Pohuwato, Sebuah Tanya dari Hutino

Sungai dan Sisi Hutan Hutino
Tanggal 5 Oktober 2011 di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Ini hari kedua di kabupaten yang pernah dipimpin oleh pengusaha asal Bulukumba, Sulawesi Selatan namanya Zainuddin. Sosok tersebut, kini menjadi Bupati di Bulukumba sejak tahun 2010. Zainuddin adalah tipikal pengusaha sukses berdarah Bugis yang layak diapresiasi loncatan suksesnya.

Pohuwato adalah kabupaten di Gorontalo yang berbatasan dengan provinsi Sulawesi Tengah. Berada di sepanjang pantai serta kaya vegetasi hutan, dari puncak bukit hingga tepi pantai. Bakau sangat padat pada beberapa titik. Jagung menjadi andalan pendongkrak ekonomi warga. Di Pohuwato ada pabrik pengolahan jagung berskala besar.

Beberapa warga yang saya tanyai menyatakan bahwa kabupaten ini berkembang secara drastis pasca pemekaran Sulawesi Utara menjadi Provinsi Gorontalo. Hampir semua permukiman yang saya lalui di sepanjang jalan utama di kecamatan-kecamatan terlihat apik dan jauh dari kesan kumuh atau tidak teratur. Kabupaten ini sangat menawan.

“Pak Zainuddin adalah sosok pengusaha yang sukses, padahal beberapa tahun silam hanyalah petugas Satpam di Bandara Djalaluddin, Gorontalo” kata Yusman Maonti, salah seorang aktivis LSM di Pohuwato mengenai mantan Bupatinya.

***

Hari itu, kami mengarah ke Desa Talunduyunu, Kecamatan Buntulia, Pohuwato. Tepatnya Dusun Hutino. Kunjungan ke Dusun Hutino didasarkan pada informasi kegiatan warga dalam membangun jalan antara perkambungan yang dihuni oleh 40an KK yang kemudian ditindaklanjuti dengan pembangunan jembatan gantung.

“Sejak dulu warga mesti berjalan jauh untuk sampai ke ibukota kecamatan untuk berbelanja, sandang, pangan, lauk pauk. Sebagian dari mereka ada yang menyeberangi sungai hingga jalan utama ke kota Marisa. Walau penuh risiko” kata Syaiful, pemuda setempat.

“Desa ini merupakan juara I lomba desa, se provinsi dan masuk 10 besar nasional, tahun 2009” kata pak Kades Rasyid Mbuinga saat kami temui di rumahnya. Menurutnya, selain Hutino, ada tiga dusun lain di desa Talunduyunu.

Apa yang Menarik?

Di Dusun Hutino berdiam 40an kepala keluarga. Sampai kini, mereka masih bertahan di situ. Namun ada enam KK yang mencoba peruntungan untuk tinggal di seberang sungai. Alias berpindah ke permukiman. Sulitnya akses ke jalan utama desa membuat beberapa warga berinisiatif untuk pindah.

Salah satunya, Tude, dia meninggalkan kampung asalnya. Dia bermukim bersama 7 KK sekitar 500 meter dari jalan utama menuju Kota Marisa. Satu KK lainnya asal kecamatan lain. Sejak pindah Tude sudah sangat jarang kembali ke Hutino.

Dia pindah di permulaan tahun 80an. Telah membuat jalan dusun untuk memudahkan aksesnya. Saat mengerjakan jalan pertama kali itu selama lima hari kerja di jalan, membawa bapeda/parang, pacul, kemudian mengambil pasir di kuala. Pekerjaan ini selesai selama tujuh hari pengerjaan.

“Saya tidak ukur berapa panjangnya. Jalan dari dusun Hutino sebenarnya mesti menyeberangi sungai dan kalau tidak mesti memutar kea rah kampung lain dan itu jauh, biasanya kalau mau belanja ke pasar” kata Pak Tude.

Jalan yang dirintis pak Tude ini menjadi alasan mengapa diteruskan pembangunan jembatan gantung menghubungkan dusun Hutino dengan jalan raya utama desa. Telah ada perubahan desa, perubahan minat warga utamanya Dusun Hutino dalam membuka diri dengan kehidupan luar.

Apa yang ada di hutan Hutino? Mengenai kawasan hutan Hutino pak Tude bercerita berisi jagung, kelapa, rica dan ubi jalar. Dari sinilah warga bertahan, berkebun dan meneruskan hidupnya. Sedangkan bagi pakTude, dia merawat 20an batang pisang Jawa. Sudah tidak ingat berapa kali panen. Pisang dikonsumsi untuk anggota keluarga.

Pekerjaan utama pak Tude saat ini adalah menjadi pengangkut kelapa di kebun Pak Sila. Mengangkutnya dengan kereta/roda, satu kali mengangkut ada lebih seratus biji. Tude memperoleh upah Rp. 20ribu untuk seratus biji kelapa yang diangkut. Bandingkan nilai yang didapat yang hanya Rp. 2ribu pada awal tahun 80an.

Yang dihadapi Tude sedari awal adalah akses untuk berinteraksi dengan warga ibukota kecamatan. Dia berinisiatif untuk membangun pemukiman, walau beberapa warga lain bertahan di dusun awal. Nah, warga yang bertahan ini kemudian menjadi perhatian pemerintah melalui program PNPM untuk dibuatkan jembatan gantung.

Saat kami datang, dua tiang beton yang diharapkan menjadi tempat mengikat jembatan gantung telah berdiri. Proyek pembangunan itu bermaksud memberi kemudahan bagi warga untuk menyeberang jalan. Sebelumnya, telah ada beberapa warga yang terseret arus sungai ketika mereka hendak menyeberang.

“Dalam beberapa menit tiba-tiba saja air sungai berubah deras, dan banyak warga yang tidak sadar bahwa mereka terancam aliran sungai” kata Yopin tokoh pemuda setempat. Inilah yang menjadi alasan kenapa pembangunan jembatan itu menjadi penting.

Dari Hutino kami membaca kesederhaan warga. Bertahan dari hasil bumi yang mereka punyai. Mereka juga masuk ke pusaran perubahan. Perubahan keinginan dan upaya membuka diri pada orang luar. Walau ada kecenderungan, air sungai yang seketika meluap dapat mengancam keselamatan mereka.

“Saya khawatir gerusan air yang semakin kuat akan mengikis beton jembatan gantung yang telah dibangun” kata Yopin.

Mereka menduga telah terjadi perubahan debit air yang drastis, utamanya saat musim penghujan. Tidak seperti biasanya. Ada yang berubah di bahu gunung dan lekuk bukit di atas Hutino?

One thought on “Pohuwato, Sebuah Tanya dari Hutino

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: