Jalan Pulang Diblokir, Pengalaman dari Mallengkeri

Suasana demo depan kantor Gubernur Sulsel (Foto: Kamaruddin Azis)

Tanggal 28 Maret 2012 sore, area kantor Gubernur Sulawesi Selatan perlahan dibekap senyap-gelap. Di kantor, masih ada Manarangga Amir, Jumardi Lanta dan Koordinator saya, Nakajima Kosuke saat saya pamit pulang. Waktu menunjuk 18.00 wita. Tidak biasanya pulang sepetang ini, maklum kami sedang sibuk menjelang tutup tahun anggaran proyek.

Sudah seminggu ini saya harus antar jemput anak saya Intan Marina (12 tahun) yang bersekolah di SMP 1 Makassar. Saya harus menjemputnya di rumah neneknya di Jalan Kakatua II, hanya sekitar satu kilometer dari sekolah. Maraknya demo membuat saya khawatir jika dia pulang ke rumah naik pete-pete (kendaraan umum).

“Jemput anakta di rumah. Jangan lupa” pesan istri saya via BBM dari Tamarunang, Gowa. Dia khawatir saya lupa karena sehari sebelumnya, saya nyaris masuk Gowa sebelum diingatkan untuk jemput Intan.

***

Suasana kantor Gubernur adem saja. Beberapa anggota TNI bersenda gurau saat saya bersiap pulang, ada yang menuju arah mesjid. Saya mengarah barat di Jalan Urip Sumoharjo.

Suasana depan kampus UMI dan 45 penuh asap. Beberapa kendaran roda dua meliuk di antara barikade, ada batu besar, ban terbakar, mobil kanvas (box) yang sedang dipalang di depan UMI. Perlahan akhirnya saya lolos hingga menanjak Jembatan Layang. Lampu-lampu mulai mengerlip di sepanjang Pettarani sampai jalan tol.

“Amankah di depan?” batinku.

Butuh sekitar 20 menit untuk sampai di jalan Kakatua II. Intan sudah bersiap. Saya berpikir, apakah mesti lewat jalan Sultan Alauddin atau lewat Mallengkeri?

“Bimbang, Kakatua II – Sungguminasa, apakah lewat Alauddin atau Mallengkeri” itu status di twitter.

Sehari sebelumnya, bersama Intan saya berencana melewati Alauddin, namun sesampai di lampu merah pertigaan Pettarani, saya memutar. Di depan, mahasiswa memblokir jalan. Kami melewati jalan Andi Tonro lalu berputar di Mallengkeri. Kami sampai di rumah tanpa halangan berarti.

Malam ini, saya memilih jalur itu lagi.

Melewati jalan Kumala, kami kemudian keluar di jalan Mallengkeri. Lancar. Namun, saat beberapa meter dari depan kampus UNM, api berkobar. Ada barikade dan api yang besar di depan kampus yang dulu bernama IKIP Parangtambung itu.

Saya orang ke 6 yang berkendaraan roda dua yang sampai di situ. Kami berhenti, suasana semakin kacau, beberapa pengendara yang hendak memilih lorong lain ternyata buntu.

Seorang ibu mengiba, “pak, dimana jual bensin?” katanya kepada warga setempat.

Dia kehabisan bensin sementara antrian semakin panjang. Beberapa pengendaraan yang membawa anak kecil mulai tidak tenang, dilihatnya kiri-kanan.

Intan tenang saja. Dia malah minta penutup hidung warna hitam dan kacamata modis. Saya memutar kendaraan saat seseorang memberi tahu ada lorong lain. Saya mengikuti anjurannya.

“Lewat sanaki, ada lorong kecil, terus saja” katanya.

Saya mengikuti anjurannya. Saya berada di baris kelima. Lorong yang kami lewati kecil sekali, hanya pas untuk satu motor.

Kami belok kanan, ambil kiri melewati hamparan rawa lalu belok kiri. Kami terus dan mendapat jalan penuh kerakal besar, suasana menjadi chaos karena di depan ternyata terjadi tumpukan pengendara.

Kami berpapasan di satu tenda pesta. Ramai sekali, debu beterbangan. Tidak lama kemudian, kami lolos dan harus menaiki jalan setapak, tanggul besar.

“Naik saja, di depan belok kanan kalau mau ke terminal” kata warga setempat.

Ada pengalaman berharga, ternyata di sekitar tanggul sungai ditemui banyak pemukiman warga yang a la kadarnya. Bangunan berpetak dan gelap. Saya tidak ingat persis di titik mana percabangan yang kami lewati setelah menyusur puncak tanggul itu.

“Belok kananki, itu tembus ke terminal Mallengkeri” kata seorang pemuda.

Waktu menunjukkan pukul 20.00 wita saat saya melewati poros yang mengarah ke terminal Mallengkeri. “Yes!” kata Intan saat dia melihat jalan percabangan mengarah pusat kota Sungguminasa.

Dua jam mengikuti jalur tikus, ditemani anak belia saya, tak satupun sumpah serapah, yang ada, “demo terus, sampai kapan kita harus seperti ini?”.

Sesampai rumah, Intan menukas ketus, “Oh pak, jengkelku itu sopir pete-pete tadi, dia gangguka, dia kasih naik matanya ke saya”.

Perasaan saya campur aduk.

Advertisements

3 thoughts on “Jalan Pulang Diblokir, Pengalaman dari Mallengkeri

  1. Reportase yang menyentuh dan keren, Daeng. Kita tampaknya akan memiliki kekhawatiran serta kegalauan serupa karena sama-sama punya anak perempuan yg beranjak menjadi gadis belia nan cantik. Waspadalah, Tetta’ :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s