Blogger Makassar di Atol Terbesar Asia Tenggara

Hamparan pasir putih, desir angin, debur ombak, terumbu karang dan nuansa sunset di batas cakrawala adalah potret terlintas saat saya dapat ajakan berlayar ke selatan Sulawesi. Adalah pengurus POSSI Sulawesi Selatan yang menyampaikannya satu bulan lalu.

Saya membayangkan perjalanan yang mendebarkan saat menyebut kata Taka Bonerate, atol yang terletak di Laut Flores sebagai destinasi. Berlayar ke sana, membelah laut dan berpedoman pulau idaman selalu menantang dan menguras emosi. Selain butuh waktu, sumberdaya, tenaga, dia juga perlu kesabaran.

Menyebut Taka Bonerate, mungkin kalah mentereng dengan pesona Kepulauan Wakatobi, di Sulawesi Tenggara tapi saat berada di atasnya dan mengetahui bahwa sedang berada di pepucuk gunung bawah laut yang menjulang tentu akan berbeda sensasinya. Kawasan ini adalah atol ketiga terbesar di dunia atau terbesar di Asia Tenggara!

Taka Bonerate adalah puncak gunung bawah laut yang ditunjukkan oleh rangkaian 21 pulau. Ada 8 yang berpenghuni, yaitu Latondu Besar, Tarupa Besar, Rajuni Kecil, Rajuni Besar, Jinato, Pasitallu Timur dan Pasitallu Tengah. Luasnya lebih 2000 km2. Taka Bonerate merupakan atol ketiga terluas di dunia setelah Kwajifein dan Suvadiva, keduanya di Pasifik.

Ada 6ribuan warga yang berdiam dalam kawasan konservasi ini. Masuk wilayah administrasi Kecamatan Taka Bonerate, dengan ibukota kecamatan di Pulau Kayuadi, pulau di barat Jinato, Taka Bonerate adalah harapan destinasi pariwisata bahari pemerintah setempat. Taka Bonerate merupakan urat nadi ekonomi kelautan segitiga Nusa Tenggara, Sulawesi dan Bali.

***

“Silakan ajak maksimum 10 orang dari teman blogger Anging Mammiri Makassar jika tertarik ikut ekspedisi ke Taka Bonerate, pada minggu ketiga bulan Nopember 2011” kata Bakri “Bieck” Mulia mewakili Ketua POSSI Sulawesi Selatan, Andi Januar Jaury Dharwis kepada saya.  Saat merilis ajakan itu di mailing list, hanya butuh beberapa hari untuk memperoleh “final list” peserta trip. Kami menyebutnya Trip AM ke Taka Bonerate.

Trip ini merupakan rangkaian dari pelaksanaan Taka Bonerate Islands Expedition 2011, satu event promosi wisata tahunan yang digelar oleh Pemprov Sulawesi Selatan atas kerjasama dengan Pemkab Kepulauan Selayar. Ini pelaksanaan yang ke-3. Bagi saya, kunjungan ke Taka Bonerate ini merupakan yang kesekian kalinya sejak tahun 1995. Terakhir berkunjung ke kawasan ini pada tahun 2003.

Tujuh blogger Anging Mammiri yang ikut rombongan itu adalah untuk kali pertama ke Taka Bonerate. Mereka adalah Syaifullah Dg Gassing alias Ipul ketua komunitas blogger Anging Mammiri (www.angingmammiri.org), Suwardi Dg Mappe, Nursyamsu, Toar Andi Sapada, Faizal Ramadhan, Mansyur Rahim alias Lelaki Bugis, Febriyanti Utami.

Blogger Makassar dan Ajakan ke Laut

Sudah lama sekali hasrat menikmati pesona pesisir dan laut Sulawesi bersama para blogger itu ada. Satu keinginan untuk menawarkan perspektif baru tentang suasana, dinamika dan fenomena Kelautan kepada sahabat-sahabat blogger. Sebagai pencinta laut yang juga alumni Ilmu Kelautan, saya ingin mereka memahami dan mencintai laut berikut seluruh isinya melalui tulisan, apresiasi sekaligus pesan untuk menjaga aset penting bagi negeri nusantara ini.

Dalam satu tahun terakhir, intensitas kunjungan dan minat para blogger itu semakin kencang. Kunjungan pertama bersama mereka bermula dari pulau Barrang Lompo, satu pulau utama di beranda Makassar, dari sini kami menikmati snorkeling di terumbu Pulau Bone Batang, lalu beberapa waktu kemudian berkunjung ke Pulau Samalona, kemudian Kodingareng Keke.

Dan kini, Taman Nasional Taka Bonerate, atol ketiga terbesar di dunia. Selain pulau-pulau ini, beberapa waktu sebelumnya kami juga pernah berkunjung ke Kawasan konservasi pesisir Puntondo di Kabupaten Takalar, Bira di Bulukumba serta Pesisir Mariso, Makassar.

Di tengah ancaman semakin tergradasinya kualitas dan kuantitas ekosistem laut saat ini, panggilan untuk memproteksi dan melakukan upaya konservasi mesti didengungkan. Di ranah “social media” yang semakin efektif mendorong perubahan, para komunitas blogger inilah yang mesti jadi penyampai berita sekaligus pejuang konservasi laut. Menjaga terumbu karang dan ikan-ikan asosiasinya demi keselamatan anak-cucu kelak.

Tidak banyak dari kita yang sadar bahwa laut tanpa pamrih telah memberi kita pangan tak terkira, ikan, kekerangan, udang, alga, dan rekam pesona keindahan.

Laut Taka Bonerate salah satunya. Kawasan konservasi telah menjadi bank ikan sekaligus masa depan warga yang bermukim di 8 pulau berpenghuni di sana. Dimensi sosial ekonomi atas terumbu karang merupakan basis untuk pengembangan selanjutnya seperti pariwisata dan perikanan yang lebih berkelanjutan.

Taka Bonerate, secara turun temurun, adalah muara bagi warga dari timur Sulawesi Selatan seperti pendatang Bugis dari Bone dan Sinjai, Bulukumba juga bagi warga berbahasa Makassar seperti Bantaeng dan Selayar.

Bukan hanya dari Sulawesi Selatan, warga berdatangan dari Buton, Kabaena hingga warga berdarah Flores. Ragam warga dengan bahasa berbeda dapat ditemui di kawasan Taman Nasional Taka Bonerate

Pernah tinggal selama hampir tujuh tahun di dalam surga bahari ini menorehkan catatan memori tentang kondisi sosial ekonomi warga, pekerjaan, pendidikan, geliat ekonomi, mobilitas, tradisi hingga cara warga menghadapi setiap hal-hal baru. Aspek yang disebutkan ini tidak sempat kami rekam secara mendalam sebab target utama kami sangat sederhana: snorkeling!.

Karena alasan waktu dan keterbatasan sumberdaya, kami harus memaksimalkan setiap agenda yang tersedia antara tanggal 17 sampai 20 Nopember 2011! Tanggal 18 Nopember adalah perjalanan kami ke Taka Bonerate dan 20 Nopember 2011 sudah harus kembali ke Makassar. Saya ada rencana perjalanan tugas kantor ke Jakarta di hari itu juga! Cuti dari kantor pun hanya tanggl 17 dan 18 Nopember. Beberapa kawan yang ikut dalam ekspedisi pun mesti masuk kantor pada hari Senin, keesokan harinya. Serba padat dan terbatas, sementara perjalanan relatif jauh. Begitulah suasana psikologis perjalanan kami.

Perjalanan dimulai saat kami sepakat bertemu di Terminal Angkutan luar kota arah selatan Makassar di Mallengkeri. Pukul 09.00 wita, bus Aneka yang dikemudikan Haji Supu terseok meninggalkan terminal. Butuh waktu 5 jam termasuk saat makan siang di Warung Konro Bawakaraeng, Bantaeng untuk sampai ke Pelabuhan fery Bira, Bulukumba. Saya sengaja memilih moda transportasi ini agar para peserta bisa menikmati suasana pesisir selatan Sulawesi Selatan hingga Selayar.

Setelah menikmati perjalanan teduh di Selat Bira hingga pelabuhan Pamatata, Selayar selama 2 jam dan naik bus lagi selama satu jam lebih, akhirnya kami sampai di Terminal Bonea, utara Kota Benteng. Di sana kami dijemput oleh utusan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Selayar serta rekan dari Sileya Scuba Divers, Sarbini. Di sini ekspedisi bermula!

Pantai Eksotik di Gusung

Pagi tanggal 18 Nopember saya mendapat telepon dari Wakil Bupati Selayar, Syaiful Arif, SH, beliau “protes” karena saya tidak mengabarkan kalau kami telah tiba di Benteng. Oleh Dinas Budpar, kami diinapkan di Pondok Asgar, di Jalan Mappatoba, Kota Benteng. Setelah menyampaikan ke Wabup, bahwa rombongan Komunitas Blogger Makassar menginap di sekitar Jalan Mappatoba, satu unit mobil kijang pun datang menjemput.

Pagi itu kami diantar ke pantai dekat dermaga untuk kemudian menyeberang ke Gusung. Daerah ini terletak di ujung utara pulau Pasi, pulau di hadapan dengan Kota Benteng. Adalah Sarbini, Mude Zulkifli dan Asrahiyah Abubakar, rekan dari Sileya Scuba Divers (SSD) yang menjemput dan mengarahkan kami untuk menjajal Gusung.

Gusung merupakan kawasan pantai dengan pasir putih, yang dianggap merupakan titik berkumpulnya penyu sisik untuk bertelur. Kawasan ini, oleh Asrahiyah (gadis mungil yang biasa dipanggil Acca) dianggap mempunyai kelebihan pemandangan panorama sunset.

Perahu yang menjemput kami tidak terlalu besar, layak disebut sampan. Perahu bersayap ini dijejali para blogger. Saya, Syaifullah, Mude, Asrahiyah, Syamsu, Ning, Feby, Toar, Ancu, Ical dan Suwardi Daeng Mappe. Kami berdesakan di atasnya.

Pak Ipul, warga Pulau Gusung yang mengantar kami mengarahkan untuk tenang dan menjaga keseimbangan. Butuh waktu 15 menit untuk mendekati Gusung. Karena sedang surut kami mesti mencari titik masuk. Sempat berbelok ke arah selatan namun perahu kandas di antara hamparan bakau.

Mendung di atas Kota Benteng menggelayut, sepertinya akan hujan. Kami merapat di titik semula tidak jauh dari gudang kopra yang telah ada di Gusung selama berpuluh tahun. Ada tulisan Belanda di dekat pintu masuk. Sepertinya ini gudang kopra milik Belanda yang bertahan dan masih bagus. Dari sini, terlihat kota Benteng dari Gusung, mereka berhadap-hadapan. Vegetasi kelapa, pinus dan bakau menghiasi kawasan ini.

Karena hendak melihat sisi barat pulau kami memilih berjalan bersama. Kami melewati jembatan semen yang mulai rusak, di sini terdapat petak-petak tambak yang nampaknya tidak dimanfaatkan lagi. Saat kami melintasi, beberapa warga sedang mengerjakan jalan menuju kampung.

Dari dalam kampung kami menyaksikan suasana pantai barat yang kering. Suasana sedang terik, beberapa dari kami berpeluh dan merasakan penat karena mesti berjalan jauh. Melewati jembatan kayu, kami berbaris menuju selatan. Di sinilah pemandangan indah itu muncul, hamparan pasir putih, pohon kering dan sampan kecil yang kandas yang menyita perhatian.

Sangat eksotik. Saya, Syaifullah dan Toar Sapada tidak membuang kesempatan indah ini dengan memotret.

Kami tidak sanggup berjalan ke kampung Gusung II. Panas sekali. Beberapa dari kami mengaso di teras rumah warga dengan pemandangan tadi. Di kawasan itu terdapat vegetasi bakau yang luas, beberapa titik terlihat tandus. Kawasan ini sangat elok di siang hari. Tentu akan semakin menarik saat sunset menyinari lansekap pantai.

Karena hari Jumat, kami sepakat untuk kembali ke Kota Benteng pukul 11.30 wita. Beruntung sekali siang itu. Setelah melewati jalan setapak, jembatan kayu dan diguyur terik matahari, akhirnya kami sampai di satu rumah warga yang telah menyiapkan box berisi air gelas mineral dingin!

Saat sampai di Benteng, waktu telah menunjukkan pukul 12.00. Mesjid kumandangkan adzan. Kami kemudian bebersih badan di rumah Mude Zulkifli. Salat Jumat berlalu, kami pun bersiap-siap untuk berangkat ke Pulau Jinato, Taman Nasional Taka Bonerate. Menurut informasi dari panitia, kapal akan berangkat setelah Jumat. Pukul berapa? Tidak jelas dan Itu yang buat kami terburu-buru saat menyelesaikan makan siang di Warung Padang depan lapangan Benteng, 500 meter dari dermaga keberangkatan.

Siang, di hari Jumat itu kami siap ke Taka Bonerate! Yey!

Ke Jinato Bersama Cahaya Ilahi

Tanggal 18 Nopember 2011, pukul 14.30 wita, rombongan yang terdiri dari lintas organisasi di lingkup Pemkabkep. Selayar, tim TN. Taka Bonerate, tim ORARI, tim gabungan Polres, Kodim dan perwakilan POSSI Sulawesi Selatan serta delapan anggota Komunitas Blogger Anging Mammiri, Makassar bergerak meninggalkan pelabuhan Rauf Rahman. Cuaca cerah seusai hujan mengguyur kota Benteng.

Para penumpang di atas KLM “Cahaya Ilahi” GT. 85 No. 199/LLr merupakan peserta “Taka Bonerate Islands Expedition (TIE) 2011”. Sebanyak 162 peserta tersebut mengarah ke Pulau Jinato, lokasi kegiatan sekaligus titik pembukaan event pariwisata tahunan pemerintah provinsi bekerjasama dengan Pemkab Selayar.

Pada saat keberangkatan, rupanya ada sedikit “kisruh”. Daftar manifes di kesyahbandaran berbeda dengan jumlah penumpang yang naik di kapal. Setelah diperiksa ulang dan ditengahi oleh Kapolres Selayar, ABKP Setiadi, pelayaran pun berlanjut.

Acara tahunan ini akan dibuka secara resmi pada 21 Nopember 2011 oleh Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo. Beberapa kegiatan yang telah disiapkan oleh panitia, di antaranya, “International Fishing Competition”, pagelaran seni budaya, parade jollorok hias, pelayaran wisata, serta selam wisata massal.

Pada malam sebelumnya, para peserta mendapat undangan untuk bertemu dengan Kadis Pariwisata Selayar, Andi Mappagau membahas agenda dan urgensi TIE tahun ini. Sebelumnya, para blogger tersebut juga telah berkunjung ke Tinabo Dive Center (TDC) dan Kafe “Tempat Biasa” yang juga sekretariat Sileya Scuba Diver (SSD), dua komunitas yang selama ini giat mempromosikan potensi dan pesona terumbu karang Taka Bonerate di berbagai event pariwisata nasional, internasional serta di ranah sosial media.

Tinabo Dive Center (TDC) yang digawangi oleh Nadzrun Jamil, seorang pejabat senior di Balai Taman Nasional Taka Bonerate mengambil inisiatif untuk mengelola pusat pelayanan penyelaman ini. Di kantor sekaligus ruang pamernya itu terdapat beragam kebutuhan alat penyelaman yang dapat disewakan. Nadzrun adalah instruktur selam PADI yang telah berpengalaman. Dia siap menjadi gudie sekaligus instruktur jika ada yang hendak kursus penyelaman.

Dari Nadzrun pulalah, kami diimingi untuk dapat menggunakan tabung scuba di Pulau Tinabo. Nursyamsu, salah seorang rekan kami tertarik untuk menggunakan tabung selam. Nanti saat sampai di Tinabo.

Di lantai atas, terdapat dua kamar yang dapat disewakan bagi sesiapa yang hendak menghabiskan malam di Kota Benteng. Tempat yang bersih dan hanya berjarak beberapa meter dari pantai dan dermaga. Harga yang ditawarkan sangat kompetitif, sangat layak untuk pengunjung domestik apalagi luar negeri.

Selain TDC kami juga berkunjung ke Kafe Tempat Biasa, satu unit usaha dari Sileya Scuba Divers (SSD) di Kota Benteng. SSD adalah salah satu organisasi atau komunitas pencinta selam dan telah banyak menggiatkan kegiatan peduli konservasi dan promosi destinasi wisata selam di Selayar.

Di Kafe Tempat biasa, kami sangat terkesan oleh tata letak dan daya tarik kafe bernuansa Bali yang dikombinasikan dengan pernak lokal Selayar. Kafe ini keren karena diusung oleh beberapa orang atas inisiatif keswadayaan.  Beberapa kawan berseloroh, ah, jika saja kafe ini ada di Makassar.

***

Malam merambat di atas Kota Benteng, pukul 12.30 kami pamit kepada Yulyvia dan Anik Hasan, dua sosok yang selama ini dikenal aktif menghidupkan kafe yang luar biasa ini. Malam yang istimewa setelah kami memperoleh gambaran umum denyut dan inisiatif pariwisata bahari di Selayar. Kami tidak sabar untuk sampai ke Taka Bonerate.

Di atas kapal kami berpusat di kiri lambung. Ipul, Ancu (Mansyur), Feby telah tergolek di atas palka. Saya dan istri, Toar, Syamsu dan Daeng Mappe memilih bertahan seraya menikmati pemandangan pantai barat Selayar. Angin berhembus sepoi. Ada mendung di atas Selayar. Beruntung karena hujan tak turun. Pukul 5 sore, kami telah melewati selat antara Pulau Selayar dan Pulau Tambolongang.

Di sana, di atas Pulau Tambolongang, matahari bergerak menuju peraduannya dibalut awan tipis. Peraiaran di sini dikenal sebagai laut ganas. Pertemuan arus Laut Flores dan Selat Sulawesi menjadi rentan menimbulkan gelombang besar utamanya musim puncak timur dan barat. Kami merekam sunset dengan kamera. Beberapa penumpang mulai menggelar alas tidur. Beberapa lainnya memilih main kartu, sebagian lainnya bersenandung. Cahaya Ilahi terus bergerak.

Semilir angin laut membuat beberapa peserta terbuai. Namun saya memilih kata, menatanya dalam baris sajak, layaknya perjalanan, banyak hal yang nampak dan memberi inspirasi untuk membuatnya bermakna.

Setelah menempuh perjalanan 8 jam dari Kota Benteng, pukul 22.00 wita, 9 anggota Komunitas Blogger Anging Mammiri Makassar menjejakkan kaki di dermaga Pulau Jinato. Di pulau inilah bakal ditabuh genderang “Taka Bonerate Islands Expedition (TIE) 2011” oleh Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpop pada hari Senin, 21 Nopember 2011.

TIE adalah agenda tahunan Pemprov Sulsel dan Pemkab Selayar demi mengangkat keindahan kawasan terumbu karang eksotik di atol ketiga terbesar dunia, Taka Bonerate. 162 rombongan yang ikut dalam trip pertama ini kemudian menikmati makan malam di rumah Kades Jinato.

Oleh anak berpakaian Pramuka, kami lalu diantar ke rumah pak Asfar, yang akan menjadi “home stay” peserta dari AM. Suasana pulau yang didominasi warga turunan Bugis asal Sinjai ini meriah. Warga bersukacita. Di pulau ini, jalan telah berlapis semen, pantai yang dulunya mudah terkikis air laut kini telah dipasangi tanggul, dermaga pun sudah ada. Saya yang mulai pekerjaan sebagai pekerja LSM konservasi kelautan pada tahun 1996 di pulau ini merasakan situasi berbeda.

Remah Catatan atas Lantigiang, Tinabo dan Rajuni Kecil

Esoknya, dengan menyewa perahu bermesin dalam ganda milik Hamzah, warga Pulau Jinato, kami meluncur ke pulau Tinabo. Kesempatan menuju pantai kami gunakan untuk mampir di Pos Polhut, Taman Nasional. Di sisi timur pulau ada pos jaga konservasi kawasan. Kami berfoto di depan papan informasi.

Di atas pantai, langit cerah. Laut sedang teduh, terlihat datar bagai kaca. Mengarah ke utara, saya minta pak Hamzah untuk mengarahkan perahu ke sisi timur Pulau Lantigiang. Pulau ini merupakan pulau kosong dan akan sangat menarik untuk mengambil gambar. Faizal Ramadhan yang ikut dalam rombongan kami tidak mau kehilangan momentum. Dia menawarkan diri untuk difoto. Bahkan minta pinjam jaket hanya sekadar ingin dilihat sebagai “diver”.

Indah sekali pemandangan di sekitar Lantigiang ini. Luar biasa. Dari Lantigiang kami arahkan perahu ke Tinabo Besar. Di sepanjang jalan kami menyaksikan dasar terumbu dengan karang dan ragam ikan lalu lalang.

“Jernih sekali, persis kaca,” kata Ipul.

Di sela jalan menuju Tinabo, Feby menerima ajakan Ipul dan kami semua untuk diramal. Ramalan garis tangan, begitu judulnya. Itulah cara kami menertawai diri selama perjalanan ke Tinabo.

Di benak saya, ada yang lain. Saya sedang memikirkan perahu apa yang akan kami tumpangi kembali ke Benteng. Sesuai rencana kami harus kembali ke Benteng pada pukul 14.00 wita. Kami bermalam di Benteng sebab keesokan harinya kami mesti di Makassar.

Masih di atas perahu, beberapa meter dari Pulau Tinabo, terlihat bendera umbul-umbul warna-warni, di darat terlihat tiga bangunan utama. Di tengah, rumpun kelapa terlihat berbeda.  Selatan Tinabo dulunya adalah tempat berkumpulnya pada nelayan nomad Bajo dari Pulau Rajuni Kecil setiap musim timur. Secara turun temurun, warga Bajo kerap migrasi ke pulau kosong untuk mempermudah mereka mencari hasil laut. Tapi kini, pondok-pondok yang biasanya terlihat di pulau itu kini tidak terlihat lagi.

Pukul 09.00 para peserta sampai Tinabo. Saya tidak lama di situ. Bertemu Asri, staf taman nasional, saya meminta dia untuk fasilitasi teman-teman untuk snorkeling dan menikmati terumbu Tinabo. Saya menitip underwater camera untuk dilapisi lem silicon supaya kedap air saat digunakan teman blogger mengabadikan momen istimewa mereka.

Bersama pak Hamzah kami menuju Pulau Rajuni Kecil. Saya mesti menambah ongkos menjadi Rp. 600ribu untuk rute Jinato-Tinabo-Rajuni Kecil. Mesti mencari tumpangan untuk membawa kami kembali ke Benteng. Karena laut sedang surut, pantai menjadi kering, saya turun di dermaga utara pulau.

Melewati jalan utara ini saya terkenang, bagaimana warga mencari dan mengais di sela semak untuk menggali pasir demi air minum. Para gadis saban pagi membawa ember dan mengambil air. Banyak sekali terlihat lubang hasil galian. Di utara pulau inilah bertemunya para pencari air dari Kampung Bajo dan Kampung Bugis saat persediaan air hujan mereka menipis. Pemandangan ini saya amati saat pertama kali tinggal di Rajuni pada tahun 1995.

Banyak warga Rajuni Kecil, utamanya kampung Bajo yang sulit mengenal saya. Mereka kaget dan tidak mengira bahwa saya datang lagi setelah 8 tahun!

Di sana saya bertemu Haji Sahur, Sugito, Salim, Haji Darwis dan beberapa warga yang dulu merupakan sahabat akrab saat masih bekerja untuk proyek WWF dan COREMAP fase I di Taka Bonerate. Termasuk sahabat istimewa kami Haji Burhan Mananring, salah satu fasilitator LP3M, nama LSM kami saat bekerja di Taka Bonerate. Setelah menyelesaikan pendidikan strata 1 di Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan tahun 1995, saya bergabung dengan LP3M di awal tahun 1996.

Haji Bur, begitu dia dipanggil telah tinggal di Rajuni Kecil bertahun-tahun setelah menikah dengan seorang guru SD di pulau itu. Hidupnya terlihat bahagia di rumah berlantai dua. Ini rumah terbesar dan artistik di pulau yang dulunya gusung pasir ini. Haji Bur, rupanya telah punya agenda untuk mengembangkan pariwisata.

“Saya siapkan empat kamar di atas untuk dapat dipakai oleh para tamu atau turis” katanya. Terdapat empat kamar bersih dengan ventilasi lebar, bagus untuk dipakai menginap. Rumah ini tepat di tengah pulau.

“Pak Gubernur SYL pernah ke sini tahun lalu,” kata istri Haji Bur, Ita.

Bukan hanya Gubernur, Nadine Candrawinata, mantan Miss Indonesia itu juga pernah masuk ke rumah ini, termasuk Bupati Selayar, Haji Syahrir Wahab. Di rumah itu, karena sudah sangat akrab, saya bergerak ke dapur, mencari makan. Di meja ada ikan masak asam dan nasi yang telah tersedia. Ini menu yang beberapa tahun silam jadi makanan kebiasaan saya saat rumah ini masih berupa rumah sederhana.

Berjalan dari utara pulau Rajuni Kecil, saya mendapati Haji Kusayyeng sedang mengecat perahunya. Haji Kusa’ begitu dia dipanggil, dulunya adalah pengusaha jual-beli ikan hidup pada tahun 90an. Kini kerap membawa kapal besar dari Rajuni Kecil ke Kota Benteng. Kapalnya, kapal penumpang walau tidak regular. Dia punya dua perahu, satu besar dan satu kecil. Saya menyasar perahu kecilnya yang bisa muat 10 orang.

Setelah negosiasi dengan Haji Kusayyeng, akhirnya kami dapat tumpangan ke Selayar. Tepatnya, kami akan dibawa ke Pelabuhan Fery Pattumbukang, pantai timur Selayar. Kami harus siapkan dana 750ribu untuk sewa perahu ini. Perahunya kecil namun lajunya dapat diandalkan.

Setelah nego itu, dengan mengendarai kendaraan roda dua Haji Bur, saya lalu menuju rumah Haji Darwis, di rumah inilah dulu, saya kerap menghabiskan malam.

Rupanya, Haji Darwis telah memanfaatkan pondok tempat tinggal saya dulu antara tahun 1999-2000 menjadi bengkel. Bengkel yang maju dengan peralatan tambahan berupa tempat gergaji kayu, “sawmill”.  Di tempat inilah dulu, kerap terjadi pertemuan-pertemuan membahas konservasi terumbu karang. Membahas kegiatan kelompok produktif perempuan dan agenda-agenda warga tentang pentingnya pelestarian terumbu karang sebagai aset masa depan kawasan.

Karena perahu yang membawa kami ke Pattumbukang masih tergeletak kandas, saya meminta Jabir, salah seorang warga untuk mengantar saya ke Tinabo. Perahunya kecil jadi kami masih bisa mendorongnya. Hanya tiga puluh menit, kami sampai di Tinabo. Waktu telah menunjukkan pukul 11.30 saat saya sampai.

Saya melihat keriuhan di permukaan laut Tinabo. Para blogger telah menikmati snorkeling di sebelah barat pulau. Tepatnya di utara dermaga Tinabo. Saya tidak bisa melukiskan perasaan teman-teman satu-satu namun melihat gelagatnya, mereka terlihat bahagia.

Syamsu, bahkan telah menggunakan tabung scuba seperti yang diidamkannya bersama si instruktur, Nadzrun Jamil.

Tidak membuang waktu, saya buka baju dan dengan mengenakan celana jeans pendek saya menceburkan diri ke laut. Beberapa teman mengenakan pelampung, mask dan fins. Di tangan Ipul ada kamera “underwater digital” yang dipinjamkan oleh Mude Zulkifli.

Dengan kamera itu, para blogger rela berlama-lama di dalam air.

Saya melihat pemandangan berbeda di sekitar dermaga Tinabo. Telah terjadi perluasan area karang bagus di sini jika dibandingkan sepuluh tahun lalu. Jenis ikan karang juga variatif. Di dalam air terlihat dua meja karang transplantasi yang telah tumbuh. Terlihat teripang dan kima sisik. Banyak sekali ikan karang bermain di situ.

Saya juga menyaksikan sisa-sisa karang yang telah hancur (rubble), diduga hasil bom ikan beberapa waktu silam. Terlihat pulau lubang hitam di beberapa rataan karang, sepertinya karena dampak buang jangkar yang tidak teratur. Jangkar kerap dianggap salah satu penyebab rusaknya karang.

Saya menyaksikan Nadzrun Jamil di kedalaman 10 meter sedang mengembangkan kamera underwaternya. Dia terlihat luar biasa dengan kamera besar itu. Kami pun difotonya di dalam air.

“Lain kali jangan berdiri di atas karang ya, karang yang tumbuhnya terbatas itu mudah rapuh” kata Nadzrun memberi peringatan. Karena kelelahan, kaget atau di luar perkiraan ada teman yang sempat menginjak karang. Tanggung jawab Balai Taman Nasional adalah mengingatkan pentingnya menjaga kelangsungan hidup ekossistem laut di kawasan eksotik ini.

Pukul 13.00 satu persatu peserta naik ke darat. Yulivya dan Asri memanggil kami untuk makan siang. Ada ikan bakar, ikan goreng, sambel dan sayur kacang. Jawaban sempurna untuk kami yang memang kelaparan seusai berenang. Beberapa peserta bahkan belum membasuh badan. Langsung bersantap.

Di Tinabo, secara umum fasilitas berwisata bahari telah lengkap. Selain ada kamar yang bisa digunakan untuk menginap, terdapat aula terbuka, ruang bilang, gudang, dan fasilitas untuk menyelam dan snorkeling. Ada kursi santai menghadap titik jatuh sunset.

“Saat ini kami punya 60 tabung scuba,” kata Nadzrun. Tidak main-main, mereka telah mempersiapkan hampir semua kebutuhan wisatawan. Ada perahu kano, speedboat hingga banana boat.

Seusai makan siang, beberapa teman memilih isitrahat. Sebagian lainnya menggali informasi dari Jamil mengenai strategi dan kegiatan Balai Taman Nasional selama beberapa tahun terakhir. Ancu Rahim, Ipul dan Toar mendengarkan penjelasan Nadzrun mengenai perjalanan Taman Nasional dari waktu ke waktu.

Di Tinabo, kami bertemu dan berkenalan beberapa pengunjung dari Kantor BRI cabang Kota Benteng, Selayar. Mereka sedang liburan di sela ajang TIE2011. Juga, beberapa peserta pelatihan scuba tingkat lanjut yang saat itu sedang bersiap-siap untuk latihan di laut dipandu Nadzrum Jamil. Di antara tamu itu saya bertemu langsung dengan David Haeruddin, staf Bank Mega Makassar yang jauh-jauh datang untuk menjajal Taka Bonerate dengan dive. Kami berteman di twitter dan blackberry messenger contact. Semua menyatu di Tinabo.

Dua Bintang di Atas Tambolongang

Saat matahari bergeser ke barat, waktu telah menunjuk pukul 14.00, saya mulai was-was tentang perahu yang akan menjemput. Perkiraan saya, perahu Haji Kusa’ akan mengapung pukul 13.00, dan jika langsung ke Tinabo, akan sampai sekitar pukul 14.00. Dalam hitungan menit kami akan berangkat ke Pattumbukang.

Beberapa teman melihat saya tidak tenang. Saat yang lain mewawancarai Nadzrun Jamil,  saya mendekat ke dermaga. Mengecek setiap pergerakan dari pulau Rajuni Kecil. Karena perahu belum datang, Ical memilih tidur. Feby dan istri saya memberi tanda untuk difoto. Di bawah pohon ketapang. Dari sini terlihat beberapa tamu bermain “banana boat”. Suasana di laut meriah namun saya tetap tidak tenang.

Pukul 14.30 wita, tanda adanya pergerakan dari Rajuni Kecil mulai terbaca. Inikah perahu Haji Kusa’ itu? Ada titik hitam bergerak ke arah kami.

Pukul 15.30 perahu itu datang jua. Haji Kusa’ ditemani anak lelakinya. Lelaki gempal ini segera mengenakan baju setelah merapat di dermaga Tinabo. Saya memberi tanda ke para peserta untuk mendekat. Saat itu pula beberapa diver memanggul peralatan, mereka juga bersiap memulai penyelaman. Kami berpapasan di atas dermaga.

“Terima kasih tak terhingga atas keramahan dan layanan selama kami berada di Tinabo,” itu pesan kami kepada kru Balai Taman Nasional Taka Bonerate, kepada Nadzrun Jamil, Asri, Junaedi, dan seluruh anggota komunitas Sileya Scuba Divers (SSD Sileya) yang memfasilitasi perjalanan kami. Kepada Yulivya, Aniek Hasan, Zul Mude, David Hae, Ronal, Yasri, dan semua yang ada di Tinabo siang itu.

Di Tinabo, kami merasakan representasi pemandangan alami Taka Bonerate, pantai, pasir putih, pohon ketapang, pinus laut. Dinamika interaksi kami sungguh mengesankan. Kami beruntung disambut teman-teman ramah dan rendah hati.

Pukul 16.30 wita, perahu ramping Haji Kusa’ bergerak meninggalkan dermaga Tinabo. Saya bersama Daeng Mappe memilih duduk di belakang, dekat kemudi. Toar, Ipul, Dua Ancu, Ning, Feby, Ical memilih duduk di haluan. Mereka berdesakan untuk duduk di tempat terbaik.

Butuh satu jam setengah untuk melewati pulau Rajuni Kecil. Perahu kami perlahan, meliuk meninggalkan pemandangan Pulau Latondu Besar lalu Latondu Kecil. Perahu ini bergerak cepat, bunyi mesinnya yang menderu membuat kami sulit untuk berkomunikasi satu sama lain. Dua mesin di tengah badan perahu menggetarkan ketenangan kami di atas laut teduh.

Masih pukul 17.30 wita, dua bintang di atas pulau Tambolongang menyita perhatian saya. Ini dua bintang pertama yang menyambut kami saat meluncur di atas laut. Di kiri terlihat Pulau Tambolongang, di kanan terlihat ujung selatan pulau Selayar, namanya Appatanah. Detik ke menit selama perjalanan adalah perpaduan sunset, senja temaram, bintang yang muncul satu-satu.

Satu bintang besar paling atas memberi tanda, cuaca akan bersahabat, satu bintang kecil lainnya memberi tanda bahwa bumi berputar dan mereka dalam beberapa saat akan terbenam bersama matahari. Saat saya masih sering berlayar dari Rajuni Kecil ke Pamatata, melewati pantai timur, saya kerap menyaksikan ikan paus beruaya di sisi Pattumbukang.

Mendekati Pattumbukang, suasana mendadak romantis dan luar biasa. Saya menyetel lagu kesukaan. Peraduan matahari menjelma merah saga. Darinya berpendar cahaya yang menakjubkan. Langit di kaki pulau Selayar begitu mempesona. Sunset berbalut awan tipis memang tidak membuat utuh matahari tapi semburat cahayanya membuat kami membiru larut dalam sukacita.

“Ini malam ketiga ketiga kita disambut sunset di Selaya,r” kata Mansyur Rahim alias Ancu. Dia benar, ini yang ketiga.

Tapi cerita tidak berhenti di situ. Pukul 19.00 saat perahu semakin mendekati Pattumbukang yang ditandai oleh semakin jelasnya lampu suar yang kerlap-kerlip, kami semakin tenggelam dalam suka cita.

Dua bintang pertama telah lelap. Lalu dalam hitungan menit langit dari segala penjuru mata angin berhias bintang baru. Sejauh mata memandang langit serupa jejaring bintang yang siap menyergap kami. Perahu terus bergerak.

Ical memanfaatkan kamera digitalnya dan merekam perjalanan kami. Ancu si Lelaki Bugis duduk mematung memandang ke barat. Entah apa yang dipikirkannya. Perjalanan ini perjalanan istimewa bersama sahabat terbaik kami di Komunitas Blogger Anging Mammiri. Walau butuh waktu hampir empat jam untuk melihat pelabuhan Pattumbukang, saya tidak khawatir dengan kemampuan Haji Kusa’ saat membawa kami.

Awalnya ini adalah perjalanan biasa saja. Walau saya akui saya punya agenda tersembunyi untuk membawa Blogger Makassar menjajal sarana transportasi dari Makassar ke Selayar dan sebaliknya menjadi kenyataan.

Naik bis, lalu fery ke Pamatata, kemudian naik perahu besar ke Jinato, Taka Bonerate. Lalu menjajal kawasan dengan naik perahu kecil dari Jinato hingga Pattumbukang adalah rute baru dalam waktu empat hari perjalanan kami. Saat mendekati Pattumbukang, saya berharap semoga kapal cepat dari Kota Benteng ke Lappe, Bulukumba tetap ada dan mau membawa kami pulang.

Sampai di Dermaga Pattumbukang, kami mendapat momen mengejutkan. Rupanya dua kapal yang membawa rombongan POSSI Sulsel dan tamu peserta TIE 2011 sedang sandar di situ. Dua kapal mereka sedang buang jangkar.

“Pak Januar dan pak Muhsin sedang night dive,” kata Sumedi Umar Jitho, yunior saya di Kelautan Unhas yang sedang mengisi compressor. Jitho adalah anggota rombongan POSSI yang akan ke Taka Bonerate. Andi Januar Jaury Dharwis adalah ketua POSSI Sulsel syang juga anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, sedang Muhsin adalah instruktur selam senior saya. Juga di Kelautan Unhas.

Di Pattumbukang, saya bertemu AF Sonni dari Performa Makassar yang juga diver. Juga ada Bakri Mulia dan Aidil, alumni Kelautan Unhas. Menurut rencana mereka akan ke Jinato pada malam sebelum pembukaan TIE 2011 oleh Gubernur Sulawesi Selatan. Setelah membayar uang sewa perahu, kami berterima kasih kepada Haji Kusa’ atas layanannya. Kami bahagia telah sampai di darat lagi.

Di dalam area pelabuhan, Andry, staf Bappeda Selayar telah menunggu kami. Saat di Rajuni Kecil saya beruntung karena Telkomsel sedang uji sinyal dan saya dapat GSM. Saat itu pula saya mengontaknya untuk menjemput di Pattumbukang. Diantar Andry, kami melewati kampung di selatan kota Benteng. Jalan belum rata, di sana-sini masih ada yang rusak tapi tidak mengurangi kesan positif kami mengenai Selayar.

Impresi dari Benteng

Butuh waktu sejam untuk sampai di rumah Gunawan Redha, kepala bagian Humas Pemkab Selayar yang saya anggap saudara dekat. Di sanalah kami menginap.  Banyak yang tidak tahu bahwa rencana menginap di rumah pak Gunawan saya putuskan malam itu. Saya mesti menelpon istri beliau untuk memastikan bahwa kami akan menginap di sana.

Pukul 22.00 kami sampai di rumah. Seusai mandi yang luar biasa, dan karena warung makan tidak lagi buka, saya arahkan teman-teman ke warung “Mie Instan Daeng Jumadi!” di dekat pelabuhan Benteng. Dari sinilah saya dapat kepastian bahwa besok pagi, pukul sembilan, KM Minanga Express akan melayani rute Benteng – Lappe. Sempurna!

Malam berlalu dengan manis di rumah semi permanen Pak Gunawan. Beberapa teman menghabiskan malam bersama di ruang tengah rumah. Mereka terlihat akrab. Ipul, Mappe, Toar, Ical. Saya memilih kamar kesukaanku di atas, berkelambu.

Pagi datang, teh hangat dan penganan khas Selayar, songkolo berlumur kelapa menemani sarapan kami. Karena mesti mengejar kapal cepat itu, saya bersama beberapa teman mendahului yang lain untuk menaikkan barang ke kapal sekaligus membeli tiket. Saya pesan 9 karcis. Masing-masing berbanderol Rp. 70ribu. Jadi untuk Sembilan orang kami merogoh kocek hingga Rp. 630ribu.

Pagi itu kami tak melewatkan untuk berkunjung kerumah Zulkifli Mude, di sana puluhan koleksi t-shirt baju bernuansa laut, selam, Taka Bonerate siap dipilah-pilih. Saya beli dua. Teman peserta juga memborong baju luar biasa yang dibuat di Bandung ini.

Pukul 09.30 wita kapal cepat bercat putih ini bergerak meninggalkan Kota Benteng. Suasana suka cita terasa di ruang tengah kapal yang berAC itu. Kami melepas canda, ledekan dan kesan istimewa atas perjalanan tak biasa ini. Mendapat sinyal bagus di sepanjang perairan barat Selayar membuat kami kompak royal membagi kesan, memposting foto, dan menyemburkan testimoni ke rekan yang tidak sempat berkunjung.

Kami bagikan pengalaman perjalanan ini via twitter, facebook dan media online Anging Mammiri seperti mailing list. Kami tahu banyak kawan yang “iri”tidak bisa bergabung dan berkunjung, tapi kan selalu ada jalan untuk mencari celah perjalanan baru? Bisa ke Taka Bonerate lagi atau mungkin Wakatobi? Spermonde bahkan Raja Ampat?

“Saya baru mulai merasakan badan kaku dan penat,” Ipul saat kami sampai di daratan utama pulau Sulawesi, tepatnya Pelabuhan Lappe, Bulukumba, Sulawesi sekitar pukul 11.30 wita.

Perjalanan menjajal Taka Bonerate, atol ketiga terbesar di Asia Tenggara atau ketiga terbesar di dunia bersama anggota Komunitas Blogger Anging Mammiri, Makassar dari tanggal 18 hingga 19 Nopember 2011 memang tidak lama namun bermakna dalam.

Kami bahagia sebab perjalanan ke Taka Bonerate sangat rumit, sulit dan mendebarkan. Dan kini kami telah di jalan pulang ke rumah masing-masing. Kami, para blogger Makassar sedang beruntung, paling tidak, kami punya informasi untuk mengabarkan salah satu aset pariwisata potensial yang sedang lelap di kaki pulau Sulawesi ini…

Advertisements

11 thoughts on “Blogger Makassar di Atol Terbesar Asia Tenggara

  1. daeng mappe November 25, 2011 / 1:00 am

    Terima kasih @denun & @andyjanuarjaury yang telah membolehkan saya menyertai perjalanan indah ini. Saya siap utk next trip 🙂
    Tak sia2 rasanya merayu di twitter utk bisa masuk list peserta 🙂

    Like

  2. zulmude November 25, 2011 / 5:10 am

    wahhhh,,, sampe beli tshirt Selayar ditulis jugaaaa,,,,terharukuuuuu om Denunnn..

    Like

  3. tole November 25, 2011 / 6:41 am

    daeng ku post di punyaku nah…. hehehe

    Like

  4. iPul dg.Gassing November 25, 2011 / 9:39 am

    saya sangat beruntung bisa diundang ke surga kecil di Selatan Sulawesi itu..
    kalau biaya sendiri, mana kuat..? 😀

    Like

  5. ardyano80@gmail.com November 30, 2011 / 4:15 am

    rasanya saya sudah ikut menikmati perjalanan itu dengan membaca tulisan ini…..great trip…..

    Like

  6. denun December 1, 2011 / 1:43 am

    Terima kasih komennya mantemang…he he he

    Like

  7. Vby Utami December 6, 2011 / 1:41 am

    Setelah membaca postingan ini, sy terasa kembali berlayar menikmati keindahan Selayar dan Taka bonerate.. *terharu
    Terima kasih kpd pihak2 yg memberikan sy kesempatan utk ikut serta dan teman2 yg menyambut kami dgn hangat.. :’)
    Cocok na blg Dg. Ipul, klo dana sendiri mana kuat? 😀

    Like

  8. Sharben December 8, 2011 / 10:13 pm

    “BERLAYAR KE SELAYAR, MEMBAWA BEKAL KASIH DAN SAYANG. MEMBAWA KABAR KALAU SELAYAR TAK PERNAH BERLAYAR. MENANTI KEDATANGAN MEREKA YANG SELALU INGIN KE SELAYAR”.

    Tmksh Mas Daeng & juga saudara2 di Blogger Anging Mammiri…sukseski selalu.

    Like

  9. pakar-laptop March 4, 2012 / 1:53 pm

    iye met pagi,,,nice blog ta’,,,tabe blogwalkingka kutunggu kunjungan balikta

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s