Sileya Scuba Divers, Inisiatif Keren dari Selayar (Part 2)

Pantai Selayar (Foto: Kamaruddin Azis)

Selayar, wilayah ujung selatan Sulawesi Selatan ini adalah harapan pemerintah untuk dijadikan destinasi pariwisata bahari utama. Salah satu targetnya adalah Taman Nasional Taka Bonerate. Satu wilayah konservasi yang ditetapkan sebagai taman nasional sejak tahun 1992.

Selayar, kabupaten yang terdiri dari 126 pulau ini patut berbangga karena mempunyai atol ketiga terbesar di dunia atau yang terbesar di Indonesia. Atol dengan luasan terumbu karang luar biasa. Diperkirakan 2000km2 merupakan rataan terumbu karang dengan kedalaman rerata 20 meter. Beragam spesies ikan karang, kerang-kerangan, ikan pelagis, lamun dan biota laut lainnya menjadi unsur asosiasi terumbu karang. Selayar patut berbangga.

Selayar juga jalur pelayaran Indonesia bagian timur-barat, bahkan dari Nusatenggara ke utara. Dengan kondisi ini pantas jika Selayar merupakan titik sentral dari segitiga Nusatenggara – Sulawesi dan Bali. Ditarik garis besarnya, Selayar merupakan tengah Indonesia.

“Selayar layak disebut wilayah di pusat kenikmatan” kata seorang teman setengah bercanda.

Tapi tidak ada yang mudah jika menyebut kata ikhtiar. Selama ini masih ada stereotype bahwa Selayar, kabupaten berpenduduk 120an ribu jiwa ini adalah kabupaten minim hiburan, miskin sarana prasarana, terpencil dan jadi kabupaten isolasi, utamanya bagi mutasi pejabat pemerintah dari provinsi. Selayar dianggap tidak strategis.

Sangat minim inisitaif untuk menunjukkan upaya di jalur promosi, pembenahan. Padahal, selain peran pemerintah kabupaten, masih ada kekuatan lain yang dapat diandalkan, yaitu organisasi masyarakat sipil.  Padahal di beberapa provinsi atau kabupaten yang bermodalkan kekayaan laut grafik denyut pariwisata mereka semakin bergerak positif.

***

Semua tahu, walau telah ditetapkan sebagai Taman Nasional sejak tahun 1992, berbagai sengkarut masih mengganjal di Taka Bonerate. Harapan untuk menjadikannya lokasi pariwisata utama di Indonesia utamanya Sulawesi Selatan masih digelayuti beragam persoalan. Infrastruktur, kapasitas SDM hingga lemahnya penegakan hukum lingkungan.

Belakangan ini, beberapa tanda baik mulai muncul, beberapa pihak mulai menunjukkan kepedulian dengan kondisi Selayar itu. Salah satunya Sileya Scuba Divers Indonesia, satu perkumpulan selam yang digadang oleh beberapa pemerhati lingkungan pesisir dan laut Selayar.

SSD begitu akronimnya, menggunakan kata Sileya, sebutan Selayar beberapa waktu lampau. Organisasi in digagas oleh beberapa orang yang peduli pada kelebihan Selayar itu, mereka percaya bahwa perkumpulan ini mereka dapat berkontribusi pada pengembangan Selayar sebagai lokasi wisata sekaligus ruang pamer kekayaan laut dan masa depan Selayar.

Organisasi ini digagas pada tahun 2007 dan resmi berdiri bulan Maret 2008. Ditopang oleh berbagai institusi, seperti, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Selayar, utamanya tim COREMAP 2, seperti Anjas, Ika, Igo, Cakra. Dari Taman Nasional Taka Bonerate, Nadzrun Jamil, Asri dan Ronal dan Dokter Benedicta Wayan Suryani (spesiali mata).

Beberapa bulan kemudian bergabung nama-nama seperti Mude Zulkifli, Ibel, Alex, Andi Cakra Gunar Putra, Zulfikar Affandi, Yulyvia, Asrahiyah dan beberapa anggota lainnya.

SSD Kini

Hingga kini ada 50an anggota SSD dengan sertifikat selam A1 atau ADS.  Minat simpatisan selam juga semakin tumbuh dari waktu ke waktu seiring semakin menggeliatnya kegiatan di Kafe dan Kios. Jaringan dan kemampuan pengurus menggaet tamu juga tidak boleh dipandang enteng.

Mereka membuka kontak online seperti membuat group di FB, membuat akun di Twitter bernama SSD_Indonesia dan kini mulai merintis website. Mereka siap mengantar dan menemani pengunjung yang ingin menjajal laut dan rekreasi laut di sepanjang pesisir dan laut Selayar. Dari Kota Benteng, Baloiyya, Pantai Timur, Appatanah hingga Taka Bonerate.

Namun demikian, ada yang tidak mudah bagi SSD di Selayar, rupanya beberapa pendiri (founder) SSD harus pindah tugas. Beberapa memang berasal dari luar Selayar seperti Dokter Benedicta WS yang pindah ke Bangka Belitung, Igo dan Anjas yang pindah ke Makassar. Ibel dan Alex  dokter PTT yang harus studi dan pindah pengabdian. Meski begitu kecintaan mereka pada Selayar tidak diragukan lagi. Hingga kini mereka tetap semangat membangun SSD.

Untuk mengoperasionalkan organisasinya, SSB mengusung dua unit kegiatan produktif yang diharapkan dapat menjadi penyokong inisiatif kegiatan yang mereka tawarkan. Keduanya adalah Toko Lantigiang dan Kafe TempatBiasa. Lokasinya di utara Kota Benteng, tepatnya di Jalan Siswomiharjo.

Lantigiang menjajakan souvernir seperti t-shirt, benda kerajianan tangan bernuansa pesisir, penganan khas Selayar, sampai ikan kering dan terasi kepada para tamu. Sedang kan TB menjadi tempat ngumpul sekaligus ruang diskusi dengan menyediakan aneka makan minuman dan makanan ringan. Keduanya adalah dapur SSD.

Hasil bisnis mereka selain untuk kelanjutan usaha, mereka sisihkan untuk upaya konservasi atau kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kepeduliana pada lingkungan. Telah banyak kegiatan yang mereka selenggarakan seperti bersih pantai di Baloiyya, edukasi remaja untuk peduli lingkungan, dialog konservasi, pendampingan di Gusung, pandu wisata laut, dialog pariwisata, dan lain sebagainya.

Sudah banyak tamu atau turis domestik hingga mancanegara yang telah merasakan suasana nyaman saat berinteraksi dengan SSD Indonesia. Banyak dari mereka datang setelah mendapat informasi dari internet dan relasi di daerah lain seperti Jakarta dan Bali. Mereka menginap di wisma yang masuk dalam area kafe TB.  Bagi yang tertarik wisata selam, para kru SSD siap mengantar ke site seperti Pantai Timur, Gusung/Pulau Pasi, Appatanah hingga Taka Bonerate.

Dari yang berkantong pas-pasan hingga yang benar-benar siap untuk berwisata pantai hingga beberapa hari.

“Pernah ada tamu dari Eropa yang datang dan menginap. Selain menikmati kota Benteng mereka juga berkunjung ke Gusung, satu area pantai di pulau Pasi, seberang kota Benteng” kata Acca, salah satu anggota SSD yang kerap kebagian menemani tetamu itu. Acca adalah alumni jurusan Perikanan, Unhas.

Organisasi ini terus berbenah. Mulai dari keanggotaan hingga membangun jaringan. SSD adalah satu satu “representative” DiveMag Indonesia.

Selain menyibukkan diri di Benteng, pengurus dan anggota SSD juga mempunyai lokasi dampingan yaitu di Tile-Tile, Pantai Timur Selayar dan Gusung di Pulau Pasi’.

Di mata pemerintah kabupaten, Andi Mappagau, SE yang merupakan Kepala Dinas Pariwisata mengatakan bahwa keberadaan SSD ini sangat membantu Pemkab dalam mendorong pengembangan pariwisata bahari di Selayar.

“Kami selalu berdiskusi dan berbagi ide mengenai pengembangan daerah yang potensial sebagai wisata bahari” kata Mappagau pada satu kesempatan.

Jika ke Kota Benteng, berkunjunglah ke tempat istimewa mereka…

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.