Mereka Yang Bertahan Hidup Setelah Tragedi Lengkese’ (Tulisan ke-2)

“Kampung ini ada sejak hampir tiga ratus tahun lalu, kami generasi ke-7 dari kakek kami yang bernama Daeng Ninra. Dia asal Kampung Manuju di dekat Bili-Bili,’” ungkap Daeng Tawang, imam dusun Lengkese’ yang menjamu kami seraya menunjuk arah barat.

Saya bersama rombongan peserta pelatihan ToT Fasilitator Masyarakat sedang praktik lapang di Lengkese’, Kecamatan Parigi, Gowa.

Sejak peristiwa bencana tanah tumbang kaki Gunung Bawakaraeng pada tanggal 26 Maret 2004, Daeng Tawang merupakan tokoh kunci yang banyak dicari. Dia merupakan sosok yang sangat sibuk saat peristiwa itu terjadi. Bersama puluhan warga dia melawan kehendak pemerintah yang meminta mereka pindah ke daerah lain karena tempat tinggalnya rawan bencana. Selain Daeng Tawang, ada Daeng Tika’, kepala kampung Lengkese’. Daeng Tika bahkan pernah ke Gorontalo untuk membagi pengalamannya bersama warga sebelum dan setelah bencana yang menelan 32 korban jiwa itu.

“Oleh pemerintah kami diminta pindah,” terang Daeng Tika.

Bersama beberapa warga yang menganggap Langkese’ adalah tumpah darahnya, mereka bergeming, enggan pindah. Menurutnya, sebelum kejadian terdapat dua ratusan jiwa warga di Lengkese’. Ada beberapa yang pindah namun tidak sedikit pula yang bertahan. Sejak kejadian yang tragis itu, memang berseliweran analisis, polemik dan kesan bahwa karena masyarakat kerap menggunduli hutan, hingga ada longsoran.

***

Untuk mendengar cerita warga yang selamat, saya menyusuri jalan beton yang mengarah ke kaki bukit. Dari kejauhan saya melihat iring-iringan warga yang menuruni bukit. Bukti bahwa warga sedang menggeliat, meneruskan hidup.

“Mereka baru pulang dari menjaga ternak,” kata Daeng Rapi.

Dia baru saja pulang. Dia lebih dulu dibanding 6 orang warga setempat yang masih menyusur lekuk bukit. Usaha beternak ini terus dilakoninya walau musibah tanah tumbang telah menelan banyak ternaknya.

“Saya lagi di mesjid saat musibah labboro’ (longsoran) itu datang,” katanya.

Selain beternak, warga Lengkese’ bertahan karena punya lahan kebun kopi, sawah di sisi selatan kampung, dan ragam isi kebun. Lengkese’ persis Bukit Tinra’ Balia di sebelah kanan, di kiri ada Bukit Kayuaraya dan Bukit Talung.

Dari Lengkese’, warga dapat menikmati pemandangan air terjun, ada dua yang terlihat di sekitar bukit Tinra’balia. Saat kami menyusuri di sisi selatan terlihat hamparan perkebunan kopi Arabica. Warge telah lama memanfaatkan keramahan alam di situ. Jadi ketika diminta pindah ke kawasan Belapunranga sebagaimana ditawarkan ke pemerintah banyak yang berat hati.

“Kami menolak dan menyampaikan bahwa tidak benar karena ulah kami hutan Bawakaraeng dan DAS Jeneberang rusak. Jarak dari sini ke puncak Bawakareng itu ada 25 kilometer. Di sini masih banyak yang bisa kami lakukan,” tegas Daeng Tika yang kehilangan 8 ekor sapi karena tertimbun longsoran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: