Realitas Di Balik Bom Takalar

Tempat pendaratan ikan paling sibuk di Takalar (Foto: Kamaruddin Azis)

“Teror menggunakan bom ikan harus dicari motifnya, kalau pelakunya nelayan motifnya apa?” demikian Dr. M. Darwis, sosiolog Unhas di Harian Tribun Makassar, menanggapi dua ledakan berbeda ruang dan waktunya. Bom meledak di desa Bontosunggu, Takalar pada dinihari Minggu, pukul 02.00 Wita. Beruntung, tiada korban jiwa. Modus bom di Takalar yang hampir bersamaan kejadiannya pada lokasi berbeda, kuat dugaan karena ada skenario.

Penelusuran penulis selama bekerja pada program COREMAP tahun 1999-2003 di Selayar, bom meledak sebelum dilempar ke laut, sudah jamak.  Korban berjatuhan karena; 1. Salah rakit,  bom meledak di tangan karena sumbu terlalu pendek, 2. Pelaku tergelincir dan bom meledak di genggaman, ke-3, iseng atau sekadar show of force, dengan menggunakan botol minuman suplemen dan ditanam di pasir. Yang ketiga ini terjadi jika mereka merasa mendapat back-up.

Saya tidak menyoal jika itu berkorelasi dengan suhu politik di Takalar, tapi kejadian itu terkait realitas lain:  Pertama, betapa peredaran ‘handak’ masih marak (nelayan menyebutnya pupuk). Pupuk dicampur minyak tanah kemudian dikeringkan agar daya ledaknya bertambah ini diduga datang dari Malaysia. Di sana, bebas diperjualbelikan. Ada celah yang luput perhatian aparat penegak hukum termasuk otoritas kepelabuhanan.

Kedua, maraknya praktek penangkapan ikan dengan bom, menunjukkan belum adanya opsi yang pas dalam eksploitasi laut. Padahal, risiko kehilangan nyawa sangat besar, daya ledaknya pun luar biasa. Ketiga, tantangan bagi aparat pengamaman, Dinas Kelautan dan Perikanan dan tentu saja organisasi masyarakat sipil semakin kuat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pelestarian laut.

Walau motifnya ekonomi, penggunaan bom untuk menangkap ikan selain melanggar UU Darurat No. 12/DRT/1951 dapat merusak eksosistem laut, modal masa depan anak cucu. Namun yang pasti, bom akan menyulut ketakutan jika digunakan sebagai senjata menyerang pihak lain demi popularitas politik temporer.

Advertisements

5 thoughts on “Realitas Di Balik Bom Takalar

  1. Menakutkan ketika ternyata barang seperti ini mudah didapatkan di masyarakat luas. Jadinya bisa menimbulkan konflik kalau tidak segera diselesaikan.

    Mending main baraccung saja.

    Like

  2. Isu pengeboman ikan ini sudah marak sejak saya mulai kuliah (Tahun 2000) dan masih ada sampai sekarang. Dan semua si pelaku tahu kalau hal yang mereka lakukan adalah hal yang salah dan merusak ekosistem. Tapi ini terjadi terus…..
    dengan alasan kebutuhan ekonomi ataupun karena budaya “mau dibilang jago” di lingkungan mereka.
    Telah banyak proyek/program yang mencoba memberikan solusi untuk isu ini, tapi masih selalu terjadi. Apakah ini salah satu bukti lemahnya penegakan hukum di laut?
    atau salah satu bukti, bahwa masyarakat pesisir selalu berpikiran bahwa ikan di laut tidak akan pernah habis?

    Kalau mereka sadar setelah susah mendapatkan ikan lagi, atau karena sudah kehilangan salah satu anggota tubuh. Saya kira itu sangat TERLAMBAT, jadi ini adalah tanggung jawab kita semua.

    Tetap semangat…..

    Like

  3. Masyarakat nelayan yang menggunakan BOM adalah ciri nelayan yang kurang sabar, ingin mendapatkan hasil tangkapan yang banyak tetapi lupa tentang resiko, bahaya buat dirinya, bahaya buat kelangsungan ekosistem dan juga bahaya buat masa depannya, khususnya bagi anak cucunya. Tetpai ada juga hal juga yang bisa menjadi bahan renungan, Apakah pendidikan tentang perlunya menjaga kelestarian alam belum sampai pada pemahaman mereka? atau metode pendidikan konservasi itu sendiri yang belum jitu dalam memberikan kesdaran kpd masyarakat nelayan? perlu refleksi bersama.

    Like

  4. Saling lempar tanggung jawab, itulah yg kerap terjadi jika kita menanyakan hal ini ke pihak yg berwenang. So…..haruskah hal ini terus terjadi ?.. Sampai kapan?…Jadi Siapa Peduli??????????????????????????????????

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s