Masnun, Kerabat Penyu dari Kuranji

 

dsc_0471
Penyu-penyu di lokasi penetasan (foto: Kamaruddin Azis)

Dari alam kembali ke alam. Ungkapan ini berlaku pada apa yang dilakukan Masnun dan anggota kelompok pengelola sumber daya alam di Desa Kuranji Dalang, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat terhadap penyu. Kelompok yang menyebut dirinya sebagai ‘Kerabat Penyu Lombok’ ini mengumpulkan telur-telur penyu yang ditemui di pantai untuk kemudian dijaga.

Dengan upaya tersebut, warga tak lagi memangsa atau menjual telur penyu ke pasar tetapi menetaskannya, merawat, memberi pakan dan melepasnya ke laut. Satu ikhtiar mulia di tengah kian masifnya ancaman manusia ke alam dan spesies-spesies langka seperti penyu sisik, hijau hingga belimbing.

***

Sore itu, penulis berkunjung ke Kuranji dan bertemu dua puluhan orang yang duduk takzim di gazebo wisata yang belum lama dibangun. Penulis bertanya tentang arti kata Kuranji Dalang, tak satupun yang paham. Mereka hanya menyebutnya sebagai nama yang sudah ada sejak lama. Di Kuranji terdapat ratusan nelayan termasuk yang pernah mencari telur penyu. Pantai Kuranji tidak kurang 1 kilometer merupakan wahana bagi penyu-penyu yang ingin bertelur. Pantai Kuranji yang indah nampaknya bukan hanya diminati para pemburu sunset dan rekreasi tetapi juga penyu-penyu sisik hingga lekang untuk bertelur.

dsc_0476
Masnun

Di sore itu pula terdengar inisiatif dari beberapa orang yang berhimpun ke dalam kelompok pengelola sumber daya alam Desa Kuranji Dalang yang dimotori oleh lelaki Masnun.  Masnun, sosok yang terlibat sibuk menyiapkan penyu muda atau tukik untuk dilepas ke alam secara simbolik oleh perwakilan Kementerian Kelautan, Bappenas, Kementerian Keuangan dan perwakilan the International Fund for Agricultural Development (IFAD), pada penghujung Agustus lalu.

“Sebelumnya warga kerap menggali telur penyu dan menjualnya ke Mataram. Kalau tidak dijual ya, dimakan,” kata Masnun sesaat sebelum acara pelepasan tukik-tukik tersebut.

Masnun mengaku, keinginan melakukan upaya penyelamatan muncul ketika melihat geliat pengembangan wisata pantai Kuranji yang ditunjukkan oleh pembangunan delapan gazebo wisata dari Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat.

Selain itu, menurut Masnun, upaya konservasi penyu ini merupakan kebijakan nasional dan diperkuat dengan undang-undang.  Masnun terketuk hatinya karena kawasan Kuranji harus dikelola dengan bijak. Bukan sekadar dinikmati keindahannya tetapi merawatnya. Misalnya dengan menanami pohon cemara di sepanjang pantai atau konservasi penyu.

“Upaya pelestarian ini sudah banyak dikampanyekan oleh kantor BKSDA Lombok Barat bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Barat melalui bantuan program pemberdayaan masyarakat pesisir,” kata Masnun saat menjamu tetamu yang datang. BKSDA adalah akronim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam yang oleh Masnun disebutnya sebagai mitra bagi Kelompok Pengelola Sumber Daya Alam dampingan proyek pemberdayaan masyarakat pesisir Kementerian Kelautan dan Perikanan.  Sore itu, sebuah wadah berisi air dan penyu-penyu yang hendak dilepas ke laut secara simbolis telah disiapkan.

dsc_04631
Siap menetas (foto: Kamaruddin Azis)

“Tukik-tukik ini usianya satu bulan. Tetasnya di sana,” katanya sembari menunjukkan bangunan yang disebutnya sebagai pusat penangkaran penyu Kuranji Dalang di sisi timur pantai Kuranji.

“Sebelumnya, telur-telur ini dikumpulkan oleh Pak Sarimah dan Pak Samin. Mereka patroli ke pantai. Lalu memberikan ke saya untuk ditetaskan,” imbuhnya. Dari Masnun terbetik pula praktik adopasi telur penyu. Disebut adopsi sebab bagi sesiapa yang ingin mendukung upaya konservasi ini, dapat memilih telur dan menitipkannya di pusat penetasan yang dikelola Masnun cs.

“Ada adopter, ada kotak donasi pula,” begitu sebutan Masnun. Praktik ini dianggap sangat positif dalam memancing gairah warga memberi perlindungan ke penyu di Lombok Barat, seperti dilakukan terhadap penyu hijau di Gedeair, Lombok.

“Untuk kegiatan kami ini sudah ada lima kali penetasan,” tambah Masnun. Masnun dan kawan-kawan memperoleh panduan dari Kantor KSDA Lombok Barat. “Ada mitra di KSDA namanya pak Ivan Gantara,” katanya.

Saat ditanya sudah ada berapa ekor yang ditetaskan, Masnun mengatakan telah ada 700 ekor. “Itu setelah mendapat lima kali dapat telur dari warga, lima gelombang begitu,” katanya.

dsc_0433
Melepas tukik di Pantai Kuranji (foto: Kamaruddin Azis)

Hingga saat wawancara, Masnun mengatakan telur pertama sebanyak 280 telur dan sebagian telah dilepas ke laut. Kemudian 80 telur, lalu 40 biji atau 40 ekor menetas. Saat ini ada tidak kurang 60an telur sedang menunggu giliran untuk menetas, diperkirakan akan menetas di mula Oktober 2016.

“Pak Bupati juga pernah melepas tukik dari hasil penetasan kami,” katanya terlihat bangga.

Selama mengelola usaha penangkaran ini, Masnun tak luput melibatkan pihak sekolah-sekolah, anak-anak sekolah. Masnun menawarkan kepada pihak-pihak yang ingin mengadopsi sarang atau gundukan tanah yang telah diisi teluk.

“Satu sarang bisa sampai dinilai 500ribu,” ungkapnya. Hingga Agustus ini telah terkumpul Rp. 2,2 juta.

“Dana kita gunakan untuk beli tupperware, sebagai wadah,” tambahnya.

Selama mengelola kegiatan pelestarian penyu ini, Pak Masnun dibantu Sapriawan, Nursam, Saniman, Sadirah hingga pak Ahmad. Sebagian besar anggotanya ini adalah nelayan dan berjualan di pantai Kuranji.

“Bantuan CCDP yah wadah penangkaran, nilainya jutaan lebih. Ada baskom, tupperware, kawat, pagar dan lain sebagainya,” kata pria kelahiran 12 Oktober 1978 yang merupakan tamatan SMP di Labuati. Masnun mempunyai istri bernama Faizah dan telah punya anak bernama Adam Alghifari usia 6 tahun.

20160831_145401
Tukik dari Pantai Kuranji (foto: Kamaruddin Azis)

Sore itu, Masnun telah menunjukkan ke warga, ke tetamu dan kita semua tentang bagaimana mencintai biota langka, biota unik yang dilindungi oleh negara. Biota langka (endangered) yang dilindungi undang-undang namun masih banyak di antara kita yang mengabaikannya.

Andai tertarik jadi adopter telur penyu? Ke Masnun saja, kerabat penyu dari Kuranji!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.