Setelah Duka Terbitlah Terang (Mengenang 8 Tahun Tragedi Lengkese’)

“Baru pulang dari bangkenna (kakinya) Bawakaraeng” katanya. Biu’ punya tiga ternak. Itulah yang dijaga dan dirawat. Ternak dari orang tuanya itu menjadi modal penyambung hidupnya setelah lolos dari terjangan maut.

“Saat longsor datang saya sedang di rumah. Saya kena tipes. Saya sakit selama tujuh bulan. Kalau tidak begitu mungkin saya kena juga,” katanya. Senyumnya mengembang kecil. Rumah Biu’ aman dari terjangan tanah tumbang karena berada di sisi selatan kampung.

Setelah kejadian itu, Lengkese terus menggeliat. Warga semakin bersemangat walau ada desakan dari pemerintah setempat untuk pindah tempat tinggal. Beberapa warga bahkan telah berpindah, sebagian bertahan termasuk Daeng Biu’.

Di situ, saya menyapa dengan Daeng Singara’, seorang wanita paruh baya. Dia mengenakan topi lebar dan berbaju kaos dia bergerak naik turun ke sawah yang berundak yang dibatasi pematang menyerupai batas batu besar. Serupa beton.

Sudah dua bulan ini Daeng Singara’ menaruh harapan pada hamparan sawah yang luasnya sekitar setengah hektar ini.

“Adami dua bulan, ini jenis pare lapang (maksudnya beras Lapan). Insyah Allah panen dalam waktu 6 bulan,” kata Singara’. Bukan hanya menunggu padi, Singara’ juga menamam kedelai di pematang.

saya menapak sisi belakang rumah warga yang ditumbuhi kopi, ada kandang itik. Juga sapi. Melewati saluran air yang mengalir deras, kami melepaskan pandangan ke selatan. Hamparan sawah mereka berundak dan terlihat kokoh dengan pematang batu besar. Dibentengi Bukit Tinra’balia, warga bertahan dan meneruskan hidup di sini.

Cara warga mempertahankan hidup di Lengkese, ternyata tidak melulu membahas ketangguhan individu. Mereka berbagi sumberdaya untuk menolong sesama. Ada itikad baik dan kerjasama sosial yang langgeng.  Lengkese’ kaya varietas padi, ada jenis padi “pare uhe”, pare eja, pare punu, pare lapang, dll.

“Sejak banyak lahan sawah dan ternak tertimbun tanah tumbang, kami giatkan kerjasama melalui sistim “attesang,” yaitu sistem bagi hasil dengan meminjamkan ternak atau sawah untuk dikelola” kata Daeng Tika, warga setempat.

Warga Lengkese’ terus menggeliat walau tanggal 26 Maret 2004, tanah tumbang di kaki Bawakaraeng meluluhlantakkan perkampungan mereka. 32 warga terkubur hidup-hidup terjangan bencana dahsyat itu.

Advertisements

One thought on “Setelah Duka Terbitlah Terang (Mengenang 8 Tahun Tragedi Lengkese’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s