Apa Kabar Pendidikan Gratis untuk Anak Pesisir?

Bekerja di usia dini (Foto: Kamaruddin Azis)

Sabtu, 10 Desember 2011. Awan hitam menggantung di atas Kota Makassar. Di antara Pulau Lae-Lae dan Samalona, pada buritan kapal ikan milik warga asal Desa Aeng Towa, Galesong Utara, Takalar saya menyapa  4 orang ABK, tepatnya ABK di bawah umur. Mereka, Adi (15 th), Indar (15 th), Rifal (13 th) dan Ari (13 th).  Mereka mengaku telah berbulan-bulan bekerja di perahu pembawa jaring dengan tenaga penggerak mesin bernama jantrang itu.

Adi bersaudara tiga orang, ayahnya ABK di kapal ikan itu. Indar, anak nelayan pencari teripang dari Kampung Sa’gebongga, desa pesisir di Galesong Utara. Ayahnya lumpuh setelah mencari teripang di laut Kalimantan. Sedangkan Ari dan Rifal, mereka baru setahun tamat dari SD namun tidak mampu melanjutkan ke jenjang SMP.  Jika Rifal harus mengalah pada kakak gadisnya yang mesti disekolahkan, maka Ari mengaku tidak lagi punya harapan sekolah sejak ayahnya meninggal saat pergi mencari  telur ikan terbang.

“Ayah Ari mati sebagai tumbal di atas perahu patorani (pencari ikan terbang). Karena hanya dia asal Sa’gebongga di kapal itu, sementara hasil tangkapannya sangat banyak. Begitu ceritanya” kata Rifal. Saya tidak mengerti apa maksudnya tumbal.

“Beberapa hari lalu saya dapat 20ribu dari pemilik kapal. Pernah juga dapat 100ribu jika ikan hasil banyak” kata Isdar. Isdar yang paling banyak bicara saat itu.  Menurut Isdar dari pendapatan itu ia gunakan untuk beli beras dan lauk. Di usia itu mereka jadi motor rumah tangga.  Ari, Rifal, Adi dan Isdar adalah gambaran anak-anak putus sekolah. Mereka hanya tamat SD dan berhenti karena alasan ekonomi. Menjadi anak buah kapal di usia muda itu membuatnya bertahan.

“Maujaki sekolah tapi di manaki ambil uang?” katanya.

Anak-anak ini terlihat sangat menikmati pekerjaan yang digelutinya. Menggulung tali, mengatur jaring, menyalakan mesin penarik jaring. Memilih dan melilah hasil tangkapan. Nasib mereka mungkin akan berbeda jika tahu ada kemudahan untuk bersekolah dengan sistim pendidikan gratis yang selama ini didengung-dengungkan pemerintah setempat.  Atau mereka sengaja “dibutakan”?

Apa kabar pendidikan gratis untuk anak-anak pesisir?

 

 

9 thoughts on “Apa Kabar Pendidikan Gratis untuk Anak Pesisir?

  1. hmm, kalau sudah begini, paradigma pendidikan ‘harus’ sekolah harus mulai dikubur2 dan dicari alternatifnya…pendidikan non-sekolah aka non-formal seperti model SOKOLA a la Butet atau KPAJ bisa jadi solusi?

    Like

  2. katanya ada instruksi Gubernur Sulsel utk ‘meluruskan’ pengertian pendidikan gratis yg dikampanyekan saat pilkada, skrg sudah dipahami masyarakat sbg sekolah dll gratis, dicoba diperkenalkan dengan ‘pengertian’ lain yang coba2 keluar dari jeratan tagihan janji….

    *komentar ke-3 ku ini seharusnya membuahkan undangan makan ikan bakar di Tamarunang*

    Like

  3. Terlalu jauh melihat anak-anak putus sekolah di pulau sana, coba jalan-jalan ke pelelangan ikan Paotere, masih banyak dijumpai anak-anak usia SD maupun SMP yang sudah putus sekolah. Mereka mencoba mengais rezeki dengan mengangkat hasil tangkapan ikan dan mendapatkan imbalan berupa ikan kemudian dijajakan kembali kepada calon pembeli. Seharusnya pendidikan gratis atau apapun namanya menyentuh langsung ke masyarakat miskin dan harus turun ke lapangan…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: