah nelayan yang ulung. Mereka bisa ditemukan di Laut Flores, Selat Makassar hingga perairan Madura. Mereka adalah nelayan yang mencari ikan di selat Makassar. Dari perairan Jeneponto hingga Mamuju di utara.

***

Di rentang tahun-tahun 70an dan 80an kekerabatan di antara nelayan, antara sawi dan pinggawa (patron client) khas pesisir terpapar dari aktivitas mereka, dari pagi sampai malam, dari malam sampai pagi. Mereka menggunakan jalan raya sebagai tempat menjemur daun kelapa, bahan untuk bikin pakkaja atau sarang ikan, membentang temali untuk layar dan jangkar, menyiapkan layar dan tiang-tiangnya.

Di tradisi ini, bukan hal aneh jika setiap rumah masih menyimpan dupa dan membakar kemenyan saban malam terutama malam Jumat. Bagi yang percaya tradisi nelayan patorani, beberapa prosesi sebelum berangkat melaut juga dipraktikkan. Misalnya membawa dupa atau pa’rappo dari rumah kemudian dibawa sembari jalan kaki ke pantai, ke tempat perahu ditambat.

Tahun-tahun itu, adalah tahun-tahun di mana sungai yang membelah Galesong Kota masih lempang dan dalam. Perahun-perahu patorani disandarkan dan ditambatkan di sana.

Ada satu kebiasaan nelayan patorani saat itu sebelum benar-benar berangkat mencari ikan terbang dan telurnya di lautan luas. Mereka selalu ke Pulau Sanrobengi untuk semalam atau seharian sebelum kembali ke pantai Galesong. Ini merupakan tradisi. Menurut cerita sebagian dari mereka memberi sesaji untuk yang mereka anggap keramat di pulau itu.

Hubungan patron client ini meluas, dari sekadar hubungan di atas perahu kemudian penyedia modal dan pemberi pinjaman. Beberapa pinggawa (nakhoda) bahkan lambat laun jadi papalele yaitu pemberi modal. Papalele tak melaut. Nilai kekerabatan sangat kental saat itu.

Tokoh-tokoh nelayan bisa terlihat dengan kasat mata, dari peran dan fungsinya. Tahun-tahun itu, bir dan tuak adalah minuman tenar saat mereka bekerja menyiapkan pelayaran. Kami hidup dan melihat realitas itu dengan sangat jelas. Organisasi informasi terbentuk dari sawi, pinggawa, papalele. Bank belum ada. Pemberi modal atau papalele adalah pengusaha dari Makassar. Orang-rang di Galesong menyebutnya Baba’ Lompo.

***

Simbol-simbol perubahan

Tahun 80an perubahan kian masif di Galesong. Rumah-rumah semakin bertambah. Kabel-kabel PLN mulai menjalin rumah-rumah. Merambat dari atap ke atap. Saya ingat ada nama petugas PLM bernama pak Siddik. Kalau ada yang mau instalasi listrik, dialah yang paling dibutuhkan saat itu. Jalan-jalan yang dulunya berdebu saat kemarau, becek saat musim barat mulia dikeraskan, sebagian diaspal.

Karena bank sudah ada, nelayan semakin mudah memperoleh modal usaha. Mereka semakin jauh melaut, dari hanya di selat Makassar kemudian menyeberang hingga Maluku dan Papua. Sebagian nelayan bahkan berganti profesi menjadi pedagang kayu. Mereka berlayar ke Maluku, Papua dan Kalimantan untuk memboyong kayu. Tahun 80an dan 90an, bisnis kayu menjadi primadona.

Pada saat itu pula, sawah-sawah kemudian murai dijamah oleh warga, bukan untuk ditanami tetapi dikonversi jadi permukiman atau perumahan, maka berdirinya kompleks perumahan di antara Tambakola dan Tama’la’lang. Inilah simbol perubahan yang sulit dienyahkan selain mengenakannya meski tak paham risikonya.

Sejak kakek dan nenek, baik dari jalur ibu dan bapak telah meninggal, transformasi kian gesit. Perahu-perahu kakek satu persatu lepas. Diberikan ke anak-cucunya meski 1-2 yang masih berprofesi sebagai nelayan pada tahun 90an. Selain perahu, sawah-sawah juga berpindah tangan.

Singkat kata, fenomena ini juga dialami oleh banyak warga Galesong, mereka bertransformasi ke situasi yang mungkin mereka tidak pernah bayangkan sebelumnya. Perubahan pada sumberdaya alamnya, pada kepemilikan dan pemanfaatan.

Saya ingin menulis lebih panjang tetapi mata telah perih dan lelah. Saya sudahi saja.

Narasi di atas bisa dimaknai sebagai upaya menelisik perubahan-perubahan. Yang diungkit oleh kesadaran atau ketidaksadaran dari dalam diri, karena pengaruh eksternal. Karena derap modernitas.

Perubahan yang terjadi bisa disebut sebagai alamiah namun bisa juga disebut sebagai direncanakan, direncanakan oleh pihak luar dan diterima oleh orang dalam meski tak begitu yakin dengan arahnya. Perubahan yang kerap tak terlihat oleh orang dalam karena terpesona oleh kerlip perubahan di seberang.

***

Oya, cerita di atas murni pengalaman diri tetapi mungkin saja dialami oleh sebagian besar warga yang lahir dan besar di Galesong, di tanah para pelaut, para pengelana dan pemberani. Sebagian dari mereka mungkin telah bertahan hidup di tanah seberang, di Kalimantan, Sumatera, Jawa hingga Papua.

Arnold Toynbee mengatakan bahwa perubahan sosial , baik itu kemajuan maupun suatu kemunduran, dapat dijelaskan melalui konsep – konsep kemasyarakatan yang selalu berhubungan satu sama lain, yaitu tantangan dan tanggapan.

Apa yang terjadi di Galesong, dalam 30 atau 40 tahun terakhir adalah isyarat perubahan yang bermula dari lambat lalu bergerak secara spontan. Dia berubahan tanpa perencanaan, komunitas tak bisa beradaptasi dengan cepat. Sebagian lebur, bertahan, sebagian lainnya hilang.

Bagi sebagian orang peruabahan tersebut tergolong cepat karena ada konstruksi yang disengaja oleh orde baru, ada skenario besar bernama pembangunan dan orang-orang digiring untuk bertransformasi dalam tekanan.

Apa yang terjadi di Galesong, pada kami pada yang bergantung pada sumberdaya adalah perubahan yang nampaknya menjadi umum atau beberapa orang telah berubah keadaannya. Contohnya adalah perubahan model pakaian yang tidak melanggar nilai atau norma. Perubahan-perubahan yang dirasakan semakin nyata adalah ketika terjadi era transformasi. Contohnya adalah perubahan sistem pemerintahan dari otoriter ke demokratis.

Apa yangterjadi di Galesong adalah hal-hal yang tak bisa ditolak yaitu faktor pertumbuhan penduduk, adanya penemuan-penemuan baru seperti televisi, video dan layar tancap. Dia mengubah pola relasi dan cara bergaul kami, juga orang-orang di kampung.

Adanya Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama menjadi bagian dari perubahan di pedalaman Galesong, di pesisir dan kawasan pertanian, ada pergeseran nilai-nilai keagamaan yang semakin tercerahkan.

Sebagian lainnya mungkin seperti saya, selalu merindu yang lampau, pada yang pernah ada, pada kekayaan, seperti yang disebut Darmadi, pada unsur-unsur pembentuk komunitas di Galesong, kampung halamanku tercinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.