Suatu Sore di Pantai Labean

Mendung tebal menggelayut di atas pantai Labean, Donggala, Sulawesi Tengah (18 November 2015). Belasan anak-anak bermain dan tertawa lepas di dermaga, dermaga yang nampaknya sedang diperbaiki. Dua pemuda melempar mata kail sejauh mungkin.  Mereka bersukacita meski sebentar lagi hujan mengguyur kawasan Kecamatan Balaesang.

Di atas dermaga berkayu ulin, seorang anak perempuan usia 12 tahun mempermainkan ikan murai yang tertangkap. Berukuran besar namun tiada yang mengklain miliknya, tiada yang tertarik membawanya pulang. Di sisi selatan dermaga atau sekitar 50 meter dari dermaga, lelaki Anas, bersiap menarik perahu sampan bermesinnya saat penulis melepas pandangan ke lansekap pantai dan laut di sekitar Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Labean, Kecamatan Balaesang.

***

Sesungguhnya pekerjaan utama warga Labean hingga Desa Meli adalah berkebun. Hingga tahun 80an, geliat perikanan belum terasa di Labean. Orag-orang lebih senang ke kebun ketimbang ke laut. Ini pengakuan seorang kelaki berkacamata tebal yang masih gesit berjalan dan bekerja. Dia mengaku mengaku datang dari Toli-Toli ke Labean pada tahun 1945.

Lelaki itu Pohuwa, lelaki tua yang sedang mengaso di kawasan PPI Labean yang ditemui oleh penulis pada tanggal 18 itu.

“Dulu tidak ada nelayan. Pantai di sini rata, bersih. Saat datang ke sini, saya turunnya di Meli,” kata sang kakek. Meli adalah desa tetangga Labean. Meski bergitu, Pohuwa tak tinggal di Meli namun ke Kampung Tanjung. Menurut Pohuwa, usaha perikanan mulai marak sejak tahun 90an, apalagi sejak dikembangkan tempat pendaratan ikan sederhana.

Menurut Pohuwa, seiring perkembangan kampung dari tahun ke tahun, nelayan kian bertambah banyak, terutama sejak datangnya nelayan bagang dari Sulawesi Selatan pada tahun 90an.

Anas, pria pertama, adalah nelayan keturunan Suku Buton, salah satu suku paling yang umum ditemui di pantai-pantai timur Indonesia. Ayah Anas dari daerah Pangkajene Kepulauan (Pangkep) Sulawesi Selatan sementara ibunya adalah perempuan kelahiran Pulau Kaledupa, Wakatobi. Anas lahir dan besar di Donggala.

Lelaki berkumis ini mengaku adalah pelaut pengembara sebelum menambatkan hidup dan harapannya di pantai Labean. Tattoo jagkar di lengannya menjadi bukti kedekatannya dengan laut. Menjadi butki intimnya dengan laut. Dengan modal perahu sampan bantuan Dinas Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Donggala, Anas mengisi hari-harinya sebagai nelayan. Pengetahuan yang diperolehnya menurun dari tradisi kenelayanan Suku Buton, juga transfer dari orang tua dan keluarganya di Wakatobi.

Untuk berusaha di penangkatan ikan, Anas bermodalkan sarana perahu bantuan dinas senilai Rp. 3,5 juta plus mesin dan dengan itu dia mengaku menyekolahkan anaknya pertamanya yang masih kelas 2 SD.

Menurut Anas, terdapat pengusaha ikan asal Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan yang menjadi juragan perikanan di Labean. Namanya Haji Madong. Madong mempunyai perahu bagang (liftnet) dan sering beroperasi di sekitar perairan Donggala hingga Kalimantan. Usaha bagang marak sejak tahun 90an namun sempat tertahan dan tak beroperasi karena ada konflik antar nelayan. Antara nelayan lokal dan nelayan pendatang.

***

Hanya beberapa petak rumah ke selatan PPI Labean terdapat rumah Pak Mansyur, seorang pengusaha ikan sebagaimana cerita sebelumnya dari Anas. Di bagian belakang rumah terdapat ruang terbuka yang berisi kotak persegi yang lazim dipakai menyimpan ikan.  Saat dibuka isinya adalah ikan tuna yang telah dilumuri es. Ada 3 kotak berwarna oranye cerah dan dua lainnya sudah pudar warnanya.

“Tiga yang baru ini adalah bantuan DKP Donggala,” kata Jernih, istri Mansyur yang menerima penulis. Selain berisi tuna, terdapat pula ikan kakap dan kerapu merah 2 ekor sekira 20 kilogram perekor. Ikan-ikan yang besar. Menurut Jernih, bantuan ini diterima tiga minggu lalu.

“Biasanya kalau ikan terkumpul banyak seperti kerapu atau kakap, akan langsung dibawa ke Makassar,” kata Jernih yang mengaku telah berusaha hasil laut selama 12 tahun.

“Tapi kalau tidak banyak biasanya akan dikirim ke Palu saja,” tambahnya. Sejauh ini Jernih mengaku bahwa usahanya ini tertopang oleh adanya nelayan yang berharap diberikan bantuan usaha seperti diberi modal memberi alat tangkap, kebutuhan BBM hingga operasional lainnya. Modus usahanya adalah; Jernih mempunyai 10 nelayan sebagai pencari hasil laut. Ada yang meminta diberikan perahu dan ada yang hanya minta dana operasional melaut.

“Sebenarnya nelayan bebas saja, tetapi kadang mereka yang meminta modal usaha. Minta ditanggung bensin dan kebutuhan lainnya seperti umpan. Kalau ada hasil mereka jual ke sini,” ungkap Jernih. Menurut Jernih, kalau memungkinkan, hasil penjualan akan dipotong namun kalau belum bisa atau hasil tidak mencukupi tidak akan dipotong.

Jernih juga membeli ikan dari nelayan umum alias bukan anggotanya. Biasanya ikan cakalang dibawa ke pasar, di kampung, tidak jauh dari rumahnya. Kadang pula dibeli pengecer dan dibawa ke Palu.

“Kalau ikan-ikan besar kerapu ukuran 20-30 kilogram akan dies dan kalau masuk ukuran seperti tuna akan diekspor,” katanya. Selain tuna, Jernih kerap menampung ikan kerapu, kakap, ikan merah atau ikan karang. Anggota nelayan Jernih ada juga yang merupakan dari nelayan Tanjung, kampung sebelah.

Sementara itu, lelaki Asli dan istrinya, hanya berjarak satu rumah dari Jernih terlihat sibuk memilah ikan dan memasukkan ke kotak yang telah dilumuri es. Asli, adalah juga pembeli ikan di Labean.

Sore itu, di tengah gerimis yang membasahi Labean, mereka sibuk menyiapkan es batu untuk dimasukkan ke ikan yang telah ditata di dalam kotak pendingin (coldbox).

“Ini es bikin sendiri, di kulkas,” kata Asli yang diiyakan istrinya. Mereka berharap di PPI Labean dibangun pabrik es sebab selama ini kebutuhan es hanya dipenuhi oleh kulkas skala rumah tangga.

***

Anas, Pohuwo, Jernih dan keluarga Asli adalah bagian dari sejarah sekaligus masa depan perikanan Labean. Dari mereka kita bisa menarik kesimpulan bahwa ada peluang dan harapan untuk berkembang sebagai Kampung Nelayan di Labean.

Pengalaman mereka merefleksikan adanya geliat usaha perikanan yang amat ekonomis dan membutuhkan dukungan dari beragam pihak termasuk Pemerintah. Kondisi perairan Desa Labean yang masih memiliki potensi besar merupakan modal bagi nelayan setempat untuk mengembangkan kapasitas ekonominya.

Seiring dengan perkembangan zaman, Labean kini layak menjadi sentra pengembangan perikanan. Dengan dibenahinya PPI serta masih bertahan dan kian berkembangnya volume usaha orang-orang yang bermukim di sekitar PPI maka harapan untuk menjadikan Kabupaten Donggala sebagai salah satu sentra perikanan di Sulawesi Tenggara akan dapat dicapai.

“Pengembangan perikanan di sini sangat prospek, apalagi konflik antara nelayan pendatang dan nelayan setempat sudah tidak ada.” kata Anas sebelum kami kembali ke Kota Palu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.