Bisnis Online, Pilihan Modern Pebisnis Lokal

Suasana Sekolah Blog AstaMedia (Foto: AstaMedia)

Masa keemasan produk perkebunan seperti kakao bakal tamat. Pekebun dan pedagang kian ambruk. Padahal, jika mereka mampu membaca tren harga kakao dunia dari internet seperti yang dirilis berkala oleh situs Bloomberg maka tentu tak akan rugi. Banyak pedagang membeli berkarung-karung kakao dan menyimpan di gudang lalu menunggu buyers berharap harga selangit. Sayang, harga yang awalnya Rp. 15ribu perkilo, drop ke kisaran Rp. 11ribu. Ini  kutipan pak Natsir, pedagang dari Desa Pattedong, Ponrang, Luwu, Sulsel beberapa waktu lalu.

Hal serupa dialami oleh pedagang telur ikan terbang di Galesong, Takalar, banyak terlilit utang karena salah membaca tren. Dikiranya harga masih tinggi padahal anjlok dalam seketika. Derita pedagang kakao, telur ikan terbang, pelaku bisnis udang dan produk ekspor jamak didengar. Mereka pailit, berperkara dengan bank dan jatuh miskin.

Mengapa demikian? Terjadi situasi “informasi asimetris”, kata ekonom. Maksudnya, ada informasi bias ke pedagang lokal, tak lengkap, sepihak dan merugikan. Sementara pialang atau eksportir mampu prediksi tren harga. Selain faktor informasi, dari sisi kapabilitas dan kapasitas, para pelaku bisnis lokal itu tidak mampu mengoptimalkan fungsi media komunikasi modern sebagai piranti bisnis. Punya handphone tapi tak digunakan, ada jaringan internet tapi tak digubris.

Beralihlah ke Bisnis Online

Teknologi komunikasi telah berkembang pesat, mestinya pebisnis mampu menangguk untung. Kinerja perusahaan dapat dimaksimalkan dengan memanfaatkan  komputer, teknologi internet dan media komunikasi untuk membaca kecenderungan harga produk di pasar internasional. Bukan hanya mengecek, tapi  memasarkan produk, bertransaksi hingga akad kontrak para buyers via internet.

Bisnis onlne adalah bisnis yang dilakukan secara online dengan menggunakan media internet sebagai media pemasaran produk dan jasa. Dengan internet, alur bisnis seperti promosi, permintaan, restocking, hingga mendiskusikan klausul kontrak bisa dilakukan. Sayangnya, masih sangat rendah minat para pelaku bisnis mengalokasikan sumber daya untuk menguasai (occupy) ranah bisnis modern ini.

Jika dulu pelaku bisnis mengecek harga di media cetak atau telpon, kini internet adalah alternatifnya. Disadari banyak yang ragu karena maraknya penipuan tetapi dengan basis pendidikan, pengetahuan, ketekunan maka sisi positif akan dapat  dimaksimalkan. Ingat bahwa pelanggan (customers) makin butuh informasi komprehensif, praktis, cepat.  Para pebisnis mutlak hijrah ke bisnis online jika tak kehilangan momentum.

Saya membayangkan pak Natsir dan produsen lainnya memilih bisnis online. Membayangkan pengurus dan staf koperasi berbondong mengikuti Sekolah Blog, seperti AstaMedia Blogging School. Memajang biji  kakao, udang, telur ikan terbang ke website yang dibuat sendiri. Dengan bisnis online, transaksi pekebun di Luwu dan pabrikan cokelat dari Swiss bisa saja terjadi.  Menarik bukan?

Advertisements