8 Tahun Tragedi Lengkese, Ada Sungai Di Atas Sungai (Tulisan 1)

Suasana Kaki Bawakaraeng Yang Tumbang Itu, Kini (Foto: Kamaruddin Azis)

Langit cerah di atas Lengkese, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Awan bergerak malas di puncak Gunung Bawakaraeng. Dari monumen peringatan tragedi tanah tumbang Lengkese nampak lempeng sisi timur salah satu gunung tertinggi di Sulsel itu, seperti parutan raksasa.

“Parutan itu menggelinding, menyerempet dua sisi bukit dan menimbun utara Lengkese. 32 warga yang berada di ceruk lembah yang dalamnya hampir 200 meter jadi tumbal bencana” kata Atto’ saat kami mengobrol di Bawakareng Observatory Building, bangunan milik Kementerian PU, BSWS Pompengan-Jeneberang.

Di atas bangunan ini pula terkubur satu SD. Beruntung, karena saat kejadian para murid sudah pulang.

“Kami perkirakan jarak jangkauan material dari Bawakaraeng sejauh 7 kilometer. Dengan kedalaman ceruk sekitar 200 meter, kami kira ada 1,8 Miliar kubik material yang menerjang” kata lelaki yang bernama lengkap Mahatma Rafel ini, dia pendaki gunung sekaligus aktivis pada LSM Karaeng Puang. Bukan hanya mengklarifikasi volume, Atto’ juga meluruskan bahwa itu bukan longsoran belaka tetapi karena retakan dan patahan kaki gunung.

“Volume itu sangat besar. jika tidak ada Bukit Tinra’balia material itu mengubur seluruh Lengkese” katanya lagi. Bukan hanya tanah dari kaki Bawakaraeng tetapi yang datang dari sisi bukit kiri-kanan. Inilah yang menambah volume itu dan menyerang daerah yang juga sekaligus lahan penggembalaan ratusan ternak warga.

Menurut Atto’, tanda-tanda tanah tumbang itu terbaca saat ada retakan yang bertambah dari waktu ke waktu. Pada retakan itu, pada tahun 80an warga masih bisa melangkah di atasnya. Tahun 90an sudah melompat, sebelum kejadian itu. Kini, di bekas timbunan itu kehidupan warga kembali menggeliat.

Selain dibangun gedung pemantauan Bawakaraeng, beberapa warga kembali membangun rumah, menanam kopi, bersawah, beternak. Di bekas longsoran bahkan ada aliran sungai baru.

“Di Lengkese, ada sungai di atas sungai. Ada harapan di atas murka alam, ada semangat untuk bertahan” imbuh Atto’ yang pernah berguru pada salah seorang ahli pemberdayaan masyarakat bernama Wada Nobuaki di Jepang. Menurutnya, upaya pemerintah belum maksimal dalam hal pelibatan warga pada pemanfaatan sumberdaya yang ada.

“Pemerintah di sini aneh sekali, tidak ada yang spesifik dalam menjalin kerjasama dengan warga setempat. Kita ingin pembibitan untuk reboisasi hutan itu dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki warga seperti yang terjadi di Lembangroe dan Ramma” katanya.

“Semua pihak harusnya paham bahwa relokasi warga itu tidak penting, pemerintah harus buka mata tentang relokasi. Di manapun kita di Indonesia, semua rawan. Yang perlu diperkuat adalah daya tahan warga” kata Atto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: