Dimensi Perikanan di Tepian Manggar

Tanggal 10 November 2015. Pukul 07.00 WIB, suasana di bahu sungai Manggar yang juga pelataran Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) sedang menggeliat. Bunyi mesin perahu bersahutan. Dari palka perahu beberapa nelayan sibuk mengangkat peti berisi ikan. Mereka membongkar di pengumpul atau pembeli ikan di dalam area PPI.

Manggar adalah ibukota Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung.

***

Pagi itu di area PPI bersandar kapal ikan Inkamina bernomor 612, menurut warga setempat kapal ikan itu telah lama tak beroperasi. Entah apa ihwalnya. Di dalam area terdapat SPDN akronim dari Solar Packaged Dealer Nelayan bernomor 29.334.12. sebagai PPI, area ini terlihat lengkap dan strategis. Ada pula beberapa blok ruangan yang merupakan tempat para pedagang ikan menerima dan memproses ikan yang didaratkan.

Mereka menimbang dan menyiapkan es balok, terdapat ikan tenggiri, bawal, cumi hingga ikan hiu, seperti terlihat pagi itu.  Terdapat 3 tempat yang terlihat sibuk mengemasi ikan dan menyiapkan es balok.

Salah seorang dari pedagang tersebut bernama Bade’.   Bade’ terlihat sibuk karena ikan yang dibawa nelayan lumayan banyak bermasuk hiu pari bintik putih yang diperkirakan berbobot 50 kilogram. Saat itu, pagi sedang tersenyum karena di PPI Manggar sedang banyak ikan dibongkar.

“Musim-musim ikan di Manggar pada bulan Oktober hingga November, seperti saat ini.” ungkap Bade’ pengusaha ikan asal Sinjai tentang suasana perikanan di ibukota Kabupaten Belitung Timur itu (10 November 2015).

Letaknya yang hanya beberapa kilometer dari pusat kota Manggar menjadikan PPI Manggar sangat strategis dan menjadi barometer produksi perikanan Belitung Timur.

PPI Manggar ditopang oleh tiga desa yang sarat nuansa perikanannya, ketiganya adala Desa Baru, Mekar Jaya dan Kurnia Jaya. Di tiga desa ini dimana terdapat PPI Manggar, KKP telah menyiapkan motor bengkel, pusat atau balai kegiatan nelayan, perbaikan tanggul hingga bantuan rumah bagi 100 kepala keluarga.

***

Pemandangan di PPI Manggar pagi itu menjadi bukti bahwa geliat perikanan di kabupaten yang pernah dipimpin oleh Ahok ini pantas dikembangkan. Selain ditopang oleh nelayan Melayu, usaha perikanan di Manggar juga ditopang oleh nelayan-nelayan asal Bugis Makassar yang memang terkenal karena kelihaiannya di laut. Diperkirakan sekitar 40% warga Belitung berdarah Bugis Makassar atau dari Sulawesi.

Belitung Timur merupakan pecahan Kabupaten induk Belitung. Kabupaten ini berpenduduk 116.356 jiwa  sesuai data BPS tahun 2013. Kabupaten yang kerap disebut Beltim ini mempunyai perairan seluas 15.461 km2. Meski demikian jumlah nelayannya relatif sedikit sebagaimana dilaporkan Dinas Kelautan dan Perikanan yang hanya 3.322 orang.

Perkiraan di atas terbukti saat saat mengunjungi PPI Manggar kali ini. Kunjungan pagi itu ke Manggar disambut oleh tiga orang warga setempat yang semuanya mengaku dari Sulawesi termasuk pedagang ikan bernama Bade’ yang pagi itu sedang menyiapkan paket ikan ke dalam coldbox.

“Musim ini adalah musim tenggiri meski ada juga ikan bawal, kakap dan cumi.” kata Bade’ pengusaha ikan asal Sinjai, Sulawesi Selatan yang telah puluhan tahun tinggal di Manggar.

Tiga orang yang menyapa saya pagi itu adalah Hasnawi, pria asal Jeneponto yang beristrikan perempuan Belitung. Dia datang ke Manggar pada tahun 1981. Orang kedua adalah Haya, lalu Maming, keduanya dari Sinjai. Lalu menyusul Basli yang juga asal Sinjai.  Mereka adalah keluarga besar dari Balangnipa, Sinjai.

Pagi itu suasana terasa sangat Sulawesi karena datang pula Abdul Muin, lelaki asal Kajang, Bulukumba. Muin mengaku datang ke Belitung pada tahun 1972.

“Daripada saban malam kerjanya berkelahi di kampung, mending kita pergi merantau cari kerja.” katanya terkekeh. Perkenalan saya dengan mereka saya teruskan dengan meminta  ditunjukkan perahu mana yang bisa saya naiki dan bertanya ihwal perikanan di Belitung Timur.

“Silakan naik di mana saja, pasti ada Bugisnya itu.” kata Haya. Benar saja. Saat saya memilih naik ke perahu dengan 5 orang pria di atasnya, semuanya mengaku nelayan dari Sinjai! Di perahu itu terdapat lelaki Donny sebagai juragan kapal. Dia membawa perahu berbobot 6 ton.

“Perahu kapal ini sudah tujuh tahun dioperasikan. Bukan milik saya tetapi bos bernama Akon. Ada 4 anak buah kapal. Dipakai menangkap ikan tongkol dan tenggiri. Alat tangkapnya jaring millennium.” kata Donny yang mengaku asal Sinjai.

Menurut Donny, kerjasamanya dengan bos Akon menggunakan sistem bagi hasil, sebagian besar kebutuhan melautnya dipenuhi oleh Akon. Donny adalah ketua kelompok Barrakuda dan telah mengirim proposal ke Dinas Provinsi untuk bantuan perikana namun sampai sekarang belum diperolehnya.

***

Di Beltim, dilaporkan tidak kurang dari 1.300 nelayan dikategorikan miskin padahal produksi perikanan mencapai 35ribu ton dalam tahun 2014. Pusat aktivitas ekonomi perikanan berpusat di PPI Manggar. Sebagian besar armada perikanan masih di bawah bobot 5 GT.

Menurut Evan, dari Dinas Kelautan dan Perikanan Belitung Timur, produksi ikan relatif besar meskipun alat tangkap dan perahu yang digunakan masih relatif kecil dan terbatas (9 November 2015).

“Justeru banyak pemanfaat dari kabupaten lain yang beroperasi di sekitar perairan Belitung Timur.” ujar Evan saat ditemui di kantornya. Menurutnya, banyak nelayan dari wilayah lain seperti dari pulau Pulau Rangas.

“Kapalnya tidak terlalu besar tetapi sering beroperasi di sekitar perairan Belitung, demikian pulau nelayan-nelayan dari Kalbar dan Natuna. Ikan-ikan dibawa ke Kalimantan Barat dengan menggunakan armada yang lebih besar.” tambahnya.

Menurut Evan, nelayan-nelayan Belitung terutama Belitung Timur masih berskala kecil padahal ikan-ikannya lumayan ekonomis dan masih melimpah. Butuh peningkatan kapasitas produksi dan kemampuan mengoperasikan alat tangkap yang bisa mendongkrak produksi perikanan Belitung. Bukan hanya itu, menurutnya, diperlukan kesesuaian input dan kemampuan yang ada.

“Jangan sampai kapasitas tersedia tak sesuai dengan program atau rencana yang telah ditentukan.” katanya. Maksudnya, pengembangan kapasitas produksi nelayan Belitung harus disesuaikan dengan kondisi terkini mereka, jangan sampai ada bantuan yang justeru tak mampu ditangani oleh nelayan.

Evan juga bercerita bahwa dukungan dari pihak lain di luar KKP dan DKP Provinsi juga sudah pernah ada seperti bantuan mesin perahu dari PT Timah termasuk peningkatan kapasitas melalui pelatihan.

“Untuk peningkatan kapasitas, DKP Belitung Timur telah bekerjasama dengan otoritas dari Medan dan Semarang untuk meningkatkan kapasitas nelayan melalui pelatihan.” Imbuh Danish, pendamping Sekaya Maritim setempat.

Bagi Evan, realitas nelayan harus benar-benar bisa dipahami oleh Pemeritah maupun investor.

“Kadang, bantuan sudah diberikan, dikasih uang, modal, dbuatkan koperasi, pas begitu, mereka tetap bergantung ke toke.” kataya. Menurut Evan, perlu penyesuaian antara kondisi lapangan dan perencanaan serta penganggaran di tahun-tahun mendatang. Evan lalu mengambil contoh bahwa sudah ada ketentuan bahwa bantuan untuk nelayan melalui pengadaan perahu melalui APBN atau DAK tidak boleh di bawah 5 GT.

“Nah, kan tidak semua kabupaten nelayannya mampu di atas 5 GT jadi perlu penyesuaian atau persiapan yang cukup untuk menyampaikan gagasan ini.” kata pria yang telah 10 tahun jadi PNS ini.

“Bukan soal apa yang dibutuhkan, tetapi bagaimana mendiskusikan bahwa ini yang menjadi prioritas di masing-masing lokasi pengembangan.” kata Evan. Menurut Evan perlu pemahaman atau realitas nelayan sehingga bantuan bisa lebih tepat sasaran.

***

Merujuk obrolan dengan Evan dan Danish dari DKP Belitung Timur itu, dan untuk melihat realitas serta fenomena nelayan-nelayan di pesisir Beltim maka dilakukan observasi ke Desa Baru, tepatnya di Pantai Serdang. Desa Baru adalah salah satu lokasi Sekaya Maritim, salah satunya bantuan bengkel motor yang akan dikelola oleh kelompok usaha bersama yang telah disiapkan oleh DKP setempat.

Di pantai Serdang yang berpasir indah itu, telah tertambat beberapa perahu mungil dengan ragam warna di lambungnya. Indah dan semarak. Sore itu, jelang malam menyambut, beberapa nelayan sedang bersiap menarik perahu ke pantai. Waktu melaut telah usai untuk hari itu. Seorang pria yang terlihat paling tua di situ bercerita. Namanya Rapi’. Dia baru saja menarik perahunya, perahu jenis Kater, namanya.

“Kalau ini saya beli sendiri, sudah tua. Waktu itu dibeli 12 Juta. Kalau yang ini bodinya saja sudah 25 Juta.” ujar pria kelahiran Salumekko, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan ini sembari menunjuk perahu di sebelahnya. Perahu kater milik Rapi’ ini digunakan untuk mencari ikan permukaan dan  memancing ikan karang.

“Hari ini menangkap tenggiri.” katanya seraya menunjukkan hasil tangkapan tenggirinya sore itu. Beratnya 10 kilogram, ada empat ekor. Rapi’ bercerita kalau dengan uang sendiri dia bisa beli perahu. Sebelumnya Rapi’ adalah pemancing ikan namun menggunakan perahu orang Tionghoa di Manggar, bobotnya 4 ton.

“Waktu itu saya berdua saja di perahu, mencari ikan dengan jaring mayang.” katanya.

Ikan-ikan tangkapan Rapi’ seperti ikan tongkol, sarisi, ikan merah, tenggiri. Daerah operasinya hingga perairan Tanjung Pandan. Kalau tangkapan kerap dibawa ke PPI Manggar, kadang pula dibeli langsung oleh pengumpul atau pedagang perantara.

Di usia yang telah kepala tujuh ini, Rapi’ punya 8 anak dari istri bernama Syamsiah, Rapi’ bertahan, berkembang sebagai nelayan. Salah seorang anaknya yang telah mewarisi keahlian melaut dan mencari ikan a la Rapi’ adalah Jacky. Anak kedua Rapi’ ini adalah nelayan ulung.

Rentang usia Rapi’ menegaskan betapa pengetahuan melaut dan menangkap ikannya merupakan akumulasi pengalaman setelah bertahun-tahun. Apa yang ditunjukkannya adalah transfer kapasitas kepada anak cucunya. Dalam praktiknya, dia berhasil lepas dari bayang-bayang pemilik modal besar dan mengelola armadanya sendiri, kecil tetapi membanggakan. Setidaknya jika melihat gelagat dan tawanya sore itu. Tawa bahagia Rapi’ bersama istri dan anak cucunya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s