Gaung Spirit WTC dari Wangi Wangi (Wakatobi Part 13)

Dulu, memandang sekawanan lumba bahkan paus yang menghibur pelayaran kami dari Taka Bonerate, Selayar ke Makassar pada rentang tahun 1995-2003 merupakan hal biasa.

Namun momen seperti itu menjadi langka sejak berganti lokasi pekerjaan di Luwu dan Aceh hingga tahun 2008.

Situasi itu menjadi berbeda saat saya berkunjung ke Wakatobi. Tepatnya di Pulau Wangi Wangi di bulan Oktober 2011 lalu, bertahun-tahun kemudian. Dahaga dan kerinduan pada pesona Taka Bonerate seperti terpuaskan.

Siang itu, seusai snorkeling yang luar biasa di terumbu Desa Waha, kami dijamu pemandangan yang juga tak biasa. Dibuat takjub oleh iring-iringan lumba-lumba di tepi tubir. Hanya beberapa meter dari anak-anak yang bermain di atas terumbu kering.

Wow! Beberapa lumba beriringan ke sisi utara pulau. Siang itu pukul 11.10 saya tidak menyia-nyiakan kesempatan (yang bagi saya), merupakan tak biasa ini.

“Ini surut terdangkal selama rentang setahun pak,” kata Pak Sudriman warga Desa Waha yang juga pelopor konservasi terumbu karang di desa itu. Dia dengan telaten menemani kami mengobrol tentang inisiatif konservasi di desanya.

Menurut Sudirman, sebagai suatu upaya, apa yang nampak saat ini di terumbu Waha merupakan kerjasama yang baik antar warga, pemerintah dan kelompok pengelola terumbu karang.

“Awalnya, kawasan ini merupakan kawasan yang kerap diguncang bom ikan. Pada awal tahun 2000-an, di area ini banyak nelayan menggunakan potas atau bius ikan. Ikan mati dan juga karang,” kata Sudirman. (lihat foto sesuai pelatihan di WTC, Sudirman di ujung kiri)

Menurut pengakuan Sudirman, hingga kini telah ada dana 50 Juta, dari COREMAP fase 2. Ada seed fund, bergulir untuk 3 kelompok masyarakat yang dibina pengelola. Ada Kelompok Pengawasan Karang, Kelompok Perempuan dan Usaha Produktif.

“Dari dana itu dibangun sarana prasarana, kemudian kelompok memperoleh lagi dana 100 juta untuk sarana air bersih, utamanya bagi warga yang sumurnya agak asin. Juga MCK. Awalnya kelompok masyarakat membuat rumpon namun hanyut,” papar Sudirman.

Menurutnya, kawasan ini, pusat informasi terumbu karang desa Waha, merupakan bekas pasar desa yang kemudian ditimbun dan diubah seperti sekarang ini.

Dengan menggunakan dana bantuan COREMAP 2. Ada semangat yang kuat untuk menggalang dukungan pihak lain melalui fasilitasi “WTC, Waha Tourism Community” yang merupakan buah dari penyadaran konservasi masyarakat.

“Kawasan ini pada tahun 2004 sempat terkena dampak tsunami Aceh. Air sampai masuk ke halaman rumah kami,” kata Sudirman seraya menunjuk rumahnya yang juga berfungsi sebagai tempat penginapan.

Dia memasang tarif Rp. 50 permalam bagi tamu yang mau menginap.

“Jika nanti COREMAP fase 2 berakhir dan disambung ke fase 3 kami berharap rencana pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dapat dijadikan strategi berikutnya,” pinta Sudirman yang pernah ikut studi banding di Pulau Payar, Malaysia.

Sudirman, yang kini berusia 47 tahun ini lahir dan besar di Waha. Dia juga pernah ke Bogor, untuk pelatihan pengelolaan terumbu karang berbasis masyarakat.

Dia punya obsesi, kelak di Waha berkembang pariwisata dengan simpul utama “WTC, Waha Tourism Community” sebagai organizer, satu gagasan untuk memediasi semangat konservasi melalui penerapan upaya fundraising.

Semangatnya ini semakin kuat karena rupanya Bupati Hugua pun kerap bertandang ke desa ini.

“Kawasan ini tahun 2011, ramai oleh adanya pertukaran pemuda Indonesia-Australia. Ada 6 ribuan pemuda-pemudi yang datang ke sini. Bermalam di desa dan menikmati keindahan karang Waha,” aku Sudirman.

Apa yang dipaparkan Sudirman ini dibenarkan Hariyanto dan Sunarwan.

“Sudah banyak sekali warga Wangi Wangi yang datang ke sini,” kata Sunarwan seraya menunjukkan beberapa anak muda yang datang berkendara roda dua. Mereka kerap menyesar Waha untuk berakhir pekan.

Menurut Sunarwan, para pengunjung biasa merogoh koceknya untuk membantu inisiatif yang digagas WTC ini.

Kini, kawasan yang dulunya merupakan lokasi pemboman ikan itu berangsur pulih.

Jika dulu setiap pagi dan siang bom ikan selalu menyalak, kini yang ada keindahan dan pesona yang membanggakan warga Waha. Lingkungan terjaga, ekonomi berputar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: