Oase Ekonomi Pesisir itu Sasak Maiq

dsc_0900
Baiq Siti Suryani dan stafnya (foto: Kamaruddin Azis)

Di negara Amerika Serikat, Meksiko hingga Kanada, tortilla dikenal sebagai roti pipih tanpa ragi. Tortilla adalah makanan favorit dan diminati masyarakat di sana. Jika di sana berbahan jagung atau gandum maka tortilla dari Senteluk, Lombok Barat yang ini berbahan rumput laut! Ini pula yang menjadi primadona produk olahan dari Lombok Barat.

Adalah usaha kecil menengah bernama Sasak Maiq sebagai founder-nya.  Dengan tortilla kreasinya, produk UKM ini sampai pula ke Inggris dan mendapat apreasiasi. Sasak Maiq telah menjadi oase ekonomi pesisir terutama kelompok perempuan yang sedang diperkuat Pemerintah setempat atas dukungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui program pemberdayaan masyarakat pesisir atau acap disebut Coastal Community Development Project (CCDP), proyek yang dilaksanakan sejak 2013.

Bagaimana dan apa keterkaitan antara kelompok-kelompok perempuan dan UKM Sasak Maiq serta potret kemajuan fasilitasi proyek tersebut mari simak cerita berikut ini ketika penulis mendapat kesempatan berkunjung ke unit usaha tersebut.

***

Informasi tentang kiprah UKM Sasak Maiq terdengar di Desa Lembar Selatan saat penulis menyambani lokasi ekowisata mangrove yang sedang jadi primadona di Lombok Barat. Tepatnya pada 31 Agustus 2016 kala penulis bertemu Herniati (32), perempuan anggota kelompok Putri Pesisir Mandiri yang didampingi oleh tim CCDP melalui usaha pengolahan hasil perikanan.  Dia mengaku, motivasinya menghasilkan produk olahan karena ada yang sedia menerimanya.

Herniati adalah perempuan yang mendapat suntikan dana usaha dari proyek pemberdayaan masyarakat pesisir sejak 2013. Dengan dana bantuan itu, Herniati, sejak tahun 2014 memproduksi aneka terasi, tortilla, rengginang dan kerupuk ikan.

“Saya dapat ilmunya setelah ikut pelatihan di Hotel Askot. Pelatihnya ibu Zaenab,” ujar Herniati. Produksi Herniati bersama delapan anggota kelompok Putri Pesisir Mandiri dikirim ke Sasak Maiq.

dsc_0880
Stik dan tortilla (foto: Kamaruddin Azis)

“Keuntungannya tidak tentu. Kadang 300ribu kadang 400ribu sekali produksi,” ujar Herniati yang mengaku datang dari Desa Cemara.  Sementara itu, Mustimah, asal Desa Lembar Timur yang mengaku pengurus Kelompok Mitra Usaha yang dibina oleh CCDP mengaku senang setelah menjadi bagian dari proyek ini.

“Alhamdulillah bisa membantu perekonomian. Misalnya, kita bisa beli susu anak,” kata Mustimah yang punya anak usia SD dan SMA kelas III.

Produksi kelompok perempuan juga dirasakan oleh Ibu Sahmin dari Desa Lembar. Sahmin adalah bendahara Kelompok Mitra Usaha. Dia memperoleh dana 7 juta sebagai bantuan IFAD. Anggota kelompoknya ada 4 orang.

“Dana diterima untuk tahun ini, second tranche. Produk yang kami produksi dijual ke Senteluk, ke kelompok Sasak Maiq dan toko-toko yang membutuhkan, juga rumah makan,” kata Sahmin. Dia juga mengaku bahwa produksinya amat terbatas sehingga kadang kala kalah sama produsen berjumlah besar.

Mengintip Sasak Maiq

Sebelum datang ke tempat usaha Sasak Maiq, penulis mencoba browsing ‘Tortilla Sasak Maiq’ dan menemukan inormasi bahwa produk tersebut telah ada di Pasar Dunia Maya. Kita bisa mengintip di TokoPedia. Di laman itu tertulis Keripik Tortilla Rumput Laut, Netto: 120 gr, P-IRT: 215520102188-19, komposisi rumput laut, singkong tepung, bumbu.   Demikian pula di toko-toko online lainnya yang berpusat di kawasan Kota Mataram atau Lombok secara umum.

Sore tanggal 1 September 2016 belasan orang yang terdiri dari perwakilan KKP, Kementerian Keuangan, Bappenas, the International Fund for Agricultural Development (IFAD) dan pemerhati pemberdayaan masyarakat masyarakat pesisir Indonesia bertandang ke UKM Sasak Maiq di di Jalan Altis 1, Perumahan Griya Asri, Desa Senteluk, kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat.

Tetamu diterima Ibu Baiq Siti Suryani dan suaminya. Suryani adalah pendiri UKM yang mengolah rumput laut menjadi beragam produk ekonomis, unik dan diminati pasar.

“Usaha ini dimulai tahun 2012, hingga kini sudah berjalan 4 tahun. Kami mulai dengan satu produk, bersama istri dan dua staf, dua tahun kemudian kami punya 10 staf dan sekarang sudah 15 orang,” kata Surjatman, suami Suryani.

dsc_0905
Sate rumput laut khas Sasak Maiq (foto: Kamaruddin Azis)

Sasak Maiq kini memenuhi permintaan toko ole-ole di segala penjuru Lombok dan dari 15 tenaga kerja mulai kewalahan. Produk olahan incaran toko-toko makanan adalah tortilla khas Sasak Maiq.

Di rumah di sudut jalan tersebut berlangsung prosessing, pengepakan dan pendisitribusian produk.

“Pengolahan trotilla agak rumit prosesnya, karena butuh penjemuran. Belakangan ini lokasi penjemuran sangat terbatas. Kalau stik tak perlu penjemuran,” kata Surjatman.

Meski tak sempat digali lebih dalam jumlah produksi selama  4 tahun terakhir namun melihat penampilan ruang pamer produk dan notifikasi-notifikasi dari para pembeli, mitra dan tampilan produk, rasanya UKM Sasak Maiq telah menjadi salah satu unit usaha berbasis pesisir yang kompetitif dan bisa diandalkan untuk jangka panjang.

“Terima kasih kepada KKP dan IFAD karena telah mengapresiasi dan memberi dukungan konkret. Minggu lalu kami dapat dukungan motor pengangkut produk ke pasar,” kata Surjatman di depan tim PMO-CCDP IFAD. Motor yang dimaksud adalah motor beroda tiga dan bisa menjual produk relatif besar dibanding sebelumnya.

“Kami juga mulai kelabakan, ada problem karena banyak permintaan kelompok-kelompok untuk membantu mereka bagaimana berprodudksi. Yang kedua, persoalan kendaraan, nampaknya kita butuh mobil untuk membawa paket besar, yang ketiga, hujan yang semakin sering turun menggangu jadwal penjemuran,” lanjutnya.

Penamaan Sasak Maiq merupakan cerminan nilai-nilai Sasak, artinya Sasak enak. Sasak adalah penduduk asli Lombok. Inilah nama yang dipilih Suryani dan suaminya untuk membesarkan produk-produk olahan dari rumput laut tersebut.

Menurut Suryani, ada sepuluh kelompok binaan CCDP-KKP yang terhubung dengan Sasak Maiq, kelompok-kelompok tersebut mengirimkan produknya untuk dipasarkan oleh Sasak Maiq. Tentu dengan spesifikasi dan kualitas yang telah distandarkan.

Jika Sasak Maiq terkenal luas dan mempunyai banyak pembeli itu karena pemasaran. Sebagai pekerja hotel, Surjatman, suami Suryani mempunyai banyak kontak dan penerima terutama di kawasan Kota Mataram atau Lombok.

Produk Sasak Maiq cukup variatif di antaranya, tortilla, rengginang rumput laut, stik hingga kopi rumput laut.

“Kalau di sini, unggulannya tortilla, stik rumput laut, kopi rumput laut,” tambah Suryani.

Apa yang ditempuh oleh Suryani dan suaminya ini telah memberi kesempatan kerja bagi kaum muda di Lombok. Mereka memberi gaji bulan dan gajian harian bagi tamatan SMA dan pekerja lainnya yang tidak tamat sekolah. Ada yang memperoleh gaji hingga 800ribu perbulan ada pula yang mendapat gaji Rp. 25ribu/hari.

Beberapa di antaranya yang bekerja di Sasak Maiq adalah Lia, Minasih, Ulfa. Mereka alumni SMK Pengolahan Pertanian dan Madrasah Aliyah.

“Please, enjoy our seaweed satay,” ajak Surjatman kepada tamunya dari IFAD Roma, Ms. Cameron. Cameron dan tetamu sore itu dihidangkan es rumput laut, sate rumput laut dan beberapa produk olahan berbahan rumput laut.

dsc_0919
Baiq Siti Suryani dan tetamunya (foto: Kamaruddin Azis)

Penulis juga mencoba sajian sate rumput laut yang telah disiapkan sambel atau saus peneman. Rasa yang unik, kenyal dan lezat apalagi ada bumbu sausnya.

Melihat variasi produk dan kesungguhan yang ditunjukkan oleh Ibu Suryani dan suaminya dalam mengembangkan potensi sumber daya pesisir Lombok Barat seperti rumput laut untuk kemudian diproses dan dipasarkan sebagai produk olahan ini, rasanya harapan terbuka lebar di pesisir untuk terus menerus berkreasi dan memberi nilai tambah bagi ekonomi setempat. Suatu usaha yang layak diapresiasi dan disebarluaskan.

Dukungan pemerintah kabupaten

“Kita senang sebab di Desa Senteluk ada UKM Sasak Maiq, yang sekarang hasil produksinya sudah dijual keluar negeri. Produk-produk olahan kelompok dampingan CCDP telah dipasarkan pula di sini. CCDP menyiapkan kendaraan roda 3 untuk kemudahan distribusi,” kata H. Subandi, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Barat saat mendampingi Siti Suryani menerima tamu tersebut di atas.

Menurut Subandi, hingga September 2016, jumlah kelompok yang telah terbentuk sejak 2013 adalah 32 kelompok, di tahun 2014 sebanyak 69, dan sebanyak 42 di tahun 2015. Ada 75 di tahun 2016.

“Kelompok-kelompok ini meliputi kelompok pengelola sumberdaya alam, budidaya, pengolah dan usaha pemasaran,” tambahnya.

Subandi menyebutkan bahwa partisipasi perempuan juga relatif tinggi yaitu 21% yang berkecimpung di usaha pengolahan seperti yang menjadi mitra usaha Sasak Maiq.

“Angka ini relatif tinggi mengingat karakter pesisir kita yang masih didominasi oleh kaum pria,” katanya.

Menurut Subandi, ragam kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat di pesisir Lombok Barat ini tersebar dari bantuan infrastruktur, pembangunan pondok informasi, rabat jalan, petaludan, jalan nelayan, paving block, pondok nelayan, dermaga, pos pantau di pesisir, tambat labuh, sarana air bersih hingga pengadaan septic tank.

“Di pertambakan kita dukung budidaya udang dan kita dukung fasilitasnya,” paparnya. Bukan hanya ini, menurut Subandi, manfaat CCDP dapat dilihat dari cara anggota kelompok menyimpan keuntungan.

“Jika orang lain menyimpan di bank, maka saat ini tamah banyak warga, seperti di Buwun Mas yang menyimpan nilai hasil budidaya rumput melalui ternak sapi. Jadi tabungannya bukan di buku rekening tetapi di ternak,” katanya.

“Hingga September 2016 ini, bantuan CCDP ini telah dinikmati oleh 2.455 KK termasuk anggota kelompok Sasak Maiq ini. Inilah penerima manfaat kita,” pungkas Subandi.

dsc_0910
Semoga berkelanjutan (foto: Kamaruddin Azis)

***

Ke depan, pola relasi antara produsen, pendistribusi dan akses pasar seperti yang dipraktikkan oleh ibu-ibu anggota kelompok pengolah di Lombok Barat dan hadirnya Sasak Maiq serta mediasi Pemerintah harus terus dikembangkan. Ini akan menjadi model yang membanggakan dan berkelanjutan. Jika kemudian perlu sentuhan tambahan maka itu adalah sertifikat level internasional sehingga dapat dipasarkan ke pasar-pasar yang lebih luas seperti Amerika Serikat atau Canada.

Di Sasak Maiq kita melihat bagaimana pengetahuan, keterampilan dan kesungguhan berbisnis berbuah manis. Di Sasak Maiq kita bisa melihat bagaimana lapangan pekerjaan tercipta dan tumbuhnya kreasi berusaha yang ulet. Terlihat mudah sebab terjadi kolaborasi antara pihak swasta, Pemerintah dan kelompok-kelompok informasi di pesisir.

Produsen-produsen rumput laut seperti dari Buwun Mas, dan desa-desa produsen di Kecamatan Sekotong, Lombok Barat tak harus khawatir sebab pembeli domestik telah ada, seperti UKM Sasak Maiq yang butuh pasokan rumput laut laut kering.

Bukan hal yang tidak mungkin, sebab tortilla rumput laut yang dihasilkan Sasak Maiq adalah produk kelas dunia, setidaknya dia telah menjadi pembanding yang baik untuk tortilla jagung atau gandum di pasar Eropa atau Amerika. Saat ini ada 27 toko penjualan produk olahan atau kuliner di Kota Mataram telah menjadi muara produknya.

Apa yang ditunjukkan oleh Sasak Maiq ini atas produk rumput laut merupakan oase sekaligus bukti bahwa industri domestik bisa menjadi simpul ekonomi prospektif sehingga rumput laut tidak harus selalu diekspor ke luar negeri, bukan?

Gowa, 09/01/2017

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.