Sejarah Ragam Agama di Selayar

Tulisan ini merupakan rangkuman pertemuan saya dengan beberapa orang terkait sejarah polarisasi agama, tepatnya, pilihan beragam pada komunitas penganut kepercayaan nun lampau di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan. Sengaja ditulis ulang dengan menggabungkan beberapa sumber informasi yang relevan.

***

Sore di tanggal 13 Maret 2010, saya tiba di pelabuhan saat fery yang menghubungkan daratan Sulawesi dengan Pulau Selayar–Sulawesi Selatan, belum tiba. Pada salah satu kios penjaja makanan dan minuman di Bira, Bulukumba, seraya menikmati teh susu dan mengisi power pada gadget Blackberry, saya menyapa empat orang calon penumpang yang juga sedang menanti.

Yang berbadan tegap bernama Marten. Tinggal di sekitar Jalan Hayyung, Kota Benteng, Selayar. Dia lahir dan besar di Manado. Yang bertubuh kecil dengan kulit putih licin adalah pemuda Nias Selatan yang bermarga Waruwu. Lelaki yang satu terlihat mengenakan topi terlihat sudah berumur, namanya Robert Tawasaku. Lahir di Palu, Sulawesi Tengah dan mengaku pendeta di Gereja Bulukumba. Raut mukanya penuh persahabatan.

Pak Pendeta mengatakan bahwa dia sedang mengantar pemuda asal Nias tersebut untuk praktik teologi di Selayar. Si Waruwu adalah lepasan Sekolah Teologi Semarang.

“Yaahowu fefu!” sapaku pada si Waruwu. Dia tersenyum mendengar sapaan bahasa Nias saya. Pendeta Albert sendiri mengaku pernah bertugas di Selayar pada tahun 1977-1984. Jadi dia sudah akrab dengan suasana Selayar, termasuk dinamika sosial seperti adanya warga desa di selatan Kota Benteng yang menganut agama Kristen.

Menurut Pendeta Albert, keberadaan agama Kristen di sana berhubungan dengan cerita Muhdi Akbar yang marak pada sekitar tahun 60an hingga 70an. Menurutnya, penganut kepercayaan yang kemudian memilih agama yang dianjurkan pemerintah tersebar di Kampung Binanga Sombayya, Barang Barang yang dulu masuk Distrik Lowa, sekitar 40 km dari Kota Benteng.

Seorang aktivis LSM di Selayar bernama Ilmiawan mengatakan bahwa pamannya yang pernah bertugas di Kantor Urusan Agama (KUA) di sana membenarkan bahwa memang terdapat beberapa agama di wilayah itu. Mereka penganut aliran kepercayaan yang kemudian memilih “beragama” berdasarkan desakan pemerintah. Pamannya merupakan iniisator terbangunnya Madrasah Ibtidayah Negeri Laiyolo.

Dia juga berkisah bahwa sekaitan pernah maraknya pengikut kepercayaan itu, berdampak pada sikap hati-hati warga Benteng, ketika hendak menikah dengan warga dari desa-desa selatan.

“Masih ada warga yang meragukan status keagamaan tersebut,” katanya. Menurut Ilmiawan, Desa Binanga Sombayya yang penduduknya beragam agamanya, secara administratif terdiri dari dusun Binanga Benteng, di sana terdapat satu gereja, Dusun Bahorea, Dusun Kalepek, dan Dusun Kayu Panda. Gereja lainnya juga terdapat di Kampung Tongke Tongke beberapa kilometer dari Appatanah.

***

Setelah memperoleh informasi dari Pendeta Tawasaku, dan setiba di Benteng, keesokan harinya, saat sedang menikmati sarapan di warung nasi santan – ikan bakar khas Selayar di ex pasar lama, saya berkenalan dengan Pak Tunang dan Haji Amir warga dari Kecamatan Bontosikuyu, selatan Benteng. Ini kesempatanku untuk mengorek informasi tentang pertemuan saya dengan pendeta kemarin dan realitas di selatan Kota Benteng.

Saya lalu menanyakan ihwal kemajemukan agama di desa-desa bagian selatan Kota Benteng. Mereka membenarkan bahwa, benar adanya jika penganut agama sangat beragam. Ada Islam, Kristen, Hindu bahkan Buddha. Menurut cerita Pak Tunang, antara tahun 70-80an, beberapa desa di kampung di sana sempat marak aliran kepercayaan.

Di Kampung Binanga Benteng, sempat tersiar kabar tentang ajaran “Muhdi Akbar” yang dianggap berbeda dengan ajaran Islam. Ajaran ini, oleh Tunang dipimpin oleh dua orang bernama Tuan Nya’la dan Tuan Maulana. Mereka berdua telah meninggal dan sanak keluarganya telah terpencar ke berbagai kampung dan desa.

“Dalam satu keluarga kerap berbeda keyakinannya,” kata Tunang. Ada yang memilih Islam ada pula yang memilih ajaran lain seperti Kristen.

Hal ini kemudian saya konfirmasi ke Ilmiahwan. Ilmi membenarkan bahwa memang fenomena polarisasi agama yang bermula dari penganut kepercayaan di selatan Pulau Selayar. Terdapat komunitas yang memiliki bukti sejarah kuno, komunitas itu disebut, masyarakat “Ito Loweq”.

Dari Ilmiahwan, saya mendapat beragam informasi dan gambaran fondasi struktur masyarakat tradisional itu yang masuk ke wilayah administrasi Desa Lowa. Menurut Ilmiahwan, sisa peninggalan komunitas Loweq dapat ditemukan pada gua-gua di sebelah timur desa. Tulang belulang manusia yang berserak mengisi lereng-lereng bukit, semacam kuburan batu.

Tertarik dengan informasi Ilmiawan saya lalu melanjutkan penggalian informasi saya dengan mewawancarai Said Abdul Gani, salah seorang keturunan dari kawasan sekitar Loweq yang disebut mempunyai hubungan keluarga dengan tokoh-tokoh kunci pendiri desa di sekitar Loweq.

Polarisasi agama

Said adalah staf pada kantor Bappeda Selayar yang sangat mengetahui sejarah, budaya dan situasi kontemporer komunitas itu, utamanya dengan adanya fakta bahwa terdapat tiga agama di di beberapa desa di selatan Selayar.

Menurut Said, cabang-cabang komunitas Lowa dapat dijumpai di sekitar Desa Binanga Sombaya, Lantibongang, Tongke Tongke, dan Desa Lowa dan itu terkait dengan perubahan-perubahan sosiologis dan intervensi pemerintah termasuk penetapan agama resmi. Said yang saya jumpai tanggal 02 Mei 2010 di kedai kopi Tjoelang di Kota Benteng, mengatakan bahwa komunitas Ito Loweq adalah basis perkembangan sosial budaya di selatan Kota Benteng Selayar.

“Saat ini, terdapat tiga agama “resmi” di sana, Hindu, Kristen dan Muslim,” katanya. Menurut Said, muslim berjumlah sekitar 20 persen. Selebihnya dibagi antara yang beragama Hindu dan Kristen.

“Biasanya, malam minggu, umat Hindu akan melakukan sembahyang di rumah masing-masing. Tidak ada rumah ibadah yang pasti. Ada dupa dan kelengkapan ibadah lainnya,” katanya. Umat Kristen akan ke gereja karena di Binanga Sombayya telah ada satu gereja.

“Walau ada tiga agama, namun mereka sulit dibedakan karena mereka membaur. Tidak ada warga yang mengenakan kalung salib, mereka juga ikut ramai saat lebaran idul fitri. Walau mereka tidak pergi shalat namun mereka menyiapkan kue atau makanan lainnya”.

Bagi Said, perkembangan Muslim di Binanga Sombaya juga menarik dipelajari, termasuk bagaimana mereka terpolarisasi dan memutuskan memilih agama setelah anjuran Pemerintah beberapa tahun lalu itu. Ceritanya dapat dimulai dengan melihat kiprah seorang Syech yang diyakini keberadaannya oleh dua masyarakat, masyarakat Bantaeng dan Masyarakat Binanga Sombayya, Selayar.

Syech itu adalah Syech Abdul Gani atau warga Selayar menyebutnya Tuan Abdul Gani. Sepengetahuan orang Bantaeng di daratan Sulawesi Selatan, Syech Abdul Gani ada di Saudi dan disebut sebagai penganjur Islam di Bantaeng. Itulah mengapa ada mesjid tua di sana bernama Mesjid Syech Abdul Gani. Namun demikian, oleh masyarakat Binanga Benteng, percaya bahwa Syech Abdul Gani tidak dikuburkan di Saudi Arabia tetapi dikuburkan di Binanga Benteng.

“Syech Abdul Ganilah yang mengajarkan Islam di sekitar Kampung Binanga Sombaya. Namun demikian pengaruh budaya lokal, utamanya tradisi komunitas Lowa sangat kuat perkembangan ajaran Islam di sana,” kata Said. Saat itu, terdapat aliran kepercayaan yang tidak menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh. Bahkan lebih condong disebut aliran lain, aliran kepercayaan kuno ala warga “Ito Loweq”.

Islam boleh datang tetapi pengaruh tradisi dan budaya lokal masih sangat kuat. Tahun tujuh puluhan, saat pemerintah merapikan agama warga ke dalam lima agama resmi, maka banyak pengikut aliran kepercayaan tersebut yang kocar kacir.

Selain dia terdapat pula nama Tuan Muhammad, anak dari Tuan Barri yang disebut sebagai pionir ajaran ini, mereka disebut sebagai tokoh yang berpengaruh dalam merebaknya aliran itu. Setelah intervensi pemerintah dalam pengawasan agama, ada beberapa pengikut yang hengkang ke pulau lainnya di Makassar termasuk ke pulau Barrang Lompo dan Barrang Caddi yang dikawal oleh Ince Rahim.

“Saya dengar selalu ada peringatan wafatnya Ince Rahim bagi pengikut ajaran ini di pulau-pulau yang menjadi target pengembaraan mereka”, kata Said. Ince Rahim, berasal dari Padang. Tidak jelas, padang yang dimaksudkan ini Padang, Selayar atau Padang, Sumatera Barat.

“Sedangkan kuburan Tuan Abdul Gani, ada di Binanga Sombaya, tepatnya Binanga Benteng. Tuan Abdul Gani, datang ke Selayar pada 1913. Menurut Gani, Tuan Gani datang dari Bantaeng ke Selayar dan menikah di Batang Mata lalu ke Mekkah. 30 tahun mencari keselamatan dunia akhirat lalu kembali ke Binanga Benteng.

“Dalam perkembangannya, aliran kepercayaan yang berbasis Islam ini nyaris tidak melakukan syariat, shalat limat waktu, shalat tauhid. Karena mesjid tidak ada saat itu,” kata Gani. Dari sanalah kemudian ketika pemerintah mencoba menata ulang dan mengajak mereka untuk menjelaskan agamanya mereka pun beralih ke Hindu. Mereka menyebar ke komunitas Hindu dan Kristen. Beberapa lainnya kembali ke ajaran Islam.

***

Fenomena di atas sangat menarik, setidaknya memberi gambaran bahwa dalam masyarakat terutama di Selayar, Sulawesi Selatan berbagai dinamika, pada rentang kesejarahan setempat, baik itu perkembangan tradisi, pilihan keyakinan dan pola interaksinya dengan berbagai unsur eksternal seperti pemerintah dan “fasilitator” agama mengalir begitu rupa.

Pertemuan saya dengan Pendeta Tawasaku, obrolan dengan Ilmiawan, Said Abdul Gani serta perbicangan dengan beberapa warga Selayar di atas menggambarkan fenomena itu, jika demikian, marilah saling menghargai, hidup rukun dan damai selalu.

 

Advertisements

One thought on “Sejarah Ragam Agama di Selayar

  1. Assalamu’alaikum…. sy Misbahuddin, M.Hum. Dosen Luar Biasa dan masih aktif meneliti. sementara ini sy mencoba mencari objek kajian dalam penelitian yang dirasa menarik untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. Pembahasan singkat di atas cukup menarik untuk dikaji lebih dalam, terutama besarnya potensi Akulturasi Agama” dan Budaya Lokal yang ada di wilayah selatan Selayar. Sy juga tertarik dengan pertemuan bapak dengan seorang pendeta yang cukup lama menetap di Selayar. Untuk itu, dengan rasa hormat sy meminta bantuan untuk tambahan informasi brupa data atau kontak person bapak dan pendeta terkait, serta beberapa nama yang disebutkan dlm postingan ini. mohon bantuannya… Wassalam….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s