Mawar Mekar di Pamatata

Masih pagi di area terminal penyeberangan fery Pamatata, Selayar. Seperti biasa, saya mampir di warung model kopel dengan sajian khas nasi santan plus ikan bakar. Ini adalah menu favorit saat bertandang ke Selayar, kabupaten paling selatan Sulawesi Selatan.

Seorang wanita tua, pemilik kios, umurnya 64 tahun bergegas menyiram minyak tanah dan menyulut sabut kelapa di bilik belakang. Dia memilih beberapa ekor ikan dari dalam ember plastik hitam. Dua beronang kecil seukuran telapak tangan telah rebah di atas panggangan. Si nenek jongkok mencangkung, sesekali meniup ke kumpulan sabut.

Saya duduk dekat pintu mengarah ke teras warung. Orang orang bergegas turun dari bus yang ketinggalan fery pertama. Ada empat bus yang mesti menunggu pemberangkatan kedua, pukul 13.00 siang. Jumat itu, jadwal fery lebih cepat sejam dari biasanya. Kami telat tigapuluh menit.

Perut saya masih kembung, lalu segera memesan teh manis hangat. Asap dari dalam warung menyeruak memenuhi ruangan.

Saat menikmati sarapan dan segelas teh hangat itu, seorang anak perempuan, berumur 14 tahun telah duduk di belakang saya. Dia mematung di dekat pintu. Rambutnya lurus hitam walau beberapa ujungnya terlihat pirang. Sepertinya karena terlalu sering kena terik matahari. Tapi dia mengikatnya rapi. Perempuan mungil berwajah oval ini penuh keringat.

Dia adalah salah satu pembantu si nenek di kios tersebut. Saya sebut dia Mawar. Wajahnya tidak biasa, hidungnya terlihat seperti punya Cut Keke artis berdarah Aceh itu. Matahari yang semakin meninggi di pukul 11.00 wita membuat wajahnya memerah, penuh keringat.

Suasana dalam area pelabuhan penyeberangan fery sedang panas. Kening dan pipi Mawar penuh biji keringat. Anak belia yang beranjak gadis ini baru saja menghidangkan kopi susu ke seorang penumpang bus. Dia mengenakan celana jeans dan baju t-shirt kelabu.

Saya iseng bertanya. “Siapa itu,” kataku sambil menunjuk wanita tua yang memanggang ikan tadi.

“Nenek saya,” jawabnya.

Saat saya bertanya sejak kapan bekerja di sini, wajahnya terlihat bingung lama menjawab sebisanya, “Sudah lama,” katanya. Tapi dia tidak ingat persis tahunnya.

“Sejak kecil saya sudah di sini,” sambungnya seraya mengayunkan kakinya, seperti anak-anak yang sedang main ayunan.

Mawar gagap saat saya tanya siapa nama ibu dan bapaknya, berapa bersaudara, lahir dimana. Wajahnya ditekuk. Sorot matanya mati. Diamnya membuat saya tertegun. Ada yang hijab, saya penasaran.

“Panjang ceritanya,” kata seorang wanita paruh baya saat dia dengar saya menanyakan siapa bapak dan ibu Mawar.

Si nenek yang sedari tadi diam saja ikut bicara.

“Sudah lama Mawar ikut sama saya. Sejak kecil,” terangnya. Lalu mereka bercerita tentang siapa Mawar dan mengapa sampai di Pamatata.

Tidak ada jawaban yang pas tentang siapa dan apa profesi ibunya. Menurut si nenek, Mawar dilahirkan oleh seorang wanita pekerja di Makassar yang bersuamikan pria yang bekerja di satu kota di ujung utara Sulawesi Selatan.

“Tapi bapak Mawar meninggal karena kecelakaan, seperti yang dibeberkan oleh ibunya,” kata wanita tadi.

Awalnya, ibu Mawar kost di salah satu rumah anak si nenek di kawasan Panakukang, Makassar.

“Saat itu dia masih gadis,” kata si nenek. “Secara pasti saya tidak tahu apa kerjanya, terlihat sibuk terus, kata orang-orang,” kata wanita yang menemani si nenek. Hingga beberapa saat kemudian, tersiar kabar si wanita telah dipersunting oleh seorang lelaki yang mengaku berprofesi sebagai pekerja media.

Ada empat saudara Mawar, sebelum si bapak meninggal. Si ibu, yang digandoli empat anak membuatnya susah. Empat orang anak terasa berat saat itu, dengan beberapa himpitan ekonomi. Tidak lama kemudian, dia menikah lagi dengan seorang lelaki asal kabupaten di selatan Makassar.

“Kini mereka mengadu nasib di pulau jauh,” kata wanita tadi.

Mawar Tak Sekolah

Mawar ikut si nenek karena ibunya yang menawarkan ke si nenek saat dia berkunjung ke tempat anaknya di Makassar beberapa tahun silam. Anaknya punya rumah kost tempat dimana ibu Mawar tinggal. Mawar kecil kemudian dibawa ke Selayar. Di sana dia dibesarkan oleh si nenek. Lalu disekolahkan.

Mawar mengaku berhenti sekolah sejak kelas II SD. “Saya selalu tidur kalau pergi sekolah,” ungkapnya.

“Apakah karena sering tidur telat?” tanyaku. “Tidakji” jawabnya.

“Masih mau sekolah?”. Mulut Mawar terkunci. Wajahnya beku, matanya padam. Ajaib dia bilang, mau! Saya terkesima.

Setelah berhenti sekolah, Mawar memilih tinggal di warung bersama wanita tadi. Diapun diajari bagaimana menjadi bagian dari pekerjaan si nenek. Padahal sebelumnya, Mawar mengaku sangat suka pelajaran Matematika dan bahasa Indonesia.

Mawar kini adalah pembantu belia warung nasi santan. Mawar sangat paham bagaimana memasak nasi santan, bagaimana menyiapkan garam, minyak dan menyiapkan kuah santan.

“Saya juga sudah bisa buat nasi kuning,” kata Mawar. Dua jenis nasi itu telah dikuasainya. Dua makanan itu selalu tersedia menunggu selera para penumpang dari arah Selayar yang datang sedari subuh. Jika nasi santan dihidang terbuka maka nasi kuning ditaruh di paket plastik lengkap dengan ayam dan mie goreng. Bukan hanya itu Mawar juga rajin menyapu, membersihkan warung dan membantu sang nenek menyiapkan air.

“Apa cita-citamu kalau besar?” tanyaku padanya sebelum menuju ke fery. Waktu sudah mendekati pukul 13.00 wita. “Belum ada,” Kata Mawar.

“Sudah ada berapa tabunganmu?” tanyaku.

“Seratus ribu,” katanya sigap.

Dia menyimpan uangnya pada si nenek.

“Mau dibelikan apa uangnya nanti?” tanyaku lagi dengan senyum menyelidik.

“Beli emas,” jawabnya singkat.

Tiga orang gadis dan dua lelaki yang dengar jawaban Mawar, tersenyum dan saling memandang. Sepertinya tak percaya dan tak yakin dengan rencana Mawar. Mawar mencoba tumbuh.

Pluit fery sudah meraung, saya segera naik bus untuk kemudian mengarah ke mulut fery. Saat saya berdiri mengemas barang bawaan, si nenek memanggil Mawar, “Siapkan api di belakang, ada orang mau makan nasi santan,”

Pamatata, 04-06-2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: