Belajar Kolaborasi Pembangunan, dari Kabul hingga Aeng Towa

Yan Ghewa sedang memandu peserta mengenai prinsip fasilitasi warga (foto: Kamaruddin Azis)

Sudah seminggu Makassar diguyur hujan saat kabar kedatangan 16 anggota tim proyek pembangunan Afghanistan tiba. Tamu dari Asia Tengah ini datang atas kerjasama organisasi tempat saya bekerja, JICA-Sulawesi CD Project dengan Center for Economic and Social Studies, CESS sebuah organisasi non-pemerintah dari Jakarta dan JICA Afghanistan.

***

“Mereka bukan pengungsi kan?” kata seorang lelaki tua saat kami berempat di lift Hotel Santika, Makassar. Kejadiannya di minggu kedua Januari 2012.

Mereka datang atas bagian dari National Solidarity Program (NSP), satu proyek terbesar di bawah kendali kementerian Pembangunan dan Rehabilitasi Perdesaan, Afghanistan. Proyek ini memfasilitasi masyarakat Afghanistan untuk mengidentifikasi, merencanakan, memantau dan mengelola kegiatan pembangunan mereka pasca konflik berkepanjangan.

NSP mendorong warga perdesaan menentukan dan memutuskan model pengembangan mata pencaharian. NSP diharapkan dapat memastikan wajah masa depan negeri para Mujaheedin ini. Memang, saat mereka datang ke Makassar suara bom dan rentetan senjata masih terdengar walau sifatnya sporadis. Namun demikian, semangat mereka untuk pulih nampaknya sangat kuat.

Ashar Karateng dari CD Project menjelaskan substansi fasilitasi masyarakat (foto: Kamaruddin Azis)

Kedatangan mereka di Makassar untuk melihat dan mendengarkan penjelasan dari Kepala Bappeda Provinsi Sulawesi Selatan (Ir. H.Tan Malaka Guntur, M.Si) tentang kebijakan dan strategi perencanaan pembangunan daerah. Ini terlaksana pada hari pertama kunjungan mereka. Setelah itu mereka memperoleh input dari tim CD Project di Sulawesi tentang pengalaman fasilitasi kolaborasi dan pembangunan berbasis masyarakat.

Mr. Syekib (tengah) dan Dr. Rafi (Kanan) (foto: Kamaruddin Azis)

Keesokan harinya, atas nama CD Project, saya mulai sesi dengan memberikan paparan mengenai latar belakang, metodologi dan pelaksanaan CD Project di Sulawesi kaitannya dengan kebijakan desentralisasi daerah, H. Ashar Karateng dan Yan Ghewa, dua hari berturut-turut memfasilitasi brainstorming mengenai  teknik fasilitasi pemberdayaan masyarakat. Ashar dan Yan secara bergantian menjelaskan esensi dan urgensi fasilitasi masyarakat. Menjelaskan tujuan membangun kemitraan antar aktor, urgensi observasi dan teknik wawancara yang mengkondisikan warga untuk merefleksikan fakta atau realitas mereka.

“There is a danger in using “why question” to the community” ujar Ashar.

Maksudnya, fasilitator yang baik tidak dianjurkan menggunakan pertanyaan “Mengapa” sebab itu, hanya akan memunculkan jawaban persepsi dari masyarakat. Fasilitator masyarakat yang baik harus mampu memberi kesempatan kepada warga untuk menceritakan keadaan mereka sendiri, tentang situasi sumberdaya, nilai dan organisasi yang ada. Fasilitator adalah pihak yang berfungsi untuk memudahkan kerja-kerja masyarakat, bukan sebaliknya.

Selain itu hadir pula, Sunarwan dari Kabupaten Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Sunarwan merupakan fasilitator masyarakat yang telah berpengalaman memfasilitasi warga dalam menyusun rencana aksi. Penjelasannya meliputi inisiatif pemerintah daerah dalam mendorong praktek kolaborasi pembangunan dua aras, top down dan bottom up.

Strategi CD Project yang mendorong pentingnya kolaborasi dan fasilitasi pembangunan berbasis masyarakat dianggap relevan dengan kebutuhan kontekstual pembangunan di Afghanistan yang saat ini membutuhkan metodologi atau pendekatan berbasis masyarakat. Kondisi Afghanistan yang multi etnik dianggap membutuhkan teknik fasilitasi masyarakat yang lebih mengutamakan pendekataan setara dan berbasis masyarakat.

Selain itu mereka juga mengunjungi kantor Bappeda Takalar dan melakukan observasi dan wawancara di desa Aeng Towa, kecamatan Galesong Utara, Takalar.

Cerita tentang Afghanistan

Bagi yang menyukai sejarah, kawasan ini merupakan salah satu titik di Asia yang menyimpan sejarah menarik, rawan konflik dan sarat kepentingan. Dahulu kala, negara ini menjadi pertarungan dua kepentingan antara Alexander The Great atau Iskandar yang Agung dan Jengis Khan. Kedua kekuatan ini pernah menguasai kawasan yang kini berbatasan dengan Iran, Kashmyr, China, India dan Pakistan.

Menikmati sajian warga Aeng Towa, mari makan (foto: Kamaruddin Azis)

Setelah itu sejarah panjang Afghanistan carut marut di bawah kendali Soviet hingga situasi dalam negeri yang belum sepenuhnya stabil. Namun demikian pemerintah setempat tetap berinisiatif untuk memperoleh hal-hal baru walau itu harus menjelajah ribuan kilometer, dari Asia Tengah ke Makassar, Sulawesi Selatan.

***

Tanggal 14 Januari tamu itu datang. Sebanyak 16 tamu dari negeri yang kini dipimpin Dr. Hamid Karzai didampingi oleh staf JICA dari Tokyo dan Afghanistan, mereka adalah angggota proyek nasional datang dari berbagai daerah seperti Kabul, Kandahar, Jalalabad dan beberapa daerah lainnya.

Umur mereka dari yang paling muda tahun kelahiran 1988 hingga yang paling tua tahun 1952. Dari yang berdasi hingga yang masih mengenakan jas dan celana sepertiga plus dengan jenggot panjang. Ada yang berwajah India, Pakistan, Asia Tengah bahkan yang berwajah serupa Tukri dan Tajik atau Uzbek. Mereka didampingi dua orang Jepang

Beberapa nama yang saya ajak bincang adalah Mr. Hayatulllah, Mohammad Rafi, Hamayun, Mohmmad Ali dan Mohibullah Israr.  Hayatullah, seorang pengungsi saat perang Afghanistan. Dia ke Pakistan dan kini bermukim di Kabul.

“Dr. Hamid Karzai adalah pemimpin yang baik, tapi baik saja tidak cukup, perlu tindakan luar biasa untuk mempersatukan seluruh Aghanistan” ujar Hayatullah.

Muhammad Rafi, adalah seorang dokter di rumah sakit Ibnu Sina di Kabul, dia Cardiologist. Selain dokter dia juga alumni pembangunan desa di India. Selanjutnya, Mohibullah Israr, mukanya lebih mirip Ajay Devgan, bintang film India namun penuh cambang. Dia mengaku pekerja pada organisasi semi pemerintah. Dia staf pada kantor pengelola proyekdi timur Kabul.

Foto bareng di depan kantor Kades Aeng Towa (Foto: Kamaruddin Azis)

Saya juga berbincang dengan Mr. Syekib, dia pemimpin rombongan. Syekib merupakan warga Kanada keturunan Afghanistan, telah belasan tahun tinggal di Kanada. Dia fasih berbahasa Inggris, berkacamata dan merupakan yang paling necis di antara mereka. Syekib merupakan contoh betapa Afganistan membutuhkan sumberdaya manusia yang kapabel untuk mengantar negara itu ke arah yang lebih baik.

Tiga polisi dari sektor Galesong Utara, satu pakaian dinas, dua pakaian preman tidak henti mengawasi para tetamu. Mereka mengira rombongan itu merupakan pengungsi yang mungkin akan mencari suaka politik.

Mereka datang ke Aeng Towa, Galesong Utara untuk observasi dan mewawancarai warga mengenai kegiatan pembangunan instalasi air bersih yang merupakan kerjasama warga dengan pemerintah Takalar. Di Galesong Utara mereka disambut oleh Kepala Desa Aeng Towa dan aparat setempat. Mereka dijamu ikan bakar dan sambel khas Makassar. Menikmati kue-kue dan air kelapa. Makanan yang tidak lazim. Mereka juga mengunjungi rumah warga, naik ke rumah panggung dan menikmati suasana kampung.  Tak lupa, mereka juga menceritakan situasi di Afganistan kepada warga setempat.

Nur Linda dari FIK KSM menjelaskan mekanisme penyusunan rencana aksi berbasis masyarakat (Foto: Kamaruddin Azis)

Nurlinda Daeng Taco, Azis Daeng Nyampa, dua fasilitator masyarakat di Galesong Utara memberikan presentasi kepada mereka tentang proses membangun kemitraan di tingkat masyarakat dan fasilitasi penyusunan rencana aksi berbasis masyarakat dalam pembangunan instalasi air bersih ini. Proyek kecil namun berciri kolaborasi. Warga menanggung Rp. 2 juta dan pemerintah menyiapkan dana tambahan senilai Rp. 3 juta.

“In Afghanistan we have a huge budget in supporting community development, we just need a good facilitation to minimize the conflict” kata Rafi.

Bagi tamu dari Afghanistan ini, kegiatan bernilai Rp. 5 Juta ini merupakan contoh nyata bahwa dengan adanya kerjasama yang baik antar warga dan pemerintah maka upaya perbaikan kualitas hidup masyarakat akan semakin baik.

Melihat dan mengobrol dengan mereka, saya merasa sedang berada di Asia Tengah.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.