Bincang Bau Bau dan Wangi Wangi (Wakatobi Part 10)

Wilayah Wakatobi dari Atas Dornier (Foto: Kamaruddin Azis)

Penerbangan kami ke Kota Wangi Wangi dari Makassar ditempuh selama satu 1,15 jam dengan pesawat Dornier buatan Jerman. Transit di Bau Bau. Ya, Makassar, Bau Bau, Wangi Wangi (ibukota pemerintahan Wakatobi). Ada yang menarik dari kedua nama terakhir, Bau Bau dan Wangi Wangi?

Wakatobi

Kabupaten ini bagian dari Provinsi Sulawesi Tenggara. Sebelumnya merupakan bagian administrasi Kabupaten Buton. Ditetapkan sebagai kabupaten baru pada tahun 2003 dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2003. Tepatnya tanggal 18 Desember 2033. Luas wilayahnya 823 km². Sebagian besar wilayahnya adalah laut, hanya ada sekitar 3 persen sebagai daratan.

Wakatobi adalah kawasan taman nasional yang ditetapkan pada tahun 1996, dengan luas keseluruhan 1,39 juta hektar. Salah satu pertimbangannya adalah karena menyimpan potensi terumbu karang dan asosiasi spesies yang sangat kaya (high diversity).

Kabupaten Wakatobi merupakan akronim dari Pulau Wangi Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Di bebeberapa atlas kuno kawasan ini dikenal Kepulauan Tukang Besi, Konon, kebiasaan membuat perkakas pertanian, senjata tajam dan pelbagai atribut kebutuhan nelayan dan pekebun ini dilakoni di Kaledupa, beberapa lainnya di Binongko.

“Warga biasanya memperoleh besi dari barang rongsokan” kata Sunarwan, staf pada salah satu dinas di Pemkab Wakatobi saat kami berbincang sepulang dari makan malam di Bajo Resort di Wangi Wangi. Bajo Resort adalah restoran terapung, di mana sekitarnya terdapat perkampungan komunitas Bajo.

Menurut Sunarwan, Kepulauan Wakatobi merupakan lalu lintas pedagang antar pulau dari Indonesia Barat ke Indonesia bagian Timur. Seperti pedagang dari tanah Jawa ke Ternate atau Tidore. Semua pelayaran itu melewati selat di Wakatobi.

Asal Kata Wangi Wangi dan Bau Bau

“Wakatobi itu, dulu, adalah lalu lintas pedagang cengkeh antar pulau. Bahkan saat berlaku “Politik Hongi” atau politik tebang cengkeh” imbuh Sunarwan. Di beberapa kampung pun ditemui warga keturunan Buton, Maluku, Tiodore, Ternate, Bugis Makassar dan bahkan dari Flores.

“Nama Wangi Wangi merujuk ke wangi harum cengkeh atau rempah yang sering dijemur oleh para pedagang antar pulau yang sedang buang sauh di pelabuhan Wanci (sekarang Wangi Wangi). Mungkin dari situ muncul sebutan Wangi Wangi” tandas Sunarwan.

Kata Wangi Wangi ini nyaris serupa dengan sebutan Bau Bau di Buton. Namun ini kemudian juga dibenarkan terkait pengaruh rempah-rempah. Sebagaimana Wangi Wangi, dulu Bau Bau adalah persinggahan para pedagang antar pulau.

Dalam bahasa Makassar, “Bau’” adalah sebutan untuk sesuatu yang harum. Pun, bisa merujuk ke “bebauan” serupa rempah. Jadi wajar jika namanya Bau Bau merujuk ke wewangian atau rempah incaran para pedagang masa lalu. Kota bebauan rempah.

“Iya, nama Kota Bau Bau itu juga merujuk ke wawangian, bebauan harum dari rempah” kata Ruslan Situju dalam perbincangan mengenai asal usul penamaan daerah. Ruslan, teman seperjalanan kami telah berkunjung ke Bau Bau beberapa kali.

Beberapa perkampungan pesisir di Wakatobi diwarnai oleh orang Buton yang ditengarai merupakan hasil migrasi para pedagang dan eksodus saat perang rempah beberapa tahun silam yang melibatkan Belanda,Portugis dan kerajaan-kerajaan islam di Sulawesi dan Maluku.

Fakta ini sangat beralasan mengingat gugusan Kepulauan Tukang Besi dulu merupakan bagian dari Kesultanan Buton yang cemerlang dan strategis itu.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.