Nelayan Bugis di Belitung Timur

 

Geliat perikanan di Belitung Timur tak bisa dilepaskan dari sejarah datangnya orang Bugis ke Belitung. Puncaknya di tahun 60an. Meski banyak versi yang menyatakan bahwa orang Bugis telah ada jauh sebelumnya namun berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, kedatangan orang Bugis ke Belitung bermula sejak kekacauan karena pemberontakan Abdul Qahhar Muzakkar.

Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa tahun 50an hingga 60an ada wabah penyakit menular di Sulawesi yang memaksa mereka untuk hengkang, tersebar ke Kalimantan, Jawaa, Nusatenggara hingga Sumatera.

Cerita ini saya dapat dari Ishak. Ishak adalah alumni Kelautan Unhas yang lahir dan besar di Manggar, Belitung Timur meski dalam darahnya mengalir darah Bugis Bone. Pria beranak satu ini mengaku neneknya datang dari Sumbawa, Nusatenggara Barat, berdiam di Kampung Arab, Manggar hingga kemudian menikahkan anaknya (ibu Ishak) dengan ayahnya yang sekarang.

“Orang tua saya dan keluarga besar tinggal di Pulau Lhoong, sekitar 4 jam naik perahu dari Manggar.” kata Ishak. Ishak mengaku kalau saat leluhurnya membuka Pulau Lhoong tahun 70an merupakan pulau dulunya, saat pertama kali didiami banyak ditemukan tengkorak dan leher manusia. Sebagai anak keempat, saudara Ishak telah menyebar. Ada di Palopo, Sulawesi Selatan, ada pula di Tanjung Pandan, Belitung.

Cerita perikanan, asal usul dan sepakterjang nelayan Bugis di Belitung dapat ditelisik dari cerita orang tua Ishak, bernama Ibrahim. Malam itu, di teras rumah Ishak, berceritalah sang ayah.

“Peristiwa bermula di tahun 1955. Saat itu, banyak peristiwa kebakaran. Rumah-rumah dibakar, keadaan sedang kacau di Sulawesi. Saya masih di Kajuara, Bone saat itu.” kata Ibrahim, ayah Ishak. Ibrahim muda meninggalkan Kajuara dalam tahun 1955. Dia menyeberang ke Pulau Kabaena di Sulawesi Tenggara untuk berdagang sebelum ditawan pemberontak.

“Tahun 1955 aku ditangkap gerombolan di Sulawesi Tenggara. Ditangkap di pulau Kabaena. Lalu dikirim masuk ke daerah Raka Dua. Dibawa oleh gerombolan. Sampai di sana disuruh naik ke kampung, tujuannya mau dipotong. Saya sempat dengar mereka, ada komandan yang bilang, tidak bisa lagi motong orang. Biasanya mereka potong tawanan baru dilaporkan.” ungkap Ibrahim.

“Gerombolanlah, gerombolan Qahhar Muzakkar biasa disebut Batalyon 4, Cuma namanya aja batalyon, anggotanya sedikit,” kata Ibrahim yang mengaku ke Kabaena karena ingin berjualan di Pulau Muna dengan naik perahu lambo’.

Setelah lolos dari maut, Ibrahim muda disuruh berkebun jagung. Bukan hanya Ibraim, ada 18 orang pedagang asal Kajuara yang berlayar dengan 4 perahu lambo’. Setelah berhasil menanam jagung, Ibrahim dan kawan-kawan kemudian dibebaskan dalam tahun 1956.

“Kami kembali ke Kajuara dan ketemu keluarga,” kata Ibrahim.

“Tidak lama di situ, saya ke Selayar, naik lambo, jual-jualan di Kota Benteng. Saya tinggal di Panggiliang. Pernah pula ke Benteng Jampea. “ kata Ibrahim. Masa-masa di Selayar, Sulawesi Selatan adalah pada tahun 1957. Usia Ibrahim saat itu 26 tahun, belum menikah. Setelah beberapa tahun tinggal di Selayar dan berkongsi dengan pedagang Selayar Tionghoa, Ibrahim merantau ke Belitung.

Saat ada perahu dari Kajuara mampir di Selayar yang membawa garam, Ibrahim memilih ikut berlayar ke Barat.

“Kebetulan ada kakak di Manggar, yang membuka usaha perikanan mayang tahun 1960an,” terangnya.

“Saya ke Belitung tahun 1964.” sambungnya. Ibrahim berlayar ke Belitung dan sempat mampir selama di Gresik, Jawa Timur sebelum merapat di Tanjung Pandan. Pelayaran Ibrahim ke Tanjung Pandan dilakukan dalam bulan April, saat angin timur berhembus dan mendorong perahu pinisinya. Di atas kapal terdapat 9 orang penumpang termasuk juragan kapal, Haji Rahim.

“Esok paginya saya naik oto ke Manggar.” Kata pria yang lahir tahun 1940 ini.

Sampai di Manggar, Ibrahim kebagian tugas sebagai juru tulis.

“Mungkin karena saya lebih pintar dari kakak, maka saya diberi buku.” akunya.

Di Manggar, Ibrahim membantu Haji Wahid yang telah lebih dulu berusaha mayang di sini. Wahid datang ke Belitung via Kalimantan Barat. Menurut Ibrahim, ikan-ikan tangkapan saat itu adalah ikan selar, tembang, layang. Panjang jaringnya hingga 20 meter.

Ibrahim lalu menetap di Manggar sembari bolak-balik ke Pulau Lhoong sebab dia juga berdomisili di situ.

“Semua anak buah kapal dan nelayan mayang dalam kelompo Haji Wahid orang Bugis. perahu yang beroperasi antara 5-6 orang anggotanya.” kata pria yang bersaudara 9 orang ini.

Menurut Ibrahim, kegiatan perikanan Haji Wahid ini merupakan kegiatan yang dimulai dari Kalimantan. Kegiatan perikanan yang berlangsung adalah dengan menggunakan jaring paying atau mayang. Alat tangkap yang digunakan adalah jaring sepanjang 15 hingga 20 meter. Jaring mayang saat ini bisa mencapai ratusan meter bahkan kiloan, tergantung tenaga penariknya.

Berbeda dengan penggunaan alat tangkap jaring saat ini yang cenderung merusak, pada tahun 70an, jaring mayang yang digunakan hanya untuk ikan-ikan permukaan berukuran kecil, seperti tembang, layang hingga tongkol. Kalau saat ini penggunaan jaring menjadi tidak terkontrol dan cenderung merusak seperti jaring dogol yang mengambil semua ikan dasar, apalagi pukat trawal.

“Kegiatan perikanan dengan jaring mayang ini pertama kali dioperasikan oleh Haji Wahid di Bukulimau,Kalimantan Barat pada tahun 1973, lalu pindah ke pulau Lhoong, tempat tinggal kami. Yah, kita coba siapa tahu ikan banyak, jadi menetaplah di situ, ikan diasin, lalu dijual.” kata pria yang menikah dengan perempuan Bugis asal Sumbawa pada tahun 1976 ini.

***

Di Desa Baru, tempat dimana Puang Rapi’ dan Ibrahim tinggal, populasi penduduknya sebanyak 9.856 jiwa dengan rerata pendapatan nelayan Rp. 1.200.000/bulan. Di desa ini terdapat 4 kelompok usaha bersama (KUB) yang dianggap telah siap untuk bekerjasama dengan pihak luar. Beberapa KUB yang siap itu di antaranya KUB Berkah, Nelayan Kalmoa dan kelompok nelayan Sehati.

Menurut catatan Dinas Kelautan dan Perikanan setempat hasil tangkapan nelayan beragam dari 40 kilogram/hari hingga 200 kilogram/hari. Nilai pendapatan antara 800ribu/hari hingga 2.000.000/hari.

Beberapa  jenis ikan yang kerap ditangkap seperti ekor kuning, selar, kuwe, tetengkek, bawal hitam, bawal putih, japuh, tembang, teri, gerot-gerot, lencam, kakap merah, belanak, kurisi, gulama, tongkol, kembung, banyar, tenggiri, kerapu karang, kerapu sunu, ikan beronang kuning, alu-alu, cucut lanyam, pari kembang, udang putih, kepiting, rajungan dan cumi.

Sementara menurut hasil pendataan Sekaya Maritim (2015), setidaknya ada 1.500 nelayan yang harus ditingkatkan kapasitasnya untuk memperoleh penghidupan yang lebih layak di tiga desa Kecamatan Manggar tersebut. Bukan semata memberikan sarana prasarana berproduksi tetapi memberikan kemudahan dalam akses penghidupan yang layak seperti akses ke air bersih, listrik, pendidikan dan kesehatan.

Jika membaca keadaan Rapi’ dan keluarganya maka nyaris tanpa kesulitan atau dalam keadaan tertekan. Rapi’ dan keluarga adalah salah satu contoh himpunan beberapa kepala keluarga yang bertahan dan berkembang sebagai nelayan. Meski kapalnya tak sebesar armada perikanan lainnya namun dengan itu Rapi’ telah menunjukkan daya tahannya dalam memanfaatkan potensi perikanan Belitung.

“Meski kami nelayan kecil, kami tetap punya semangat. Kami hanya khawatir jika ada kapal besar yang beroperasi di wilayah perikanan kami dan mengganggu wilayah penangkapan kami.” kata Rapi’ saat ditanya ada tantangan atau kendala saat melaut.

Apa yang menarik dari kehidupan Rapi’ di tulisan ini adalah, bahwa dia menunjukkan jalinan kekerabatan sebagai nelayan, dimana anak-anak, ponakan, istri dan sanak saudaranya bahu membahu menunjukkan identitas nelayan. Saat perahu merapat, istri mendekat dan membantu menangani hasil tangkapan. Sanak keluarga yang lain membereskan mesin dan membawanya ke darat, anaknya bernama Jacky memilah dan menimbang ikan yang akan dibawa ke pembeli di pusat kota.

Selain itu, kita nampaknya harus merenung untuk mengakui bahwa kekerabatan dan gotong royong masih ada dalam tatanan masyarakat pesisir, mereka bisa bertransformasi sebagai nelayan dengan mengadopsi teknologi meski dalam skala kecil, misal hanya bermodalkan mesin katinting (5 tenaga kuda).

“Pekerjaan ini sudah bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, selama itu kami kadang mencari cumi, ikan teri dan belakangan ini menangkap tenggiri (atau tinumbu dalam bahasa Bugis).” kata Rapi’ didampingi istrinya Syamsiah.

Ada banyak Rapi’-Rapi’ di sepanjang pesisir Belitung Timur. Barangkali mereka inilah yang bisa menjadi bagian dari program pembangunan sektor kelautan dan perikanan ke depan. Mungkin bukan mengubah cara dan kebiasaan di laut namun membentuk mereka beradaptasi di tantangan kehidupan nelayan dari tahun ke tahun yang semakin kompleks dan rumit.

Mengajak mereka ikut membicarakan bentuk tantangan dan cara menghadapinya mungkin pilihan yang paling memungkinkan. Mereka harus diajak melihat dan membaca pada dimensi apa mereka tidak bisa berproduksi maksimal. Apakah pengetahuan melaut, teknik menangkap atau dibutuhkan pendekatan baru dalam pengelolaan sumberdaya perikanan Belitung Timur.

Sore itu, di Pantai Serdang, dibumbui kisah heroik Ibrahim dan keluarganya saya melihat modal sosial yang kuat dan luhur di pesisir Belitung Timur. Mereka membentuk komunitas, bertahan dan berkembang sebagai komunitas nelayan, mereka datang dari Timur dan berinteraksi secara sehat dengan warga Melayu dan Tionghoa.

Mereka kini, para nelayan itu bersama pengumpul dan pedagang ikan menampilkan daya tahan dan daya juang dalam mengembangkan potensi perikanan Belitung Timur dengan memanfaatkan pusat perikanan di PPI Manggar. PPI yang sekaligus menjadi simbol dan arah pengembangan sumberdaya perikanan di Belitung Timur.

Mari ajak mereka untuk bicara tentang masa depan mereka, tentang tradisi nelayan, kapasitas, atau setidaknya bersama-sama mengantisipasi tantangan perubahan di Kampung Nelayan mereka!

Advertisements

2 thoughts on “Nelayan Bugis di Belitung Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.