Santap Malam, Hiburan dan Promosi Wisata (Wakatobi Part 14)

Dihibur tarian (Foto: Kamaruddin Azis)
Tanggal 1 Oktober 2011 terasa berbeda. Bukan Hugua jika tidak bisa memanfaatkan setiap momen saat berada di depan banyak orang. Malam itu menjadi berbeda karena kami mendapat kejutan luar biasa. Walau malam sebelumnya telah disambut dengan meriah namun malam itu kami sepertinya akan mendapat kejutan baru.

Kami dijamu makan malam yang luar biasa. Ada lobster panggang dan ragam ikan laut. Bukan hanya menjadi milik kami, di meja lain hadir beberapa orang yang mengaku dari Kementerian Luar Negeri. Mereka menjajaki kemungkinan kerjasama dengan Pemkab untuk promosi Wakatobi di mancanegara. Di sinilah perbedaan itu. Hugua rupanya telah mempersiapkan penari yang siap menghentakkan malam di Patuno, dan bahan presentasi mengenai wisata daerahnya.

Ada tiga jenis tarian, yang saya ingat salah satunya bernama ”Balumpa Dance” asal Kaledupa. Penampilan pertama merupakan penari dengan kostum warna merah marun, dengan rok warna hitam, putih,biru dan merah. Ini tarian pembuka. Lalu disusul tarian dengan kostum kuning hijau, kuning dan merah dengan selendang warga merah. Ritme kedua tarian ini sangat lembut didukung hentakan musim yang bertalu.

Sebelum tarian ketiga, Hugua tampil untuk memberikan “welcoming speech”, selamat datang di surga nyata bawah laut di jantung segitiga karang dunia. Begitu katanya.

“The Only real underwater paradise at the heart of coral triangle center”, paparnya dalam bahasa Inggris. Bukan hanya sapaan selamat datang, Hugua juga memamerkan potensi dan kelebihan-kelebihan Wakatobi.

Promosi Sang Bupati (Foto: Kamaruddin Azis)
Mengenakan celana kain warna hitam dan baju lengan pendek warna krem halus bergaris dilengkapi sepatu kets warna hitam, Hugua menampilkan gayanya yang a la kadarnya. Kacamata disimpan di kantung bajunya. Dia terlihat rileks dan bertabur senyum.

Hugua, aktivis LSM itu berada di sisi-tengah-depan. Di kirinya para sahabatnya dari alumni PKMP dan tim CD Project, di depannya para perwakilan anggota DPRD yang diundangnya khusus demi memperkenalkannya kepada rekan-rekannya malam itu. Di kirinya para tamu dari Kemenlu dan para penari.

Hadir pula tamu resort, Fabrice dari Paris dan Emma dari Milano. Mereka berdua juga bergeming dari dari tempat duduk dan menyaksikan hiburan tarian, dan, tentu saja presentasi Hugua mengenai Wakatobi. Kedua bule ini tidak perlu khawatir karena sesekali Hugua menggunakan bahasa Inggris.

Hugua memulai dengan menunjukkan letak Wakatobi sebagai inti dari coral triangle. Lalu, Menyebutkan bahwa kawasan ini menyimpan 750 coral species dan 942 spesis ikan. (data ini kemudian ditolak beberapa peneliti Kelautan karena dianggap kurang pas, mereka meragukan data itu). Dia juga menyelingi paparannya dengan menyebut adanya dampak dari salah satu tradisi “bertemu jodoh” yang berdampak pada Hanung Bramantyo dan Zaskia Mecca, keduanya pernah ke Wakatobi. Juga kedatangan Nadine Candrawinata, dan kisah sumur berkah.

Di presentasinya dia menjelaskan status Wakatobi sebagai kabupaten pemekaran pada tahun 2003 menurut UU No. 29/2003 dengan luas 1,4 Juta hektar di mana 97% merupakan laut dan hanya 3 % daratan. Populasi penduduk lebih 100ribu jiwa dengan laju pertumbuhan 2,7%.

Dia juga sebutkan bahwa leading sector Wakatobi adalah sektor perikanan dan kelautan serta turisme. Produksi perikanan utama seperti tuna, kerapu dan rumput laut.

Dalam pemaparannya dia tak luput menyebutkan kekayaan budaya dan atraksi yang dikandung kabupaten ini di antaranya, budaya karia, sombo/hepundaa, kabuenga, tari lareang, posepa hingga mesjid tua di Liya Togo. Karia adalah prosesi tadisional yang merujuk kepada tradisi khitan (circum) serta Kabuenga adalah momen bertemunya jodoh, lelaki dan perempuan.

Hugua juga tidak luput dari jokes dan gaya presentasi yang sangat luwes, non formal dan penuh dengan gelak tawa. Sesekali dia menggoda istrinya yang juga hadir di acara itu. Terutama saat dia menyorot foto Nadine Candrawinata yang mengenakan baju warna kuning di salah satu pantai di Wakatobi.

Berfoto bersama penari, Bupati dan tamu lainnya (Foto: Koleksi Pribadi)
Malam itu menjadi istimewa karena ada sambutan dari perwakilan Kemenlu (Bapak Dekrit) dan dari alumni PKMP yang diwakili Yohannes Ghewa. Sajian malam itu ditutup oleh tari yang sangat menghentak yang diperagakan oleh empat pasang penari pria dan wanita.

Jamuan yang sukar dilupakan oleh kami yang baru pertama berkunjung ke Wakatobi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: