Saat Laut dan Permukiman Bajo Dibatasi Beton

Kondisi Permukiman Warga di Kelurahan Bajoe (Foto: Kamaruddin Azis)
Suku Bajo disebut Suku Laut mendiami pesisir penting di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera hingga Malaysia, Brunie dan Philipina. Dikenal sebagai komunitas yang enggan dipisahkan dari pengaruh laut.

Di Sulawesi, sebagaimana yang pernah penulis kunjungi, suku ini dapat dijumpai dalam kawasan Taman Nasional Taka Bonerate seperti Pulau Rajuni, Tarupa, Pasitallu, Latondu (Selayar), kecamatan Soropia, Wangi-Wangi, Wakatobi (Sultra) hingga Torosiaje (Gorontalo).

Tanggal 26 Oktober 2011, saya berkunjung ke Permukiman suku Bajo di Kelurahan Bajoe, Bone setelah mampir di pelabuhan penyeberangan fery Bajoe-Kolaka. Saya beruntung diterima Sanuddin (40 tahun). Sanuddin adalah profil warga Bajo yang tetap berhubungan dengan lingkungan laut.

Mengenakan topi dia bercerita tentang pengalamannya. Dia telah melanglang ke penjuru mata angin Bajoe, ke Selayar dan wilayah timur pulau Sulawesi. Karena kegesitan mencari hasil laut itu dia sempat terkena serangan akut lumpuh di pergelangan kaki dan tangan. Tapi dia selamat walau kakinya pincang.

“Saya dirawat selama satu minggu, diurut, ditaburi minyak Samson dan obat” katanya. Sanuddin kena serangan saat menyelam mencari teripang di sekitar perairan Bajoe.

“Saya terkena serang lumpuh tahun 1999. Diurut oleh nenek di kampung Bajoe, suku Bajo” katanya. Menurutnya banyak warga setempat yang telah terserang lumpuh ini. Ada yang bisa pulih namun tidak sedikit yang meregang nyawa.

“Saya pernah tinggal hampir setahun di Pulau Tarupa, Taka Bonerate” Kata Sanuddin. Saat itu tahun 1998. Dia ke sana mencari teripang. Dibawa oleh pak Jammisi, warga Bajo yang tinggal di Belopa, Kabupaten Luwu.
Selain Sanuddin, saya juga bertemu Susan. Susan beribu Bajo dan ayah Bugis. Susan lulusan sekolah di MTs atau setingkat SMP. Ibunya bernama Ramsia.

“Saya hanya sampai MTs, saya separuh Bajo, separuh Bugis” kata Susan yang wajahnya sangat putih ini, berbeda dengan wanita Bajo kebanyakan.

Menurut Sanuddin, Warga Bajo telah bercampur dengan kebudayaan Bugis Bone namun tetap ada ciri khas mereka sebagai pelaut, mereka sering bepergian berbulan-bulan mencari hasil laut, bahkan hingga Pantai Sapuka, dekat Madura.

“Nenek moyang kami saat terjadi gerilya tinggal di Lassareng, Cappa Ujung, Sibulue. Lalu menyingkir ke sini” aku lelaki yang ibunya telah meninggal dunia ini.

Sanuddin dan Susan (Foto: Kamaruddin Azis)

***
Jika berkendara dari arah kota Watampone menuju Pelabuhan Bajoe, kita berbelok kanan, di sana ada perkampungan yang dipisahkan oleh jalan beton. Nah di situlah perkampungan Bajo yang dipunggungi oleh bangunan, restoran dan tanggul beton.

Jika suku Bajo di kawasan lain masih intim dengan peluk dan jilatan lidah air. Bebas, lepas, a la mare liberum (laut bebas) namun suku Bajo di Kelurahan Bajoe, Watampone terpisah oleh tanggul, hingga permukiman terendap dan terendam air, kumuh penuh sampah.

“Cobaki lihat air yang tergenang dan sampah di bawah kolong rumah warga” kata Sanuddin pada sore itu.

Pengembangan dan penataan permukiman bagi suku laut itu menimbulkan kecemasan karena mengurangi akses mereka berinteraksi dengan lingkungan laut. Niatnya terlihat baik namun jembatan beton telah membentengi namun menjauhkan mereka dari laut.

Paling tidak bagi Sanuddin dan Susan.

“Semua gara-gara jembatan yang dibangun itu” katanya sambil menunjuk kaki rumah warga yang diselimuti sampah plastik.

Sampah, plastik, kayu, dan air berwarna hitam berpusar di tetiang rumah. Bau amis dan bau anyir menyeruak di sisi kiri kanan jalan beton di kampung itu. Air masih menggenang walau kondisi sedang surut. Perahu-perahu mereka pun tertambat semakin jauh dari permukiman mereka.

“Di sini ada ratusan rumah. Rumah panggung yang petak-petaknya terendam air walau air telah surut” kata Sanuddin. Sejak dibangun tanggul itu, aliran alir dari dalam pemukiman menjadi berkurang. Adanya sedimentasi karena limbah buangan semakin mengganggu pergerakan air ke laut saat surut.

Secara administratif, suku Bajo bermukim dalam wilayah Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Sampai pukul 18.30 wita menjelang malam, beberapa warga masih bercengkerama di sepanjang jalan beton yang meliuk di sela-sela permukiman mereka. Sebagian telah rusak. Berlobang.

Tidak lupa, saya bercengkerama dengan beberapa anak kecil menggunakan bahasa Bajo.Mereka sangat hangat. Tetap tertawa. Malam semakin larut di pantai itu, Pelabuhan Bajoe yang terkenal itu menghamburkan cahaya lampu. Fery menunggu keberangkatan. Di atas, mendung menggelayut.

Advertisements

One thought on “Saat Laut dan Permukiman Bajo Dibatasi Beton

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s